
Waktu terus berjalan, operasi Jelita sudah berjalan sekitar satu jam. Dafa di depan ruang operasi tidak bisa duduk tenang. Dafa berjalan bolak balik di depan ruang operasi. Dafa sangat cemas dengan keadaan Jelita.
"Bagaimana keadaan Jelita, Dafa?" tanya Rita.
Rita baru saja tiba bersama Aditya. Mereka tadi menjenguk Rafa terlebih dulu. Rio dan Reza juga bersama Ryan. Tadi Rio kembali kekeuh mau menemui Dilla tapi dicegah sama Rita. Tidak mungkin mereka mengajak anak kecil di ruang operasi.
"Belum ada kabar Tante, Jelita masih di dalam ruang operasi," jawab Dafa.
"Kamu yang sabar ya, Jelita pasti selamat dan baik baik saja," ujar Aditya.
"Iya Om, Jelita pasti kuat," sahut Dafa.
"Om dan Tante bagaimana keadaan Rio dan Reza, setelah kejadian kecelakaan, Dilla tidak tau keadaan mereka?" tanya Dilla.
"Kamu tenang aja Dilla, Rio dan Reza sekarang sudah ada di ruang rawat Rafa. Keadaan Rafa juga tidak apa apa, dia baik baik saja hanya belum sadar saja. Sebentar lagi dia akan siuman kata Perawat," ucap Rita.
Dilla dan Dafa mereka bersyukur Rafa sudah baik-baik saja dan Rio serta Reza juga aman.
Mereka kembali menunggu. Setelah operasi berjalan sekitar tiga jam baru para Dokter dan Dokter Sultan keluar dari ruang operasi.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Dafa buru-buru.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Seperti pasien memiliki semangat hidup yang cukup besar. Tadi memang sempat mengalami pendarahan tapi semuanya bisa dikendalikan. Pasien saat ini sudah melewati masa kritis."
Mereka bersyukur Jelita bisa melewati masa kritis.
"Tapi selain luka di kepala, tangan dan kaki pasien yang sebelah kanan mengalami keretakan akibat kecelakaan itu. Setidaknya dia harus memakai gips untuk sementara waktu. Kurang lebih tiga bulan." sambung Dokter lagi.
Dafa tidak masalah jika Jelita hanya patah tulang. Dafa akan bersyukur selama Jelita masih bisa selamat. Dafa akan menerima Jelita dalam kondisi apapun jika mereka bisa bersama. Tidak peduli jika Jelita cacat sekali pun.
"Terima kasih Dokter," kata Rita dan Dafa.
"Kalau begitu kami pamit dulu, kami ada yang harus dibahas tentang operasi pasien tadi. Pasien akan kami pindahkan segera ke kamar inap."
Dokter dan Sultan meninggalkan tempat itu.
"Tuan Dafa, karena Mbak Jelita sudah melewati masa kritis, Dilla mau pamit menjenguk Rafa ya," pamit Dilla.
"Iya Dilla, terima kasih banyak," sahut Dafa.
"Sama sama Tuan."
***
Dilla segera menuju ke tempat Rafa setelah diberitahu sama Rita. Dilla membuka pintu, di dalam ruangan Rafa sudah bangun dan berontak di atas kasur. Ryan mencoba menahan Rafa supaya tidak pergi. Di pojok sofa Rio dan Reza sudah tertidur terlelap.
"Lepaskan Rafa, Rafa mau cari Mommy," Kata Rafa sambil menangis.
"Rafa tidak boleh turun dulu, Rafa masih lemas," sahut Ryan.
"Kenapa Rafa cari Mommy, Mommy kan sudah sini," ujar Dilla.
Dilla tau, Mommy mana yang dicari sama Rafa.
"Mommy," lirih Rafa.
Dilla mendekati kasur, Ryan melepaskan tangannya karena Rafa sudah tidak berontak lagi.
"Gimana, masih sakit?" tanya Dilla.
"Mommy, dimana Mommy?" tanya Rafa balik.
"Ini Mommy, kenapa cari Mommy lagi," sahut Dilla pura pura tidak tau maksudnya Rafa..
"Maksudnya Rafa, Mommy nya, Mommy yang satu lagi," ujar Rafa pelan.
"Kenapa Rafa cari Mommy Jelita. Sekarang Mommy Jelita tidak akan mengganggu Rafa lagi, seperti keinginan Rafa bukan," ucap Dilla.
Rafa terkejut dengan perkataan Dilla. Rafa langsung loncat dari atas tempat tidur. Dilla berhasil meraih tangan Rafa sebelum Rafa kabur.
"Rafa mau kemana?"
"Rafa mau cari Mommy," jawab Rafa.
"Rafa... Rafa.…"
"Sekarang Rafa kembali ke tempat tidur ya. Biarkan Mommy Jelita bahagia, sekarang Mommy Jelita sudah pergi dan tidak akan kembali. Mommy jelita sudah…."
"TIDAK!" teriak Rafa tidak terima.
Rafa mencoba melepaskan diri dari Dilla, tapi Dilla tetap menahan Rafa. Rafa tak putus asa, dia menggigit tangan Dilla dengan kuat dan mendorong dengan keras saat Dilla melepaskan tangan Rafa. Tubuh Dilla terjungkal ke belakang. Ryan segera menangkap tubuh Dilla.
"RAFA BERHENTI!" Dilla juga berteriak memanggil Rafa.
Dilla mengabaikan Ryan dan tangannya yang terasa perih, dia lebih fokus pada Rafa.
Tubuh Rafa berhenti, tangannya hampir menyentuh gagang pintu.
"Buat apa Rafa menemui Mommy Jelita sekarang, jika hanya untuk menyakiti Mommy Jelita."
Rafa berbalik dengan air mata yang sudah turun, Rafa mengartikan jika Mommy nya sudah meninggal, dia anak yang pintar jadi cepat menangkap maksud dari perkataan Dilla.
"Siapa bilang Rafa tidak menyayangi Mommy, Rafa sangat menyayangi Mommy. Rafa selalu berharap Mommy akan kembali pada Rafa. Rafa selalu berdoa agar Mommy juga menyayangi Rafa seperti Rafa menyayangi Mommy. Rafa hanya kaget saat Mommy datang tiba-tiba. Rafa takut jika Mommy hanya menyayangi Rafa sebentar saja lalu pergi lagi. Rafa tidak mau Mommy pergi lagi. Rafa juga mau seperti anak lain yang selalu dibanggakan sama Mommy nya. Rafa mau Mommy Rafa, Rafa mau Mommy Rafa kembali," Rafa berbicara dengan nada keras.
Rafa tidak bisa menutupi perasaannya lagi. Setelah berkata begitu Rafa membuka pintu dan lari keluar, padahal dia tidak tau di mana Jelita berada.
Dilla puas mendengar jawaban Rafa.
"Dilla apa benar jika Jelita sudah tidak ada?" tanya Ryan.
"Siapa bilang Mbak Jelita sudah tidak ada lagi," sahut Dilla.
"Kamu yang bilang tadi," ucap Ryan.
Dilla menghela nafas.
"Tuan, tadi Dilla hanya memancing emosi Rafa saja. Rafa sangat sulit untuk mengatakan perasaannya dengan jujur. Kecil kecil ego nya sudah besar. Biasanya orang akan berkata jujur kalau sudah kepepet. Jadi Dilla sengaja memutar bahasa sedikit agar Rafa bisa berkata jujur. Lihat kan hasilnya, Dilla bisa membuat Rafa berkata jujur," kata Dilla bangga.
Ryan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dilla sangat cerdik.
***
Langkah Rafa terhenti di depan pintu kamar inapnya. Rafa melihat sang Daddy yang mendorong bed bersama yang lain, Rafa yakin jika itu Mommy nya.
"Rafa," Panggil Dafa.
Rafa segera berlari ke arah Jelita.
"Mommy Mommy," panggil Rafa.
Dafa dan lainnya kaget. Rafa sudah mau memanggilnya Jelita Mommy.
"Mommy jangan tinggalin Rafa, Rafa minta maaf. Rafa janji tidak akan mengabaikan Mommy lagi asal Mommy bangun. Mommy harus ada selalu bersama Rafa dan juga Daddy."
Dafa terharu, dia menghapus setitik air mata di ujung mata.
"Sayang jangan ganggu Mommy ya," kata Dafa.
"Tidak, Mommy harus bersama Rafa, kalau tidak, Rafa tidak akan pernah memaafkan Mommy sampai kapanpun," ujar Rafa marah.
"Iya, Mommy akan selalu ada bersama Rafa juga Daddy. Karena Dafa sudah memaafkan Mommy dan menjadi anak yang baik," sahut Dafa.
"Beneran Daddy?" tanya Rafa senang.
"Iya."
Rafa memeluk Daddy nya. Dafa menggendong Rafa. Mereka kembali berjalan masuk ke ruang inap. Tidak ada satupun yang melihat jika dalam kondisi tidak sadar Jelita juga meneteskan air mata.
Bersambung….
Jangan lupa vote ya….
Boleh pakai poin atau koin….