
Setelah melewati beberapa jam perjalanan. Dilla dan Ryan akhirnya tiba di hotel tempat mereka menginap. Ryan membawa koper dibantu dengan pegawai hotel untuk memasukkan semua barang bawaan ke dalam kamar mereka. Ryan menyuruh pegawai itu untuk meletakkan kedua milik mereka dipojokan.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?"tanya pegawai hotel.
" Tidak ada Pak, terima kasih ya Pak," sahut Dilla.
"Kalau tidak ada lagi saya permisi ya Tuan dan Nyonya, saya pamit undur diri. Jika ada masalh segera hubungi kami," kata pegawai itu.
Pegawai itu segera keluar dari kamar.
Dilla mengelilingi kamar untuk melihat suasana kamar hotel yang disewa oleh Ryan. Kamar hotel tersebut berada pada lantai yang cukup tinggi sehingga dia bisa menyaksikan pemandangan kota malam hari yang indah dari sana.
"Bagaimana? bagus tidak? Apa kamu suka?" tanya Ryan.
Ryan berdiri di samping Dilla dan meletakkan tangan kanannya di bahu Dilla.
"Iya Mas, tempatnya sangat bagus. Dilla sangat suka," kata Dilla.
"Aku senang jika kamu menyukai tempat ini," ujar Ryan.
Ryna membalikan badan Dilla agar bisa menghadap ke arah Ryan. Ryan mengusap pipi Dilla sebentar dan matanya menetap wajah wajah Dilla dengan lekat.
Kring kring kring
Dilla dan Ryan tiba-tiba mendengar suara handphone berbunyi.
"Mas ada telepon masuk," kata Dilla.
Dilla sebenarnya masih malu dengan Ryan walaupun sudah menjadi istri sah.
"Tidak apa-apa, abaikan saja," ujar Ryan.
Ruan kembali mendekatkan wajahnya ke Dilla, tetapi….
Kring kring kring
Handphone Ryan kembali berbunyi.
"Siapa sih malam-malam nelpon, mengganggu orang saja," ujar Ryan kesal tapi mengabaikan panggilan masuk tersebut.
Kring kring kring
Handphone kembali berbunyi untuk ketiga kali.
"Sepertinya penting, kita lihat dulu siapa yang menelepon," ujar Dilla.
Ryan dengan langkah kesal menuju ke arah Hp-nya yang terus berbunyi dari tadi.
Ryan tidak langsung mengangkat panggilan masuk
"Siapa Mas?" tanya Dilla.
Ryan mengangkatkan alisnya saat melihat mamanya yang telepon.
"Ini telepon dari Mama," sahut Ryan.
"Tapi kenapa Mama menelpon, padahal Mama tahu kalau kita lagi bulan madu."
"Mungkin ada hal penting yang ingin Mama sampaikan," ucap Dilla.
"Hal penting apa?" tanya Ryan.
Ryan kemudian menyambungkan panggilan masuk.
"Hallo Ma, ada apa?" tanya Ryan.
"Ryan," ucap Rita di seberang sana dengan nada khawatir.
"Iya Ma, ada apa Mama menelpon dan Mama seperti orang lagi khawatir?" tanya Ryan.
Dilla mendekatkan diri kepada Ryan agar bisa mendengar apa yang terjadi. Ryan menjauhkan HP dari telinga dan menghidupkan loudspeaker biar Dilla juga bisa mendengarkan perkataan Rita.
"Ryan, sebenarnya Mama tidak ingin mengganggu acara bulan madu kalian. Tetapi Mama ingin mengabari bahwa Rio menghilang," ucap Rita tidak enak.
Dilla menutup menutup mulutnya dengan 2 tangannya, dia juga kaget mendengar kalau Rio hilang.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama Rio Ma. Ke mana dia pergi?" tanya Dilla khawatir.
"Mama dan lainnya juga tidak tahu Dilla. Saat kami mau ngecek Rio dikamar dia, dia tidak ada di kamarnya."
"Bukankah tadi sore Rio pamit untuk tidur Ma."
"Iya itu memang benar jika Rio pamit untuk tidur, tapi kita tidak ada yang mengeceknya saat dia ke kamar. Ketika mau makan malam kami berniat ingin membangunkan dia, tetapi tidak tidak menemukan dia dimanapun. Kami semua sudah mencari kemanapun tapi dia tidak ada, dia menghilang begitu saja."
"Terus bagaimana dengan keadaan Rio sekarang Ma? Apa yang bisa dilakukan anak sekecil Rio?" tanya Dilla menangis.
Ryan memegang kedua bahu Dilla karena Dilla sudah meneteskan air mata. Ryan tahu jika Dilla mencintai kedua anaknya dengan tulus.
"Dilla, kamu yang sabar. Pasti dia akan ditemukan, dia pasti baik-baik saja," hibur Ryan menenangkan Dilla.
"Tapi Mas, kita tidak tahu di mana Rio sekarang. Bagaimana kita bisa memastikan keadaan Rio."
"Ryan, Dilla maafkan Mama jika kami semua membuat kalian khawatir dan tidak menjaga Rio dengan baik. Tapi kami juga tidak mungkin untuk tidak mengabari kalian tentang hal ini, karena kalian juga berhak tahu Rio yang menghilang."
"Kira-kira kemana perginya Rio," gimana Dilla pelan.
"Sepertinya Rio pergi menyusul kalian berdua. Hanya itu kemungkinan yang besar yang bisa kami tebak."
Dilla hampir jatuh terduduk mendengar jawaban Rita. Bagaimana Rio akan mengikuti mereka berdua kemari. Kemarin mereka bertiga bisa selamat ke tempat Dilla karena Rafa dan Reza yang sudah sedikit paham dan ada peta. Tapi sekarang kondisi berbeda, Rio pergi sendiri dan tidak tahu dimana mereka berada.
Ryan menangkap tubuh Dilla yang hampir terjatuh dan membimbing Dilla untuk duduk di kasur.
"Ma, teleponnya Ryan tutup dulu ya, nanti kabari lagi jika sudah ada kabar tentang Rio. Ryan ingin menenangkan Dilla dulu. Dilla sepertinya sangat terkejut."
"Baik Ryan, Mama akan telepon lagi nanti saat Mama tahu ada kabar tentang Rio."
Ryan mengakhiri telepon dengan Rita.
"Dila kamu tenang dulu, Rio pasti baik-baik saja," ujar Ryan mengusap bahu Dilla.
Dilla menepiskan tangan Ryan dan bangkit dari duduknya.
"Bagaimana aku tidak khawatir Mas, Rio masih kecil, umurnya masih 3 tahun. Dia belum tau apa-apa."
"Iya, kamu yang tenang ya,aku juga khawatir dengan keadaan Rio," kata Ryan mengalah.
Ryan tidak mau ikut terbawa emosi seperti Dilla.
"Walaupun Rio bukan anak kandungku, aku telah menganggap dan menyayangi dia seperti anak kandungku sendiri," sambung Dilla.
"Aku tahu jika kamu mencintai dan menyayangi mereka dengan tulus. Aku juga Ayah mereka, aku juga khawatir dengan kondisi Rio, tapi kita harus bersikap tenang agar kita bisa memikirkan kemana dia pergi."
"Aku tidak bisa tenang Mas sebelum Rio ditemukan. Pokoknya sekarang aku ingin pulang, aku ingin mencari Rio," kata Dilla.
Ryan yang mendengar perkataan Dilla juga ikut bangun dari duduknya.
"Tapi Dilla, kita baru saja sampai."
"Kita masih bisa menikmati bulan madu kita lain kali. Sekarang prioritas utama kita adalah kita harus mencari keberadaan Rio. Aku tidak akan bisa tenang jika belum mendapatkan kabar Rio bagaimana sekarang."
"Dilla…."
Dilla tidak lagi mendengar ucapan Ryan, dia segara menarik koper dia sendiri dengan kasar. Ryan menghalangi Dilla yang ingin segera pergi sehingga mereka saling menarik koper itu.
Koper itu akhirnya terjatuh karena mereka sama-sama tidak sengaja melepaskan koper itu.
"Aduuuhhh…."
"Suara apa itu?" tanya Dilla pada Ryan.
Ryan dan Dilla saling menatap beberapa detik, kemudian tatapan mereka berdua berubah menjadi tatapan seperti melihat hantu. Mereka segera beralih menatap ke arah koper kembali.
Bersambung....
Maaf satu bab dulu, dua bab lagi akan menyusul nanti malam 🙏🙏🙏