
Reza dan Rafa dalam sekejap menjadi idola di dalam kelas. Karena mereka termasuk siswa yang pintar. Banyak para siswa dan siswi yang ingin menjadi teman Reza dan Rafa. Bahkan ada juga yang dengan genitnya bilang bahwa mereka ingin menjadi pasangan Reza dan Rafa.
Sedangkan Sam lebih memilih menjadi anak yang pendiam dan dengan tatapan mata yang sangat tajam saat melihat kearah siswa dan siswi yang lain. Sehingga para siswa dan siswi takut untuk mendekati Sam. Sam juga anak yang pandai tapi kadang dia malas untuk menjawab soal.
Kini Sam melihat kearah Reza dan Rafa yang sedang dikerumuni oleh siswa dan siswi yang lebih didominasi oleh para siswi. Mereka berebutan memberi bekal makanan mereka buat Reza dan Rafa. Reza dan Rafa sudah berulang kali menolak karena mereka juga telah membawa bekal masing-masing. Hal itu membuat beberapa gadis kecil kecewa. Karena Reza dan Rafa tidak ingin melihat para teman-temannya kecewa akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama dan saling tukar makanan.
"Sam ayo sini. Gabung sama kita," ajak Reza.
Walaupun Reza tidak suka sama sifat Sam, tapi dia teringat sama kata Dilla yang tidak boleh memilih dalam berteman kecuali dia jahat.
"Biarkan dia duduk sendiri. Kenapa Reza memanggil dia," protes salah satu siswi.
"Sama orangnya sangat menyeramkan. Lihatlah tatapannya itu," tambah salah satu siswa yang tidak terima Reza mengajak Sam untuk ikut bergabung sama mereka.
"Kan Sam juga teman kita. Jadi tidak apa jika ikut bergabung sama kita," sambung Rafa.
Mereka tidak menerima pendapat Reza dan Rafa. Tapi karena takut mereka tidak bisa berteman lagi dengan mereka, akhirnya mereka hanya diam.
"Ayo duduk di sini," panggil Reza lagi.
Sam bangkit dari tempat duduknya. Reza senang melihat jika Sam mau ke bangku mereka. Mereka pikir Sam akan menghampiri mereka, tapi Sam malah melewati mereka begitu saja.
Tadi Sam sempat menabrak seorang siswi sehingga bekal yang dipegang dia jatuh berhamburan di lantai. Dia hampir menangis karena makan siangnya berhamburan. Tanpa meminta maaf Sam berlalu ke arah luar. Sam ingin mencari makanan di kantin.
"Makan siang ku," kata gadis kecil yang bernama Mita dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis lagi. Kamu bisa memakan punya aku," tawar Reza sambil mendorong kotak bekal makan siangnya.
"Tidak usah Reza. Biar dia makan punya aku," tolak Siska yang tidak mau makanan punya Reza dibagi sama Mita.
Mita senang saat Reza menawarkan makan siangnya dia ingin mengambil tapi segera ditarik oleh Siska.
"Reza memberikan bekal makan siang itu untuk aku. Kenapa kamu mengambilnya," kata Mita tidak terima.
"Kamu makan punya aku saja. Aku akan makan punya Reza," sahut Siska.
Akhirnya mereka berdua saling adu mulut untuk makan makanan punya Reza. Yang lainnya hanya menonton pertengkaran Siska dan Mita yang saling berebut makanan sambil makan bekal siang mereka. Mereka juga ikut menghabiskan kotak bekal Reza dan Siska. Sampai bel berbunyi akhirnya mereka hanya berdebat tanpa sempat makan siang
***
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Ryan menghentikan memeriksa laporan.
"Silahkan masuk," suruh Ryan dengan melanjutkan memeriksa laporan.
"Maaf Pak, ada tamu yang ingin bertemu sama Bapak," kata sekretaris baru Ryan.
"Siapa yang ingin bertemu dengan saya. Saya tidak ada janji temu hari ini," ujar
"Kata dia, dia adalah kerabat Bapak," jawab sekretaris.
Ryan mengernyitkan keningnya.
'Siapa yang datang berkunjung ya?'
"Suruh dia masuk," suruh Ryan.
"Baik Pak."
Sekretaris itu keluar dari ruang Ryan dan menyuruh tamu itu untuk masuk.
"Selamat siang Ryan," ujar Lisa.
"Kenapa kamu pulang tidak memberitahu aku," kata Ryan sambil berdiri dan menghampiri Lisa.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan buat kamu dan lainnya," ucap Lisa.
"Ayo silahkan duduk dulu," suruh Ryan kepada Lisa.
"Bagaimana keadaan kamu selama kamu di luar negeri?" tanya Ryan.
"Kabar aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Lisa.
"Bagaimana kabar kamu dan keponakan aku?" tanya Lisa balik.
"Aku dan mereka berdua juga baik baik saja. Mereka sudah tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar, kamu tenang saja," kata Ryan.
"Syukurlah kalau kamu dan mereka baik-baik saja."
"Tapi kenapa kamu pulang mendadak begini?" tanya Ryan lagi.
"Aku pulang karena aku mendengar kabar bahwa kamu telah menikah lagi," ujar Lisa terus terang.
"Memang benar kalau aku sudah menikah lagi. Maaf jika aku tidak memberi tahu hal ini kepada kamu karena pernikahan kami dilakukan secara mendadak," jawab Ryan
"Kenapa pernikahan kalian mendadak, kalian menikah bukan karena terjadi sesuatu kan?"
"Tidak, bukan itu kok. Tapi karena dia mau dijodohkan sama orang lain. Jadi jika aku tidak bergerak cepat maka aku akan kehilangan dia," jawab Ryan.
Lisa hanya mendengar jawaban lian merespon dia hanya mengangguk pelan dengan pelan.
"Siapa dia?" tanya Lisa.
"Apakah aku mengenalnya?" tanya Lisa lagi.
"Kamu tidak mengenalnya dia. Karena dia datang ke kehidupan kami kurang lebih sekitar tahun," sahut Ryan.
"Kenapa kalian bisa cepat menikah seperti itu. Kalian juga baru kenal" kata Lisa tidak percaya.
"Apa boleh buat jika cinta hadir tanpa undangan. Kita tidak tau kapan cinta itu bisa hadir," ujar Ryan menatap Lisa dengan serius.
Lisa tidak percaya jika Ryan bersikap seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
"Apa pekerjaan dia," tanya Lisa lagi.
"Dulu dia bekerja sebagai pengasuh Rio dan Reza. Dia juga yang merawat aku selama aku lumpuh. Dia bisa membujuk dan membuat aku mau melakukan terapi, terapi yang selalu aku tolak. Dia juga menjaga Rio dan Reza dengan sangat baik. Dia bisa merubah kami semua menjadi lebih baik. seiring berjalannya waktu, kami pun juga saling mencintai. Akhirnya kami memutuskan untuk menikah," kata Ryan.
"Apa? kamu menikah dengan pengasuh anak kamu sendiri? Aku tidak percaya kamu menikah sama pengasuh anak kamu sendiri, oh Tuhan apa yang terjadi," tanya Lisa tidak percaya.
"Memangnya kenapa kalau Dilla adalah pengasuh," tantang Ryan balik.
"Ryan, kamu harus sadar. Dia pasti hanya cari muka di depan kalian. Itu pasti taktik dua. Bagaimana kamu bisa menikah hanya dengan seorang pengasuh?"
"Lisa, kamu jangan lupa jika dulu aku menikah dengan Riana dia juga tidak memiliki apa-apa. Yang kamu punya sekarang juga bantuan dari keluarga kami," ucap Ryan.
Ryan sebenarnya tidak mau mungkin masalah ini. Semua yang dia dan kua kalian berikan kepada ria nada nisa adalah ikhlas. Tapi karena Lisa terlalu memandang rendah Dilla maka dia juga tidak terima. Lisa harus tau posisi dia sebelumnya, begitulah menurut Ryan.
Lisa meremas kedua tangannya dengan marah dan emosi. Dia tau jika apa yang dia miliki saat ini berkat bantuan Ryan dan keluarganya. Tetap saja Lisa tidak terima Ryan menikah dengan seorang pengasuh
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan Komentar kalian ya. Terima kasih.