Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 146. Cemburu



"Lisa, ku tidak terima dengan ucapan kamu yang menghina istri aku," kata Ryan. 


"Pokoknya aku tidak setuju kamu menikah dengan dia. Siapa tahu dia hanya mau harta kamu. Bisa saja dia sengaja mendekati kamu dan anak-anak kamu itu hanya akal-akalan dia," ucap Lisa.


"Lisa, aku bilang cukup. Aku tidak mau lagi berdebat dengan kamu," sahut Ryan dengan nada yang naik.


"Tidak, aku tidak akan pernah berhenti jika kamu tidak memilih perempuan yang tepat bagi Reza dan Rio," balas Lisa dengan nada tinggi juga. 


"Terus mau kamu bagaimana? perempuan seperti apa yang cocok menjadi ibu bagi Reza dan Rio," tantang Ryan yang sudah emosi. 


"Aku ingin Reza dan Rio mendapatkan ibu yang benar-benar tulus menyayangi mereka berdua," jawab Lisa.


"Aku kan sudah bilang, jika Dilla mencintai Reza dan Rio dengan tulus. Jika kamu masih tidak percaya sama perkataan aku, kamu coba bertemu sama Reza dan Rio secara langsung. Kamu tanyakan kepada mereka siapa yang akan mereka pilih antara aku dan Dilla. Aku yakin jika mereka berdua pasti tanpa berpikir panjang akan lebih memilih Dilla langsung daripada aku dan keluargaku sendiri. Apakah rasa sayang yang mereka miliki itu belum cukup sebagai buktinya," ujar Ryan. 


Lisa meremas kedua jarinya. Lisa melihat tidak ada keraguan sedikitpun di mata Ryan. Lisa tidak mau jika masa lalu dia yang kelam akan terulang lagi.


'Tidak tidak. Aku akan memastikan jika Reza dan Rio bisa bahagia sampai mereka tumbuh besar.'


"Pokoknya aku tetap tidak akan setuju jika aku belum melihatnya dengan mata kepala aku sendiri. Jika dia tidak pantas jadi ibu bagi Rio dan Reza aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan kalian. Jika kamu masih tetap mempertahankan pernikahan kalian, aku pastikan jika Reza dan Rio akan ikut bersama aku ke luar negeri," kata Lisa tidak mau kalah.


Setelah berkata demikian Lisa pergi meninggalkan Ryan. Ryan hanya melihat kepergian Lisa dengan tatapan datar. Ryan yakin jika dia yang akan menang.


"Silahkan kamu buktikan sendiri. Aku yakin kamu juga akan menyukai Dilla," kata Ryan pada angin yang berlalu.


***


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?" tanya Ryan setelah Dilla mendekatinya.


Mereka saat ini sedang berada di kamar karena hari sudah malam. Dilla juga sudah menidurkan Rio dan Reza di kamar mereka.


"Dokter bilang hasil untuk Dilla negatif sedangkan Mbak Jelita l hasilnya positif," jawab Dilla sambil menggeleng lemah. 


Ryan segera merangkul dan memeluk Dilla dengan erat. 


"Sayang, kamu jangan sedih. Nanti kita pasti akan memiliki anak kita sendiri," kata Ryan menenangkan Dilla.


"Iya Mas.Dilla juga tahu kalau pernikahan kita baru sebentar. Tapi entah kenapa saat mendengar Dokter bilang hasilnya negatif ada perasaan kecewa yang muncul di hati Dilla," sahut Dilla tanpa menutupi perasaannya. 


"Kita masih bisa berusaha lagi. Apalagi kita juga harus bisa meyakinkan Rio agar dia bisa menerima kehadiran adiknya. Setelah itu kita akan buat adik yang banyak buat Rio dan Reza," ucap Ryan menghibur.


"Apa Mas mau buat tim sepak bola?" tanya Dilla merespon perkataan Ryan.


"Nah ide bagus itu. Bila perlu kita buat dua tim agar bisa lawan tandingnya," tambah Ryan saat melihat Dilla tertawa dengan candaannya.


"Mas bisa aja," kata Dilla sambil ketawa kecil. 


Ryan bersyukur bila Dilla akhirnya bisa tersenyum lagi tidak nampak lagi raut wajah sedih seperti sebelumnya.


Tanpa mereka sadari Rio mendengar perkataan Dilla dan Ryan di balik pintu. Tadi Rio yang terbangun kembali dia ingin menemui Dilla, tapi saat mendengar papa dan mama bicara tentang adik langkah Rio berhenti.


"Omy udah ndak cayang lagi cama Liyo," kata m Rio dengan suara kecil.


Rio memilih kembali ke kamarnya. Rio menarik selimut kembali dengan air mata Rio yang mulai keluar. Pada malam itu Rio menangis sepanjang malam. Rio baru bisa tertidur setelah dia capek menangis karena kelelahan.


***


"Rio sayang ayo bangun," kata Dilla membangun Rio.


Dilla menggoyangkan tubuh Rio dengan pelan.


"Rio ayo bangun," suruh Dilla sekali lagi.


"Rio sayang ayo bangun."


Dengan tubuh lemah Rio mulai terbangun. Rio membalikkan tubuhnya ke arah Dilla. Tadi Rio tidur membelakangi Dilla. Dilla sangat kaget saat melihat lingkaran hitam dan mata Rio yang membengkak. Dilla segera memegang kedua pipi Rio dan memperhatikan dengan jelas. 


"Rio sayang apa yang terjadi? kenapa dengan mata kamu nak? kenapa bisa bengkak seperti ini?" tanya Dilla khawatir.


Rio menatap Dilla dengan fokus yang sedang melihat mukanya. Rio tidak menjawab apapun. 


"Sayang ayo cerita sama Mama. Kenapa Rio bisa begini," kata Dilla lagi.


Rio masih tidak mau menjawab. Rio malah memeluk leher Dilla dengan kuat. Dilla tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Rio. Dilla juga membalas memeluk Rio dan mengusap bahu Rio. 


"Rio ayo cerita sama Mama," suruh Dilla dengan mengusap punggung badan Rio dengan pelan.


"Liyo ndak apa-apa Omy," jawab Rio dengan lesu.


"Apa Rio tidak mau menceritakan sama Mama ya," bujuk Dilla. 


"Ndak apa-apa Omy," ulang Rio.


Dilla yang melihat Rio tidak mau menceritakannya ada rasa khawatir. Dilla memilih diam.


'Mungkin lain kali Rio akan mau menceritakannya sama aku. Lebih baik aku membiarkan Rio sendiri dulu.'


"Ya sudah kalau Rio tidak apa-apa," kata Dilla sambil melepaskan pelukan mereka. 


"Sekarang ayo bangun, kita mandi ya. Yang lainnya sudah menunggu di bawah," ujar Dilla.


Rio tidak turun dari kasur, malah Rio membentang kedua tangannya supaya di gendong oleh oleh Dilla. Dilla segera menggendong Rio, Dilla tau jika ada sesuatu yang terjadi sama Rio, tapi Rio tidak mau menceritakan sama siapapun.


***


Dilla dari Rio memasuki ruang makan dengan Rio masih berada di gendongan Dilla. Rio tidak mau jalan sendiri, Dilla yang melihat Rio hari ini kurang semangat tanpa berkata dia menuruti semua kemauan.


"Apa yang terjadi sama kamu sayang?" tanya Ryan saat melihat Rio dengan mata sembab dan bengkak.


Rio masih juga tidak mau menjawabnya. 


"Sepertinya Rio hari ini kurang sehat. Tadi Dilla sudah tanya ke Rio juga tapi Rio juga tidak mau menjawab," ujar Dilla.


Rita segera bangun dari kursinya dan mendekat ke arah Dilla dan Rio. Rita meletakkan tangannya di kening Rio.


"Suhu kepala Rio memang sedikit lebih tinggi daripada suhu biasanya. Sebaiknya nanti kita bawa Rio ke rumah sakit," ujar Rita.


"Kalau begitu biar Ryan juga ikut bawa Rio ke rumah sakit," ucap Ryan.


"Ryan, bukankah nanti kita pagi ini sekali rapat penting sama klien baru," ujar Dafa.


"Mendingan Mas pergi saja ke kantor. Mas ada rapat dengan klien yang penting. Tidak mungkin mas meninggalkan tamu Mas. Lebih baik biar Dilla saja yang antar Rio ke rumah sakit," saran Dilla.


"Tapi…."


"Liyo ndak mau te lumah atit," kata Rio memotong perkataan Ryan yang masih berdebat.


Bersambung….