
Rita dan Aditya tidak tega dengan tatapan penuh harapan dari Reza.
"Baiklah, Kakek mengizinkan kamu pergi," jawab Aditya.
Reza yang mendengar jawaban Aditya segera bangun dan memeluk Aditya erat.
"Terima kasih Kakek," ujar Reza senang.
"Tapi, jika Reza ingin pergi, bagaimana Reza bisa pergi sendiri,? tanya Rita.
" Tante, bagaimana jika Dafa dan Jelita yang mengantar Reza ke sana sambil mengantar barang bawaan Dilla dan Ryan. Kebetulan Dafa sekarang tidak banyak pekerjaan lagi. Jadi sekalian kami juga bisa berlibur," tawar Dafa.
"Daddy, Rafa juga mau ikut. Kalau Reza pergi juga masak Rafa tidak ada temannya. Rafa tidak mau sendiri Daddy," pintar Rafa
"Kalian juga ikut pergilah, bawa Rafa juga. Liburan ini namanya sudah menjadi liburan keluarga. Percuma juga jika kami melarangnya jika Rio sudah ada di sana," ujar Rita.
"Iya betul, kalian pergi atau tidak pergi mereka juga tidak bisa lagi menikmati momen berdua," sambung Marni.
"Horeee, Rafa ikut, Rafa ikut," teriak Rafa.
"Siapa tahu nanti jika kami ikut, kami bisa menjaga anak-anak sehingga mereka bisa punya waktu bersama," sahut Dafa.
"Jadi sudah diputuskan, bahwa Jelita dan Dafa beserta Rafa dan Reza ikut menyusul Dilla, Ryan dan Rio. Mereka pergi sekalian membawa barang Dilla dan Ryan yang tertinggal," kata Aditya.
"Karena semuanya ini sudah diputuskan, sekarang Mama akan menyiapkan barang bawaannya beserta punya Rio juga," ujar Rita.
"Jelita juga akan bantu Tante," ucap Jelita.
"Baiklah, ayo kita ke kamar mereka," ajak Rita.
***
Rita dan Jelita berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Ryan dan Dilla.
"Dimana Rio menyimpan pakaian punya Ryan dan Dilla Tante?" tanya Jelita.
"Kata Dilla tadi, Rio menyimpannya di bawah kasur," jawab Rita.
Rita dan Jelita berjongkok dan menyingkap selimut dan bedcover. Mereka mulai melihat ke arah bawah tempat tidur.
"Ternyata benar ada disini," ujar Rita.
Rita dan Jelita segera mengeluarkan semua baju yang ada di bawah tempat tidur.
"Tante masih tidak bisa berpikir. Bagaimana Rio bisa punya ide seperti ini?" ujar Rita sambil bertanya.
"Namanya juga anak kecil Tante. Pasti mereka punya 1001 cara dan ide yang tidak bisa kita tebak," sahut Jelita
Rita dan Jelita mengambil koper yang lain dan memasukkan pakaian tersebut.
"Sekarang punya Ryan dan Dilla sudah beres. Sekarang saatnya kita masukkan baju punya Rio, Reza dan punya kami."
"Pakaian Reza dan Rio biar Tante yang urus. Kamu lebih baik menyiapkan barang keperluan kalian saja. Kalian lebih baik berangkat saja malam ini supaya besok bisa sampai di sana."
"Baik Tante," jawab Jelita.
***
Dilla mulai membuka matanya. Dia duduk sebentar dan melihat ke arah Ryan dan Rio yang masih tertidur pulas. Setelah puas menatap Ryan dan Rio, Dilla memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Dilla sudah wangi dan rapi dengan menggunakan baju yang masih sama karena tidak punya baju yang lain. Dilla menyingkap kain gorden agar matahari bisa masuk ke dalam kamar.
Dilla terkejut saat dia berbalik. Tanpa suara Ryan tiba-tiba memeluk Dilla dari depan.
"Mas," panggil Dilla.
"Hemmm," gimana Ryan dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Mas ini bikin Dilla kaget saja. Mas jalannya tidak ada suara sama sekali," ujar Dilla.
"Kamu pagi-pagi sudah wangi saja," sahut Ryan tidak nyambung.
Ryan mencium pipi kiri Dilla dan ingin melanjutkan pipi kanan. Ciuman itu ditahan sama tangan Dilla.
"Mas jangan macam-macam, ada Rio di sini," tegur Dilla.
Ryan melihat ke arah rio yang masih belum bangun.
"Rio masih tidur, jadi dia tidak akan melihatnya," sahut Ryan.
"Tapi Mas…."
"Tidak ada tapi tapian, kamu ini istri Mas. Mas ingin mengucapkan selamat pagi."
Ryan ingin kembali mencium Dilla tapi gagal sama panggilan Rio.
"Tuh kan, apa kata Dilla," kata Dilla.
"Papa cama Omy lagi apa?" tanya Rio sambil mengucek mata.
Ryo bangun dan duduk di atas kasur sambil melihat kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Omy luk uga," pinta Rio.
Rio merentangkan kedua tangannya berharap Dilla mau mengendong dia. Ryan melepaskan pelukkan nya pada Dilla. Setelah pelukan Ryan lepas, Dilla menghampiri Rio.
"Anak Mama sudah bangun ternyata," ujar Dilla.
Rio segera memeluk leher Dilla dan meletakkan kepalanya di atas bahu Dilla. Rio kembali memejamkan matanya saat merasa nyaman di dekapan Dilla.
"Rio sayang ayo bangun, jangan tidur lagi," tegur Dilla.
"Hemmm," guman Rio.
"Ayo bangun Rio."
"Cebental agi Omy," sahut Rio.
"Tidak tidak, sekarang bangun terus mandi," tolak Rio.
Rio membuka matanya kembali dan memoyongkan bibirnya. Rio masih mengantuk.
"Mas tolong mandikan Rio ya, Dilla sudah mandi tadi," pinta Dilla.
"Baiklah," sahut Ryan.
"Mau mandi cama Omy aja," jawab Rio.
"Mama tadi sudah mandi sebelum Papa dan Rio mandi. Jadi Rio mandi sama Papa saja ya," ucap Dilla.
"Mau cama Omy,"jawab Rio lagi.
"Jadi Rio tidak mau mandi sama Papa ni?" tanya Ryan.
"Ndak mau, mau cama Omy," tolak Rio.
"Bagaimana jika kita mandi bertiga saja," usul Ryan.
"Beltida?" tanya Rio.
"Iya, Papa, Mama dan juga Rio,' jawab Ryan.
"Liyo mau Pak, acal ada Omy," jawab Rio.
"Mas, Mas jangan aneh-aneh deh. Dilla sudah bilang jika sudah mandi. Sebaiknya Mas dan Rio segera pergi mandi juga," kata Dilla sambil menyerahkan Rio ke dalam gendongan Ryan.
"Tidak tidak tidak, tidak ada bentahanan. Sekarang kalian berdua segera mandi sekarang juga," Dilla sengaja memotong protes Ryan dan Rio yang mau meminta dia untuk mandi bersama.
Mereka berdua dengan lesu pergi ke kamar mandi.
"Kalian jangan sampai membasahi baju kalian karena kita tidak ada baju ganti lain," teriak Dilla dari luar.
"Iya," sahut Ryan dari dalam sambil berteriak juga.
Sambil menunggu Rio dan Ryan selesai mandi, Dilla memilih merapikan tempat tidur mereka. Rio dan Ryan keluar setelah selesai mandi. Ryan menyerahkan Rio kepada Dilla yang masih terbalut sama handuk untuk dipakaikan baju kembali. Sedangkan Ryan masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk memakai baju.
Dilla segera memakaikan baju Rio kembali biar tidak masuk angin.
Ting ting ting
Terdengar suara belum pintu.
"Apa kamu ada pesan makanan Dilla?" tanya Ryan.
"Dilla tidak memesan makanan apapun Mas," jawab Dilla.
"Siapa juga yang bertamu pagi-pagi begini?" tanya Ryan lagi.
"Dilla juga tidak tau Mas."
"Atau mungkin saja dari pihak hotel. Kita kan semalam meminta Mama untuk mengirimkan barang punya kita," sahut Ryan.
"Bisa jadi sih Mas. Mas tunggu di sini saja, biar Dilla yang bukakan pintu," ucap Dilla.
Dilla membukakan pintu, setelah pintu terbuka Dilla merasakan kakinya sedang dipeluk sama seorang anak kecil.
Bersambung....