
Perkembangan Ryan setelah rajin ikut terapi tidak membuahkan hasil yang maksimal, hanya sedikit saja perkembangannya. Padahal dokter sudah melakukan sebaik mungkin, tapi kondisi Ryan tidak banyak perubahan. Ryan sekarang sudah berdiri, tapi hanya sanggup berdiri sebentar saja, itu pun harus dibantu berpegangan pada penyangga.
Sedangkan Dafa sudah mulai bekerja di perusahaan Suherman menggantikan Ryan dan membantu Aditya. Aditya tidak sanggup lagi mengurus sendiri karena faktor usia. Sebenarnya Dafa memiliki perusahaan dan bisnis sendiri, tapi tidak sebesar dan seterkenal punya Suherman. Jadi Dafa tidak keberatan membantu keluarga Aditya. Karena keluarga Aditya adalah keluarga sendiri.
Rafa kini juga sudah bersekolah di sekolah yang sama dengan Reza. Rafa dulu sekolah di luar negeri karena daddynya kerja di luar negeri. Berhubung sekarang Dafa kerja di perusahaan Suherman maka Rafa juga pindah sekolah. Rafa senang bisa bersekolah di sini, apalagi ada Reza yang menemaninya serta Dilla yang mengantarnya.
Sejak Rafa sekolah di sana, Dilla yang selalu mengantar dan menjemput mereka. Kalau tidak, Rafa tidak mau pergi ke sekolah yang didukung oleh Reza dengan senang hati. Rafa dan Reza kalau di sekolah selalu akur ke mana-mana selalu berdua. Tapi beda halnya kalau sudah di rumah mereka seperti musuh bubuyutan, selalu bersaing dalam hal apapun tentang memperebutkan perhatian Dilla.
Seperti biasa hari hari di kediaman Suherman, semakin hari kini semakin rame. Tiada hari tiada perdebatan. Ketiga bocah itu selalu mencari perhatian Dilla. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau mereka di satu ruangan tidak ada yang namanya ketenangan. Di mana Reza dan Rafa yang selalu ingin terlihat baik di depan Dilla dan Rio yang tidak mau lepas dari Dilla.
Seperti kejadian sore ini, hari ini seperti biasa Dilla akan bantu membuat PR Rafa dan Reza atau lebih tepatnya mengawasi. Mereka duduk di ruang tamu, Rio berada di pangkuan Dilla.
"Rio kulit pisangnya jangan dibuang sembarangan, nanti ada orang lewat bisa kepeleset lho," Dilla mengingatkan Rio, karena Rio suka sekali melempar lempar kulit pisang sembarangan.
"Uhhh...," sambil merajuk Rio menuruti perintah Dilla.
Rio mengambil kulit pisang dan menaruhnya di samping pisang yang masih utuh. Rio mengambil lagi pisang yang lain untuk di makan dan tak lupa duduk kembali di singgasananya yang nyaman, apalagi kalau bukan di paha Dilla.
"Rafa, Reza gimana sudah siap PR nya?" tanya Dilla.
"Rafa tinggal satu soal lagi Mommy," sahut Rafa.
"Kalau Reza tinggal sedikit lagi Mommy," ujar Reza.
"Ya udah lanjut terus ya. Nanti Mommy periksa sekalian kalau sudah selesai," kata Dilla.
"Siap Mommy," jawab keduanya.
"Omy au num," ujar Rio.
"Rio mau minum ya sayang, duduk di sini dulu ya bareng abang Reza dan Rafa," sahut Dilla.
Dilla mendudukkan Rio di samping Reza.
"Reza, Dafa, jagain Rio ya, Mommy mau ambil minuman dan snack buat kalian," kata Dilla.
Mereka menganggukkan kepala petanda setuju dan melanjutkan membuat tugas masing-masing. Walaupun tugasnya sama tapi mereka tidak mau menyontek. Mau membuktikan siapa yang paling hebat.
"Dan Rio ingat, jangan buang kulit pisang sembaranag lagi, taruh di piring samping pisang yang utuh ya," Dilla memperingati Rio.
Setelah memperingati Rio, Dilla segera ke dapur mengambil snack dan minuman untuk mereka berempat, Dilla juga lagi haus.
Rio mengabaikan Dilla, dibuangnya kulit pisang sembarangan. Kini dia mendekati abang-abangnya yang lagi buat tugas, dia merasa diacuhkan.
"Bang Eja ain yuk," ajak Rio pada Reza.
"Bentar ya Dik. Abang lagi buat PR ni. Tinggal sedikit lagi, tanggung," jawab Reza.
"Bang Lapa ain yuk," kini Rio beralih ke Rafa.
"Sebentar ya Rio, Rio main sendiri aja dulu. Nanti kalau Bang Rafa sudah selesai buat PR, baru kita main bersama," sahut Rafa.
Merasa diabaikan Rio kesal.
"Aiiin...," ujar Rio dengan kesal.
Rio mengobrak-ngabrik meja belajar Reza dan Rafa yang lagi buat tugas.
"Rio...!" teriak Rafa dan Reza.
"Ada apa ini?" tanya Dilla.
Dilla baru datang dengan nampan di tangannya.
"Mommy lihat Rio ganggu kami. Masak meja belajar kami di berantakan," adu Rafa.
"Rio...," tegur Dilla.
"Aap Omy..., butan calah Liyo. Bang Eja dan Bang Lapa ahat, abai Liyo," Rio membela diri.
"Rio tidak boleh begit... uwaaah...," teriak Dilla.
GUBRAK....
Dilla yang berjalan menuju mereka dengan membawa nampan terpeleset oleh kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh Rio. Dilla terjatuh telungkup dan untung saja nampan yang jatuh berhamburan di sampingnya tidak jatuh di atasnya.
"Mommyyy...."
"Omyyy...."
"Mommyyy...."
Teriak ketiganya, mereka bertiga langsung menghampiri Dilla.
"Mommy, Mommy bangun," kata Reza dan Rafa.
"Angun omy," kata Rio.
Mereka bertiga benaran panik, karena Dilla tidak bergerak sedikitpun, walaupun sudah digoyangkan dengan kencang.
"Ada apa ini?" tanya Dafa.
Dafa kaget melihat anak dan keponakannya yang menangis histeris dengan Dilla yang masih telungkup.
"Hiks hiks... Mommy meninggal Daddy," jawab Rafa.
"Apaaa...!" kaget Dafa.
Dafa segera menghampiri mereka, dibaliknya tubuh Dilla. Dafa bisa melihat kalau Dilla hanya pura-pura saja.
"Apa yang kalian lakukan sehingga Mommy Dilla bisa begini," ujar Dafa.
Dafa mengikuti kegiatan pura-pura Dilla.
"Hiks hiks hiks... ni alah Liyo," ujar Rio.
Rio sekali kali mengusap air matanya, bahkan inguspun juga ikutan keluar.
"Liyo akal, uwang ulit icang balang-balang," lanjut Rio menjelaskan.
Dafa kurang mengerti apa yang dijelaskan oleh Rio. Tapi melihat ada beberapa kulit pisang di lantai baru dia paham.
'Pasti tadi Dilla kepeleset kulit pisang.'
"Hiks hiks hiks...," mereka masih menangis.
"Kenapa kalian juga ikutan menangis?" tanya Dafa lagi.
"Huwaaa Daddy jahat. Masak Mommy meninggal tidak menangis," kata Rafa.
Ada sebutir keringat di dahi Dafa.
'Segitu berati kah Dilla bagi kalian.'
"Jadi kalau kalian menangis bisa menghidupkan Mommy kalian lagi?" tanya Dafa lagi.
Mereka bertiga langsung terdiam.
"Jadi Daddy, kami harus bagaimana agar Mommy bisa hidup lagi?" disela cegukkan Reza bertanya.
"Mommy bisa bangun lagi kalau kalian minta maaf dan janji tidak akan nakal lagi," ujar Dafa mencari alasan yang masuk akal.
"Huwaaa Liyo anji ndak tan akal gi...," heboh Rio.
"Reza juga janji akan menuruti semua kata-kata Mommy," sahut Reza.
"Rafa juga tidak akan nakal lagi. Jadi Daddy apa Mommy akan bangun lagi?" tanya Rafa.
"Iya, sebentar lagi Mommy akan bangun lagi kok. Karena kalian sudah jadi anak yang baik," ujar Dafa.
"Horeee...," seru mereka barengan dan seketika mereka bertiga melompat ke tubuh Dilla.
"Huwaaa...!" teriak Dilla, kemudian Dilla pingsan benaran.
Dafa kini yang panik melihat keadaan Dilla.
"Lho kok Mommy tidur lagi?" dengan muka polos Rafa bertanya.
"Itu karena kalian nakal," ujar Dafa.
"Kami sudah tidak nakal," bantah Reza.
"Tadi siapa ya tadi yang menimpa Mommy, sampai Mommy pingsan lagi," kata Dafa pura-pura tidak tau.
Mereka bertiga terdiam.
"Huwaaa...."
Tiba-tiba mereka bertiga menangis lagi, lebih kencang dari sebelumnya. Sehingga sore itu begitu berisik dengan tangisan mereka bertiga.
Dafa segera memindahkan Dilla ke kamarnya. Tidak mungkinkan Dafa membiarkan Dilla tergeletak di lantai. Trio R mengikuti dari belakang sambil menangis keras seperti paduan suara marching band.
Bersambung....