
Ryan menatap heran pada meja rias yang sudah diisi dengan banyak barang make up. Ryan mendekati meja rias dan mengambil salah satu produk tersebut.
"Ini make up punya siapa? Apa mungkin punya Dilla? Tapi sejak kapan dia beli ini? Ini semua merk ternama dan dilihat dari isinya sudah pernah dipakai," ujar Ryan.
"Sebaiknya nanti saja aku tanya sama Dilla. Lebih baik, sekarang aku mandi. Badan sudah sangat gerah dan lengket," ucap Ryan dengan meletakkan kembali yang dia pegang.
Ryan memutuskan untuk segera mandi. Saat Ryan keluar dari kamar mandi, kebetulan Dilla baru masuk ke dalam kamar.
"Sayang," panggil Ryan.
"Iya Mas," sahut Dilla.
"Itu barang make up punya kamu?" tanya Ryan.
"Oh itu, itu alat make up punya mbak Jelita. Tadi pagi mbak Jelita ingin membuangnya. Daripada dibuang jadi Dilla minta saja," ujar Dilla.
"Kenapa kamu minta, kan kamu bisa langsung beli."
"Mas, buat apa kita beli jika barang-barang punya mbak Jelita masih bagus. Mas jangan boros deh, Dilla tidak suka jika Mas boros," tegur Dilla.
Ryan yang tidak mau lagi membuat Dilla emosi akhirnya Ryan memilih diam saja.
Setelah mengambil pakaian milik Ryan dan meletakkan di atas kasur, Dilla segera mengambil handuk. Dilla juga ingin mandi. Ketika Dilla keluar dari kamar mandi, Ryan sudah tidak ada lagi di sana.
Ketika Dilla mengusap lembut, dia tidak sengaja melihat alat make up yang telah diberikan oleh Jelita. Langkah Dilla mendekati meja rias itu. Dilla menarik kursi dan duduk di sana. Dilla membuka salah satu make up dan menghirup baunya.
"Baunya enak sekali," kata Dilla dengan relax.
"Apa aku tes sekarang ya. Mungkin kalau coba sedikit tidak apa-apa. Tapi aku tidak pernah pakai yang seperti ini. Ahhh… tinggal tanya sama mbah google saja, kan miss google lagi marah," ujar Dilla.
Dilla mulai melihat tutorial cara pakai make up dengan serius. Setelah itu Dilla mencoba memakai alat make up itu dengan sendiri tanpa adanya pengalaman langsung.
"Ini pakainya seberapa banyak ya. Mungkin jika lebih banyak lebih bagus."
"Ini tadi yang ini dulu atau yang ini dulu ya. Kayaknya sama aja deh."
"Di tutorial suruh pakai warna coklat, tapi setelah dipakai tidak cantik. Warna cerah yang cantik semua, mungkin tambah warna biru saja ya biar lebih cantik. Warnanya saja sudah cantik, hasilnya pasti cantik."
Setelah menimang warna yang menurut Dilla bagus. Dilla juga menambahkan warna tersebut. Setelah melihat hasil karyanya, Dilla merasakan sangat puas. Dilla mengusap perut datar.
"Lihat baby, Mama malam ini jadi cantik seperti pelangi. Kamu senangkan," ujar Dilla.
"Omy," panggil Rio yang telah bosan menunggu Dilla.
"Iya sayang," sahut Dilla tanpa menoleh.
Dilla masih menambahkan aye liner dan membelakangi Rio.
"Omy lagi apa?" tanya Rio.
"Omy sedang pakai make up," jawab Dilla.
Dilla membalikkan badan menghadap Rio. Rio begitu terkejut melihat wajah Dilla.
"Bagaimana sayang, apa Omy cantik?" tanya Dilla.
"Antuuu…," teriak Rio takut.
Rio segera berlari dari sana dengan terburu-buru. Rio berlari di anak tangga dengan cepat. Untung saja Rio tidak jatuh.
"Antuuu... Papa olong Liyo... ada antuuu…," teriak Rio dari kejauhan.
Rio segera mendekati Ryan dan lainnya.
"Ada apa Rio? Kenapa Rio berteriak seperti itu?" tanya Ryan mendekati Rio.
"Pa Pa ada antu. Ada antu di tamal Papa. Antu na milip cana Omy," lapor Rio.
Ryan kaget mendengar pernyataan Rio. Ryan takut jika sesuatu terjadi dengan Dilla. Anak kecil cenderung bisa melihat makhluk halus. Pikiran Ryan sudah ke mana-mana.
Ryan segera berlari menuju ke arah tangga, tetapi lari Ryan terhenti seketika menggunakan rem cap cakram. Ryan melihat Dilla yang turun dari tangga. Langkah Dilla seakan-akan ada gerakan slow.
Tuk tuk tuk.
Dilla menuruni tangga dengan pelan-pelan. Dilla tidak mau capek.
"Mas, Mas mau kemana?" tanya Dilla.
Rio bersembunyi di balik kaki Ryan. Rio takut melihat Dilla.
"Itu Pa antu yang milip cama Omy," ujar Rio menunjukkan ke arah Dilla.
"Mana? dimana hantunya?" tanya Dilla ikut takut juga.
Dilla takut jika pada yang namanya makhluk halus. Tapi beda sama orang, Dilla tidak akan takut. Preman pun akan berani Dilla ajak berkelahi. Kalau makhluk halus kan tidak bisa dipegang dan dihajar.
Dilla melirik ke kiri dan ke kanan mencari hantu. Dilla yang tidak melihat jadi merinding. Dilla mecoba mendekati Ryan supaya tidak takut.
Rio yang melihat Dilla mendekat, malah berlari bersembunyi di belakang sang nenek. Semua yang ada di sana jug terkejut melihat ke arah Dilla. Tapi mereka tidak berani protes, takut Dilla tersinggung.
"Sayang, mengapa kamu memakai make up seperti itu?" tanya Ryan.
"Bagaimana Mas? apa Dilla cantik?" ujar Dilla bangga.
"Bagus Ma, Mama mirip sama badu…."
Dafa segera membungkam mulut Rafa. Dada tau apa yang mau Rafa katakan. Rafa begitu menyukai badut. Pasti Rafa mau bilang jika Dilla mirip badut.
Rafa melepaskan tangan Dafa.
"Daddy kenapa tutup mulut Rafa?"
"Itu… tadi ada debu," jawab Dafa berbohong.
"Oh…."
"Jadi bagaimana?" tanya Dilla lagi mengharapkan pujian.
"Cantik kok, mirip rainbow cake," jawab Ryan.
"Apa maksud Mas?"
"Maksudnya Mas, kamu itu manis. Kan rainbow cake manis," ujar Ryan memutarkan kata.
"Jadi maksud Mas, Dilla pakai make up ini jadi manis?"
"Ya seperti itulah."
Ryan tidak mau jika Dilla nanti marah lagi. Ryan tidak berani berkata jujur tentang muka Dilla. Muka Dilla saat ini memang mirip dengan rainbow cake karena kebanyakan memakai warna. Muka dilla penuh dengan warna-warni.
"Sayang, sini sama Mama," panggil Dilla kepada Rio.
"Ndak mau. Liyo mau cama Nenek aja," tolak Rio.
Dilla menatap Rio tidak percaya.
"Tumben Rio tidak mau sama Mama."
"Liyo… Liyo…."
"Sekarang sudah malam. Ayo kita makan saja," ajak Rita membantu Rio.
"Hampir lupa sama makan malam. Ayo kita ke ruang makan," tambah Dilla bersemangat.
Dilla berjalan di depan menuju ke ruang makan. Dilla sudah tidak sabar untuk makan. Nafsu makan Dilla seakan tidak pernah putus. Dilla akan sanggup makan banyak sejak dia hamil.
"Bukannya Rio tidak takut sama hantu?" tanya Ryan.
"Iya Pa, Liyo ndak atut cama antu. Api-api antu tadi milip cama Omy. Liyo ndak belani putul. Tan Liyo cayang Omy," sahut Rio.
"Kalau hantunya mirip papa bagaimana?" tanya Dafa iseng.
"Liyo atan memutul antu tu denan edang Liyo. Liyo atan putul campai antu tu pelgi."
Ryan yang mendengar jawaban Rio menatap Rio datar. Ryan memang tidak bisa dibandingkan dengan Dilla di mata anak-anaknya. Sedangkan Dafa malah tertawa senang. Ryan tidak terima Dafa tertawa seperti itu.
"Jika hantunya mirip…."
"Sudah sudah, kalian ini masih kayak anak kecil saja. Sana kita ke ruang makan juga. Sudah besar masih saja tidak mau mengalah. Apalagi hanya di depan anak kecil," sindir Jelita.
Dafa dan Ryan langsung terdiam. Mereka akui jika tadi mereka seperti anak kecil. Mereka berdehem sebentar sebelum menuju ke ruang makan.
Bersambung….