Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 81. Ajakan Pesta



Malam kembali datang menggantikan matahari yang sudah menghilang. Suasana di kediaman Suherman masih seperti biasa tiada yang berubah.


"Ryan bisa kamu gantikan Papa pergi ke pesta teman Papa. Papa tidak bisa pergi karena Papa lupa sudah duluan buat janji sama Mama kamu, Papa janji mau ajak Mama jalan jalan besok. Kamu kan tau Papa dan Mama sudah tua jadi tidak memiliki energi yang banyak seperti saat masih muda. Dan Papa juga tidak mungkin membatalkan jalan jalan yang sudah kami rencanakan sejak lama." ujar Aditya dengan memberikan surat undangan pesta.


Ryan dan Aditya sekarang sedang berada di ruang kerja Ryan. Ryan mengambil surat undangan itu dan membacanya sekilas.


"Tapi ini undangan berpasangan Pa, Ryan mau ajak pergi siapa?" tanya Ryan.


"Kamu ajak saja Sekertaris kamu. Papa sebenarnya ingin pergi tapi tidak bisa. Tidak baik jika keluarga kita tidak menunjukkan diri, ini merupakan rekan bisnis penting kita."


"Tapi ini undangan untuk acara malam besok Pa. Ryan juga tidak mau mengajak Siska ke acara apapun. Siska orangnya sangat genit Pa nanti dia bisa gede kepala. Ryan sampai sekarang masih mempertahankan dia karena kinerjanya yang bagus, kalau tidak sudah dari dulu Ryan pecat dia. Dia sudah capek Ryan tegur cara berpakaiannya tapi masih tetap saja tidak peduli. Mungkin jika ada Sekretaris baru yang bisa kompeten, Ryan akan memecat dia segera," ujar Ryan panjang lebar.


"Terus bagaimana, pesta itu harus pergi berpasangan. Tidak ada yang datang sendirian."


Ryan juga bingung sendiri, jika dulu dia hanya pergi dengan Riana jika ada pesta harus datang berpasangan.


"Ah atau kamu ajak aja Dilla buat menemani kamu," usul Aditya yang tiba tiba nongol Dilla di kepalanya.


"Terus bagaimana dengan Rio, Reza dan Rafa Pa?" tanya Ryan.


"Kamu tenang aja, biar Papa yang atur masalah mereka. Pokoknya kamu ajak aja Dilla terlebih dahulu. Keluarga kita harus ada yang mewakilinya."


"Baiklah Pa, nanti Ryan coba tanya ke Dilla dulu," jawab Ryan.


Ryan dan Aditya memutuskan keluar dari ruang kerja setelah membahas undangan pesta tersebut. Saat mereka keluar dari ruang kebetulan Dilla lewat di depan mereka.


"Dilla," panggil Aditya.


"Iya Om," sahut Dilla setelah berada di depan Aditya.


"Ryan mau bicara sesuatu sama kamu, Om duluan ya," setelah berkata begitu Aditya kembali ke kamarnya.


"Ada apa Tuan?" tanya Dilla setelah Aditya menghilang.


"Ah itu, apa kamu besok malam bisa menemani saya pergi ke pesta, pestanya harus datang berpasangan," ujar Ryan.


"Tapi kenapa Tuan mengajak Dilla?" tanya Dilla lagi.


"Saya tidak tau mau mengajak siapapun lagi kecuali kamu, tapi kalau kamu tidak bisa saya tidak akan memaksa," ucap Ryan.


"Dilla tidak masalah Tuan, tapi bagaimana dengan Reza, Rafa dan Rio?" tanya Dilla kembali.


"Kamu tenang aja, itu Papa yang akan mengurus. Besok jam 7 malam saya jemput ya," setelah berkata begitu Ryan juga pergi ke kamarnya.


'Ya ampun, hanya pergi berdua sama Tuan, ini seperti kencan. Ini kesempatan bagus Dilla.'


Dilla merasa senang, dia tidak menduga dia akan pergi berdua saja sama Ryan.


"Tapi aku harus pakai baju apa ya, baju aku kan butut semua," ujar Dilla melemah.


Sekarang Dilla baru ingat jika dia tidak ada baju yang bagus.


"Sudah lah, yang penting besok bisa pergi berdua sama Tuan, nanti aku mau minta tolong sama Mbak Jelita saja buat dibantuin beli baju yang bagus, kan selera Mbak Jelita bagus tu," Dilla memutuskan meminta tolong pada Jelita.


***


Aditya memasuki kamarnya, di dalam kamar Rita sudah menunggu Aditya.


"Iya ,Papa berhasil membujuknya," jawab Aditya.


"Syukur deh kalau Ryan mau pergi, karena kita sudah lama merencanakan jalan jalan ini. Tapi Ryan nantinya pergi sama siapa Pa, apa Papa ada tanya juga."


"Ryan akan pergi sama Dilla, karena Ryan tidak tau mau mengajak siapa lagi."


"Terus cucu kita siapa yang jaga," ujar Rita khawatir.


"Nanti biar Papa yang atur."


Rita hanya menganggukan kepalanya. Rita mencoba untuk tidur, tapi kegiatannya terhenti karena pertanyaan Aditya.


"Menurut Mama Dilla itu bagaimana sih?" tanya Aditya sambil melihat langit lagi rumah.


"Menurut Mama, Dilla orang baik, dia bisa membuat keluarga kita seperti dulu lagi. Mama senang ada Dilla di sini," ujar Rita yang duduk tegak kembali.


"Ma, Mama kan tau suatu saat Ryan pasti harus menikah lagi. Selain untuk mengurusnya juga harus menjadi Ibu sambung bagi Rio dan Reza." kata Aditya tanpa melihat ke arah Rita. 


"Maksud apa apa?" tanya Rita yang tidak mengerti.


"Maksud Papa bagaimana jika Dilla menjadi Ibu sambung Rio dan Reza, jika Dilla setuju tentunya, kan Mama juga tau Rio dan Reza sangat menyayangi Dilla begitu pula sebaliknya," ujar Aditya.


"Mama senang senang aja jika Dilla menjadi bagian dari keluarga kita Pa. Mama setuju jika Dilla menjadi Ibu sambung Rio dan Reza. Karena jarang ada Ibu sambung yang mau menerima anak yang bukan anaknya. Tapi bagaimana caranya pa?"


"Bagaimana kalau kita diam diam dekati mereka berdua, biar mereka merasa nyaman dulu, tidak perlu buru buru nanti mereka bisa curiga," usul Aditya.


"Mama setuju Pa," jawab Rita bersemangat.


Rita senang jika Dilla yang menjadi istri Ryan selanjutnya, dengan begitu dia yakin keluarganya akan tetap seperti ini, seperti saat Riana masih ada. Tapi Rita tetap menghormati Riani sebagai istri pertama Ryan dan Dilla sebagai diri Dilla sendiri bukan pengganti Riani.


"Jadi bagaimana jika besok kita tunda dulu jalan jalannya, kita ajak cucu kita jalan jalan. Hitung-hitung momen kita bersama cucu cucu kita sambil mengenang masa muda kita," ujar Aditya kembali.


"Ih Papa ini sudah tua, ingat umur Pa," sahut Rita tak percaya.


"Kenapa Ma, tidak ada yang salahkan, masa lalu yang indah itu untuk dikenang kembali saat tua, yang jelek mah di buang aja," kata Aditya santai.


"Iya, Mama setuju, karena susah juga mengajak mereka pergi tanpa Dilla, terutama Rio."


"Mama tenang aja, urusan Rio biar Papa yang urus, Papa ada rencana." ujar Aditya yakin.


Rita menyerahkan bagian Rio ke suaminya. Rita berharap agar Ryan dan Dilla bisa bersatu. Dia ingin keluarganya diliputi rasa kehangatan kembali.


***


Keesokan paginya Dilla memberi tahu masalah ini pada Jelita.


"Ini bagus Dilla, kamu tenang aja semua perlengkapan biar aku yang siapkan, kebetulan aku ada koleksi gaun baru, nanti kamu pakai aja gaun yang itu," ujar Jelita.


"Terima kasih ya Mbak," kata Dilla terharu.


"Sama sama Dilla, kita kan memang saling membantu sekarang," jawab Jelita.


Bersambung....