
Ryan memutuskan keluar dari kamar inap, kepalanya sedikit pusing memikirkan masa depan anak-anaknya. Ryan menitipkan Rio pada Dafa dan Jelita karena Rio masih sibuk sama mainan yang Rafa tunjukkan.
"Kamu ngapain ke sini lagi sih," kata Sultan.
Langkah Ryan terhenti karena mendengar suara Sultan. Langkahnya terus mengikuti asal suara Sultan. Ryan penasaran Sultan lagi bicara sama siapa. Dari nada suara Sultan, sepertinya dia lagi kesal.
"Aduh Oppa, sedetik tidak melihat Oppa saja, dunia Mina jadi hampa. Apalagi Mina sudah beberapa hari tidak melihat Oppa, rasanya hidup terasa gelap," jawab Mina.
Mina dari tadi merangkul dan memepet Sultan, saat ini mereka ada di lorong rumah sakit. Untung saja tempatnya sepi sehingga mereka tidak jadi tontonan gratis.
"Siapa yang suruh kamu ke sini, kamu ganggu aja tau tidak."
"Oppa jangan marah marah mulu dong, nanti cepat tua."
"Bodoh."
Sultan mencoba melepaskan rangkulan Mina pada tangannya, tapi pelukan Mina begitu kuat. Akhirnya Sultan menyerah, energi habis tapi hasilnya nihil.
"Tapi kalau Oppa tua pun, cinta Mina tetap untuk Oppa seorang," Mina terkekeh sama jawabannya sendiri.
Mina dengan senang hati bersandar pada Sultan. Sekarang Mina rasa Sultan sedikit lembut padanya. Tidak saat awal awal jumpa, Sultan sudah tidak lagi menghindarinya seperti melihat hantu. Hati Mina jadi tambah berbunga-bunga. Mina menepuk sedikit lengan Sultan.
Buakkk
Ryan datang tiba tiba dan menghajar Sultan. Ryan marah melihat Sultan bermesraan sama Mina. Artinya sultan selingkuh di belakang Dilla.
"Oppa," teriak Mina kaget.
Sultan mengelap bibirnya, dia bisa merasakan bau besi di mulutnya. Muka Sultan terasa nyut-nyutan. Pukulan Ryan tidak main main.
"Kamu kenapa sih, datang datang main pukul," kata Sultan tidak terima.
"Kamu tanya kenapa?" tanya Ryan balik.
Ryan segera meraih jas putih Sultan dan meninju sekali lagi. Tubuh Sultan kembali terjerembab di lantai.
"Oppa," panggil Mina.
Mina membantu Sultan berdiri. Tapi Sultan malah menepis tangan Mina. Saat ini Sultan sedang marah, dia tidak terima jika main pukul aja.
"Ryan, aku tanya sekali baik baik, kenapa kamu pukul aku," ujar Sultan kesal.
"Kamu tanya kenapa heh, lihat itu," tunjuk Ryan pada Mina.
Sultan melihat ke arah Mina.
"Kamu dasar cowok tidak tau malu hah, kamu ini pacarnya Dilla tapi malah bermesraan dengan dia di sini. Jadi selama ini kamu selingkuh di belakang Dilla," sahut Ryan emosi.
Ryan tidak terima jika Sultan mengkhianati Dilla. Entah kenapa emosinya langsung naik saat melihat Sultan dan Mina berduaan. Apalagi Sultan dan Dilla mau nikah.
"Ryan kamu tunggu dulu, ini salah paham," ujar Sultan menentukan Ryan
"Salah paham apanya hah, kamu kira aku ini bodoh apa."
Ryan kembali menghajar Sultan.
"Ryan, sekali lagi kamu hajar aku, aku tinggal akan tinggal diam," kata Sultan yang masih bisa mengontrol emosi.
"Tadi aku lihat dengan mata kepala aku sendiri kalau kalian bergandengan tangan dan kamu malah diam saja," tambah Ryan.
"Kamu sabar dulu kenapa, biar aku jelaskan semuanya."
"Tidak perlu penjelasan lagi, cowok seperti kamu memang harus diberi pelajaran biar kapok."
Ryan kembali mencoba memukul Sultan. Kali Sultan bisa menghindari. Sultan yang tidak terima juga ikut membalas pukulan Ryan. Baku hantam itu tidak dapat dihindari. Mereka saling menyerang satu sama lain.
***
Dilla baru saja selesai makan di kantin dengan Reza. Mereka ingin kembali ke kamar inap, tapi mendengar suara keributan yang tidak jauh dari kamar, Dilla menyuruh Reza sendiri ke kamar sendiri. Reza dengan patuh mendengar perkataan Dilla. Dilla mau tau apa yang sebenarnya terjadi.
Dilla mendekati kerumunan itu. Banyak orang yang sudah berkumpul.
"Mbak ada apa ya?" tanya Dilla pada salah satu pengunjung yang menonton perkelahian Ryan dan Sultan.
"Ada yang berkelahi Mbak, mereka sudah dari tadi saling memukul. Tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua karena mereka memukul tidak tanggung-tanggung," jawabnya.
Dilla yang mendengarnya menjadi penasaran. Dilla segera menerobos barisan pengunjung yang mendadak jadi penonton.
Dilla kaget melihat Ryan dan Sultan yang ternyata berkelahi.
"Tuan, Dokter Sultan berhenti," suruh Dilla.
Ryan dan Sultan tidak mendengar perkataan Dilla. Mereka tidak mau kalah satu sama lain.
"Mbak jangan mendekat nanti bisa terluka," cegah salah satu pengunjung rumah sakit.
"Iya Mbak."
"Kenapa kalian hanya menonton saja, kenapa tidak meleraikan mereka," kata Dilla.
"Gimana mau meleraikan Mbak, mereka berkelahinya seperti musuh bebuyutan. Kita tunggu pihak keamanan saja."
Dilla mengabaikan perkataan mereka, Dilla mendekati Ryan dan Sultan yang berkelahi. Ryan dan Sultan kembali melayangkan tinjunya masing-masing. Mereka sudah mulai babak belur satu sama lain.
Dilla segera menangkap tangan mereka berdua dan memutarkan tubuhnya, otomatis Ryan dan Sultan mengikuti gerakan Dilla. Ryan dan Sultan terlempar karena ayunan tangan Dilla. Mereka ingin meneriaki orang yang berani mengganggu perkelahian mereka. Tapi nyali mereka menciut melihat Dilla yang melotot mereka tajam.
"Apa mau berkelahi lagi, sini biar aku hajar sekalian sampai wajah kalian rata," kata Dilla dingin.
Ryan dan Sultan segera menggelengkan kepala.
Pengunjung takjub dengan keberanian Dilla yang bisa menghentikan perkelahian yang serius.
"Ada apa ini?" tanya Kepala rumah sakit.
Tiba tiba datang Kepala rumah sakit yang diikuti beberapa orang. Mereka tadi juga kebetulan lewat. Saat mendengar orang n berkata ada yang berkelahi dia langsung pergi ke TKP.
Sultan segera bangun sambil meringis kecil.
"Sultan, ini rumah sakit bukan tempat berkelahi," sambung Kepala rumah sakit.
"Maaf Prof," sahut Sultan menyesal.
"Jangan mentang mentang kamu Dokter terbaik di sini kamu bisa berbuat ulah seenaknya. Lain kali saya tidak mau melihat kejadian seperti ini lagi," setelah berkata begitu Kepala rumah sakit meninggalkan tempat itu.
"Sudah, kalian semua bubar, ini bukan tontonan," ujar asisten Kepala rumah sakit.
Dia segera mengikuti langkah Prof tadi.
Para pengunjung segera meninggalkan tempat itu. Mereka melanjutkan kegiatan mereka.
"Sekarang kalian berdua selesaikan masalah kalian berdua, awas saja kalau kalian berkelahi lagi. Dilla akan buat kalian merasakan manisnya kecupan tangan Dilla juga," ancam Dilla menunjukkan kepalan tangannya.
Ryan dan Sultan meneguk ludah mereka, Sultan yakin jika pukulan Dilla sungguh menyakitkan. Tadi Dilla bisa menghentikan mereka berdua dengan tangan kosong. Sedangkan Ryan yang sudah tau berapa kuatnya Dilla langsung kicep.
Dilla segera pergi dari sana. Dia kembali ke kamar inap. Sedangkan Mina sudah pergi menghilang sejak dia melihat orang yang dia kenal. Dia tidak mau berurusan sama orang itu.
Bersambung….
Ada yang penasaran kenapa Mina menghilang?. Jika penasaran tunggu aja di sekuelnya ya.