Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 125. Ide Rio



"Rio adalah anak yang cerdas, dia pasti baik-baik saja dan bisa menjaga diri dengan baik," hibur Abdul yang melihat Rita masih menangis.


"Iya Bu, Ibu tenang saja Rio pasti baik-baik saja kami juga khawatir dengan keadaan Rio. Tapi kami percaya sama Rio," sambung Marni  ikut menghibur Rita.


Mereka juga khawatir dengan keadaan Rio yang hilang tanpa jejak. Rio sudah menjadi cucu mereka juga.


Satu jam berlalu, Dafa dan Jelita kembali dengan tangan kosong.


"Bagaimana apa kalian menemukan Rio?" tanya Rita menghampiri Jelita dan Dafa yang baru masuk.


Jelita dan Dafa menggeleng lemah. 


"Kami tidak menemukan Rio, para warga juga tidak ada yang melihat Rio," jawab Dafa.


Tubuh Rita kembali merosot dengan lemah, Jelita memegang tubuh Rita dan membawa Rita duduk kembali.


"Sepertinya kita tidak ada pilihan lain, kita harus menghubungi Ryan dan Dilla. Mereka berdua harus tau seperti yang Pak Abdul sudah katakan."


"Tapi bagaimana acara mereka?" 


"Acara mereka masih bisa dilanjutkan kapanpun, tapi kondisi Rio sekarang yang lebih utama," kata Abdul.


Rita menganggukkan kepalanya, dia mengambil HP dan menelepon Ryan.


***


"Omy…."


Dengan senang Rio memeluk Dilla. Rio segera keluar dan lompat dari dalam koper yang sudah terbuka.


"Omy…."


Ryan dan Dilla masih dalam keadaan mode syok. 


"Liyo cenang bica cama Omy," kata Rio sambil tertawa senang.


Dilla yang mulai sadar, dia mendorong tubuh Rio.


"Kenapa Rio bisa di dalam koper punya Mama?" tanya Dilla.


"Liyo ndak mau picah denan Omy," jawab Rio.


"Tapi tidak begini caranya Rio," tegur Dilla.


"Coalnya Omy ndak idin tan Liyo itut. Jadi diam-diam belcembuni di dalam topel Omy. Gimana, Liyo pintel tan Omy," sahut Rio.


Ryan dan Dilla ternganga mendengar jawaban Rio yang kelewatan pintar.


"Bagaimana ceritanya Rio bisa di sini?" tanya Dilla penasaran.


"Tadi gini celitanya Omy," kata Rio sambil membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu.


***


Flashback


Rio yang tidak menerima bila Ryan dan Dilla pergi berdua dia segera pergi ke kamar tidurnya. Dengan cepat dia menahan bantan dan menarik selimut.


"Liyo halus cepat," ujar Rio.


Rio kembali berlari ke arah kamar Dilla dan Ryan. Rio yang sangat ingin ikut dengan Ryan dan Dilla tapi mereka dengan keras melarang Rio pergi. Akhirnya Rio mengiyakan permintaan yang lain untuk tidak ikut setelah dia punya ide ini. Ide ini adalah ide dari saat dia menonton film kartun.


Rio segera menarik koper milik Dilla. Dengan tubuh kecilnya Rio menjatuhkan koper milik Dilla, dengan buru-buru Rio membuka resleting koper. Rio mengeluarkan semua baju milik Dilla dengan cara memeluknya.


"Cimpan dimana ya?"


Rio berkeliling mencari tempat menyembunyikan baju Dilla. Akhirnya Rio memutuskan menyembunyikan baju Dilla di bawah tempat tidur. Satu persatu Rio membunyikan baju milik Dilla di bawah kasur. Rio mendorongnya dengan kasar dan cepat. Rio takut ketahuan sama Ryan dan Dilla.


"Athilnya celesai," ujar Rio senang sambil menyeka keringat di dahinya.


"Holeee Liyo bica itut Omy juga," ucap Rio lagi.


Rio segera masuk ke dalam koper yang sudah kosong kembali. Rio yang sudah ada di dalam koper itu menutup resleting koper walaupun tidak sepenuhnya.


"Cetalang Liyo bica itut cama Omy. Ndak ada yang atan lalang-lalang Liyo lagi hi hi hi,."


'Sepertinya tadi sudah aku kunci dengan rapat. Apa mungkin aku lupa menariknya kembali," batin Dilla. 


Dilla kembali menutup resleting itu dengan rapat tanpa membukanya kembal.i 


"Ayo Dilla," ajak Ryan. 


"Iya Mas."


Dilla segera menarik kopernya. Dilla mengernyitkan alisnya saat merasakan bahwa koper yang dia bawa bertambah berat.


"Ada apa Dilla?" tanya Ryan saat Dilla berhenti berjalan.


"Tidak apa-apa Mas," sahut Dilla.


Dilla mengabaikan kopernya yang lebih berat dan mengikuti langkah Ryan.


'Mungkin hanya perasaanku saja.' 


Rio kembali tertawa di dalam koper. Rio sengaja menahan tawanya dengan menutup dengan tangan sendiri agar tidak diketahui sama Dilla. Rio yang lama menunggu akhirnya tertidur di dalam koper.


Flashback off


***


Mendengar penjelasan Rio yang seperti itu mereka lebih baik membawanya Rio serta. Perbuatan Rionkalibini begitu nekat.


"Rio…," panggil Dilla dengan nada ditekan. 


Rio yang tadinya tertawa sekarang nyalinya menciut saat mendengar boanggilan Dilla.


"Iya Omy," sahut Rio pelan. 


"Rio tahu apa yang Rio lakukan?" tanya Dilla masih menahan emosi.


"Liyo cedang memeluk Omy," jawab Rio polos yang sedang memeluk Dilla.


"Bukan itu yang Mama maksud. Apa Rio tau jika apa yang Rio lakukan itu bisa membahayakan Rio sendiri. Bagaimana Rio bisa bernafas di dalam koper itu?" tanya Dilla dengan nada sedikit tinggi.


"Liyo macih bica belnapas Omy. Bedini caranya, talik…."


Rio menarik nafasnya dengan kuat.


"Lepastan…." sambung Rio sambil membuang semua udara yang dia sedot.


Rio mempraktekkan menarik dan mengeluarkan nafas dengan kuat.


Ryan dan Dilla menggelengkan kepalanya tak mengerti jalan pikiran Rio.


"Asal Rio tahu, jika Rio seperti itu bisa membuat Mama jantungan. Bagaimana nanti jika koper punya Mama tertukar sama orang lain. Bagaimana dengan nasib Rio."


"Maap Omy, Liyo calah," kata Rio dengan menyesal.


"Ya sudahlah Dilla, yang penting sekarang  Rio dalam keadaan baik-baik saja," kata Ryan menenangkan Dilla.


"Bagaimana saya bisa tenang Mas, apa yang dilakukan Rio hari ini sangat berbahaya. Bagaimana jika sesuatu hal buruk terjadi sama Rio. Bagaimana jika dia tidak bisa bernafas. Bagaimana jika…," kata Dilla dengan marah-marah.


Ryan kaget melihat sikap Dilla sekarang, dia tidak pernah melihat Dilla dalam keadaan emosi seperti ini.


Dilla baru berhenti bicara saat  suara telepon berbunyi dan memutuskan acara ceramah yang dilakukan oleh Dilla. Rio dari tadi sudah menutup telinga saat Dilla mulai mode cerewet.


"Aduh susah sinyal lagi, kalian berdua tunggu di sini. Tadi Mama telepon dan di sini tidak bagus sinyalnya," ujar Dilla. 


Dilla segera berjalan ke arah balkon untuk mendapat sinyal yang lebih bagus. 


"Kemana istriku yang imut dan lucu?" tanya Ryan pada angin yang lewat.


Ryan masih tidak percaya dengan sifat Dilla tadi.


"Omy telen tan Pa," kata Rio sambil menunjukkan dua jempolnya. 


Ryan mendengus mendengar perkataan Rio, dia tidak menduga jika Dilla bisa cerewet itu. Padahal Dilla yang dia kenal selama ini adalah wanita yang kalem dan lembut. Bukan yang seperti tadi. Ryan memutuskan untuk duduk disamping Rio menunggu Dilla selesai mengabari keluarga mereka.


Bersambung....