Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 200. Menghilang



Satu bulan berlalu sejak penculikan Dilla dan Rio yang menghilang. Sekarang usia kandungan Dilla dan Jelita sudah memasuki bulan delapan. Sejak memasuki bulan kedelapan mereka mulai aktif lagi bergerak. 


Dokter menyarankan, jika pada bulan terakhir kehamilan lebih baik banyak bergerak tapi jangan sampai terlalu capek. Semua itu bisa membuat proses persalinan berjalan dengan lancar.


Dilla dan Jelita sering melakukan jalan-jalan santai mengelilingi komplek. Mereka jalan-jalan sambil menikmati waktu pagi hari. Mereka bosan di rumah terus. 


Kemudian dalam waktu sebulan juga, Daniel dan Bella sudah mempersiapkan acara pernikahan mereka. Daniel dengan secara khusus mengundang seluruh keluarga Suherman. 


Sekarang Dilla beserta lainnya sudah siap untuk berangkat ke tempat pernikahan Bella dan Daniel. Mereka sudah tiba di hotel tempat acara diadakan. 


Ryan dan Dafa menuntun istri mereka untuk masuk ke dalam. Sedangkan anak-anak sudah berhamburan berlari ke dalam seperti biasa. Mereka ingin segera menjelajah.


"Bagaimana kalau kita menuju ke pengantin dulu sebelum duduk. Nanti bisa terlalu ramai tamunya," saran Aditya. 


"Iya Pa. Dilla setuju," sahut Dilla.


"Kalau begitu mari kita berikan selamat kepada mereka," ajak Rita. 


"Anak-anak, ayo kita beri salam sama mbak Bella dan om Daniel," panggil Ryan.


"Baik," sahut Rafa dan Reza.


"Bayik," jawab Rio.


Mereka semua naik ke atas panggung. Mereka juga ikut antri seperti tamu yang lain.


"Selamat ya Mbak Bella dan Tuan Daniel. Semoga pernikahan kalian langgeng," doa Dilla.


"Terima kasih kalian sudah datang," ujar Daniel.


"Sama-sama Daniel," sahut Ryan.


Setelah menyelami pengantin, mereka menyelami orang tua Daniel. Orang tua Daniel juga datang di pernikahan anak mereka. Manda sudah menyesali perbuatannya walaupun belum bisa menerima Bella dengan sepenuhnya. Manda tidak mau kehilangan anak satu-satunya. Oleh karena itu Manda belajar mencoba menerima Bella.


Kemudian mereka segera menuju ke tempat duduk yang telah disiapkan. Mereka ingin menikmati sajian yang dihidangkan. 


"Sayang, kamu duduk disini saja ya. Biar Mas yang ambilkan makanan buat kamu," ujar Ryan.


"Baik Mas," sahut Dilla.


"Jelita, kamu duduk di sini juga ya. Biar aku juga yang ambil makanan," sambung Dafa. 


Jelita mengangguk patuh. Mereka terasa capek berjalan dari depan hotel ke ruang aula. 


"Ma, Pa, kami pergi bermain sama mereka ya," tunjuk Reza kepada anak yang sebaya.


"Baik sayang. Mainnya jangan jauh-jauh ya sayang. Nanti kalian bisa hilang," nasehat Dilla. 


"Iya Ma." 


"Apa Rio mau ikut juga?" tanya Dilla ke Rio.


"Boyeh Omy?" tanya Rio balik.


"Boleh sayang. Tapi jangan jauh-jauh dari bang Reza dan Bang Rafa ya," ucap Dilla memperingati.


"Oteh Omy," sahut Rio bersemangat.


"Kalian jaga Rio ya," ujar Dilla.


"Baik Ma. Ayo dek Rio," ajak Reza.


Reza dan Rafa memegang tangan Rio. Mereka bersama-sama pergi ke sana. 


"Kemana perginya Reza, Rafa dan Rio?" tanya Ryan saat melihat mereka bertiga pergi.


"Mereka hanya ingin pergi bermain sama anak yang lain Ryan. Mereka pasti bosan jika hanya duduk," jawab Jelita.


Mereka mulai menikmati sajian. Mereka makan sambil berbicara ringan. Sesekali mereka berkomentar acara pernikahan Daniel dan Bella.


"Reza, Rafa, Rio," Dilla memanggil mereka setelah lima belas menit berlalu.


Dilla sengaja memanggil mereka kembali agar makan terlebih dahulu. Nanti setelah makan baru bisa main lagi. Mereka kalau sudah bermain kadang sering lupa makan.


Reza dan Rafa menuju ke arah Dilla dan lain. Reza dan Rafa segera duduk di kursi yang kosong.


"Mana adik Rio sayang? Kenapa hanya kalian berdua saja?" tanya Dilla. 


"Tadi Rio ada di belakang bersama kami Ma. Rio mengikuti kami. Sekarang Reza tidak tahu dimana adik Rio lagi," sahut Reza. 


Reza kembali melirik ke sekitar untuk melihat Rio. Tetapi dia tidak menemukan Rio.


"Mas, bagaimana ini?" tanya Dilla khawatir.


"Kamu tenang saja sayang. Biar Mas yang cari Rio. Kamu duduk sini saja ya. Rio pasti bermain tidak jauh," ujar Ryan.


"Baik Mas," sahut Dilla patuh.


"Ryan, biar aku bantu cari Rio," tawar Dafa.


"Baiklah."


"Kalian pergi berdua saja. Biar papa di sini  sambil menjaga semuanya," ucap Aditya.


"Iya Pa."


"Pa, Reza ikut ya," pinta Reza.


"Reza di sini saja. Reza temani Mama ya. Papa tidak lama kok. Rio pasti tidak jauh dari sini," bujuk Ryan.


Reza merasa gagal menjaga Rio. 


"Semoga Rio tidak pergi jauh-jauh. Rio anaknya nekad. Semoga dia tidak berbuat hal-hal aneh lagi," ujar Rita.


"Iya Ma."


***


Lima belas menit berlalu. Ryan dan Rafa sudah mencari Rio di dalam aula, toilet dan bertanya kepada tau lain masih tidak menemukan Rio. Mereka kembali lagi ke tempat Dilla dan lainnya berada.


"Bagaimana Mas? apa kalian menemukan Rio?" tanya Dilla begitu melihat Ryan. 


"Maaf sayang, Mas tidak menemukan Rio dimana pun," sahut Ryan.


"Terus bagaimana ini Mas. Dilla takut terjadi sesuatu sama Rio," kata Dilla panik. 


"Iya sayang, Mas mengerti. Mas juga khawatir."


"Kalau gitu Dilla mau cari Rio sendiri," ujar Dilla sambil bangun dari kursi.


"Kamu jangan capek sayang. Kamu duduk saja. Biar Mas cari lagi Rio," bujuk Ryan tidak tega.


"Tapi Mas…."


"Apa kalian melihat Lala?" tanya Daniel yang tiba-tiba datang memotong perkataan Dilla.


Mereka semua menoleh ke arah Daniel, Sam dan Bella. Mereka tidak menyadari kedatangan Daniel. 


"Apa kalian melihat Lala?" tanya Bella ulang. 


"Tidak Mbak. Kami tidak melihat Lala," jawab Dilla.


"Daniel bagaimana ini?" tanya Bella khawatir.


"Apa yang terjadi Daniel?" tanya Ryan penasaran. 


"Tadi Lala minta izin ke kamar mandi. Lala pergi ditemani sama Sam. Tapi Lala malah kabur saat Sam lengah," terang Daniel.


"Kami tidak tahu keberadaan Lala sekarang. Saya takut terjadi apa-apa sama Lala," sambung Bella. 


"Jadi Lala juga menghilang?" tanya Jelita. 


"Apa maksud kalian?" tanya Daniel tidak mengerti. 


"Rio anak kami juga menghilang. Kami tidak tahu di mana dia berada. Tadi dia bermain bersama Reza dan Dafa," terang Ryan.


"Apa mungkin Rio dan Lala sedang bersama," duga Rita.


"Itu bisa saja Ma," sahut Aditya. 


"Mengapa Lala bisa kabur ya. Lala tidak mungkin tidak punya alasan?" tanya Dafa.


Bella dan Daniel saling bertatap. Setelahnya mereka melihat lagi ke arah Dilla dan lainnya. 


"Kami rencananya akan berangkat ke luar negeri setelah pesta pernikahan ini. Lala tidak setuju pergi ke luar negeri. Dia menolah keras untuk pergi," kata Daniel. 


"Kenapa Lala tidak setuju pergi?" 


"Katanya Lala tidak berpisah sama Rio. Lala ingin bermain terus sama Rio. Lala sudah nyaman berteman sama Rio. Mungkin itu alasan Lala kabur," sahut Daniel lagi.


"Kenapa kalian harus berangkat ke luar negeri?" tanya Ryan. 


"Perusahaan aku yang di luar negeri ada sedikit masalah. Bisa membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Jadi aku memutuskan untuk membawa Bella, Lala dan Sam ke luar negeri. Aku tidak mau terpisah lama sama keluargaku." 


"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Rita. 


"Sebaiknya kita semua berpencar untuk mencari mereka," saran Dilla.


"Kamu jangan terlalu capek sayang," tegur Dilla.


"Tidak Mas. Dila khawatir sama Rio juga Lala. Dilla janji tidak akan memaksa diri kok," janji Dilla.


"Baiklah, kita berangkat bersama."


"Bagaimana kalau kuta bertanya sama penjaga aula. Jika mereka keluar pasti ada yang lihat," saran Aditya.


"Ryan setuju Pa."


"Ayo kita tanyakan," ajak Daniel.


Mereka semua berangkat mencari Rio dan Lala. Mereka akan bertanya kepada penjaga dulu.


Ada yang bertanya di mana orang tua Daniel. Mereka sudah pamit istirahat. Manda merasa tidak enak badan dan memilih beristirahat di salah satu kamar hotel.


Kemanakah kira-kira Rio dan Lala berada? Apa mereka sedang bersama atau tidak?


Nantikan di bab selanjutnya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan komentar lagi ya.


Maaf jika bab kemarin tidak sesuai ya. Saya dapat referensi dari bacaan lain dan menurut saya lucu pas penyampaian di sana. Itu semua akan berkaitan sama hubungan Rio dimasa dia dewasa nanti. Untuk clue nya ada di bab selanjutnya.


Terima kasih atas komentar dan sarannya ya. Jangan lupa saran dan kritikan jika cerita saya sudah melenceng dan tidak bagus ya. Semua komentar kalian sangat berarti buat saya. ^_^.