Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2. Bab 143 Hamil?



Saat Dilla ingin bertanya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Dilla dari arah belakang. Dilla segera menoleh ke belakang, yang dia lihat adalah wajah Rio yang kabur. Dilla mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. 


"Omy Omy angun," panggil Rio sambil menepuk muka Dilla yang sedang tertidur.


Rio terbangun karena ingin buang air kecil. Rio tidak berani pergi sendiri makanya Rio membangunkan Dilla. 


"Iya sayang," jawab Dilla dengan masih ngantuk. 


Ternyata wajah kabur yang Dilla lihat adalah bayangan Rio yang membangunkan Dilla.


"Omy tenapa teltawa dan telcenum cambil tidul?" tanya Rio penasaran.


"Yang bener Rio!" tanya Dilla balik karena tidak yakin.


"Iya Omy. Dali tadi Omy cenum-cenum cendili. Liyo jadi tatut, celem Omy," lapor Rio.


Dilla kembali mengingat mimpi apa yang dia mimpikan sehingga dia bisa tersenyum. Dilla teringat kembali dengan mimpinya yang didatangi oleh Riana. 


'Terima kasih Mbak Riana telah mempercayakan mereka pada Dilla. Sekarang Mbak sudah bisa beristirahat dengan tenang,' batin Dilla.


"Omy," panggil Rio yang melihat Dilla malah melamun.


"Ah iya, kenapa Rio bangunin Mama?" tanya Dilla kembali ke topik awal.


"Liyo mau te tamal mandi Omy. Tapi Liyo atut. Ayo Omy cepat-cepat," suruh Rio yang ingat kenapa membangunkan Dilla.


Dilla segera bangun dan mengangkat Rio dari atas kasur supaya Rio tidak pipis di atas kasur. Kalau sempat pipis bisa repot. 


***


Sekarang usia pernikahan Ryan dan Dilla sudah memasuki satu bulan lebih. Tugas Dilla di rumah adalah mengurus Ryan, Rio dan Reza. Selain itu diserahkan kepada para pembantu, bahkan jika Dilla mau memasak kadang dilarang oleh Rita karena itu sudah bisa dikerjakan oleh bi Imah dan lainnya. 


Tetapi Dilla yang bosan dan ingin memasak masakan untuk suami dan anaknya tetap nekat memasak dengan alasan dia ingin suami dan anaknya memakan masakannya. Rita akhirnya mengalah, jadi sekarang urusan dapur Dilla bisa ikut di bantu sama pembantu jika tidak diganggu sama Rio. 


Karena jika ada Rio saat Dilla memasak atau membuat apapun pasti ujung-ujungnya tidak akan pernah sesuai dengan harapan. Pernah suatu hari Dilla berencana membuat biskuit sebagai cemilan saat sore hari. Rio yang melihat Dilla ingin memasak segera pergi ke dapur. Rio sudah berapa kali disuruh sama Dilla untuk bermain di depan tapi tidak mau. Hasilnya Dilla mendudukkan Rio di atas meja dengan syarat Rio tidak boleh kemana-mana dan membuat ulah.


Kenapa didudukkan di atas meja bukan di kursi? Karena jika duduk d kursi dengan tubuh Rio yang kecil maka akan tenggelam sama meja. Jika di atas meja Dilla bisa melihat Rio setiap waktu. Untuk pencegahan Rio berbuat ulah. 


Dilla ingin membuat biskuit berbentuk beruang untuk dua toples. Setelah matang Dilla meletakkan biskuit itu di dekat Rio. Dilla tidak memperhatikan Rio dengan fokus karena Rio duduk enteng di atas meja. Dilla sudah siap mengeluarkan tiga loyang dan memasukkan loyang yang terakhir.


Sambil menunggu loyang biskuit yang terakhir matang, Dilla memilih ingin memasuki yang sudah jadi ke dalam toples. Dilla telah mengambil dua toples, tetapi langkah Dilla terhenti saat melihat tiga loyang kue yang sudah kosong melompong. Dilla segera meletakkan dua toples itu di meja, kemudian Dilla mengangkat loyang itu dengan bolak balik, siapa tau biskuitnya sedang bersembunyi. 


Dilla sangat yakin jika dia belum memindahkan biskuit tersebut. Kemudian tatapannya mengarah ke arah Rio yang masih duduk dengan tenang. 


"Rio," kata Dilla dengan menekankan kata Rio.


"Ya Omy," sahut Rio dengan nada tidak bersalah. 


"Apa Rio yang menghabiskan semua biskuit yang dibuat oleh Mama?" tanya Dilla.


"Ndak Omy. Liyo ndak tau," jawab Rio berbohong. 


"Kalau bukan Rio siapa lagi?"


"Ucing Omy," jawab Rio yakin.


"Terus itu tangannya kenapa di belakang?"


"Ndak apa-apa Omy."


"Mama tidak akan marah kok jika memang Rio yang menghabiskan biskuit yang Mama buat," kata Dilla memancing Rio.


"Benelan Omy?" tanya Rio senang.


Dilla menganggukkan kepala sebagai jawaban. Karena merasa Dilla tidak akan marah Rio mengeluarkan kembali potongan biskuit terakhir yang telah dia gigit.


"Rio…," kata Dilla dengan nada ditekankan.


Rio mengangguk-angguk kepalanya sambil masukkan potongan yang terakhir. Rio sama sekali tidak melihat ekspresi Dilla yang geram dan ingin gigit pipi bakpao Rio.


"Katanya bukan Rio yang menghabis biskuit punya Mama. Tapi itu adalah kucing. Mana kucing nakal tadi yang Rio bilang yang curi biskuit Mama. Biar Mama hukum," ujar Dilla tidak percaya, Rio sudah mulai berbohong walaupun jelas tidak bisa berbohong. 


"Bituit yang Omy buwat wenak sih. Mulut Liyo mau matan dan matan ladi," jawab Rio.


Dilla menahan amarahnya, kali ini dia sedikit kesal dibuat oleh Rio. Padahal dia berniat ingin membagikan kuenya kepada yang lain. Sekarang hanya tinggal satu loyang di dalam oven. Rio yang merasakan kalau Dilla menerkamnya, maka Rio segera buru-buru turun dari meja dengan bantuan kursi. 


"Rio jangan lari!" teriak Dilla kesal. 


Rio malah semakin lari dan tertawa dengan senang seakan Dilla sedang mengajaknya bermain kejar-kejaran.


"Ampuuun Omy…," balas Rio berteriak.


Dilla hanya bisa menghela napas dengan nasib biskuit yang telah Rio habiskan. Akhirnya pada hari itu Dilla hanya tersisa setengah toples saja.


Sejak saat itu jika Dilla mau memasak selalu mengawasi Rio dengan teliti. Walaupun sudah teliti Dilla tetap kalah dari Rio. Apalagi jika Rio hanya duduk diam, pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh Rio.


***


Kembali pada saat sekarang. Mereka sudah di meja makan dengan anggota keluarga yang lengkap minus sang Kakek. Saat sedang sarapan pagi tiba-tiba Jelita seakan ingin muntah. Semua melihat ke arah Jelita khawatir.


 "Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Dafa cemas.


"Ah tidak apa-apa kok sayang. Aku memang sudah dua hari ini sering  pusing dan muntah di pagi hari," sahut Jelita.


"Kamu juga sering muntah di pagi hari? apa kamu lagi masuk angin sayang?" tanya Dafa semakin khawatir. 


"Atau jangan-jangan kamu hamil lagi Jelita," ujar Rita. 


Semua langsung menatap ke arah Jelita termasuk Ryan dan Dilla. Jelita yang mendengarnya reflek mengelus perutnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika memang beneran hamil lagi.


"Hamil," kata Dafa dengan mata bersinar.


Dafa memang sudah dari dulu berharap Jelita hamil lagi.


"Dari gejalanya Jelita memang tampak seperti gejala orang hamil pada umumnya," ujar Rita kata menjelaskan.


"Hamil tu apa Omy?" tanya Rio yang penasaran. 


"Hamil itu…," kata Dilla terputus karena dia tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Rio yang masih kecil.


"Hamil itu maka artinya Rafa akan segera mempunyai seorang adik," jawab Rafa bangga. 


Rafa dari dulu juga berharap jika dia mempunyai adik kandung seperti Reza mempunyai Rio. Bukannya Rafa tidak menyayangi Rio, tetapi Rafa juga ingin punya adik dari Daddy dan Mommy.


"Adik," kata Rio dengan suara kecil. 


"Iya, apa Rio juga ingin punya adik?" tanya Ryan harap-harap cemas.


Rio terdiam sebentar.


"Liyo…."


Bersambung….


Kejadian di atas Rio yang menghabiskan biskuit adalah kejadian yang diadaptasi dari masa kami kecil. Apa kalian juga pernah mengalami hal seperti itu?


Terima kasih sudah membaca ya. Jangan lupa tinggalkan kritikan dan juga saran oke.….


Saya Rekomendasi novel keren punya sahabat saya yang bisa kalian baca sambil menunggu up selanjutnya…