Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 207. Susu



"Rio, apa yang Rio lakukan," tegur Ryan menjauhkan Rio dari Syifa.


"Pipi dek Cipa cepelti tue pao pao. Liyo demas Pa," jawab Rio.


Ryan menggelengkan kepala. 


'Jika mirip bakpao harus apa digigit,' batin Ryan.


"Tenapa adik Cipa nanis Pa?" tanya Rio polos. 


"Cup cup cup sayang. Jangan menangis lagi ya. Syifa kaget ys," kata Dilla menenangkan Syifa. 


"Itu karena Rio nakal. Sini Rio sama Papa  saja. Biar Rio Papa gendong. Jangan dekat sama Syifa," larang Ryan.


"Ndak mau," tolak Rio.


Ryan tidak mendengarkan Rio. Ryan segera menarik tubuh Rio. Tapi Rio memegang kain sprei dengan begitu kuat sehingga tubuh Rio tergantung di udara. 


"Rio, ayo lepaskan," suruh Ryan.


"Ndak mau Pa!" tolak Rio dengan keras.


Syifa yang tadinya sudah mulai tenang kembali terkejut dengan suara Rio  Syifa kembali menangis. 


"Pa epas. Adik Liyo nanis ladi," perintah Rio yang masih ditarik sama Ryan.


"Syifa menangis karena Rio berisik," kata Ryan dengan jujur. 


Bibir Rio mulai bergetar. Rio tidak menyangka jika dia yang menyebabkan Syifa menangis. Rio merasa gagal menjadi abang yang baik.


"Huwaaa…."


Akhirnya Rio juga ikut menangis dengan keras. Rio merasa bersalah kepada Syifa.


"Oek… oek… oek…."


Syifa kembali menambah suaranya karena mendengar suara tangisan Rio dari dekat. Zaki juga ikutan menangis karena suara ribut. Suasana kamar semakin berisik dengan suara tangisan. Dimana Rio jadi pemandu menangis dengan suara paling keras 


"Aduh Rio jangan menangis keras. Rio membuat adiknya kaget," tegur Aditya.


"Adik Cipa hiks angan nanis. Maap Abang Liyo ya hiks," ujar Rio di sela menangis.


"Makanya Rio jangan menangis lagi," kata  yang masih berusaha menarik Rio.


"Dilla, Jelita, coba kalian susui mereka. Siapa tahu mereka juga sedang lapar," saran Rita.


"Cucu?" tanya Rio yang berhenti menangis seketika. 


"Iya sayang, Syifa harus minum susu. Adik Syifa dan Zaki kan masih kecil," jawab Rita. 


Rio segera melihat ke sekeliling. Rio tidak melihat satu kotak susu pun. Rio melepaskan pegangan tangannya pada kasur dan ingin meraih Ryan.


Ryan hampir saja menjatuhkan Rio jika dia tidak tangkap. Rio bergerak sangat cepat. 


"Pa… Pa ayo tita beli cucu buwat adik Cipa," ajar Rio menepuk kedua pipi Ryan dengan semangat.


Ryan melihat ke sekeliling. Rita dan lainnya memberikan kode kepada Ryan untuk membawa Rio pergi sementara waktu. Itu adalah keinginan Rio sendiri. Jika mereka suruh Rio pergi pasti Rio tidak mau.


"Pa… Pa epat-epat," kata Rio dengan berusaha turun dari gendongan Ryan. 


Ryan menurunkan Rio. Tanpa menunggu jawaban dari Ryan, Rio menarik tangan Ryan untuk membeli susu. 


"Epat Pa. Anti adik Cipa harus," kata Rio sambil menarik Ryan keluar.


Ketika sudah berada di depan pintu, Rio berbalik lagi.


"Aga adik Liyo bayik-bayik ya Omy. Dan Bang Eja angan edang-edang adik Cipa. Itu adik Liyo," peringati Rio sebelum pergi.


Setelah memperingati Rio kembali menarik Ryan. 


Mereka menghela nafas lega Rio sudah pergi. Setelah kepergian Rio baru tangisan Syifa dan Zaki mulai berkurang.


"Akhirnya mereka diam juga," kata Dafa.


"Pasti mereka tadi kaget dengan tangisan Rio yang keras," kata Rita menggelengkan kepala.


"Reza tidak mau menyapa adiknya?" tanya Dilla yang melihat Reza duduk diam saja dari tadi.


"Mau Ma," sahut Reza antusias.


"Tadi ada Rio, Ma. Jika Reza terlalu dekat nanti Rio bisa marah-marah," jawab Reza.


"Memangnya Reza tidak cemburu jika Rio memonopoli Syifa?" tanya Dilla lagi.


"Reza tidak cemburu Ma. Ini adik kami berdua. Lagian ini adalah adik Rio, sedangkan Reza sudah punya Rio sebagai adik Reza. Jadi Reza tahu jika Rio senang punya adik seperti saat Reza punya Rio dulu," jawab Reza dengan dewasa. 


"Anak Mama sudah besar ya," kata Dilla dengan mengelus kepala Rio dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tangan lagi memegang Syifa. 


"Sini duduk dekat lagi mumpung Rio tidak ada. Syifa pasti mau kenalan sama abangnya," suruh Dilla. 


Reza mendekat ke arah Syifa. Reza mulai menoel-noel pipi Syifa. Reza juga menggerakkan tangannya untuk menyentuh hidung dan dagu Syifa. Ketika tangan Reza menyentuh bibir Syifa, mulut Syifa terbuka. Syifa ingin meraih tangan Reza 


"Dilla, sepertinya Syifa haus. Dia mau mengigit tangan Reza," ujar Rita yang memperhatikan dari yadi. 


"Iya Ma, sepertinya Syifa memang haus," jawab Dilla.


"Sebaiknya kamu segera beri asi Syifa sebelum Rio kembali. Jika Rio kembali nanti, pasti dia menjadi heboh lagi," saran Rita.


"Baik Ma," sahut Dilla. 


"Reza, Rafa, ayo sini ikut Kakek," ajak Aditya kepada Rafa dan Reza. 


"Kami masih ingin lihat adik Kek," kata Rafa dan Reza. 


"Biarkan adik kalian menyusu dulu. Nanti baru kalian lihat lagi," bujuk Aditya dan berjalan ke arah sofa.


Reza dengan Rafa patuh mengikuti Aditya menuju ke kursi. Mereka tidak mau adik mereka kehausan. 


"Kamu susui Zaki dulu ya. Aku mau duduk di sana," ujar Dafa.


Dafa tidak mungkin melihat Zaki disusui juga. Karena tempat tidur sangat dekat. 


"Iya Dafa," sahut Jelita.


Jelita dan Dilla mulai menyusui Syifa dan Zaki. Kedua bayi begitu antusias menyusui pada mereka. Dilla tidak menyangka jika dia sudah menjadi seorang ibu sekarang. Pasti paman dan bibinya akan senang melihat jika dia sudah melahirkan.


"Mama, apa Mama sudah mengabari paman dan bibi Dilla kalau Dilla sudah melahirkan?" tanya Dilla.


"Sudah sayang. mama sudah mengabari mereka saat Mama tau kamu mau melahirkan. Mereka pasti dalam perjalanan sekarang. Mereka juga ingin melihat cucu mereka," ujar Rita.


Dilla tersenyum. Dilla juga yakin tidak hanya paman dan bibi nya yang senang tapi Budi dan Yudi juga akan senang.


***


Lima belas menit kemudian Rio kembali dengan membawa satu kantong penuh dengan susu kotak beraneka rasa. Rio tidak tahu memilih rasa yang mana yang akan disukai sama Syifa. 


Sedangkan Ryan sengaja membiarkan Rio memilih susu tersebut. Jika Ryan menjelaskan kepada Rio pasti nanti Ryan sendiri yang kewalahan menjawab pertanyaan Rio selanjutnya yang tidak akan ada buntut. Jadi Ryan membiarkan Rio memilih sesukanya.


Rio sedikit kesulitan membawa kantong itu. Ryan sudah menawarkan biar dia uang bawa. Tapi Rio menolak dengan alasan ingin menjadi abang yang baik.


"Ni cucu buwat adik Cipa," kata Rio menyerahkan susu ke arah Dilla. 


"Beyat,",sambung Rio ketika mengangkat tinggi ke atas kasur.


"Adik Syifa sudah minum susu sayang. Ini buat Mama saja ya," ujar Dilla.


Dilla tidak mungkin membiarkan Syifa minum susu kemasan itu. Biar Dilla yang minum, nanti akan menjadi susu buat Syifa juga.


"Adik Cipa sudah minum cucu Omy?" tanya Rio kecewa.


"Rio, adik Syifa minum susu khusus. Susu Ini buat Mama saja," saran Ryan.


"Cucu tucus? Cucu tucus itu apa Pa?" tanya Rio tidak mengerti. 


Bersambung….


Buat kalian yang suka sama karya saya, silahkan cek IG saya @Andriani Keumala ya. Di sana ada informasi karya baru saya. Jangan Lupa follow IG saya untuk kabar tentang karya saya lainnya yang akan saya kerjakan.


Bagi kalian ingin kenal dan berteman dengan saya (Jika ada yang berkenan 🤭) silahkan gabung ke grup WA saya.


Ini linknya https://chat.whatsapp.com/D2w8zZtcoqv5TCiUo4k3P5


Kalau susah bisa minta di GC saya dengan syarat masuk GC tinggal kan komentar biar di acc bagi yang belum gabung. Atau bisa kirim pesan ke no 0895600568547. Nanti tulis nama kalian biar saya masukkan ke grup WA saya. Kalian nanti juga boleh tanya-tanya ke saya. Saya suka berteman.


Terima kasih. Semoga kalian tetap mendukung karya saya yang lainnya.