Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 8. Pekerjaan Baru



"Karena pada dasarnya saya memang menyukai anak kecil Nyonya dan saya juga memiliki dua orang adik di kampung. Mungkin sudah kebiasaan saya Nyonya"


Rita yang mendengar pengakuan Dilla tersenyum lembut. Sekarang dia makin yakin Dilla dapat membantu Rita agar keluarganya menjadi hangat kembali seperti dulu, saat Riana masih ada.


"Kamu mau kan jadi baby sitter Reza dan Rio?" tanya Rita.


Rita sangat mengharapkan agar Dilla mau jadi baby sitter cucunya. Rita percaya jika Dilla yang merawat cucunya maka Dilla akan merawat dengan sepenuh hati.


"Baik Nyonya, saya akan mengerjakan tugas saya sebaik mungkin. Terima kasih atas kepercayaannya," ucap Dilla dengan menunduk hormat.


"Terima kasih Nak Dilla. Sekarang Tante merasa lebih tenang,. Sekarang ada kamu yang benar-benar bisa menjaga cucu saya."


Rita benar-benar bersyukur ada yang mau menjaga cucunya dengan baik.


"Sekarang kemari, biar Tante peluk kamu sebentar Dilla," pinta Rita.


Rita sudah merentangkan tangannya agar bisa memeluk Dilla.


"Tapi Nyonya...," tolak Dilla.


Dilla merasa tidak enak kepada majikannya.


"Kamu tidak kasian sama Nenek-nenek yang tua ini sudah merentangkan tangannya. Atau kamu tidak mau dipeluk sama Nenek-nenek tua ini karena malu," ucap Rita dengan ekspresi dibuat sesedih mungkin untuk meyakinkan Dilla.


Karena melihat kesungguhan majikannya, walaupun canggung Dilla dengan memberanikan diri memeluk dan membalas pelukan Majikannya.


"Sekarang kamu jangan panggil Tante dengan sebutan Nyonya lagi ya. Mulai sekarang kamu bisa panggil saya dengan sebutan Tante saja. Tante tidak menerima penolakan, Tante masih merasa muda untuk dipanggil Nyonya sama kamu," kata Rita tegas, tapi dengan ujung kalimat dibawa becanda.


"Baik Nyon... eeh maksud Dilla Tant... Tante," ucap Dilla canggung.


'Tadi katanya dah Nenek-nenek, tapi sekarang bilangnya masih merasa muda untuk di panggil Nyonya sama Dilla. Orang kaya memang aneh-aneh saja,' Dilla berusaha untuk tersenyum.


"Terima kasih ya Nak Dilla. Tante benar benar-benar merasa beruntung ada kamu di sini."


Rita melepaskan pelukannya dengan Dilla.


"Sekarang kita keluar dari sini, kita akan menjumpai cucunya Tante."


"Baik Nyo.... eeh Tante."


Dilla menepuk bibirnya yang salah ucap, tadi dia hampir mengatakan Nyonya lagi.


Rita memaklumi keadaan Dilla, pasti butuh waktu untuk merubah nama panggilan seseorang.


***


Di ruang tamu masih terlihat Reza yang mengajak Rio bermain. Di samping mereka ada bi Imah yang mengawasi mereka. Reza dan Rio asyik bermain robot-robotan yang dibeli oleh sang nenek dan kakek. Mereka bermain dalam keadaan diam, kalau orang lain lihat seperti bukan bermain bersama, tapi main sendiri-sendiri.


Sangking asyiknya bermain dan mengawasi, mereka bertiga sampai tidak menyadari kehadiran Rita dan Dilla.


"Bi imah."


"Ah.... Iya Nyonya,"  jawab bi Imah dengan kaget.


Sedangkan Reza dan Rio hanya memperhatikan sang nenek dan Dilla.


"Bi Imah terima kasih telah menjaga mereka. Sekarang Bi Imah bisa kembali ke dapur."


"Iya sama-sama Nyonya, kalau begitu saya pamit dulu ke dapur ya Nyonya. Bibi mau masak buat makan malam, permisi Nyonya," Bi Imah langsung menuju ke arah dapur.


'Kaget Bi Imah tadi. Untung jantungnya tidak copot, kalau copotkan bisa berabe. Memangnya mau pasang balik di mana coba jantungnya.'


Setelah kepergian bi Imah ke dapur Rita menfokuskan perhatiannya kepada cucu-cucunya.


"Reza, Rio, cucunya Nenek, mulai sekarang Mbak Dilla ya yang akan menjadi baby sitter kalian. Nanti kalian akan terus di temani sama Mbak Dilla dan Mbak Dilla juga yang akan membantu kalian," ujar Rita kepada cucunya.


Rita menunggu reaksi dari para cucunya.


Reza dan Rio saling bertatapan kemudian Reza mengalihkan perhatiannya ke Dilla. Tanpa diduga Rita, Reza menuju ke arah Dilla, tanpa aba aba dan bicara Reza menarik tangan Dilla dan mengajak Dilla bermain bersamanya dan Rio. Dilla yang ditarik tangannya mengikuti langkah Reza. Setelahnya Dilla duduk di dekat mereka berdua bermain, Rio langsung naik kepangkuan Dilla sedangkan Reza duduk di samping Dilla.


Rita yang melihat tingkah cucunya merasa terharu, baru kali ini cucu-cucunya mau berinteraksi sama orang asing.


'Biasanya mereka tidak pernah mau sedekat ini dengan orang lain. Ya Tuhan biarkan Dilla bisa mengembalikan kehangatan di rumah ini, Amin.'


"Dilla kamu di sini aja ya main sama Reza dan Rio, saya mau ke kamar dulu."


"Reza sama Rio main baik baik ya sama Mbak Dilla."


Reza dan Rio hanya menganggukkan kepala mereka sebagai petanda ia.


Setelah mendapatkan respon dari Dilla dan cucunya, Rita segera pergi ke kamarnya.


"Kalian dari tadi main apa saja?" tanya Dilla pada Reza dan Rio.


Reza menunjukkan robot-robotan.


"Oh kalian main robot-robotan ya."


Rio dan Reza menganggukkan kepalanya. Dilla hanya bisa bersabar dengan sikap mereka. Dilla yakin, mereka pasti akan berubah menjadi lebih baik lagi nanti.


Tidak terasa sudah hampir sejam Dilla menemani mereka bermain. Mereka masih bermain robot-robotan tanpa bosan. Dilla yang menemani mereka sudah bosan dari tadi. Apalagi mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Apa Tuan Muda Rio sama Tuan Muda Reza haus? biar Mbak Dilla ambilkan di dapur."


Mereka menganggukan kepala lagi.


"Kalau gitu tunggu di sini sebentar ya, biar Mbak Dilla ambilkan kalian minuman serta cemilan buat teman minumnya," ujar Dilla.


Dilla mendudukan Rio di samping tempat yang dia duduk tadi. Dilla mulai berdiri tapi Rio segera meraih Dilla kembali.


"Tuan Muda Rio sebentar ya, Mbak Dilla hanya mau mengambil makanan sama minuman saja kok di dapur."


Rio menggelengkan kepalanya.


"Tuan Muda Rio tunggu di sini saja, temani Tuan Muda Reza lanjut bermain," rayu Dilla lagi.


Rio melihat sebentar kearah Reza abangnya tanpa melepaskan pegangannya pada Dilla. Setelah itu Rio melihat lagi kearah Dilla. Rio tetap menggelengkan kepalanya tanda menolak.


"Aduh bagaimana ini."


"Tuan Muda Reza tidak apa-apakan jika Mbak Dilla tinggalin sendiri di sini. Sebentar saja, mau ambil makanan sama minuman. Tuan Muda Rio biar sama Mbak Dilla aja, karena Tuan Muda Rio tidak mau melepaskan Mbak Dilla."


Reza dari tadi memang memperhatikan Dilla dan Rio.


"Hem," sahut Reza.


Kemudian Reza melanjutkan main robotannya.


Karena Reza menyetujuinya, Dilla segera mengendong Rio dan pergi ke dapur. Di dapur ternyata ada bi Imah.


"Eh ada Dilla, ada perlu apa Dilla kemari. Biar Bi imah yang bantu," tawar bi Imah.


"Ini Bi, mau siapin minuman sama cemilan buat Tuan Muda," ujar Dilla.


"Oh, biar Bibi yang siapkan. Dilla duduk aja sebentar, tidak lama kok."


"Baik Bi."


Bi Imah mulai menuangkan minuman dan mengambil beberapa cemilan.


"Tapi kenapa kamu mengendong Tuan Muda Rio?" tanya bi Imah.


"Itu Bi, Tuan Muda Rio tidak mau melepaskan pegangannya pada Dilla. Jadi Dilla bawa aja ke sini, karena mereka sudah bermain dari tadi pasti sudah kehausan."


"Oh begitu, tumben aja Tuan Muda Rio mau mengekor orang. Ini Dilla sudah siap."


"Dilla juga tidak tau Bi."


Dilla bangun dari tempat duduknya.


"Biar Bi Imah aja yang antar ke depan. Soalnya Dilla mengendong Tuan Muda Rio," tawar bi Imah.


"Terima kasih Bi."


"Iya sama-sama, ayo kita ke sana."


Mereka kembali ke tempat tadi Reza dan Rio bermain.


Bersambung....