Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 140. Permintaan Maaf



Selamat membaca, jangan lupa komentar dan kritikan ya. Serta like buat penyemangat. Terima kasih sebelumnya.


***


"Cetolah, cetolah," teriak Rio dengan heboh begitu tiba di sekolah.


"Omy ayo tita macuk," ajak Rio semangat. 


Rio sangat penasaran dengan sekolah baru milik Abangnya.


"Rio sayang, kita hanya mengantar Abang Reza sampai disini saja," ujar Dilla. 


Semangat milik Rio yang tadi melambung tinggi langsung jatuh seketika. 


"Tapi Omy, Liyo mau macuk," ucap Rio dengan bibir yang dimonyongkan. 


"Pagi Bu Dilla," sapa wali kelas Reza.


"Iya Bu, pagi juga," jawab Dilla.


"Maaf Ibu, apa Ibu ada waktu sebentar?"


"Kalau boleh tau ada apa ya Bu?" tanya Dilla balik.


"Pak Kepala Sekolah ingin Ibu menghadap beliau. Ini berhubungan sama masalah yang kemarin." 


"Bukannya masalah kemarin sudah selesai ya Bu. Dan kami tidak mempermasalahkan nya lagi," jawab Dilla.


"Iya Bu, tetapi Bapak Kepala Sekolah ingin Ibu bertemu dengan Wali daripada Sam."


"Sudah Dilla,kamu temui saja Kepala Sekolahnya. Biar masalahnya cepat selesai," ujar Jelita.


"Baiklah Mbak," sahut Dilla.


"Kalau begitu Mbak duluan ya. Mbak ada acara setelah ini," pamit Jelita.


"Iya Mbak," jawab Dilla.


Setelah kepergian Jelita, Dilla mengikuti langkah wali kelas Reza. Rio kini sudah semangat kembali karena bisa masuk ke dalam sekolah. Dilla sengaja memegang tangan Rio supaya Rio tidak lari-lari. Rio dengan semangat bertanya ketika melihat ke sekeliling sekolah.  


***


Tok tok tok


"Permisi Pak, Wali daripada Reza sudah datang," kata wali kelas.


"Ah iya silakan masuk Bu," sahut kepala sekolah mempersilakan Dilla dan Rio masuk.


Di dalam ruangan kepala sekolah sudah ada Daniel beserta Sam.


"Kalau begitu saya pamit dulu Pak. Anak-anak sudah mulai belajar," pamit wali kelas.


"Iya Bu, silahkan," ujar kepala sekolah.


Sekarang tinggallah mereka berlima di dalam ruangan itu.


"Silakan duduk Bu," kata kepala sekolah mempersilahkan Dilla duduk di sofa. 


Dilla segera duduk dan mendudukkan Rio di atas pangkuannya. Daniel tadi sempat terkejut melihat jika Dilla adalah Wali daripada Reza. Tapi Daniel segera merubah ekspresinya tanpa dilihat sama orang lain. 


"Jadi begini Bu, Pak Daniel Wali dari Sam ingin secara resmi meminta maaf atas kejadian kemarin," kata kepala sekolah. 


"Iya Pak, kami juga tidak mempersalahkan lagi," jawab Dilla. 


"Apalagi kami telah mengenal Sam dan Tuan Daniel," sambung Dilla. 


"Baguslah jika Ibu tidak mempermasalahkan lagi masalah ini. Kalian juga sudah saling kenal sehingga masalah ini bisa cepat terselesaikan."


"Iya Pak. Dilla, atas nama anak saya, saya minta maaf kepada kamu dan anak kamu," ucap Danil sambil menjulurkan tangannya.


Dengan sungkan Dilla menyambut uluran tangan Daniel.


"Iya Tuan Daniel, tidak apa-apa. Namanya juga anak-anak, anak saya juga tidak apa-apa," sahut Dilla.


Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Daniel. Tetapi Daniel tidak ingin menanyakan langsung karena ada kepala sekolah.


Dari tadi Sam melihat tajam ke arah Dilla dan Rio. Atau lebih tepatnya interaksi antara Dilla dan Rio. Rio yang merasa ditatap oleh oleh Sam juga membalas menatap Sam balik. Rio juga mencoba membuat wajahnya seseram mungkin dengan dengan mata bulatnya yang di sipit kan. Tapi wajah Rio bukannya nampak seram tapi malah semakin lucu. 


"Rio," tegur Dilla spontan. 


"Omy, tu liat, dia lihat Liyo dali tadi. Matana celam omy. Milip matana tucing galong," lapor Rio sambil menunjuk ke aah Sam.


Dilla menatap ke arah Sam yang masih melihat ke arah mereka. Ketika pandangan mereka bertemu barulah Sam mengalihkan matanya ke arah lain. 


"Tapi tetap saja itu tetap tidak sopan sayang. Apalagi Sam lebih tua dari Rio. Rio harus memanggilnya sama seperti ke Abang Reza," tegur Dilla. 


"Tapi Omy, Liyo ndak cuka dengan mata na," kata Rio mencibir sambil memainkan baju yang dipakai oleh Dilla.


"Maaf Tuan, jika apa yang dilakukan oleh Rio tidak sopan," kata Dilla minta maaf kepada Daniel.


"Tidak apa-apa Dilla," sahut Daniel.


 "Sam memang anaknya yang pendiam. Dia sering buat orang salah paham dengan tatapannya. Dia anak yang baik kok," sambung Daniel bela Sam.


Karena masalah sudah selesai, mereka berempat akhirnya keluar dari ruang kepala sekolah. 


"Sejak kapan kamu menjadi istrinya Ryan. Bukankah Ryan adalah Duda ya?" tanya Daniel penasaran. 


"Setahu aku, kamu dulu hanyalah pengasuh anaknya Ryan saja," sambung Daniel.


"Dulu memang saya adalah pengasuh Rio dan Reza. Tetapi sekarang berbeda, beberapa minggu yang lalu kami sudah menikah. Sehingga otomatis saya menjadi ibu daripada Rio dan Reza," jawab Dilla.


Dilla tidak tau kenapa, tapi dia tidak nyaman sama pertanyaan Daniel.


"Kenapa kamu memilih yang seorang duda dan memiliki dua orang anak. Padahal kamu bisa memilih lelaki lajang yang lainnya tanpa repot mengurus anak sambung mu itu?" tanya Daniel lagi.


"Maaf Tuan, jika kita mencintai seseorang, kita tidak bisa memilih kepada siapa cinta itu akan berlabuh. Lagian saya telah menyayangi Reza dan Rio jauh sebelum saya mencintai Mas Ryan sebagai suami saya," jawab Dilla. 


"Beruntung sekali si Ryan itu," ujar Daniel.


Dilla tidak tau kenapa jika dia punya firasat jika Daniel tidak sedang memuji Ryan. Dilla memilih tersenyum saja daripada menjawab perkataan Daniel.


"Dilla, kalau begitu saya duluan ya. Saya mau mengantar Sam ke ke kelasnya," kata Daniel.


"Iya Tuan," sahut Dilla.


"Dilla, dari tadi kamu terus aja memanggil saya Tuan. Padahal saya bukan Tuan kamu. Kamu bisa memanggil saya Daniel saja atau kamu juga boleh memanggil saya seperti kamu memanggil Ryan suami kamu," ucap Daniel.


"Maaf Tuan, Dilla tidak bisa melakukan itu. Bagaimanapun Tuan lebih tua daripada saya dan Tuan juga teman dari Mas Ryan," tolak Dilla halus karena tidak enak. 


"Baiklah kalau begitu. Jika kamu bicara seperti itu. Tapi saya harap kedepannya kita bisa menjalin hubungan baik," ujar Daniel. 


Setelah berkata seperti itu, Daniel meninggalkan Dilla dan Rio. Mereka pergi ke arah kelas Sama.


Dilla menatap kepergian mereka dengan terdiam. Entah kenapa Dilla jadi teringat sama larangan Ryan untuk menjauhi Daniel. Dilla juga bisa merasakan jika ada sesuatu yang aneh sama Daniel


"Omy, Liyo ndak cuka cama Cam itu," ujar Rio membangunkan Dilla dari termenungnya.


"Iya apa sayang," ujar Dilla yang tidak fokus.


"Omy tenapa cih. Omy ndak denal Liyo bicala," ngambek Rio. 


"Maaf kan Mama sayang. Tadi Mama tidak fokus. Apa yang Rio bilang Tadi," sahut Dilla.


"Omy… Liyo biyang talau Liyo ndak cuta cama Cam. Mata Cam celem," ulang Rio lagi.


Padahal Rio sudah mengatakannya sekali tadi.


"Rio tidak boleh berburuk sangka. Dan Rio juga tidak boleh bicara seperti itu langsung di depan Sam. Nanti Sam bisa sakit hati," tegur Dilla lagi.


"Tapi Omy, Liyo benel-benel ndak cuta, cuwer deh," sahut Rio sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.


"Ya sudah jika Rio tidak suka. Tapi lain kali jangan seperti itu lagi ya. Mama tidak suka," kata Dilla. 


Rio menganggukkan kepalanya. Dilla dan Rio akhirnya memutuskan untuk segera pulang kembali ke rumah.


Bersambung….


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untuk kalian sambil menunggu up



Salam sahabat ❤NAD❤