
Dengan langkah buru-buru Ryan masuk ke dalam rumah. Di belakang Ryan, Dafa juga memasuki rumah. Dafa yang tau sesuatu hal buruk terjadi pada Dilla dan Rio juga memutuskan pulang.
"Ryan, kamu sudah pulang nak," kata Rita mendekati Ryan dengan raut wajah khawatir.
Suasana kediaman sudirman dalam keadaan panik. Mereka sedang mencemaskan kondisi Dilla. Apalagi Dilla dalm keadaan hamil.
"Ma, kita pasti menemukan Dilla. Mama harus tegar agar semuanya tidak ikut panik," ujar Ryan
"Bagaimana Mama tidak panik Ryan. Dilla sedang mengandung cucu Mama. Mama tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Dilla," ucap Rita.
"Mama yang tenang dulu. Mama bisa membuat Ryan tambah khawatir," kata Aditya membujuk Rita
"Apa penculik Dilla sudah menelepon dan minta tembusan?" tanya Dafa.
"Sepertinya kasus ini bukanlah penculikan dengan motif pemerasan. Jika mereka ingin tembusan uang pasti mereka lebih memilih menculik Rio yang lebih mudah di bawa. Apalagi mereka tidak mengambil tas yang di bawah oleh Dilla," sahut Jelita.
"Jika ini bukan pemerasan, apalagi motif mereka?" tanya Ryan.
"Apa ini salah satu musuh yang tidak suka sama keluarga kita?" tanya Rita balik.
"Itu bisa jadi Tante. Pasti ada yang iri dengan kesuksesan keluarga kita," kata Dafa
"Ya ampun. Kenapa malang sekali nasib kamu nak. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Sebaiknya kita segera telepon polisi Ma," ucap Ryan.
"Betul, kita minta bantuan polisi biar cepat. Pasti di tempat kejadian ada CCTV yang merekam kejadian tersebut. Jika ada polisi, kita dengan mudah bisa mengakses proses penculikan ini," tambah Dafa.
"Papa setuju dengan usulan Ryan dan Dafa. Kita harus segera menghubungi polisi. Ini tidak bisa kita biarkan terlalu lama."
"Pa, mama bagaimana sekarang?" tanya Reza mendekati Ryan.
Reza sudah tau jika Dilla sedang diculik. Reza mengeluarkan air mata tanpa suara. Reza ingin segera melihat Dilla.
"Sayang sabar ya. Papa dan lainnya pasti akan menemukan mama segera."
"Reza tidak mau sesuatu hal buruk terjadi sama mama Pa. Reza sangat sayang sama mama," ujar Reza dengan menghapus air mata.
"Iya, Papa tahu Reza sangat menyayangi mama. Oleh karena itu, Reza bisa berdoa. Semoga saja mama baik-baik saja dan kembali segera dengan selamat."
"Iya Pa. Reza pasti akan mendoakan mama."
Reza sudah mulai sedikit tenang. Reza mulai berdoa supaya Dilla baik-baik saja.
"Bagaimana dengan kondisi Rio sekarang?" tanya Ryan kembali pada Rita dan Jelita.
"Rio baik-baik saja. Rio masih dalam pengaruh obat bius, mungkin sebentar lagi dia akan sadar," sahut Jelita.
"Karena Rio sudah baik-baik saja, maka Ryan akan segera pergi ke kantor polisi."
"Ryan, Papa juga ikut sama kamu," kata Aditya.
"Iya Ryan. Aku juga ikut," sambung Dafa.
"Baiklah kalau begitu. Kita pergi ke sana sekarang juga."
"Kalian pergilah, biar Mama dan Jelita yang menjaga anak-anak."
"Pa, Omy mana," tanya Rio yang baru saja turun dari tangga.
Ketika mereka ingin melangkah, Rio menghentikan langkah mereka. Mereka membalikan badan. Ryan menuju ke arah Rio.
"Pa, Omy mana?" tanya Rio lagi.
"Mama ada di…."
Ucapan Ryan terhenti. Ryan tidak yakin jika dia berbicara jujur pada Rio. Jika Reza setidaknya sudah paham dan mengerti kondisi. Jika Rio tau pasti akan menangis.
"Mama saat ini sedang pulang kampung. Mama sedang rindu sama paman, bibi, Budi dan Yudi," jawab Jelita berbohong.
"Iya, Rio yang sabar ya. Nanti mama akan balik."
"Tenapa Omy ndak ajak-ajak Liyo. Liyo tan inin itut uga," protes Rio.
"Rio kan tahu. Selama mama hamil, mama selalu minta sesuatu dengan tiba-tiba. Kali ini juga mendadak, jadi mama hanya diantar saja," ujar jelita meyakinkan Rio.
"Api Pa, adi Liyo cebelum tidul Liyo mimpiin Omy. Omy agi lawan panjaat. Telus pejaat itu bawa Omy pelgi," kata Rio.
Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Rio pasti akan bertanya lagi dan lagi.
"Makanya Rio jangan terlalu banyak menonton TV. Jadi Rio terbawa mimpi," ucap Rita menipu Rio.
"Iya, tadi saat keluar dari Mall. Rio langsung tertidur," jawab Jelita dengan kompak.
"Jadi cuma mimpi ya. Liyo kila Omy benelan di ulik."
Mereka lega jika Rio masih bisa dibohongi.
"Api tapan Omy atan puyang."
"Rio harus jadi anak baik ya. Biar mama cepat pulang," bujuk Ryan mengelus lembut Rio.
"Iya Pa. Liyo ndak mau lama-lama ndak ada Omy. Liyo pasti angen Omy," Rio menggelengkan kepala.
"Nenek tahu Rio tidak mau berpisah dengan mama. Mood mama sering berubah-ubah. Pasti mama akan cepat balik lagi."
Rio mengangguk-angguk kepala dengan lemah. Sejak kehamilan Dilla, Rio semakin tahu bagaimana sifat Dilla atau dengan perubahan mood Dilla. Dilla kadang bisa manja dan bisa cepat marah. Bahkan Rio juga sering kali bersembunyi jika Dilla sedang dalam mode marah-marah. Kali ini Rio menganggap jika Dilla sedang Rindu keluarga kampung.
***
Ryan, Dafa, Aditya beserta beberapa polisi saat ini sedang berada di ruang monitor mall. Mereka sedang menyaksikan CCTV kejadian penculikan Dilla. Mereka menyaksikan dari Dilla berpisah sama Jelita sampai mobil penculik itu menghilang.
"Sepertinya istri Bapak melawan para penculik itu. Dari sini kita bisa lihat bahwa istri Bapak tidak lagi melawan saat anak kalian sedang disandra. Mungkin istri Bapak tidak mau jika para penculik itu melukai anak kalian," kata polisi.
"Dilla pasti tidak mau sesuatu hal buruk terjadi sama Rio. Makanya Dilla mencoba mengalah dan tidak melawan lagi," tambah Dafa.
"Dilla pasti akan melakukan apapun agar Rio dan Reza tidak terluka. Bahkan dia sekarang rela menyerahkan diri."
"Istri Bapak merupakan istri yang sangat jarang ditemukan sekarang. Sekarang banyak ibu yang lebih mementingkan diri sendiri. Saya salut sama istri Bapak. Bapak adalah lelaki yang sangat beruntung bisa memiliki istri seperti itu."
"Jadi Pak, bagaimana kasus ini selanjutnya?" tanya Ryan.
"Sekarang kita sudah mendapatkan plat mobil mereka. Kami akan melihat CCTV yang ada dijalan dan mengikuti kemana.l pergi. Semoga saja masih ada petunjuk dan kita bisa segera menemukan istri Bapak."
"Pak, tolong lakukan yang terbaik. Saya akan memberikan biaya berapapun asalkan istri saya cepat ditemukan Pak."
"Bapak tenang saja. Kami pasti akan melakukan sebaik mungkin. Nanti jika ada kabar dan petunjuk terbaru, kami akan segera menghubungi Bapak."
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Pak. Ini sudah menjadi tugas kami. Ayo kita pergi," ajak polisi itu pada rekan kerja lain.
"Sekarang kita harus apa Ryan?"
"Kita tunggu dulu informasi dari polisi. Jika belum ada kabar, aku akan menyewa para detektif. Aku tidak mau berbuat gegabah. Jika memang ini adalah ulah rekan bisnis kita. Mereka pasti sudah memata-matai kita."
"Aku setuju dengan pemikiran kamu. Jika kita gegabah pasti mereka akan cepat tau. Tapi sudah berselang beberapa jam kenapa belum ada telepon juga?"
"Bisa jadi mereka ingin membuat kita panik dan kemudian mengambil kesempatan."
"Itu bisa jadi sih."
"Ayo kita pulang, kita tunggu kabar baik dari polisi."
Bersambung….