
Malam sudah mulai larut, jam sudah menunjukkan pukul 01.15 tapi Rafa masih juga belum tertidur. Rafa sudah mencoba segala posisi tapi belum juga bisa tertidur.
Akhirnya Rafa memutuskan untuk pergi ke kamar Daddy nya. Pintu kamar Dafa sering tidak terkunci. Rafa segera masuk ke sana, tapi pas melihat sang Daddy dan yang menjadi Mommy nya tidur berdua Rafa memutuskan untuk keluar kembali. Rafa tidak jadi tidur sama Daddy.
Langkah Dafa kembali menuju ke arah tangga. Tiba tiba dia jadi teringat sama Mommy Dilla. Rafa segera melangkah menuju ke kamar Dilla.
Rafa membuka pintu itu dan segera masuk. Biasanya kamar Dilla terkunci, tapi malam ini karena terlalu memikirkan tentang kedatangan Jelita, Dilla jadi lupa mengunci pintu. Untung saja yang masuk adalah Rafa bukan maling.
Rafa segera mengunci pintu itu. Rafa bisa melihat Dilla yang sudah tidur pulas. Rafa segera membuka selimut Dilla dan naik ke atas kasur Dilla dengan pelan agar Dilla tidak terbangun.
Tapi karena Dilla tipe yang mudah terjaga karena gangguan maka dia langsung terbangun.
"Rafa," ujar Dilla yang masih mengantuk.
Dilla melihatĀ ke arah jam yang masih dini hari.
"Kenapa Rafa bisa ada di sini," ujar Dilla sambil duduk.
"Rafa tidak bisa tidur Mommy, Rafa tidur di sini ya," pinta Rafa sambil memainkan tangannya.
Dilla yang mengerti kondisi Rafa yang sedang gelisah memperbolehkannya.
"Iya tentu sayang, ayo baring di sini sama Mommy," ajak Dilla.
Rafa segera berbaring di samping Dilla yang sudah terbaring kembali. Rafa tidur sambil memeluk Dilla erat. Dilla mengelus punggung Rafa sampai Rafa benar benar tertidur. Setelah memastikan Rafa tertidur, Dilla juga ikut tidur kembali. Dilla juga masih mengantuk.
***
Keesokan paginya juga begitu saat sarapan. Rafa tetap mengabaikan Jelita. Setelah selesai makan Rafa dan Reza segera pergi kesekolah diantar sama Dilla. Jelita juga minta ikut untuk mengantar mereka tapi di tolak langsung sama Rafa.
Semua orang di sana melihat Jelita dengan prihatin. Dilla walaupun kasihan tidak mungkin mengajak Jelita. Dilla tidak mau Rafa semakin benci sama Mommy nya jika terlalu di paksa.
***
Sore hari ini Rita kedatangan teman temannya ke rumah. Mereka hari ini mengada arisan di rumah Rita. Mereka masih mengobrol ngobrol ringan sambil menikmati teh.
Saat lagi ngobrol ngobrol Soraya tidak sengaja melihat Dilla yang kebetulan lewat mau menuju ke dapur.
"Dilla," panggil Soraya.
Soraya yang melihat dilla segera bangun. Dilla kaget melihat Mama Sultan ada di sini. Dilla tidak mungkin lari, nanti Mama Sultan bisa curiga.
"Sore Tante," sahut Dilla ramah.
"Kenapa panggil Tante lagi sih, kan sudah Mama bilang panggil Mama saja," ujar Soraya sedikit merajuk.
"Kamu kenal sama Dilla, Soraya?" tanya Rita.
Rita heren bagaimana Soraya bisa kenal dan akrab sama Dilla Baby sitter Rio, Rafa dan Reza. Padahal Dilla jarang sekali keluar rumah.
"Aduh Jeng ini belum tau ya, Dilla ini pacarnya Sultan," kata Soraya dengan senang.
"Pacarnya Sultan!" seru semuanya.
"Iya," jawab Soraya bangga.
Dilla hanya bisa tersenyum canggung, Dilla tidak menyangka akan bertemu Mama Sultan di sini.
"Mama tidak menyangka kamu akan bekerja di sini, padahal kamu sudah bilang kerja di daerah sini," sambung Soraya.
"Maksud Jeng Soraya dia hanya pembantu, aduh Jeng kenapa harus sama pembantu sih. Jika Jeng mau saya bisa carikan gadis yang setara sama anak Jeng. Masak anak Jeng yang seorang Fokter pacarnya hanya seorang pembantu, tidak level Jeng," hujat salah satu teman Rita.
Rita dan Soraya yang mendengar merasa tersinggung. Apalagi dengan Dilla, Dilla semakin yakin dia tidak pantas bersama dengan Tuannya.
"Dia bukan pembantu tapi Baby sitter, coba Jeng bayangkan jika anak orang lain bisa di rawat dengan baik, bagaimana dengan anak kandung sama suaminya nanti. Pasti akan dia jaga dan rawat lebih baik. Jaman sekarang sangat susah cari menantu yang pandai urus rumah tangga, bisanya mengandalkan pembantu dari gaji suaminya," bantah Soraya.
"Tetap aja Jeng, pembantu ya pembantu, kalau dia jadian sama anak saya sudah aku suruh putuskan. Mana mau aku menantu yang tidak sederajat," katanya lagi dengan sinis.
"Udah lah Jeng ini, setiap orangkan bebas memilih, anak saya yang menikah sama bawahannya aja tidak masalah, asal dia bisa membuat anak saya bahagia sudah cukup," bela yang lainnya.
Jeng Jeng yang berbicara sinis tadi, hanya melirik saja. Dia masih tetap sama pendiriannya.
"Sejak kapan mereka berpacaran?" tanya Rita
Rita kini mengalihkan perhatian ke arah Soraya dan Dilla. Rita akui jika dia menyukai sosok gadis seperti Dilla. Jika saja anaknya lebih cepat dari Sultan, dia akan merestui hubungan mereka. Apalagi Dilla sudah bisa merebut kedua hati cucunya dan membuat keluarganya lebih hidup.
"Katanya bari baru ini," sahut Soraya.
Rita menatap Dilla tidak percaya.
Tiba tiba Ryan, Dafa beserta Sultan datang. Jelita yang dari tadi menyaksikan apa yang terjadi di ruang tamu segera menghampiri Dafa. Jelita sudah janji akn menjadi istri yang baik, maka dari itu dia segera mengambil tas dan jas Dafa.
Sultan sangat kaget melihat Mamanya ada disini dan berdiri di samping Dilla.
'Alamat bisa bocor ni rahasia.'
"Ah Sultan kamu di sini juga ya, apa kamu mau menemui pacar kamu, Mama tidak menduga bisa bertemu sama Dilla secepat ini," kata Soraya.
Ryan yang mendengarnya belum tau apa maksud dari perkataan Mama Sultan. Apa dia tidak salah dengar.
"Kok pacarnya tidak disapa, kamu ini bagaimana sih," tegur Soraya.
Sultan segera mendekat dan memeluk pinggang Dilla. Dilla ingin segera melepaskan pelukan Dafa. Dia merasa tidak enak di lihat sama yang lainnya. Tapi Sultan menahannya.
"Dilla bantu aku sekali lagi ya," bisik Sultan.
"Ya ampun mesranya, jumpa jumpa langsung main cium," ujar teman Soraya salah paham.
Jika sudut lain yang melihat keadaan mereka, memang seperti Sultan yang sedang mencium Dilla, padahal Sultan hanya berbisik di telinga Dilla meminta pertolongan.
"Ya ampun Jeng, kapan ni mau dinikahkan, kayaknya mereka sudah kepengen cepat cepat nikah, di depan kita aja tidak malu gitu."
"Ah Jeng bisa aja, aku harap mereka juga segera menikah, aku kan juga pengen segera menimang cucu seperti kalian," ujar Soraya.
Dilla yang mendengarnya sangat terkejut sepertinya kesalahpahaman ini harus segera diselelaikan. Tapi Sultan segera menutup mulut Dilla agar tidak berbicara.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, ikut aku sebentar yuk," ujar Sultan mesra.
"Ma, Tante, Sultan dan Dilla pamit dulu ya. Kami ada hal yang mau dibicarakan," ucap sultan sambil tetap memegang mulut Dilla.
"Bilang aja kalian mau kangen kangenan, sana pergi," usir Soraya.
Sultan segera menarik Dilla pergi. Rita yang melihat Sultan membawa Dilla pergi ada perasaan sedikit tidak rela di hatinya.
Dilla sedikit mendorong Sultan karena tidak enak dan terlalu dekat. Dilla sekali kali melirik ke arah Ryan dari tadi. Dilla tidak mau Ryan dan lainnya salah paham. Tapi yang Dilla lihat adalah ekspresi Ryan yang biasa saja yang membuat dia sedikit kecewa.
Sedangkan Ryan memandang mereka berdua dengan tatapan yang sulit di artikan. Dari luar memang tidak ada yang menyadarinya. Ryan mencengkram tas yang di pegang terus pergi ke kamarnya tanpa berkata apa pun.
Jelita hanya melihat interaksi antara Ryan dan Dilla dengan lekat. Jelita merasa ada sesuatu diantara mereka.
Bersambung....
Plis vote nya ya....
Min 10 aja, maks terserah. Sedih lihat peringkat yang tidak naik naik.
Terimakasih bagi yang sudah like, koment, vote dan kasih tip nya. Dukungan kalian sungguh sangat berati.