Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 40. Trauma 2



Reza dengan buru buru berlari ke kamar Nenek dan Kakeknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Reza langsung mendobrak pintu, sehingga mengeluarkan suara yang keras. Rita dan Aditya yang lagi mengobrol melihat siapa yang dengan lancang membanting pintu kamar mereka.


"Neeneek... Kakeeek... Adik Riooo... Adik Riooo...," Reza berkata dengan nafas terputus putus karena kecapeen berlari.


Rita segera menghampiri Reza.


"Ada apa Reza, kenapa dengan Adek Rio," Rita ikutan cemas melihat sikap cucunya ini, tidak biasanya Reza sepanik ini.


"Hah hah hah Adik Rio Nek, Adik Rio sakit," kata Reza akhirnya.


"Sakit apa sayang?" tanya Rita.


Aditya yang mendengar cucu bungsunya sakit segera mendekati Reza.


"Ada apa dengan Rio," tambah Aditya.


"Itu Kek Nek, badan Adik Rio gemetaran," jelas Reza.


"Gemetaran? sebenarnya ada apa sih, di mana Rio sekarang?" tanya Rita makin cemas.


"Rio sudah Mommy bawa ke ruang keluarga," terang Reza.


Dengan buru buru Rita dan Aditya segera ke ruang keluarga yang di ikuti oleh Reza dari belakang.


"Ada apa ini?" tanya Rita pada Dilla.


"Aahhh itu Tante, Dilla juga tidak tau, tiba tiba saja Rio jadi begini," jawab Dilla.


"Ya ampun Rio sayang apa yang terjadi," Rita hendak memegang tangan Rio, tapi Rio segera menepisnya.


"Omyyy... omyyy heuk heuk."


Rita kaget atas penolakan cucunya. Badan cucunya sudah sangat basah dan gemetarannya juga tidak berhenti.


"Nyonya ini air hangat nya," ujar Bi Imah.


Bi Imah datang dengan membawa seember air hangat, di belakang Bi Imah ada Rafa.


"Biar saya saja Tante," ujar Dilla.


Dilla segera mengambil ember itu dan membuka baju Rio yang sudah basah, Dilla mengelapnya dengan perlahan dan hati hati.


"Bi cepat telpon dan segera kabari Ryan kalau Rio sakit, kita akan segera membawa Rio ke rumah sakit," kata Rita.


Bi Imah segera pergi menelpon Tuan Ryan.


Aditya yang tanpa di suruh tadi, langsung dengan singgap mengambil baju ganti cucunya, Aditya menyerahkan baju itu kepada Dilla. Dilla langsung mengambil dan memakaikan ke Rio setelah mengelap badan Rio.


"Ayo Rio kita ke rumah sakit," ajak Rita.


Rio menggeleng gelengkan kepalanya pertanda menolak di bawa ke rumah sakit.


"Ayo sayang kita ke rumah sakit dulu, biar Rio cepat sembuh" Rita juga membujuk Rio tapi Rio masih menggelengkan kepalanya.


"Apa tidak kita bawa langsung saja Rio, kasihan dia, badannya tidak berhenti gemetaran dan cegukkan gitu," saran Aditya.


"Ayo Pa kita bawa saja, Dilla kamu bawa Rio sekarang ke mobil ya, kita langsung menuju ke rumah sakit," perintah Rita.


Mereka mau siap siap ke rumah sakit tapi Rio malah memberontak.


"Heuk heuk ndak au heuk."


"Tapi Rio harus ke rumah sakit sayang," Dilla memberikan pengertian.


"Ndak au heuk heuk" Rio tetap menolak, di peluknya Dilla makin erat.


"Tapi Rio...," Rita hendak membujuk Rio lagi tapi....


"HUWAAA... Heuk... heuk... HUWAAA... heuk... heuk...."


Karna di paksa ke rumah sakit, di antara cegukkan Rio menangis keras.


"Sayang jangan menangis dong," Rita semakin panik.


"Pa bagaimana ini," panik Rita melihat keadaan cucunya.


"Ya sudah kita panggi Dokter Sultan aja kemari," ujar Aditya.


"Udah ya Rio jangan menangis lagi, tidak jadi di bawa ke rumah sakit kok," Dilla mencoba menenangkan Rio.


Tangisan Rio sedikit berhenti walaupun tidak berhenti sepenuhnya, muka Rio juga sudah mulai memerah karena kulit Rio yang putih sehingga cepat sekali berubah warna.


"Mina kamu tolong telpon Dokter Sultan ya, nama dan nomornya ada di samping telepon," perintah Rita.


Tanpa berkata lagi Mina segera pergi menelpon Dokter Sultan.


"Saya juga tidakk tau Bi, sekarang Bibi telpon Ryan lagi, bilang sama Ryan bahwa Rio tidak jadi di bawa ke rumah sakit karena Rio sendiri tidak mau di bawa ke rumah sakit."


"Baik Nyonya."


Bi Imah segera mengkabari Ryan lagi.


"Dilla sebaiknya Rio kita bawa ke kamar dulu, kamu tolong angkat dia ya, sepertinya Rio tidak mau di sentuh sama yang lain dulu"


"Iya Tante," Dilla segera mengendong Rio ke kamarnya, Rio masih menangis di sela cegukannya.


"Nek apa yang terjadi sama Adik Rio?" tanya Reza.


"Iya Nek, kenapa tiba tiba Adik Rio sakit, padahalĀ  tadi baik baik saja," tambah Rafa.


"Nenek juga kurang tau sayang, sekarang Reza dan Rafa main di temani Mbak Mina dulu ya, Mommy, Kakek dan Nenek mau lihat keadaan Rio."


"Tapi Nek, Reza juga mau lihat Adik Nek."


"Sayang, sekarang Adik Rio sedang sakit jadi sabar sebentar ya."


"Baik Nek," jawab mereka berdua dengan lesu.


"Mina Mina Mina," panggi Rita.


"Iya Nyonya," Mina segera berlari saat Rita memanggilnya.


"Mina, tolong kamu jaga Reza dan Rafa sebentar ya, kami mau mengurus Rio dulu."


"Siap Nyonya, Mina akan menjaganya dengan sepenuh hati," jawab Mina.


Mina menjawab dengan semangat 45.


Rita mengabaikan sikap Mina yang selalu energik, ada hal yang lebih penting sekarang yang harus dia urus, Rio cucunya.


"Nah Tuan myuda sekarang mainnya sama Mbak Mina aja ya, kira kira mau main apa ya?" tanya Mina pada Reza dan Rafa.


Mina mencoba menghibur mereka dengan mengalihkan perhatian. Tapi Reza dan Rafa dengan kompak berlalu dari ruangan itu tanpa menjawab pertanyaan Mbak Mina.


"Yaaah Tuan Muda...," teriak Mina tak terima karena merasa di abaikan.


***


Ryan di kantor sedang membereskan laporan yang ada, masih banyak laporan yang belum dia selesaikan. Tapi tiba tiba ada telepon yang masuk.


"Ya Hall...," sapa Ryan terpotong.


"Tuan Tuan Ryan gawat, Tuan Muda Rio lagi sakit, tadi nyonya suruh mengabari bahwa akan segera membawa Rio ke rumah sakit."


"APAAA...," kaget Ryan.


"Iya Tuan, tadi Nyonya bil...."


Sekarang Ryan malah duluan mematikan telepon, dan segera membereskan barang barangnya, saat sedang membereskan barangnya Dafa memasuki ruangannya.


"Ada apa Ryan?" tanya Dafa karena Ryan seperti siap siap mau pulang, padahal sebentar lagi ada rapat dengan klien penting.


"Dafa aku pulang duluan ya, tadi aku dikabari bahwa Rio sedang sakit dan akan segera di bawa ke rumah sakit."


"Sakit? sakit apa memangnya," tanya Dafa lagi.


"Aku juga belum tau."


"Tapi sebentar lagi kamu ada rapat yang penting," beritahu Dafa.


"Tolong kamu yang hendel ya, aku juga tidak akan bisa konsen jika belum tau kabar anak aku."


"Baiklah hati hati di jalan, semoga tidak terjadi apa apa sama Rio."


"Terima kasih ya."


Ryan segera turun dari kantornya, pas mau buka pintu mobil HP nya berbunyi lagi dan berasal dari telepon rumah.


"Ya hal...."


"Tuan kata Nyonya Rio tidak jadi di bawa ke rumah sakit, Tuan Muda Rio menolak untuk di bawa ke rumah sakit, jadi Dokter Sultan nanti yang akan ke rumah," Bi Imah untuk kedua kali memotong ucapan tuannya.


"Baiklah saya akan segera pulang kerumah," jawab Ryan.


"Baik Tuan."


Ryan mematikan HP dan segara masuk ke dalam mobil. Dinyalakan mobil dan mobil itu segera meluncur dengan cepat ke arah rumah.


Bersambung....