Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 203. Kontraksi



Beberapa minggu berlalu setelah pesta pernikahan Daniel dan Bella. Lala dan Rio mereka sering video call. Lala akan menceritakan apapun yang dia lihat dan temui kepada Rio. Rio yang selalu mendengar ocehan Lala jadi bosan. 


Rio mendengar dengan laut wajah yang cemberut. Lala kalau sudah bercerita tidak ada rem lagi. Rio padahal ingin bermain sama Dilla. Rio hanya mengiyakan atau hanya sekedar menjawab.


Jika Rio tidak mengangkat telepon dari Lala, maka Lala pasti akan menangis. Lala akan menagih janji kepada Rio untuk menerima video call. Rio bukan seorang yang akan berbohong. Akhirnya Rio duduk sambil telponan sama Lala sampai menghabiskan waktu hingga satu jam, bahkan bisa lebih jika Lala lagi bosan. 


Setelah selesai menerima telepon dari Lala, Rio akan mencari Dilla untuk pergi bermain. Rio lebih senang dekat dengan Dilla. Rio sangat suka mendengar calon adiknya menendang perut Dilla.


Usia kandungan Dilla dan Jelita sudah memasuki bulan yang mereka tunggu-tunggu. Dokter sudah mengatakan jika mereka akan lahiran pada waktu yang dekat, sekitar seminggu lagi. Jadi dokter menyarankan agar ada yang menjaga mereka secara bergiliran. Siapa tau mereka akan melahirkan lebih cepat. Dokter hanya bisa memprediksi saja.


Pada hari ini giliran Ryan yang menjaga Dilla dari Jelita. Mereka sudah menyusun jadwal menjaga secara bergantian. Mereka menyusun berdasarkan jadwal padat mereka. Dafa pada hari ini perginya ke kantor untuk mengurus rapat. Aditya, Rita dan Rio sedang pergi ke sebuah acara. 


Aditya dan Rita sengaja mengajak Rio keluar agar Ryan tidak repot menjaga mereka semua. Mereka juga takut jika Rio mengganggu Ryan, Dilla dan Jelita. Sedangkan para sopir sudah pergi menjemput Reza dan Rafa dari sekolah. Di rumah hanya ada beberapa pembantu saja, sebagian juga sedang pergi ke pasar dan keluar. Sehingga suasana rumah sedikit sepi.


Di ruang tamu Dilla sedang selonjoran dengan kepala di atas Ryan. Ryan mengelus kepala Dilla dengan lembut. Dilla sedang ingin dimanja. Dilla begitu menikmati elusan di kepalanya. 


Jelita yang ada di sana seperti menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua. Jelita memfokuskan diri sendiri dengan menonton. Jelita sekali-kali melirik ke arah mereka berdua. Tapi lama-kelamaan Jelita gerah melihat kelakuan mereka berdua. Jelita jadi rindu Dafa.


"Kalian ini, jika mau bermanja-manja ria tidak usah di sini. Di depan aku pula,"tegur Jelita


"Bilang aja kalau Mbak iri kan," sahut Dilla. 


"Ngapain aku iri. Jika Dafa kembali aku juga bisa bermanja-manja sama dia," sahut Jelita tak terima.


Dilla mengabaikan Jelita. Dia kembali menikmati elusan tangan Ryan. Rasanya Dilla juga mengantuk. 


"Sudahlah, lebih baik aku kembali kamar. Lama-lama di sini aku semakin gerah melihat kelakuan kalian," ujar Jelita. 


Jelita bangkit dari duduknya. Tiba-tiba Jelita merasakan sakit di perut. Jelita memutuskan untuk duduk kembali.


"Aduh!" teriak Jelita tidak tahan. 


"Mbak Jelita kenapa?" tanya Dilla khawatir. 


Dilla mencoba bangun dari berbaring nya. Ryan membantu Dilla duduk. Dilla semakin susah bergerak. Beda sama Jelita yang bisa bergerak lebih bebas daripada Dilla.


"Jelita, kamu kenapa?" tanya Ryan ikut khawatir.


"Aku tidak tahu. Perut aku terasa sangat sakit ahhh...ahh...," kata Jelita sambil mengeluarkan nafas kasar.


"Apa Mbak mau melahirkan ya?" tebak Dilla.


"Saya juga tidak tau Dil… Akh!" teriak Jelita kesakitan. 


"Mas, cepat bantu Jelita," suruh Dilla.


"Ahh… iya," sahut Ryan yang bengong.


Ryan segera mendekat ke arah Jelita. Ryan mengecek kondisi Jelita. Ryan melihat reaksi Jelita. Ryan yakin dengan dugaan Dilla. Ryan tahu jika Jelita mau melahirkan.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit Jelita. Kamu akan melahirkan," ajak Ryan 


"Baik Ryan. Akh… akh… tapi aku tidak kuat berdiri lagi akh," ujar Jelita disela kesakitan 


"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan bantu kamu," ucap Ryan.


"Bi… Bi Imah!" teriak Ryan dengan suara keras.


"Iya Tuan Ryan. Ada apa," jawab bi Imah yang buru-buru datang.


"Bi, tolong ambil kunci mobil Ryan di tempat biasa," suruh Ryan.


"Baik Tuan. Sebentar Tuan," sahut bi Imah.


Bi Imah segera berlari mengambil kunci. Bi imah bisa menebak jika Jelita mau melahirkan.


"Ayo Jelita, aku bantu papah kamu ke dalam mobil," ucap Ryan.


"Ya sudah. Biar aku gendong kamu masuk ke dalam mobil," ujar Ryan.


Ryan mulai mengangkat Jelita di depan. Ryan sedikit susah bangun karena Jelita mencengkram leher Ryan dengan kuat 


"Tuan ini kunci mobilnya," kata bi Imah. 


"Bi, tolong bukakan pintu mobilnya," suruh Ryan.


"Baik Tuan," sahut bi imah berlari ke arah mobil.


"Dilla, kamu tunggu di sini saja ya. Mas akan mengantar Jelita ke rumah sakit," kata Ryan.


"Mas, Dilla juga mau ikut. Dilla juga mau lihat Mbak Jelita lahiran," jawab Dilla.


"Baiklah. Kamu tunggu di sini dulu. Nanti Mas balik lagi bantu kamu ke mobil. Kita pergi bersama," ujar Ryan. 


"Iya Mas," sahut Dilla patuh. 


Ryan segera menuju ke mobil. Ryan mendudukkan Jelita di kursi belakang. Nanti bisa ada Dilla yang menemani Jelita saat dia mengemudi. Setelahnya Ryan masuk lagi ke dalam.


***


"Nyonya, Nyonya tidak apa-apa?" tanya bu Imah melihat Dilla yang mengerang kesakitan.


"Akh… akh… akh…."


"Dilla, apa yang terjadi sama kamu!" teriak Ryan sambil berjalan cepat ke arah Dilla. 


"Sayang, ada apa sama kamu lagi," kata Ryan panik.


"Mas, sepertinya Dilla juga mau melahirkan akh… akh...," jawab Dilla merintih kesakitan.


"Apa!" teriak Ryan kaget.


Ryan sekarang merasa pusing. Tadi Jelita yang mau melahirkan, sekarang Dilla juga ikutan.


"Bi Imah sekarang tolong panggilkan taksi. Tidak mungkin jika mereka duduk di belakang berdua," suruh Ryan lagi.


"Baik Tuan," jawab bi Imah sambil berlari keluar.


"Ayo pegang sama Mas. Mas akan bawa kalian ke rumah sakit," kata Ryan.


Ryan mengangkat Dilla ke dekapannya. Ryan mulai berjalan cepat ke arah luar.


"Kalian ini kenapa sangat kompak ingin melahirkan. Saat semuanya orang tidak ada rumah lagi," ujar Ryan terus berjalan.


"Kami mana tahu Mas akh…  jika mereka berdua kompak ingin keluar hari ini akh… akh…. Memangnya Mereka ada bisik janjiannya akh… akh…," jawab Dilla sewot di sela kesakitan.


Ryan terus berjalan ke arah luar rumah. Ryan tidak mau membuat Dilla terlalu banyak bicara. Ketika sudah ada di pintu luar rumah sudah bi Imah yang datang dengan taksi.


"Tuan ayo naik," ucap bi Imah.


Ryan membawa Dilla ke arah taksi. Ryan meletakkan Dilla dengan hati-hati.


"Sayang, kamu dulu di sini dulu ya. Mas  akan membawa Jelita ke sini juga," ujar Ryan. 


"Iya Mas, Mas jangan lama-lama. Perut Dilla akh… akh… sangat sakit," kata Dilla.


Ryan mengecup kening Dilla sekilas sebelum menuju ke arah Jelita.


Bersambung….


Maaf jika beberapa hari kemarin saya tidak up. Itu semua dikarenakan kondisi saya kurang sehat. Semoga kalian masih betah membaca karya-karya saya. Terima kasih.