
Dilla menatap lurus Ryan.
"Bagaimana saya bisa menikah dengan orang yang saya cintai Tuan, jika dia masih mencintai orang lain. Bukankah lebih baik jika Dilla menerima orang yang mencintai Dilla daripada Dilla mencintai dalam ketidakpastian," tantang Dilla.
Deg deg deg
Ryan semakin mencengkram pinggir kursi, dia tidak menyangka kalau Dilla sudah mencintai seseorang. Ryan merasa marah, dia tidak rela.
'Jadi selama ini Dilla sudah mencintai seseorang, tapi siapa. Apa aku mengenalnya, selama ini Dilla hanya dekat sama Sultan, apa Sultan orangnya. Tapi Dilla bilang kalau lelaki itu sudah mencintai wanita lain, artinya itu bukan Sultan. Siapa sebenarnya lelaki yang dicintai Dilla.'
Dilla masih menatap Ryan, dia bisa melihat sekilas ekspresi terkejut dari Ryan.
"Kenapa Tuan diam saja," tegur Dilla.
"Sekarang menurut Tuan mana yang lebih baik. Menikah dengan orang yang mencintai kita atau menikah dengan orang yang kita cintai tapi mencintai orang lain," ulang Dilla lagi.
Dilla mencoba menahan emosinya dengan mengepal kedua tangannya.
"Siapa lelaki itu?" tanya Ryan tidak nyambung.
"Kenapa Tuan malah menanyakan lelaki itu."
"Kamu ini kan masih muda, kamu bisa menolak lamaran itu. Kamu masih bisa mencari lelaki lain," sahut Ryan.
'Dengan begitu aku masih bisa menahan kamu lebih lama lagi di rumah.'
"Maaf Tuan, untuk ukuran gadis kampung Dilla sudah termasuk telat menikah. Lagian jika Tuan menyuruh Dilla untuk mencari lelaki yang lain, apa Tuan bisa mencari perempuan lain?" tanya Dilla.
Ryan bagai ditampar tidak kasat mata. Ryan kembali terdiam bisu.
"Bagaimana Tuan bisa menyuruh Dilla untuk mencari lelaki lain sedangkan Tuan saja tidak bisa melepaskan almarhum istri Tuan. Padahal dia sudah lama pergi dan tidak akan kembali lagi," sambung Dilla.
"Kamu jangan lancang Dilla, jangan mentang mentang kamu dekat dengan keluarga saya kamu bertindak seenaknya," sahut Ryan emosi.
"Siapa yang lancang Tuan. Tuan yang tadi menyuruh Dilla buat melupakan orang yang Dilla cintai, sekarang Dilla juga meminta hal sebaliknya, Dilla hanya meminta Tuan mencintai perempuan lain tanpa melupakan almarhumah istri Tuan. Ini semua untuk kebaikan Tuan dan anak-anak Tuan juga," ucap Dilla gemetar.
"Sebaiknya kamu diam," ujar Ryan semakin emosi.
"Kenapa saya harus diam jika saya tidak salah," balas Dilla.
"Diam atau …."
"Atau apa Tuan, Tuan mau menampar Dilla. Sini silahkan," sahut Dilla sambil memajukan pipinya.
Gerakan tangan Ryan terhenti.
"Tapi satu hal yang harus tuan ingat jika mau nampar Dilla. Dilla tidak akan segan segan membalas 100 kali lipat, walaupun Tuan adalah majikan Dilla," ancam Dilla serius.
Ryan menarik tangannya kembali, tadi dia terlalu terbawa emosi. Ryan mensyukuri masih sempat mengerem tangannya, jika tidak bisa habis dia digebukin balik sama Dilla.
"Itu dua hal yang berbeda Dilla," ucap Ryan melemah.
"Beda apanya Tuan, bukankah kita sama sama mencintai seseorang," sahut Dilla.
'Yang beda itu cinta Dilla yang telah salah memilih Tuan. Setidaknya Tuan bisa merasakan sama-sama saling mencintai satu sama lain. Sedangkan Dilla hadir diantar cinta kalian.'
"Terserah, jika kamu memang mau menikah sama lelaki yang melamar kamu itu, sana pergi menikah jangan mengungkit masalah pribadi saya," emosi Ryan naik lagi.
Ryan tidak tau marah karena apa lagi, yang jelas dia tidak suka Dilla menentangnya.
"Baik, jika itu saran Tuan. Dilla memang lebih bagus memilih lelaki itu dari pada lelaki yang tidak peka dan berpikir sempit," sindir Ryan.
"Jika begitu sana pergi dan menikah dengan dia, apa yang kamu tunggu lagi," usir Ryan.
"Baik, Dilla akan segera pergi dari sini dan menikah dengan dia. Sekarang Dilla mau pamit pulang sama Tuan, jika Dilla ada salah selama ini, Dilla minta maaf," ucap Dilla.
Ucap mereka berdua yang sama-sama lain di mulut lain di hati.
Dilla segera membereskan kembali barang bawaannya dengan sembarang. Dilla terluka dengan perkataan Ryan. Walaupun jika Bibi nya tidak mengalami kecelakaan, maka Dilla tidak akan meneruskan rencana Jelita lagi. Dilla yakin jika Ryan tidak akan pernah menerima kehadiran wanita lain di sisinya.
Ryan hanya menatap pekerjaan Dilla dengan hati gundah, satu sisi dia ingin menahan Dilla tapi satu sisi egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf. Ryan terus menatap Dilla.
"Jika kamu pergi bagaimana dengan anak-anak saya,mereka sudah terlanjur dekat sama kamu," ujar Ryan setelah berdiam diri.
Dilla berhenti memasukkan pakaian terakhir.
"Saya harap kamu tidak membuat kedua anak saya menangis dengan kepergian kamu," sambung Ryan lagi.
"Tuan tenang saja, Dilla akan bicara baik baik sama mereka."
Dilla menutup tasnya.
"Sekarang Dilla mau pamit sama Tuan, semoga Tuan sehat selalu," kata Dilla.
Ryan kembali diam.
Dilla segera keluar dari sana tanpa menunggu jawaban Ryan yang terlalu lama.
"Rio, Reza, Rafa pelan pelan dong," ujar Dafa yang masih tarik sama mereka.
"Daddy lama sekali jalannya," sahut Rafa.
Begitu sampai di tepi pantai mereka baru melepaskan Dafa. Mereka kembali berlari sana sini.
"Lali-lali, ail na menejal," teriak Rio heboh.
Reza dan Rafa juga ikutan lari saat ombak mendekat ke tepi pantai.
Dafa memilih duduk di tepi pantai mengawasi mereka bertiga.
Begitu air surut mereka mendekat ke arah laut lagi dan saat ombak datang mereka akan lari lagi, begitu seterusnya.
"Hah hah hah apek," kata Rio menarik nafas.
"Iya capek, tapi tadi seru sekali," ujar Rafa.
Dafa mendekat ke arah laut dan merendam kakinya di air laut.
"Ayo sini," panggil Dafa.
Mereka bertiga mendekat. Mereka juga membenamkan kaki mereka sebatas setengah lutut.
"Wahhh," kata mereka berbinar.
Rio yang kebetulan haus mengambil air laut dan meminumnya.
"Huk huk huk," Rio terbatuk.
"Rio, airnya jangan diminum," tegur Dafa.
Dafa menepuk bahu Rio.
"Kenapa tidak boleh diminum Daddy" tanya Rafa.
"Apa airnya kotor?" tanya Reza.
"Ail na acin," jawab Rio.
Reza dan Rafa yang penasaran juga ikutan minum.
"Blek," mereka berdua menjulurkan lidah.
"Dah Liyo ilang acin api Bang Lapa cama Bang Eja ndak denal," ujar Rio.
"Ne Addy, ciapa yang uwang galam te ail na?" tanya Rio.
Dafa mengernyit dahi mendengar pertanyaan Rio.
"Pasti ada orang iseng yang buang garam ke laut," sahut Rafa.
"Tapi berapa banyak garam yang dipakai untuk membuat air laut asin," sambung Reza.
Dafa memijit pelipisnya mendengar obrolan mereka.
'Ya kali air laut dikasih garam makanya asin.'
"Daddy tau berapa banyak garamnya?" tanya Rafa pada Rafa.
"Tidak ada orang yang buang garam ke laut. Tapi garam itu dibuat dari air laut yang dikeringkan," sahut Dafa.
"Wooo telen," ujar Rio berbinar.
Mereka kembali bermain di sana, Reza dan Rafa mulai loncat loncatan. Rio semakin berjalan ke arah laut, saat kakinya menyentuh lutut, kaki Rio jadi membeku. Dia ingat kembali saat Dilla tenggelam. Langkah Rio kembali mundur pelan-pelan.
Dafa menepuk jidatnya. Dafa segera menggendong Rio.
"Rio tidak apa-apa?" tanya Dafa khawatir.
Rio melihat ke arah Dafa, kemudian menunjuk ke arah laut.
"Tenapa matin alam?" tanya Rio.
"Maafkan Daddy, Daddy lupa bilang kalau semakin jauh ke sana semakin dalam," kata Dafa.
Rio mengangguk lemah, sudah hilang semangat Rio bermain air laut.
"Addy ayo ulang, Liyo angen Omy," kata Rio lirih.
Dafa yang mengerti Rio masih trauma segera mengajak mereka kembali ke villa.
Bersambung....