
Hari sudah mulai gelap. Matahari baru saja menghilang. Dilla mencoba melihat ke kiri dan kanan apakah masih ada orang atau tidak. Dilla memilih memantau keadaan rumah itu terlebih dahulu agar nanti malam dia bisa mudah keluar.
Setelah Dilla berkeliling berapa lama, ternyata rumah itu memang dijaga ketat oleh beberapa orang. Pasti ada yang mengawasi setiap pintu dan ada juga pengawal yang berkeliling. Dari balik jendela Dilla mengintip bayangan orang yang sedang berkeliling.
"Bagaimana aku bisa kabur jika mereka begitu banyak. Apa aku harus menunggu sampai larut malam, siapa tahu mereka tertidur," kata Dilla pada diri sendiri.
"Kamu lebih baik tidak usah kabur dulu untuk sementara," ujar Gio yang berada di belakang Dilla.
Gio sudah dari tadi melihat gerak-gerik Dilla yang aneh. Gio tau jika Dilla pasti mencoba melarikan diri.
Dilla sangat terkejut saat melihat asisten Daniel yang berada di belakang dia.
"Bukannya Tuan adalah asisten tuan Daniel?" tanya Dilla.
"Iya, saya adalah asisten Daneil sekaligus teman dia. Kamu panggil saya Gio saja. Tidak perlu pakai embel-embel Tuan," sahut Gio.
"Tapi Tuan Gio lebih tua dari saya."
"Tapi saya ini bukan Tuan kamu. Panggil Gio saja," suruh Gio.
"Baiklah Gio. Jadi apa kamu bisa mengeluarkan saya dari sini. Saya janji akan memberikan kamu apapun jika saya bisa bebas," kata Dilla yang mencoba merayu atau menyogok Gio.
"Saya tidak bisa membantu kamu. Apalagi Daniel adalah sahabat dekat saya sendiri. Jadi saya tahu bagaimana keras kepalanya Daniel. Jika kamu mencoba lari dari sini, dia pasti akan berbuat nekat dan mencelakai keluarga kamu."
Dilla meremaskan kedua tangannya.
"Kenapa tuan Dabiel berbuat hal jahat seperti ini. Memangnya tidak ada perempuan lain yang bisa dijadikan ibu untuk Sam. Saya ini telah menikah dan mempunyai anak sendiri. Apalagi saat ini saya sedang mengandung," ujar Dilla dengan nada emosi.
"Daniel membawa kamu sini karena Sam sendiri yang menyayangi kamu."
"Sam milih saya pasti karena selama ini dia belum melihat banyak perempuan lain yang bisa menjadi ibu Sam. Tuan Daniel bisa memilih diantara mereka yang cocok jadi ibu Sam. Tuan Daniel bisa menikahi mereka."
"Memang banyak perempuan di luar sana yang mau menjadi istri Daniel. Tetapi di hati Daniel hanya ada satu nama perempuan," ujar Gio keceplosan.
'Kenapa aku bisa keceplosan sih.'
"Perempuan? siapa itu?" tanya Dilla kepo.
"Sudah lah, kamu urus saja Sam. Jangan banyak memikirkan hal lain," kata Gio mengalihkan topik.
Gii ingin segera pergi dari sana.
"Tunggu," ucap Dilla mencegah tangan Gio agar tidak pergi.
"Coba kamu jelaskan kepada saya. Siapa tahu saya bisa bantu dan semuanya menjadi baik," tawar Dilla.
"Bagaimana kamu bisa membantu saya. Perempuan yang disukai oleh Daniel telah menikah. Mereka tidak pernah berjumpa lagi sejak mereka berpisah delapan tahun yang lalu. Bahkan Daniel dan aku tidak pernah mendapat kabar lagi tentang dia," ujar Gio.
"Apakah kamu pernah mengecek kabar dia. Siapa tahu masih ada peluang gitu."
"Apa maksud kamu?"
"Yah… bisa saja kita masih bisa menyatukan mereka berdua."
"Kau jangan gila. Saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak mau jika hal ini bisa membuat Daniel lebih marah lagi. Kemarin saja saya membahas tentang dia di depan Daniel, Daniel marah besar."
"Nah berati benar jika tuan Daniel masih ada perasaan sama dia," ujar Dilla senang
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar Sam," usir Gio.
"Jadi kamu tidak mau menuruti permintaan saya. Saya hanya ingin kamu menyelidiki tentang perempuan yang disukai tuan Daniel."
"Kamu lupakan saja masalah itu."
Entah kenapa Dilla yakin jika masalah ini bisa membebaskan dia dari Daniel. Dilla kembali memikirkan cara agar Gio mau membantu dia. Dilla tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. Dilla ingin segera pulang. Belum sampai dua puluh empat jam, Dilla sudah rindu sama Ryan dan anak-anak.
"Mommy, Mommy dari mana saja. Sam dari tadi cariin Mommy," tanya Sam yang mendekat Dilla.
"Mommy hanya lagi bicara sama paman Gio saja," sahut Dilla.
"Apa yang Mommy bicarakan sama Paman Gio?"
Dilla tiba-tiba memiliki sebuah ide yang muncul. Dilla berharap jika Sam bisa membantu dia. Dilla mendekati Sam.
"Mommy tadu hanya meminta satu hal sama paman Gio. Tapi paman Gio menolak permintaan Mommy. Mommy jadi sedih," ujar Dilla sambil berlutut dengan membuat wajah sesedih mungkin agar Sam percaya kepada dia.
Sam segera menghadap ke arah Gio dan meletakkan kedua tangan di pinggang. Sam menatap Gio dengan tajam
"Paman jangan jahat sama mommy. Paman harus menuruti semua permintaan Mommy," perintah Sam.
'Bagus Sam. Ayo desak tuan Gio lagi.'
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau Paman membuat Mommy sedih lagi, Sam akan melapor kepada daddy," ancam Sam.
Gio melihat ke arah Dilla yang tertawa kemenangan. Gio bisa merasakan jika Dilla tadi sengaja melakukan hal itu. Gio menghalalkan nafas dengan berat.
"Mungkin benar seperti yang dikatakan oleh Dilla. Siapa tahu Daniel masih ada kesempatan bersama dengan Bella. Semoga firasat Dilla benar jika Daniel dan Bella bisa bersama. Jika mereka bisa bersama pasti Daniel dan Sam akan bahagia. Mudah-mudahan Daniel tidak akan menghukum aku jika aku menyelidiki tentang Bella.'
"Kenapa Paman masih diam saja. Apa mau Sam lapor segera kepada daddy?"
"Tuan Muda, Paman akanil mengabulkan permintaan mommy Sam," sahut Gio.
Dilla bisa lega mendengar jawaban Gio.
"Mommy dengarkan. Paman Gio akan mengabulkan permintaan Mommy. Jadi Mommy jangan sedih lagi ya. Ada Sam di sini," kata Sam sambil memeluk Dilla dengan erat.
Dilla membalas pelukan sam.
'Semoga semuanya berjalan lancar,' doa Dilla.
"Terima kasih Tuan," ujar Dilla.
"Kamu tidak perlu berterima kasih kepada saya. Mungkin hal ini sudah harus sayadiselidiki sejak awal. Sekarang saya pamit dulu. Saya akan segera mencari infonya. Kamu di sini dulu, jaga Sam baik-baik," ujar Gio.
Dilla mengangguk kepala.
Gio meninggalkan Dilla dan Sam.
"Mommy, ayo kita ke kamar. Sam sudah mulai mengantuk," ucap Sam.
"Ayo kita segera berangkat ke kamar," ajak Dilla bersemangat.
***
Dilla dan Sam sekarang sudah berada di atas kasus. Sam menyuruh Dilla untuk tidur di samping dia.
"Sam," panggil Dilla.
"Iya Mommy," sahut Sam.
"Sam kenapa memilih Mommy Dilla sebagai Mommy Sam," tanya Dilla hati-hati.
"Sam tidak mengerti Mommy."
"Di luar sana begitu banyak orang yang bisa jadi Mommy Sam, kenapa Sam malah memilih Mommy?"
"Sam ingin seperti Reza Mommy. Sam ingin diperhatikan. Sam cemburu sama Reza. Reza sering di abtar jemput sama Mommy. Sam juga cemburu Reza dibuat bekal sama Mommy. Sam cemburu mendengar Reza menceritakan betapa sayangnya Mommy sama Rexa," sahut Sam sedih.
Dilla tersentuh sama jawaban Sam. Dilla mengelus ramb Sam. Dilla jadi teringat saat dia pertama kali melihat Reza yang begitu pendiam. Dilla bisa merasakan, jika Sam sekarang sama seperti Reza dulu.
"Jadi karena itu Sam mau Mommy jadi Mommy Sam?"
Sam menganggukkan kepala.
"Jika nanti ada yang mau menjadi Mommy baru Sam dan menyayangi Sam seperti Mommy menyayangi Rio dan Reza, apa Sam mau menerima dia?"
Sam terdiam.
"Saat ini Mommy sudah punya Rio dan Reza, apalagi Mommy sedang mengandung adik mereka. Mommy tidak mungkin bisa menjadi Mommy Sam seutuhnya. Jika Sam mau, Sam bisa jadi saudara Reza dan Rio," ujar Dilla sambil mengusap perutnya.
Sam tidak menanggapi. Sam menatap Dilla yang mengurus perutnya. Sam juga ikut mengelus karena penasaran.
"Apa Sam ingin punya adik juga?"
Sam kembali menatap ke arah Dilla. Kemudian Sam menganggukkan kepala.
"Jika Sam menjadi anak baik, pasti Sam akan punya adik juga."
"Sam mau adik. Sam mau menjadi anak baik," sahut Sam.
"Sekarang sudah saatnya tidur. Ayo tidur."
Dilla menarik selimut buat Sam dan dirinya. Ketika Sam telah tidur. Dilla membuka mata kembali. Dilla teringat Rio dan Reza.
"Reza, Rio, maafkan Mommy. Mommy rindu kalian."
Dilla yang lelah langsung tertidur di samping Sam.
Bersambung….