Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 39. Trauma 1



Beberapa hari sudah berlalu sejak Dilla dan Rio pulang dari rumah sakit. Semua sudah kembali seperti semula, termasuk sikap Rio yang tidak lagi mengikuti Dilla ke manapun seperti beberapa hari yang lalu. Rio sudah bisa di tinggal sendiri, tapi Dilla lebih memilih menitipkan Rio sama Bi Imah atau Mbak Mina jika Dilla ada urusan mendadak atau pribadi.


Yang beda sekarang adalah Ryan yang sudah mulai kembali ke kantor karena sudah dinyatakan sembuh sama Dokter Sultan. Tapi Dokter Sultan juga menyarankan agar Ryan tidak terlalu lelah atau terlalu sibuk sama pekerjaan.


Bagaimanapun tubuh Ryan yang baru sembuh dan baru bisa bergerak belum bisa leluasa seperti orang normal umumnya. Jika tubuh Ryan terlalu dipaksakan maka akan berakibat buruk bagi tubuh Ryan sendiri.


Walaupun Ryan sudah dinyatakan sembuh, Dafa juga masih membantu pekerjaan di kantor, karena banyak hal yang harus Ryan pelajari ulang, sebab Ryan sudah bertahun tahun sudah tidak pegang dokumen lagi.


Ryan yang memang cerdas dengan cepat bisa memahami sehingga tidak mengalami kendala yang berat. Aditya juga sudah berhenti total bekerja karena sudah ada Ryan dan Dafa yang menghendel pekerjaan di kantor. Aditya kini hanya menikmati masa tuanya dengan bersantai santai di rumah dan menemani cucunya.


Seperti biasa setiap sore Dilla pasti akan menemani Rio, Reza dan Rafa bermain setelah Reza dan Rafa siap mengerjakan pekerjaan rumah. Hari ini Dilla rencananya mau mengajak mereka ke taman belakang yang dekat kolam. Setelah insiden itu pun mereka belum lagi bermain di taman dekat kolam atau bermain di area kolam renang. Padahal tempatnya sangat indah dan cantik sangat cocok menghabiskan waktu sore hari dengan secangkir teh hangat.


"Ayo kita main di taman belakang saja ya," ujar Dilla.


"Ayo mommy...," ujar Reza dan Rafa senang dengan bersemangat.


Rio hanya diam saja, biasanya dia yang paling heboh kalau di ajak Dilla ke mana saja.


"Rio kenapa sayang?" Tanya Dilla.


Dilla heran melihat Rio yang lesu dan jadi pendiam.


"Ndak ada apa apa Omy," jawab Rio lesu.


"Tapi kok diam saja dari tadi, biasanya Rio selalu ceria," sahut Dilla.


Rio yang ditanya hanya diam saja. Dilla yang melihat Rio diam jadi penasaran karena tidak tau kenapa Rio jadi pendiam. Padahal tadi baik baik saja masih merengek saat di ganggu sama Abang Abangnya.


"Kalau tidak ada apa apa ayo kita kesana, Abang Reza dan Bang Rafa sudah jalan duluan."


Dilla langsung mengandeng tangan Rio, sedangkan Reza dan Rafa sudah berlari ke arah taman belakang. Beberapa langkah berjalan menuju ke arah kolam, Dilla melihat Rio yang berhenti berjalan. Otomatis Dilla juga ikutan berhenti karena Dilla mengandeng tangan Rio.


"Rio ada apa emmm?" Dilla berjongkok, bertanya pada Rio.


Rio masih diam saja, tapi matanya melirik ke sana ke mari.


"Rio mencari apa sih," Dilla pikir Rio mencari sesuatu karena matanya melihat ke kiri dan ke kanan.


Dilla juga ikut melihat ke kiri dan ke kanan, tapi tidak ada hal yang aneh. Semua masih sama seprti dulu dan tidak ada siapapun di sini kecuali mereka.


"Rio," panggil Dilla lagi sedikit keras, karena Rio sepertinya tidak fokus.


Rio yang dipanggil pun kaget, Rio melihat raut wajah Dilla yang mulai khawatir.


"Ndak ada apa tok Omy," jawab Rio dengan suara kecil.


"Ada apa sih, ayo sini cerita sama Mommy, jika Rio tidak cerita sama Mommy maka Mommy tidak tau apa yang Rio pikirkan sayang," bujuk Dilla.


Rio hanya menggelengkan kepalanya. Dilla tidak tau harus apa, karena Rio tidak mau cerita jadi Dilla tidak tau harus bertindak seperti apa. Bagaimana Dilla bisa mencari solusi, jika masalahnya saja Dilla belum tau.


Rio menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Dilla bangun dan mengandeng tangan Rio kembali. Mereka kini berjalan semakin dekat ke arah kolam, karena tamannya memang harus melewati kolam dahulu.


Rio makin lama makin pelan berjalan sampai langkah Rio bener benar berhenti berjalan. Seluruh badan Rio mulai gemetar ketakutan. Dilla mulai merasakan tangan Rio yang gemetar dan mulai basah, Dilla juga melihat Rio juga sudah berhenti berjalan.


"Rio, Rio sayang ada apa sayang," Dilla mulai khawatir, badan Rio makin gemetar dan menggigil. Rio masih saja tidak mau bercerita


"RIOOO... RIOOO..." kini Dilla membesarkan suaranya, karena Rio tidak meresponnya sama sekali.


Dilla mulai khawatir dan panik melihat kondisi Rio. Dilla sekarang berasumsi bahwa sepertinya ada yang tidak beres sama Rio.


"REZAAA... RAFAAA...," Dilla berteriak memanggil Reza dan Rafa.


Dilla sudah panik melihat badan Rio yang terus bergetar memeluk dirinya sendiri. Dilla segera memeluk tubuh Rio karena Rio hampir jatuh sebab sudah tidak sanggup berdiri lagi.


Reza dan Rafa yang mendengar Mommy berteriak segera berlari menghampiri Dilla. Mereka melihat Dilla yang sedang memeluk Rio yang gemetaran.


"Reza Rafa cepat panggil Nenek kalian ya," suruh Dilla.


"Mommy ada apa dengan Rio," mereka juga ikutan cemas.


"Mommy juga tidak tau, sekarang Reza cepat panggil dulu Nenek sama Kakek di kamar ya, sedangkan Rafa pergi ke dapur minta kain serta air hangat sama Bi imah. Mommy akan membawa Rio ke ruang keluarga sekarang."


Dilla segera mengendong Rio yang masih gemetaran dengan tubuh yang mulai basah dengan keringat dingin. Bahkan kini air mata Rio juga ikut keluar. Dilla berjalan secepat mungkin ke dalam rumah. Reza dan Rafa tanpa bertanya lagi segera berlari, Reza mencari Rita dan Aditya dan Rafa berlari ke dapur mencari Bi Imah.


Dilla segera membaringkan Rio di atas sofa, Dilla mau berdiri untuk mengambil handuk supaya bisa mengelap tubuh Rio, tapi Rio menarik baju Dilla agar tidak pergi. Seluruh badan Rio mulai basah sama keringat.


"Rio, Rio kenapa sayang?" tanya Dilla lagi.


Dilla juga mengeluarkan air mata di ujung pelupuk matanya melihat keadaan Rio yang kesakitan. Bagaimana pun Dilla sudah sangat sayang kepada anak anak asuhnya, apalagi sama Rio, anak yang paling dia sayang.


"Omyyy heuks heuks...," panggil Rio dengan lirih sambil cegukkan.


"Sayang sabar ya, sebentar lagi Nenek sama Kakek datang, Rio mana yang sakit sayang, sini bilang sama Mommy biar Mommy obatin," Dilla sudah tidak kuasa menahan air mata, air mata Dilla terus mengalir.


"Omyyy heuks heuks...," Rio hanya memanggil Dilla tanpa berkata lain.


Rio sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara. Dilla tambah panik melihat Rio yang tambah cegukkan makin keras.


"Ada apa ini Dilla," kata Rita dengan panik.


"Ituuu ituuu...."


Bersambung....