
Dilla menendang perampok itu dan memukulnya pakai tas.
"Rasakan ini ini ini," kata Dilla emosi.
Dilla memukulnya sekuat yang dia bisa, perampok itu akhirnya pingsan karena Dilla mengayunkan tas itu ke kepala perampok itu yang ingin mau bangun. Perampok pertama sudah tepar tak berdaya.
Perampok yang menyandera Dilla tadi telah bangun dan ingin menyerang Dilla kembali.
"Dilla awas!" teriak Ryan yang melihat tanda bahaya.
Ryan ingin membantu, tapi dia tidak bisa karena Rio memeluk kakinya dengan erat. Ryan tidak bisa bergerak sama sekali. Rio ketakutan dan hanya melihat apa yang terjadi.
Dilla segera menghindar, perampok itu mencoba menyerang lagi, tanpa pikir panjang Dilla menendang kelemahan laki laki dengan kuat. Perampok itu pingsan seketika karena sakit.
Ryan yang melihat kejadian itu merasa ngilu sendiri. Dia bahkan menutupi punya dia sendiri seolah punya dia yang ditendang.
Dilla akhirnya bisa membuat kedua perampok itu pingsan. Dilla menarik perampok itu dan meletakkan di atas perampok yang satunya lagi.
Dilla mendekati Rio dan Ryan.
"Dilla kamu baik baik saja?" tanya Ryan.
Ryan sebenarnya lebih khawatir sama perampok yang sudah di hajar sama Dilla.
"Apa menurut Tuan Dilla baik baik saja, enak aja main peluk peluk orang. Apa dia pikir Dilla itu cewek cabe cabean apa. Untung saja sudah pingsan, kalau tidak pengen di kebiri itunya sampai ke akar akarnya dan dibuang ke laut segitiga bermuda," kata Dilla marah marah.
Ryan menelan ludahnya dengan susah payah.
'Lain lain kali aku janji tidak akan membuat Dilla marah lagi, bisa habis masa depanku,' batin Ryan ngeri.
"Omy telen," ujar Rio senang dan bangga.
Rio memberikan dua jempolnya kepada Dilla.
"Omy cepelti cupel hilo, hiak hiak hiak," lanjut Rio sambil mempraktekan gaya Dilla menyerang perampok itu.
Rio mendekati perampok itu yang pingsan.
"Ni lacatan celangan Liyo," kata Rio.
Rio menduduki perampok itu dan memukulnya dengan tangan kecilnya.
Dilla mengangkat tubuh Rio dari atas badan perampok. Dilla tidak mau Rio dekat dekat sama mereka.
Tidak lama kemudian datang polisi dan beberapa orang. Tadi kebetulan tidak sengaja ada orang yang melihat perampokan itu dan segera melaporkannya kepada polisi.
"Terima kasih Pak karena telah menangkap perampok ini. Perampok ini sudah beberapa kali menjalani aksinya, kami kesulitan menangkapnya karena mereka begitu licin" Pak polisi itu mengucapkan terima kasih pada Ryan.
"Maaf Pak, tapi…."
Ryan ingin bilang kalau yang mengalahkan perampok ini adalah Dilla. Tapi melihat Dilla yang menatapnya tajam dia jadi takut. Seakan akan Dilla mau bilang jika Ryan mengatakan jika Dilla yang mengalahkan perampok itu maka Dilla akan memberi pelajaran buat Ryan.
'Seram.'
"Iya Pak sama sama," jawab Ryan lemah.
Seluruh bulunya tadi berdiri melihat tatapan Dilla yang mematikan.
'Perempuan kalau sedang emosi lebih mengerikan dari film horror manapun.'
"Kalau begitu kami pamit ya," ujar Polisi itu.
Polisi itu segera membawa kedua perampok itu.
"Dilla kamu…."
Dilla segera menggendong Rio dan berjalan ke arah mobil dengan langkah yang besar.
'Ingat Ryan jangan buat macannya tambah mengamuk.'
Ryan mengelus dadanya dan segera menyusul Dilla.
***
Sepanjang perjalanan pulang Dilla masih saja badmood. Rio sudah tertidur di pangkuan Dilla. Ryan terlalu takut mengajak Dilla bicara saat ini, seperti ada pertanda di atas kepala Dilla.
Ryan jadi gerah dengan suasana mobil begini, dia jadi haus dan ingin minum. Ryan meraba jok di samping buat mengambil botol minum karena sedang menyetir, tapi tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Dilla.
"Itu tangan kenapa main sentuh sentuh," kata Dilla sensi.
Ryan segera menarik tangannya kembali dengan cepat.
"Saya hanya ingin mengambil botol minuman kok, itu," ujar Ryan pelan.
Ryan menunjukkan botol minuman dengan dagunya.
"Oh," hanya itu respon Dilla.
Ryan mencoba mengambil lagi tapi kali ini dia mengambil dengan melihatnya. Ryan segera meminumnya sampai setengah botol sekaligus.
"Kenapa Tuan dari tadi melirik lirik," ujar Dilla.
Dilla sadar jika Ryan dari tadi meliriknya.
"Ah itu, saya mau tau kenapa kamu masih marah sampai sekarang kan mereka sudah ditangkap sama Polisi?" tanya Ryan.
Ryan tau jika perampok itu salah tapi kenapa Dilla marahnya berlebihan begitu.
'Kayak lagi PMS aja.'
"Bagaimana saya tidak kesal Tuan, lelaki hidung belang itu dengan kurang diajarnya di sekolah berani berani memeluk Dilla. Pokoknya Dilla tidak terima main dipeluk gitu, coba tadi dia tidak pingsan, sudah Dilla tampar bolak balik sama tangan ini. Tangan Dilla masih gatal ingin menampar seseorang, kalau belum nampar orang belum puas rasanya," kata Dilla sambil memperlihatkan tangannya
"Ah iya iya," jawab Ryan gugup.
Ryan kembali meminum sisa air yang tadi. Baru kali ini Ryan melihat perempuan yang begitu emosional sama saat Riana ngidam dulu. Membayangkan Riana yang ngidam sama seperti mood Dilla saat ini membuat Ryan gelisah. Ryan membetulkan duduknya kembali.
Mobil itu akhirnya telah sampai di rumah. Ryan bisa menarik nafas lega. Mereka berdua keluar dari mobil. Dilla berjalan di depan Ryan. Ryan melihat ada noda merah di belakang rok yang digunakan sama Dilla.
"Dilla," panggil Ryan.
"Iya," sahut Dilla setelah berbalik.
"Rok kamu ada noda merahnya, apa kamu terluka."
Dilla terkejut mendengar ucapan Ryan. Memang benar saat ini dia sedang dapat.
"Kayaknya itu bukan luka deh, seperti darah PM…."
Plak….
Kini tangan Dilla akhirnya sudah bertemu dengan pipi, memang dari tadi tangan Dilla sudah gatal mau jumpa sama pipi seseorang.
Ryan tidak lanjut berbicara lagi, pipinya terasa perih sekali. Dilla segera balik badan dan berlalu masuk kerumah sambil menutup noda merah di roknya. Wajah Dilla memerah malu.
'Kenapa Tuan tidak punya malu sih, masak main bilang begitu, kan Dilla malu.'
"Ah sial," kata Ryan.
Ryan sudah dari tadi menahan diri agar tidak membuat Dilla marah. Tapi nyatanya Ryan malah membuat Dilla marah kembali.
"Pantas aja dari tadi marah marah terus, ternyata beneran lagi PMS. Perempuan itu kalau lagi PMS memang emosian," ujar Ryan pada diri sendiri.
Ryan masih mengelus pipinya yang merah dan perih.
"Makanya punya mulut itu dijaga. Untung Dilla hanya menampar doang, kalau aku sudah tamat riwayatnya," ujar Jelita yang kebetulan melihat Ryan di tampar sama Dilla.
"Cewek itu paling sensi sama cowok jika bahas tentang itu. Lain kali kalau bicara lihat kondisi dulu," setelah memberi petuah Jelita berlalu masuk.
Ryan melihat Jelita masuk ke rumah. Dia memutuskan untuk kembali ke kantor, masih banyak kerjaan yang harus dia urus.
Bersambung….
Jangan lupa Vote, semoga bisa masuk ke 20 besar sesegera mungkin.
Yang belum follow juga follow ya.
Terima kasih.