
Berapa waktu kemudian Jelita juga mulai sadarkan diri. Dafa dan Rafa segera mendekat ke arah Jelita.
"Jelita kamu tidak apa-apa?" tanya Dafa.
"Ma, Mama tidak apa-apa kan?" tanya Rafa juga.
"Iya sayang, Mama tidak apa-apa," sahut Jelita lemah.
Rafa senang Jelita baik-baik saja. Rafa juga senang sekarang akan memiliki adik. Rafa ingin segera melihat sang adik.
"Ma, Rafa akan menjadi Abang," ujar Rafa bangga.
"Rafa pasti akan menjadi abang yang baik," puji Jelita kepada Rafa.
"Tentu Ma. Rafa pasti akan menjadi Abang yang baik," sahut Rafa.
Dafa dan Jelita mengelus rambut Rafa. Mereka tahu seberapa senangnya Rafa jadi seorang abang. Rafa pasti juga tidak sabar ingin melihat sang adik. Tapi Rafa masih bisa menunggu. Tidak sama dengan…
"Omy," rengek Rio menuju ke arah Dilla.
"Iya sayang," sahut Dilla menghela nafas melihat kelakuan Rio.
"Tenapa custel na lama. Apa meleta mau ulik adik Liyo ya," tuduh Rio dengan merengek manja.
Mereka malah tertawa melihat Rio yang merengek. Sikap Rio begitu lucu. Rio bahkan menghentak-hentakan kaki.
"Tenapa Omy dan layin na tetawa. Liyo tan mau lihat adik," kata Rio.
"Sabar Rio," sahut Ryan.
"Cetalang Papa," bantah Rio.
"Sebentar lagi suster juga akan membawa adik ke sini Rio. Rio yang sabar," kata Dilla.
"Liyo cudah ndak cabal Omy. Cabal Liyo dah abis," jawab Rio mengerucutkan bibirnya.
"Jika hanya menunggu sebentar saja kesabarannya sudah habis, bagaimana nanti akan menjaga adik? Jaga adik sangat susah loh," tanya Ryan.
"Tu eda Pa. Jita cama adik lama-lama ndak apa. Liyo cuta. Ndak ada adik ndak cuta," sahut Rio.
Ryan memutar matanya malas berdebat dengan Rio. Ryan memilih menyibukkan diri dengan memperhatikan Dilla. Ryan ingin membantu Dilla apa yang bisa dia bantu. Melawan Rio yang biasa saja bisa kalah berdebat, apalagi berdebat dalam suasana hati Rio yang sedang kurang baik.
Rio yang diabaikan sama yang lain mulai berpikir yang macam-macam. Mulai dari suster yang mencubit pipi adiknya, mencium adiknya, bahkan mengajak main adiknya. Rio masih larut dalam pikirannya sendiri. Rio bahkan berbicara sendiri. Mereka membiarkan Rio begitu saja daripada nanti mereka dibuat pusing sama Rio.
Tok….
Tok….
Tok….
"Permisi Bu. Kami ingin mengantar bayi kalian," ujar salah satu suster yang mengantarkan sang bayi.
"Adik Liyo," teriak Rio menuju suster.
"Mana adik Liyo?" tanya Rio melihat dua suster masuk membawa dua bungkusan.
Rio tidak tahu mana adiknya. Di belakang Rio, Ryan dan Dafa segera mendekati mereka.
"Yang mana bayi perempuan?"
"Yang mana bayi laki-laki?"
Tanya Ryan dan Dafa barengan. Mereka bisa langsung tahu dengan jenis kelamin.
"Yang saya bawa ini bayi perempuan," sahut salah satu suster
"Berati ini anak saya," sahut Ryan.
Ryan segera mengambil alih bayi dari suter tersebut. Sedangkan suster satu lagi langsung menyerahkan kepada Dafa.
"Kalau begitu kami permisi ya," pamit mereka.
"Iya, terima kasih," jawab Ryan dan Dafa barengan.
Ryan dan Dafa segera menuju Jelita dan Dilla setelah para suster keluar.
"Pa, tu adik Rio," ujar Rio mengejar Ryan yang menuju Dilla.
Reza juga sudah bangun dan berdiri di dekat ranjang Dilla. Reza juga ingin melihat calon adiknya.
"Pa nayik," pinta Rio membukakan tangan untuk naik ke atas ranjang.
Ryan mengangkat Rio ke dalam pangkuannya. Ryan sengaja tidak mendudukkan Rio di samping Dilla. Ryan yakin jika Rio pasti akan mengganggu Dilla dan sang bayi.
"Liyo inin tulun Pa. Liyo mau uduk detat adik Liyo," berontak Rio dalam gendongan Ryan.
"Rio sama Papa saja di sini. Nanti adiknya keganggu sama Rio," sahut Ryan.
"Ndak Pa. Liyo ndak tan anggu adik Liyo," balas Rio.
Ryan tetap mengabaikan Rio. Ryan tidak mau nanti terjadi sesuatu pada Dilla dan anak perempuannya.
Aditya dan Rita yang mendekat membantu Reza duduk di atas ranjang. Mereka yakin jika Reza tidak akan ekstrem Rio.
"Dilla, apa kalian sudah menyiapkan nama buat anak kalian ini?" tanya Rita.
"Sudah Ma. Kami sudah menyiapkan namanya jauh-jauh hari," sahut Dilla.
"Ndak ndak. Liyo ndak uju. Liyo yang atan tacih nama buwat adik Liyo," potong Rio.
"Kamu ingin memberikan nama siapa hem," kata Ryan sambil mencolek hidung Rio.
"Liyo mau tacih nama adik Liyo Mini Omy. Dimana badus tan?" tanya Rio bangga.
Mereka terkekeh mendengar jawaban dari Rio.
"Rio mau kasih nama adiknya Mini Omy?" tanya Dilla.
"Iya Omy tan adik na Liyo milip cama Omy," sahut Rio.
"Jika nanti Rio punya adik perempuan lagi yang mirip sama Omy, apa Rio mau kasih namanya Mini Omy versi kedua ketiga?" tanya Ryan.
Rio mengerucutkan bibirnya. Padahal nama yang Rio pikirkan sudah bagus. Tapi Papanya malah mengejek Rio.
Ryan mendekatkan Rio kepada bayi perempuan itu.
"Rio, kenalkan ini adik Rio, namanya Syifa Suherman. Rio bisa memanggilnya Syifa," kata Ryan memperkenalkan Syifa bayi perempuan pertamanya.
"Cipa," eja Rio.
"Syifa bukan cipa," koreksi Ryan. Ryan dan Dilla sudah memberikan nama yang bagus. Rio malah membuat nama syifa jadi aneh.
"Ciiipa Papa, butan Cipa" ulang Rio mencoba mengeja kata Syifa dengan benar.
"Iya Iya, Cipa kan?" goda Ryan.
"Papa ahat," ujar Rio memukul badan Ryan dengan tangan mungilnya.
"Pa tulun," pinta Rio setelah capek memukul badan keras Ryan.
"Iya, Papa akan menurunkan Rio. Tapi jangan ganggu adik Syifa ya," kata Ryan memperingati Rio.
"Iya Pa. Liyo anji. Tan Liyo cayang Cipa," kata Rio menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ryan mendudukkan Rio di samping Dilla bersama Reza juga.
"Jelita, kalau nama anak kalian siapa?" tanya Rita.
"Kami memberi nama dia Zaki," sahut Jelita.
"Berarti nama mereka Zaki dan Syifa," ucap Rita.
"Adik Liyo cangat lutu. Pipi na melah, idung na tecil, mulut na tecil, mata na tecil. Cemua na tecil," kata Rio mulai mengabsen muka Syifa satu persatu.
"Tentu dia masih kecil sayang. Syifa kan baru lahir," sahut Dilla.
Rio begitu gemas melihat pipi Syifa yang begitu tembem. Mata Rio sangat fokus pada pipi Syifa. Tanpa kata lagi Rio menggigit pipi Syifa dengan gemas.
Ryan tidak sempat mencegah apa yang yang dilakukan oleh Rio. Rio begitu cepat sudah menggigit pipi Syifa. Sehingga menyebabkan Syifa menangis walaupun Rio tidak menggigit Syifa dengan keras.
"Oek… oek… oek…."
Syifa mulai menangis kesakitan.
Bersambung....