Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 178. Hasil part 1



"Tidak apa. Jadi Bella, apa kamu itu… emm… kalau kamu…," Daniel berusaha berbicara tetapi kepala dia terasa kosong. Seakan-akan tidak ada kata-kata sama sekali di kepala dia.


"Jika kamu ragu, kamu pulang saja. Lain kali kita bicara," ujar Bella. 


"Aku mencintai kamu," kata Daniel dengan keras dan tiba-tiba.


Dilla speechless dengan pernyataan Daniel. Dilla tidak menyangka jika Daniel akan mengatakan secara lantang dan tidak ada basa-basi sama sekali.


Sedangkan Bella sangat terkejut mendengar pernyataan Daniel. 


"Apa maksud kamu?" tanya Bella kembali.


Bella tidak yakin dengan apa yang dia dengar. Bella seakan sedang berhalusinasi dengar pernyataan Daniel. Kedatangan daniel saja sudah merupakan hal yang luar biasa bagi Bella. Ini Daniel malah menembak dia.


Dilla yang duduk di samping Daniel mencubit pinggang Daniel untuk menyadarkan Dia.


"Au," rintih Daniel kesakitan. 


Daniel mengusap bekas cubitan Dilla. 


"Sebaiknya kalian berbicara berdua terlebih dahulu. Biar saya dan anak-anak keluar dulu. Kalian butuh waktu privasi. Ayo Rio, Sam kita keluar," ajak Dilla. 


"Ayo gadis kecil kita bermain di luar rumah saja. Om itu mau bicara sebentar sama mama," kata Dilla pada gadis kecil itu.


Anak kecil itu melirik ke arah Dilla dan Bella secara bergantian. Dia ragu-ragu mau ikut sama Dilla karena orang asing.


"Iya sayang, kamu ikut sama tante ini dulu ya. Mama mau bicara sama Om ini," bujuk Bella.


"Ayo kita pergi bermain," ajak Sam bersemangat sambil menarik tangan gadis kecil itu.


***


"Hai gadis kecil, siapa nama kamu?" tanya Dilla.


Saat ini Dilla dan lainnya sedang berada di depan rumah Bella. Dilla sengaja sedikit menjauh agar tidak mengganggu pembicaraan Daniel dan Bella. 


"Nama Lala, Lala," sahut Lala. 


"Jadi nama kamu Lala ya. Nama yang sangat cantik sekali," puji Dilla.


"Oh iya, kenalkan nama Tante, Tante Dilla. Yang ini namanya Sam dan di sebelah nya bernama Rio," ucap Dilla.


"Ayo Rio, Sam, ayo salaman sama Lala," suruh Dilla.


Sam dengan sangat antusias ingin bersalaman dengan Lala. Tapi Lala lebih tertarik ingin berteman sama Rio karena lebih seusia. Rio sendiri malah mengabaikan Lala. Rio tidak mau menyambut tangan Lala. Lala tidak pantang menyerah.


"Ayo tita belmain di cana. Lala unya pelmainan yang badus" ajak Lala kepada Rio. 


Sam cemburu melihat Lala hanya mengajak Rio. Sam ingin bermain bersama Lala.


"Ndak mau," tolak Rio langsung.


"Tenapa?" tanya Lala sedih. 


"Liyo mau main cama Omy aja."


 Semangat Lala langsung jatuh.


"Lala main sama Abang Sam saja ya," ajak Sam cari kesempatan.


Lala senang mendengar perkataan Sam. Lala segera meraih tangan Sam untuk mengajak bermain di ayunan. Lala senang ada kawan bermain. Selama ini kawan main Lala hanya Bella. 


"Kenapa Rio tidak mau bermain sama Lala?"


"Ndak cuka Omy. Liyo anti mau main cama adik Liyo aja," ujar Rio sambil mengusap perut Dilla yang buncit. 


"Kan sekarang Rio bisa berlatih menjadi abang yang baik," bujuk Dilla.


"Ndak mau Omy. Liyo anya mau adi abang buwat adik Liyo. Liyo ndak cuta dipandil abang," jawab Rio.


Dilla hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku Rio. Jika Rio sudah mengatakan tidak suka maka susah membujuk Rio jika tidak ada sangkut pautnya sama Dilla plus sama calon adik Rio.


***


Daniel yang ditinggal pergi oleh Dilla semakin gugup. Daniel menyesal tadi tidak mencegah Dilla pergi. Daniel merasa sangat canggung ditinggal berdua sama Bella.


"Tadi itu apa kamu. Apa kamu bisa jelaskan apa maksud perkataan kamu tadi?" tanya Bella.


Bella mencoba bersikap biasa saja. Bella tidak mau kegeeran. 


"Kenapa kamu jadi seperti ini. Kamu tidak seperti Daniel yang aku kenal dulu. Kamu dulu tegas, sekarang kamu seperti orang lain," ujar Bella.


Daniel masih diam, Daniel ingin berbicara tetapi kepala dia memang tidak ada satu kata pun. Sekarang kecerdasan Daniel dalam segala bidang tidak ada guna di depan Bella. Ijazah master di luar negeri pun hanya pajangan. 


"Jika kamu tidak mau menjelaskan atau berbicara tidak apa-apa," ujar Bella dengan kecewa. 


Tadi Bella sedikit berharap jika Daniel mau meluruskan perkataan dia. Hati Bella sempat melambung tinggi dengan pernyataan Daniel. Tetapi melihat Daniel seperti itu, Bella hanya menganggap jika tadi hanya angin yang berlalu.


"Sekarang jika kamu tidak ada yang ingin dibicarakan lagi silahkan kamu keluar. Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," usir Bella secara langsung.


Bella tidak sanggup lagi melihat Daniel berada di depannya. Bella terganggu dengan ucapan Daniel karena Bella mengingat masa lalu. Bella sudah mencoba mengubur cinta dia. 


Bella tidak mau kehidupan dia jadi kacau untuk kedua kali. Dulu ada almarhum suami Bella yang menopang dia. Jika Bella terpuruk sekali lagi, Bella tidak tau sama siapa harus bersandar. Sekarang bella hanya mempunyai Lala sang buah hati dengan almarhum sang suami 


Bella memilih menganggap jika ucapan Daniel yang tadi hanya halusinasi saja. Bella tidak mau berimbas pada Bella jika terjadi sesuatu.


Bella bangun dari tempat duduknya. 


"Bella tunggu," panggil Daniel yang melihat Bella mau pergi meninggalkan tempat itu.


Bella memberhentikan langkahnya. Bella kembali menoleh ke belakang. Tanpa berbicara Bella menatap Daniel. Daniel membalas menatap Bella.


Melihat keseriusan Daniel, Bella kembali duduk kembali di kursi. Daniel mencoba menarik dan mengeluarkan nafas berkali-kali untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Jadi?" tanya Bella lagi. 


"Sebelumnya aku minta maaf jika aku tadi berbicara tanpa basa-basi dulu. Tapi aku benar-benar mencintai kamu Bella," ujar Daniel akhirnya. 


Bella terdiam tidak tahu harus membalas apa. Tetapi hati Bella tidak bisa berbohong. Ada rasa senang saat mendengar pernyataan Daniel. Bella memilih diam dan mendengar ucapan Daniel lagi. 


"Aku juga minta maaf atas nama kedua orang tua aku. Aku tidak tahu jika kedua orang tua aku pernah menemui kamu. Orang tua aku dengan jahat sudah mengancam kamu. Aku baru saja mengetahui hal ini kemarin," terang Daniel. 


Bella tersentak dan mengusap bahunya. Bella tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. 


"Itu sudah terjadi. Biarlah yang berlalu tetap berlalu. Aku tidak mau mengungkit masalah itu lagi. Bagi aku sekarang, Lala adalah segalanya bagiku," sahut Bella.


"Mungkin bagi kamu itu sudah berlalu. Tapi aku baru saja tahu, kenapa dulu kamu tidak membicarakannya sama aku," tuntut Daniel.


"Buat apa aku bilang sama kamu. Kita saja tidak terlalu dekat."


"Tetap saja ini menyangkut aku dan kamu."


"Aku dan kamu?"


"Iya, sejak awal aku mencintai kamu dan kamu juga mencintai aku. Jika dulu aku tau kamu mencintai aku, aku pasti akan memperjuangkan kamu."


"Sudahlah Daniel, kita sudah dewasa


 Kita jangan berfokus pada masa lalu. Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing," kata Bella mengalihkan topik.


"Jadi, apa kamu mau memaafkan kedua orang tua aku?"


"Mereka adalah ayah dan ibu kamu. Mereka pasti mengharapkan yang terbaik buat anak mereka. Jadi aku memaklumi semua itu dan tidak mempermasalahkan lagi," ucap Bella setengah berbohong.


Bella tidak mau masalah semakin rumit jika Bella masih membekas di hati mengingat hal itu kembali. Tapi Bella sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada masa lalu.


"Terima kasih kamu sudah memaafkan kedua orang tua aku. Aku tau kamu orang yang baik," ucap Daniel lega.


"Iya, sama-sama."


Mereka berdua sama-sama diam beberapa saat. Hanya ada kesunyian. Daniel tidak tahu harus berbicara lagi sedangkan Bella ingin Daniel segera pergi tapi tidak enak jika dia mengusir Daniel.


"Jadi, apakah kamu masih mencintai aku?" tanya Daniel setelah berdiam cukup lama. 


Bella kembali tersentak mendengar pertanyaan Daniel. Bella menatap ujung kuku kaki dia.


Apakah Bella mau menerima Daniel kembali atau tidak?


Tunggu di bab selanjutnya.


Bersambung….


Rekomendasi novel karya teman saya buat kalian sambil nunggu up.