Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 202. Foto



Dilla kasihan melihat Lala yang terus menangis tidak mau dipisahkan sama Rio. Dilla tahu jika Lala selama ini tidak ada kawan bermain. Jadi Dilla maklum jika Lala tidak mau berpisah sama Rio. Rio adalah teman bagi pertama bagi Lala. Dilla ingin membujuk Lala.


"Mbak Bella biar saya yang mencoba membujuk Lala," pinta Dilla. 


"Baiklah Dilla. Semoga Lala mau mendengar kamu ya Dilla," sahut Bella.


"Semoga saja Mbak."


Dilla berharap agar Lala mau mendengarkannya. Dilla tidak tega melihat Lala yang menangis.


"Lala ke sini bentar. Ayo ikut Tante. Kita bicara di sana," kata Dilla sambil menunjukkan pada sebuah kursi dan mengulurkan tangan pada Lala.


Lala menurut. Lala menerima uluran tangan Dilla. Lala mengikuti langkah Dilla menuju kursi tersebut. Lala dan Dilla sudah duduk di kursi tersebut.


Bella dan Daniel berharap jika Dilla bisa membujuk Lala. Mereka tidak mungkin meninggalkan Lala sendiri disini. Daniel juga tidak mungkin pergi sendiri. Mereka tidak mau terpisah jauh dan dalam jangka waktu yang lama. 


"Lala, kenapa Lala tidak mau ikut sama mama dan Daddy?" tanya Dilla memulai pertanyaan.


"Lala ndak mau picah cama mais Liyo, Ante," jawab Lala sedih.


Dilla mengangguk kepala. Dilla sudah tahu akan jawaban Lala. Lala pasti sulit untuk meninggalkan Rio. 


"Kenapa Lala tidak mau pisah sama Rio?" Dilla ingin mendengar langsung jawaban dari Lala.


"Lala cenang belma-in cama mais Liyo  Ante. Mais Liyo bayik pada Lala. Celama ni Lala ndak ada teman Ante. Ndak mau belma-in cama Lala. Meleta celalu jeyekin Lala. Meleta atan usil Lala bila itut ma-in. Tadang meleta uga mutul-mutul Lala. Badan Lala campai atit Ante," cerita Lala.


"Apa Lala tidak pernah cerita sama Mama?" tanya Dilla. 


Dilla tidak menyangka jika Lala pernah merasakan seperti itu. Dilla pikir selama ini Lala hanyalah kesepian. Dilla kasihan melihat anak sekecil Lala sudah menderita.


"Lala ndak pelnah ilang-ilang cama mama. Lala ndak mau mama cedih," sahut Lala.


'Ternyata selama ini hidup Lala sangat kesepian. Pantas saja Lala tidak mau terpisah sama Rio.'


"Nanti Lala di sana ada abang Sam. Abang Sam pasti bisa temani Lala bermain. Lala di sana pasti menemukan teman yang baru," bujuk Dilla.


"Main cama bang Cam ndak celu. Macak bang Cam ajak Lala main lobot. Lala tan bocan Ante. Bicala cama bang Cam juga ndak celu. Beda cama mais Liyo. Talau bicala cama mais Liyo celu. Api, adang mais Liyo celing diam caat Lala ajak bicala api macih celu," kata Lala memonyongkan bibir.


'Wajar jika kalian nyambung. Usia kalian lebih dekat dibanding Sam. Kalian bicara juga masih cadel. Pasti Sam belum paham apa yang kalian bicarakan.'


"Lala ndak mau picah cama mais Liyo, mais Liyo teman tama Lala," sambung Lala. 


"Apa Lala tega melihat mama dan daddy Lala sedih," ujar Dilla sambil melihat Bella yang dipeluk oleh Daniel.


Lala juga ikut sedih melihat mama nya yang sedih. Lala bingung mau pilih siapa.


"Apa Lala tidak mau menuruti permintaan mama? Nanti saat Lala dan lainnya libur,  Lala bisa kembali ke sini."


"Talau Lala pedi, Lala ndak bica umpa ladi cama mais Liyo. Anti Lala angen Ante."


"Kalau Lala kangen sama Rio, nanti Lala bisa teleponan sama Rio. Lala tinggal minta sama mama untuk video call sama Rio. Bagaimana?"


"Beda Ante," bantah Lala.


"Bagaimana kalau Tante kasih fotonya Rio," ujar Dilla sambil membuka tas dan mencari dompet. 


Dilla memberikan foto Rio kepada Lala. Lala menerima foto itu dan melihat gambar Rio. 


"Kalau Lala kangen, Lala bisa melihat foto Rio juga." 


Lala fokus menatap foto Rio dalam diam. Dilla ingin menyimpan kembali dompet ke dalam tas. Tanpa sengaja dompet Dilla malah terjatuh di tanah. Dilla sedikit kesusahan untuk mengambil kembali dompetnya.


Lala dengan inisiatif sendiri membantu Dilla mengambil dompet tersebut. Ketika ingin mengembalikan, Lala melihat sebuah foto pada dompet Dilla. 


"Ah... itu…."


Dilla tidak tahu harus menjawab apa. Foto itu adalah foto ketika Rio menggunakan gaun. Dila bahkan dengan iseng mengikat rambut Rio. Di foto Rio juga memegang boneka yang dibeli untuk adiknya. Saat itu Dilla hanya membayangkan jika foto itu adalah anaknya di masa depan.


"Oto nih antik Ante. Api tenapa milip cama mais Liyo ya?" tanya Lala bisa menebak foto Rio.


"Benal-benal milip mais Liyo. Apa ni tembalan mais Liyo?" tanya Lala lagi.


"Itu memang foto Rio. Tante yang menyuruh Rio pakai gaun. Sini ya fotonya," jawab Dilla ingin meraih foto itu kembali.


Lala menjauhkan foto itu dari Dilla. Lala sangat suka foto itu. Lebih suka dibanding sama foto yang dikasih Dilla tadi.


"Oto ini buwat Lala aja ya Ante. Oto adi buwat Ante aja," minta Lala.


Foto itu adalah satu-satunya foto yang sempat diambil oleh Dilla dan sempat dicetak. Sedangkan file aslinya tidak sengaja Dilla hapus. Dilla sengaja menyimpan foto itu untung membayangkan wajah anaknya nanti. Jika Dilla memberikan foto itu kepada Lala automatis Dilla tidak ada lagi.


"Talau Ante beli oto ni tuk Lala, Lala anji itut cama mama dan daddy," tawar Lala.


"Lala janji mau ikut sama mama dan daddy?" tanya Dilla memastikan lagi.


Tidak masalah jika Dilla harus kehilangan foto itu. Asalkan Lala bisa dibujuk untuk ikut Bella dan Daniel.


"Iya Ante. Oto ni mau Lala cimpan. Talau Lala angen cama mais Liyo ada oto ni,"  ujar Lala sambil memeluk foto Rio. 


"Baiklah, foto itu buat Lala," sahut Dilla.


Lala senang mendengarnya. Lala segera menyimpan foto itu pada saku bajunya. Lala tidak mau jika foto itu rusak atau pun hilang.


Setelah sepakat Dilla dan Lala menuju lagi ke arah yang lainnya. Dilla memberikan senyuman kepada Bella. Bella yang tahu maksud dari senyuman Dilla segera mendekati Lala. Bella mencium pipi Lala senang.


"Lala sudah mau ikut Mama dan daddy?" tanya Bella.


"Iya Ma," sahut Lala.


Bella memeluk Lala dengan erat. Bella sangat berterima kasih kepada Dilla.


Lala melepaskan pelukan Bella. Lala menuju ke arah Rio.


"Mais Liyo," panggil Lala.


Rio hanya menatap Lala polos dan tidak tahu apa-apa.


"Mais Liyo, Lala mau peldi yang jawuh… Lala anti peldi nayik bulung telbang becal. Talau Lala angen cama Mais Liyo, Mais Liyo antat tepon dali Lala ya. Angan lama-lama," pinta Lala.


"Tentu Rio akan mengangkat telepon dari Lala. Iya kan Rio," jawab Dilla dan mengedipkan mata pada Rio.


Lala melihat ke arah Dilla, kemudian melihat lagi ke arah Rio. Lala mengharapkan jawaban dari Rio.


"Iya," jawab Rio sambil mengangguk kepala.


Lala senang dengan jawaban dari Rio. Lala memeluk Rio sebentar. Setelah Itu lama mengecup pipi Rio sekilas dan bersembunyi di belakang paha Bella.


"Wahh Mbak Bella, sepertinya nanti kita akan jadi besan," canda Dilla.


Mereka semua tertawa dengan candaan Dilla. Mereka tidak tahu jika sebuah candaan bisa saja terjadi di masa depan.


Bersambung….


Pengumuman


Besok tanggal 15 Oktober ada acara di AR Capella jam 12 siang. Acara bahas sekitar karya saya. Bagi siapa yang mau bertanya seputar novel saya silahkan hadir ya. Kalian boleh bertanya, komentar, kritikan dan lainnya ya. Jika susah menemukan room nya kalian bisa ikuti melalui beranda saya dan klik cari. Semoga kalian mau datang ya. Terima kasih.