
Mulai dari bab 108 adalah flashback ya. Maaf saya lupa mengkabari. Ini Flashback dari Dilla pergi sampai mereka kabur dan bertemu sama Dilla kembali.
***
Ryan dan Rita memutuskan untuk memanggil Aditya, Rafa dan Jelita. Ryan ingin menanyakan pendapat mereka bertiga. Setelah mendapatkan telepon, mereka bertiga segera berangkat ke rumah sakit. Mereka juga khawatir saat mendengar kondisi Rio yang sangat serius.
"Sekarang bagaimana dengan keputusan kamu Ryan?" tanya Aditya.
"Ryan fikir sebaiknya kita segera memanggil Dilla ke sini," ujar Ryan.
"Bagus kalau itu pilihan kamu," jawab Aditya.
"Tetapi masalahnya kami telah menghubungi Dilla, HP dia tidak aktif. Kami sudah mencoba meneleponnya beberapa kali," kata Rita.
"Mungkin Dilla saat ini sudah mendekati hari acara pernikahannya," sahut Jelita.
Ryan menggenggam tangannya kuat-kuat, dia khawatir jika dia tidak bisa menghubungi Dilla secepat mungkin. Dia tidak mau anaknya sampai lebih parah daripada sekarang. Tapi selain itu ada rasa sesak saat mendengarkan perkataan Jelita.
"Bukankah biasanya jika kita menerima Pembantu kita mendapatkan identitas mereka?" tanya Dafa.
"Tapi Tante tidak menerima biodata tentang Dilla, karena pada saat itu Dilla menggantikan Mina yang telat datang. Jadi tante tidak teringat lagi untuk meminta biodata tentang Dilla. Sebab Tante sudah sangat percaya sama Dilla," terang Rita.
Rita adalah orang yang mengurus tentang masuknya Pembantu baru. Biasanya mereka selalu meminta informasi-informasi isi data diri tentang para Pembantu. Supaya jika ada suatu bisa menghubungi mereka atau sebagai jaminan. Tapi untuk kasus Diila seperti ini, mereka lupa meminta informasi tentang Dilla.
"Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jelita.
"Ryan juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, sekarang kondisi Rio sudah sangat memperhatikan."
Mereka semua melihat ke arah Rio. Rio masih tertidur lelap berkat obat yang telah disuntikkan oleh Dokter tadi pagi.
"Untuk sekarang kita hanya berdoa saja untuk kesembuhan Rio."
***
Saat Rio sadar kembali, dia hanya diam tidak merespon siapapun. Ryan dan lainnya berusaha mengajak Rio bicara, tetapi Rio hanya diam saja bagaikan patung. Dia tidak mau menanggapi siapapun.
Rita hanya bisa menangis melihat kondisi Rio saat ini. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat cucunya bahagia kembali.
***
Hari sudah menunjukkan malam. Mereka semua juga membujuk Rio untuk makan malam, tapi Rio tidak merespon mereka.
"Rio sayang, ayo dimakan dulu makanannya," kata Rita.
"...." Rio diam tidak bergeming.
"Rio makan ya, nanti bisa bertambah sakit," Rita mencoba membujuk Rio lagi.
Rio tidak mau membuka mulut sama sekali. Rio memilih memejamkan matanya untuk tidur kembali. Sudah dari siang mereka membujuk Rio makan tapi tidak membuahkan hasil.
Terpaksa Dokter memberikan vitamin kepada Rio melalui cairan infus, agar Rio tetap bertenaga.
***
Reza dan Rafa juga khawatir dengan keadaan Rio sekarang. Setelah mereka pulang dari sekolah mereka langsung menuju ke rumah sakit. Mereka berdua duduk dipojokan sofa sambil berbisik-bisik. Mereka mau membahas hal yang tidak mau didengar sama orang lain.
"Bagaimana kalau kita pergi saja kampung Mommy? kita akan menyusul Mommy tanpa diketahui sama yang lain. Kita pergi bertiga saja. Jika kita bilang sama yang lain pasti akan dilarang pergi. Reza kasihan sama Adek Rio," usul Reza.
"Rafa tidak masalah, tapi kita tidak tahu di mana rumah Tante Dilla," sahut Rafa.
Mereka sedang berpikir bagaimana mereka bisa ke rumah Dilla.
"Reza ingat, bukankah kita memiliki peta untuk ke rumah Mommy. Dulu kita perna buat peta ke sekolah, sedangkan Mommy membuat peta jalan menuju rumah Mommy," ujar Reza yang teringat dengan gambar Dilla.
"Oh iya, Rafa sampai lupa sama yang peta itu," sahut Rafa sedikit keras.
Reza menutup mulut Rafa biar tidak berisik. Mereka sengaja berbisik agar perkataan atau lebih tepatnya rencana mereka. Mereka tidak mau didengar sama Jelita dan Rita.
Reza dan Rafa mendekati ranjang Rio, Rio saat ini sedang duduk di atas kasur dengan mata lurus ke depan.
"Rio," panggil Reza pelan.
Rio tidak merespon sama sekali.
"Rio," panggil Rafa ulang.
Rio masih tetap tidak melirik mereka.
"Adek Rio mau tidak kita mencari Mommy," bisik Reza.
Rio yang mendengar kata Mommy melirik sekilas ke arah Dafa dan Reza.
"Omy," sahut Rio dengan suara yang tidak pelan.
Reza dan Rafa buru-buru menutup mulut Rio. Mereka berdua melihat ke arah Rita dan Jelita yang masih sibuk sama kegiatan mereka.
"Rio bicaranya jangan keras-keras ya, nanti bisa didengar sama Mommy Rafa dan juga Nenek," kata Rafa.
Rio menggedipkan matanya beberapa kali.
"Rio, bagaimana kalau kita menyusul Mommy ke kampung Mommy?" tanya Reza.
Rio yang mendengar kata Mommy mulai merespon mereka dengan baik.
"Tita atan te empat Omy?" tanya Rio balik.
Kata Rio dengan suara yang sedikit keras.
Reza dan Rafa kembali menutup mulut Rio. Mereka segera melirik ke arah Rita dan Jelita. Mereka menghela nafas lega karena Rita dan Jelita tidak mendengar suara Rio yang barusan.
"Rio jangan berisik ya, nanti kalau ketahuan Nenek sama Tante Jelita kita tidak bisa menyusul Mommy," tegur Reza.
Rio menganggukkan kepalanya.
"Sekarang Rio makan dulu ya, besok kita akan ke tempat Mommy," bujuk Reza.
"Bang Eja, Liyo mau temu Omy cetalang," pinta Rio.
"Sekarang Rio masih lemah, sebaiknya Rio hari ini dan besok makan yang banyak biar Rio kuat untuk mencari Tante Dilla. Besok sore Bang Rafa dan Bang Reza akan menjemput Rio di rumah sakit," ujar Rafa.
"Jika kita pergi sekarang nanti kita dilarang pergi. Kita perginya diam-diam. Rio juga masih sangat lemah karena belum makan dari kemarin. Sekarang Rio makan dulu ya, biar Rio kuat nanti. Pokoknya Rio harus makan yang banyak mulai sekarang biar kita bisa menyusul Mommy," bujuk Reza sekali lagi.
Rio mengganggu kepala, Rio mau makan banyak karena bisa bertemu Mommy. Reza dan Rafa mengambil makanan dan minuman jatah Rio. Mereka dengan pelan-pelan menyuapkan Rio makan dan minum. Rio akhirnya bisa makan dan minum kembali.
Rita dan Jelita yang melihat Reza dan Rafa yang bisa membujuk Rio makan, mereka merasa senang. Mereka mendekati Rio.
"Cucu nenek makan yang banyak ya," ujar Rita terharu.
Rita sangat bersyukur cucunya mau merespon Reza dan Rafa.
"Bial…."
"Biar Rio cepat sembuh ya kan," Reza memberikan kode pada Rio agar tidak keceplosan.
"Kalau sudah sembuh kita bisa main bersama lagi," sambung Rafa cepat.
"Iya, Rio makan yang banyak biar cepat sembuh dan bisa bermain lagi," kata Jelita.
Rio menganggukkan kepalanya.
Jelita dan Rita duduk kembali tidak mau menganggur Rio yang sedang makan. Tapi mereka tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh mereka bertiga yang bisa membuat mereka jantungan.
Bersambung….