
Sultan sudah tiba di kediaman Suherman. Dengan buru-buru dia langsung ke kamar Ryan. Sultan segera membuka pintu. Semua orang yang berada di kamar langsung menoleh ke arah Sultan. Semua yang ada di sana melihat penampilan Sultan, mereka yang melihat penampilan Sultan ingin ketawa tapi di tahan, kecuali....
"Om Sultan lucu deh, pakek baju bebek sama sandal bebek hihi...," ujar Reza sambil ketawa cekikikan.
"Ucuu...," sambung Rio.
Rio juga ikutan ketawa.
Sultan yang mendengar Rio bisa bicara pun semakin terkejut. Tapi mengingat perkataan Reza, Sultan melihat penampilannya. Sultan memang memakai piyama bergambar bebek dan juga sandal tidur bermotif bebek, ingat tadi Sultan panik dan tidak ingat sama penampilan lagi. Sultan mengabaikan penampilannya langsung menuju ke Ryan.
"Ryan bagian mana yang bisa bergerak?" tanya Sultan.
Sultan segera berjongkok di depan Ryan.
"Bagian tangan Om," jawab Reza semangat.
"Ngaan...," sambung Rio lagi.
"Rio sudah bisa bicara ya?" tanya Sultan yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi.
"Dah...," jawab Rio sendiri sambil menganggukan kepala.
"Sejak kapan Om, Tante, Rio bisa bicaranya?" tanya Sultan lagi.
Kini Sultan berdiri kembali dan melihat om dan tante, mengecek Ryan memang perlu tapi ia lebih penasaran ke Rio.
"Tadi sore Rio sudah bisa bicara sedikit-sedikit," jawab Aditya.
"Oh Rio dan besar ya, sudah pandai ngomong," ujar Sultan lagi dengan mengelus kepala Rio.
Rio segera berlari ke arah Dilla dan memeluk kaki Dilla karena malu dipuji seperti itu. Rita dan Aditya yang melihat tingkah sang cucu hanya tersenyum tapi beda dengan Ryan dan Sultan, mereka merasa heran dengan sikap Rio.
"Rio malu ya," kata Dilla.
Rio semakin membenamkan wajahnya di paha Dilla.
"Jadi kapan Sultan mau memeriksa Ryan," Aditya berujar kembali ke topik utama.
"Ah iya om, ini mau diperiksa."
Sultan segera mengeluarkan beberapa alat medisnya untuk mengecek Ryan. Sultan kini memeriksa Ryan dengan serius, sesekali Sultan bertanya pada Ryan dan kemudian dijawab sama Ryan sekedarnya. Sekitar lika belas menit kemudian pemeriksaan selesai dilakukan.
"Om, Tante, sekarang perkembangan Ryan bagus sekali. Lebih baik besok Ryan dibawa ke rumah sakit lagi buat pemeriksaan lebih lanjut," jelas Sultan.
"Iya besok akan Om dan Tante antar ke rumah sakit," jawab Aditya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Om," pamit Sultan.
"Baik hati-hati ya," ujar Aditya.
Sultan kini sudah keluar diantar sama bi Imah yang menunggu diluar tadi.
"Dilla kalau begitu Tante dan Om ke kamar lagi ya. Dilla lanjut aja kasih makan Ryan," ujar Rita yang tadi sempat melihat nampan makanan Ryan yang masih penuh.
"Baik Om, Tante," jawab Dilla.
"Reza, Rio, jangan nakal ya. Baik-baik di sini sama Mbak Dilla nya."
"Iya Nek," sahut mereka berdua.
Setelah kepergian Rita dan Aditya, Dilla segera mengambil nampan makan Ryan.
"Tuan Ryan makan dulu ya, tadi Tuan Ryan belum sempat makan sedikitpun."
"Iya."
Dilla dengan telaten menyuapi Ryan lagi sampai habis. Rio dan Reza larut bermain di atas karpet. Setelah selesai makan, mereka berempat bermain sebentar lagi hingga jam menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Reza, Rio, sekarang sudah waktunya tidur, besok main lagi ya?"
"Baik," jawab Reza lesu, padahal lagi seru bermain.
"Ndak auu...," bantah Rio.
"Rio sayang sekarang sudah waktunya tidur ya. Besok kan masih bisa main lagi. Sekarang sudah jam sembilan lewat lho, waktunya tidur," jelas Dilla dengan lembut.
"Uuuhhh...," Rio mengerucutkan bibirnya, tetapi menurut sama Dilla.
Ryan hanya melihat Dilla yang begitu perhatian pada anaknya, padahal Dilla hanya baby sitter tetapi Ryan yakin bahwa Dilla seperti mengurus anaknya sendiri.
"Tuan ayo tidur juga," ajak Dilla.
"Tidak nanti aja."
"Tidak apa kok Tuan, biar Dilla bantu."
"Kamu ini perempuan, apa tidak malu apa bantu saya begini?" tanya Ryan heran.
"Memangnya kenapa Tuan. Kan Dilla hanya membantu saya," jawab Dilla seadanya.
Ryan beneran heran sama Dilla, Ryan ini adalah seorang pria dewasa, tapi Dilla tanpa malu sedikit pun membantunya naik ke atas kasur.
"Kamu tidak malu meluk-meluk saya gitu," ujar Ryan.
"Sa... saya hanya ingin membantu Tuan aja kok. Tidak ada maksud lain," jawab Dilla gagap.
Kini Dilla beneran malu atas ucapan Ryan. Dilla hanya mengangkat bukan memeluk. Dilla tidak pernah sedikitpun berpikiran ke arah sana.
Ryan yang melihat muka Dilla memerah menaikkan alisnya sebelah. Ryan kemudian ada ide ingin mengerjainya.
"Kalau kamu tidak malu sini peluk saya lagi. Bantu saya naik ke atas kasur," ujar Ryan pura-pura cuek, padahal dalam hati ingin ketawa melihat respon Dilla.
"Aaahhh... le... lebih baik saya panggilkan pak Tono saja ya Tuan," ujar Dilla lagi.
Kini muka Dilla makin memerah, apalagi Ryan bilang memeluk bukan mengangkatnya.
"Lah kenapa, panggil pak Tono, tadi katanya mau bantu saya tidur. Sini peluk saya, saya tidak keberatan kok," balas Ryan.
"Tidak Tuan, lebih baik sa...."
"Tante Dilla masih lama tidak. Rio dan Reza sudah mulai ngantuk ini," protes Reza.
Reza memotong perdebatan Dilla dan Ryan. Rio dan Reza kini mulai mengucek-ngucek matanya petanda mulai ngantuk.
"Omyyy ntuk...," tambah Rio.
"Ah iya, Mbak Dilla bantu Papa kalian dulu ya."
Walaupun masih malu Dilla tetap membantu mengangkat Ryan naik ke atas kasur. Karena kalau harus memanggil pak tono dulu maka akan memakan waktu untuk turun lagi. Sedangkan Reza dan Rio sudah mengantuk.
"Ternyata benar kamu suka memeluk saya."
Ryan kini sudah berdiri dibantu sama Dilla.
"Tuan...," protes Dilla tak terima.
Dilla melanjutkan mendudukkan Ryan baru dibaringkan dan menyelimuti Ryan.
"Omyyy...," rengek Rio.
"Mommy itu anaknya panggil, sudah ngantuk," goda Ryan lagi.
"Kalau gitu kami pamit ya Tuan."
Dilla segera meraih tangan Rio dan Reza. Membawa mereka ke kamar masing-masing tanpa perlu repot-repot menanyakan lagi apa keperluan Ryan. Dilla sudah terlalu malu.
Dilla memilih mengantar Rio terlebih dahulu ke kamarnya, karena Rio berjalan sudah sangat pelan. Dilla memilih untuk mengendong Rio ke kamarnya agar lebih cepat sampai. Sesampai di kamar Dilla segera membaringkan Rio. Ternyata Rio sudah tertidur saat Dilla mengendong Rio ke kamar. Dilla segera menarik selimut Rio.
"Ayo Reza, sekarang kita ke kamar Reza."
Dilla menggandeng Reza keluar dari kamar Rio dan masuk ke kamar Reza sendiri. Dilla juga tidak lupa menyelimuti Reza dengan selimut.
"Reza sekarang tidur ya, sudah malam."
"Iya Mbak Dilla."
Reza mulai menutup matanya. Saat Reza sudah menutup matanya maka baru Dilla keluar dari kamar Reza.
Bersambung....