Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 50. Peta



Hari ini adalah hari minggu. Hari istirahat bagi para pekerja. Tapi tidak berlaku bagi orang orang yang sibuk, contohnya seperti Ryan dan Dafa. Mereka dari pagi pagi sudah pergi ke kantor karena masih banyak tugas.


Reza dan Rafa duduk cemberut di atas karpet depan TV di ruang keluarga. Dilla yang melihatnya hanya geleng geleng kepala.


"Kenapa pagi pagi sudah cemberut begitu sih?" tanya Dilla.


Dilla sedang mengendong Rio di lengannya. Rio yang masih sakit kembali kambuh sifat manjanya.


"Pengen cepat cepat hari minggu Mommy," sahut Reza.


"Iya Mommy, Rafa juga bosan menunggu hari minggu," sambung Rafa.


Dilla yang mendengar ucapan mereka merasa heran.


"Bukankah hari ini hari minggu?" tanya Dilla untuk memastikan.


Dilla segera duduk di karpet samping mereka. Dilla menduduki Rio di sampingnya, tapi Rio malah naik lagi ke pangkuan Dilla. Dilla yang melihatnya hanya mengelus kepala Rio.


"Maksud kami minggu depan Mommy, kan kita jalan jalannya minggu depan, kenapa tidak minggu ini aja sih, rasanya lamaaa... sekali menunggunya," ujar Rafa sambil merentangkan tangannya.


"Kan Papa kalian tidak bisa, minggu depan baru bisa," jawab Dilla.


"Iya sih Mommy," sahut Reza lesu.


"Mommy boleh tidak kita makan es krim sekarang, padahal rencananya kita makan kemarin?" tanya Rafa.


"Omy mau es telim uga," regek Rio.


"Rio kan masih sakit gigi, jadi belum boleh makan yang manis manis," ucap Dilla memberi pengertian.


"Uhhh... mau Omy, ditit aja," tawar Rio.


"Walaupun sedikit tidak boleh sayang, Reza dan Rafa besok saja ya makan es krimnya kasian Adik Rio tidak bisa makan es krimnya," pinta Dilla.


"Baiklah Mommy," jawab mereka berdua.


Dilla tersenyum melihat rasa simpati Reza dan Rafa yang cukup besar. Jika sudah besar nanti pasti mereka akan menjadi orang yang bijak.


"Mommy bosan niii...," ngeluh Rafa.


"Bagaimana jika kita main mewarnai saja," usul Dilla.


"Bosan Mommy, kita sudah sering main gambar gambar," jawab Reza.


Dilla memikirkan lagi apa yang harus mereka lakukan sehingga mereka tidak bosan.


"Bagaimana kalau kita main gambar peta aja," usul Dilla lagi.


"Gambar peta gimana Mommy?" tanya Rafa dan Reza dengan rasa tertarik.


"Kalian kan setiap hari pergi ke sekolah, jadi bagaimana kalau kita buat peta menuju ke sekolah, nanti kita buat apa apa aja yang ada di sekitar jalan menuju sekolah," Dilla menjelaskan ide barunya.


"Ide bagus Mommy," jawab Rafa.


"Kalau gitu biar Mommy ambilkan peralatannya dulu ya."


"Tidak apa Mommy, biar Reza dan Rafa aja yang ambilkan, ayo Rafa," ajak Reza.


Reza dan Rafa segera berlari mengambil peralatan menggambar. Dilla memilih membiarkan mereka saja yang mengambil sendiri.


Setelah mengambil peralatan mereka langsung mulai menggambarnya. Mereka bertiga menggambar dengan serius, tadi Rio juga ikut meminta main menggambar juga.


Reza dan Rafa begetu serius mulai membuat peta masing masing. Sedangkan Rio hanya membuat gambar abstrak, dengan mencoret coret kertas.


"Kalau menuju ke rumah Mommy bagaimana caranya," tiba tiba Reza ingin tau bagaimana cara ke rumah Mommy.


"Maksud Reza jika ingin ke rumah Mommy yang ada di kampung?" tanya Dilla balik.


"Iya Mommy, ini Reza hampir siap buat petanya, kalau peta menuju ke rumah Mommy gimana?" tanya Reza penasaran.


"Kalau peta menuju rumah Mommy jauh, jadi susah gambarnya, kalau sekolah kalian kan dekat, jadi enak buat petanya," sahut Dilla.


"Masak Mommy tidak kasih tau sih, kami juga mau tau, Mommy bilang aja nanti harus naik apa gitu, Mommy buat aja jalannya lurus lurus," tawar Rafa.


"Kalau lurus nabrak dong," canda Dilla.


"Mommy...," seru Reza dan Rafa.


Padahal Reza dan Rafa bertanya dengan serius.


Dilla segera mengambil pensil dan sebuah kertas.


"Kalau dari sini jika kita naik bus maka kita perlu naik bus sebanyak dua kali menuju terminal kereta, kalau naik taksi cukup sekali," ujar Dilla.


"Terminal mana Mommy," tanya Reza dan Rafa dengan sangat tertarik.


Mereka bahkan meninggalkan hasil kerja mereka.


"Sabar dong, kan Mommy belum siap ceritanya," ujar Dilla.


Mereka berdua hanya tersenyum mendengar apa kata Dilla.


"Kalau menuju rumah Mommy kita perlu ke terminal X dengan tujuan kota Y. Jika naik taksi, terserah taksi mana aja boleh. Jika mau naik bus, pertama kita naik bus No 103, terus lanjut naik bus No 234. Kita bisa mulai naik dari halte ini," jelas Dilla.


"Setelah turun di kota Y, kita naik lagi kereta menuju kota Z dan turun di terminal Z itu. Setelahnya kita naik bus lagi No 136 dan berhenti di halte kilo meter 17. Dari sini kita bisa naik ojek atau becak, di halte ini banyak ojek dan tukang becak, kita tinggal bilang ke jalan suka damai, nanti kita minta turun di depan kantor camat. Jika sudah sampai di situ tinggal tanya aja nama panggilan Mommy, Dilla tukang kebo, pasti orang sekampung bakalan tau, soalnya Mommy pernah menang jadi juara nunggang kebo," Di lla mengakhiri ceritanya.


"Nunggang kebo apaan tu Mommy?" tanya Rafa.


"Nunggang kebo ya mirip seperti pawang kebo atau kerbau," jawab Dilla.


"Kerbau?" tanya Reza dan Rafa.


Reza dan Rafa saling melirik, mereka belum pernah melihat bagaimana bentuk dari kerbau.


"Kerbau itu mirip sapi, tapi bedanya kalau sapi tidak suka main lumpur," jawab Dilla.


"Uhh pasti jorok," kata Reza dan Rafa dengan jijik.


"Tidak jorok kok, malahan sangat seru, nanti kalau kalian main ke kampung Mommy akan Mommy ajak main kebo deh, kalian pasti suka," ajak Dilla tanpa sadar.


"Bener Mommy nanti mau aja kami ke kampung Mommy," tanya Rafa berbinar.


"Ah maksud mommy itu itu..., kapan kapan saja ya," Dilla tidak tau harus beri alasan apa.


Tadi Dilla hanya tidak sadar karena terlalu fokus mengingat masa di kampung yang sangat menyenangkan.


"Nah sekarang kalian lanjut gambar petanya ya," ujar Dilla.


"Baik Mommy," sahut mereka berdua.


"Omy dah ciap," kata Rio.


Rio dari tadi sama sekali tidak mendengarkan apa perkataan Dilla. Rio terlalu fokus sama acara menggambarnya. Rio menunjukkan hasil gambarnya pada Dilla.


Dilla melihat hasil gambar Rio yang acak acakan.


"Rio gambar apa sayang?" tanya Dilla.


Karena Dilla tidak tau apa yang Rio gambar. Rio sepertinya menggambarkan makhluk yang tidak jelas dengan badan mirip kotak.


"Ni umah Omy, agus tan Omy," jawab Rio


"Kalau ini rumah kenapa bisa ada tangan dan kakinya Rio?" tanya Dilla


"Agal umah ica jaln jalan," ujar Rio senang.


Dilla merasa merinding dengan jawaban Rio, masak rumah bisa jalan jalan, yang ada rumahnya kabur nanti. Dilla segera meletakkan kembali kertas punya Rio daripada pusing melihat gambar Rio.


"Gambar punya Rio bagus kok," puji Dilla.


Rio yang senang mendengar Dilla memujinya segera mengecup basah pipi Dilla kiri dan kanan.


"Ma acih Omy...," kata Rio.


"Iya sayang, sama sama, kalu Reza dan Rafa gimana, sudah selesai?" tanya Dilla.


"Sudah Mommy," sahut mereka.


"Kalau sudah simpan balik peralatannya ya. Sebentar lagi mau makan siang," kata Dilla.


Mereka dengan patuh menyimpan kembali peralatan mereka. Mereka tidak pernah membuang hasil karya mereka walaupun gagal. Hasil karya mereka akan mereka simpan di sebuah peti, agar saat dewasa nanti mereka bisa melihat kembali karya mereka.


Mereka juga tidak lupa menyimpan kertas peta menuju ke kampung halaman Dilla barengan dengan hasil karya mereka.


Setelah siap menyimpan barang mereka langsung berlalu mencari Dilla di dapur.


Bersambung....