Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 61. Oleh Oleh



Mereka telah tiba di kediaman Suherman. Mereka semua sudah tertidur lelap kecuali Ryan yang menjadi sopir. Di depan rumah Aditya, Rita dan Dafa sudah menunggu mereka.


"Bagaimana jalan jalannya?" tanya Rita saat melihat Ryan sudah turun.


"Lancar Ma, tapi mereka semua pada tidur di dalam," ujar Ryan.


"Ya wajar mereka sudah tertidur, ini sudah jam 11 lewat. Apalagi kalian juga pasti capek tadi," sahut Rita.


Ryan mencoba membangunkan Dilla dengan suara kecil agar tidak membangunkan yang lainnya. Tapi Dilla juga tidak terjaga. Biasanya Dilla orang yang cepat bangun jika ada gangguan.


"Bagaimana ini Ma, Dilla tidak bangun bangun juga," kata Ryan.


"Ya sudah jangan di bangunkan lagi, biar Dafa yang mengendong Rafa masuk, Papa yang gendong Reza, Mama yang gendong Rio dan kamu yang gendong Dilla masuk. Kasihan mereka jika dibangunkan," saran Rita.


Mereka semua mengikuti saran Rita. Ryan segera mengendong Dilla ke kamarnya sesudah yang lainnya masuk. Ryan segera membaringkan Dilla di kasur.


"Maaf," ujar Dilla sambil tidur.


Ryan tadi sudah ingin beranjak tapi mendengar suara Dilla yang lagi tidur menoleh kembali. Ryan bisa melihat ada air mata yang mengalir di pipi Dilla. Ryan segera mengusapnya.


'Apa yang kamu mimpi kan Dilla, sampai kamu menangis begini.'


Saat sadar apa yang dilakukan Ryan, Ryan segera bangkit kembali.


'Apa yang kau lakukan Ryan, bagaimana mungkin kamu menyuntuh pipi Dilla begitu, sadar Ryan, ingat Riana istri kamu.'


Setelah menguasai diri Ryan segera keluar dan menuju kekamar anak anak.


Sedangkan di dalam kamar. Dilla masih menangis di alam bawah sadarnya. Beberapa kali dia mengucapkan maaf entah pada siapa karena sudah terlanjur mencintai Ryan.


***


Keesokan paginya Dilla bangun dengan mata yang membengkak dan yang memerah. Dengan lesu Dilla segera pergi ke kamar mandi. Walaupun masih terasa sakit di ulu hati, dia harus tetap bekerja.


***


Sore hari Para petugas taman bermain sudah mengantar barang mereka semua. Reza, Rafa dan Rio hanya mengambil ikan mereka masing masing, kemudian mereka membawanya masuk ke dalam aquarium.


"Banyak sekali belanjaan kalian," ujar Dafa.


"Apalagi ini, bonekanya sangat besar, punya siapa," tambah Dafa.


"Itu punya Dilla, hadiah dari permainan, kan tidak mungkin punya Reza, Rio atau Rafa," jawab Ryan.


Saat lagi melihat apa semua barangnya lengkap Ryan menemukan kaos yang Rafa minta.


"Oh iya, Rafa ada hadiah buat kamu, Rafa sengaja bela belain buat menangkan hadiah ini spesial buat kamu," kata Ryan sambil tersenyum usil.


"Hadiah apaan, kayaknya dari raut wajah kamu hadianya tidak enak dilihat," sahut Dafa mencium ada yang tidak beres.


"Ini," Ryan segera menyerahkan kaos itu pada Dafa.


"Hanya kaos aja kau bikin orang penasaran."


Dafa segera membuka kaos itu.


"Iya kaos, kaos bergambar monyet, kata Rafa wajah kamu mirip sama monyet, dia senang sekali saat kami memenangkan hadiah itu," sindir Ryan.


Dafa mengabaikan perkataan Ryan, Dafa lebih terfokus pada gambar monyet itu. Dafa menatapnya dengan pandangan yang sulit di gambarkan.


"Bagi kamu mungkin ini lucu, tapi bagi aku tidak," Dafa menghela nafas.


"Sepertinya Rafa memberikan ini sama aku karena mungkin saja dia rindu sama Mommy, karena Mommy Rafa sering sekali memanggil aku monyet kalau lagi marah, kata monyet sudah jadi kata panggilan sayang dia buat aku," Dafa kembali mengenang Jelita, perempuan yang melahirkan Rafa.


"Maksud kamu Jelita mantan istri kamu itu?" tanya Ryan.


Dafa terdiam sebentar saat Ryan menyebukatan kata mantan istri.


Setelah siap meletakkan ikan di dalam aquarium mereka kembali lagi mau melihat oleh olah yang lain.


Rafa kini melihat kaos itu sudah ada di tangan Dafa, Daddy nya.


"Rafa sudah kangen sama Mommy ya?" tanya Dafa ke Rafa.


"Ngapain Rafa kangen sama Mommy, ini Mommy sudah ada di sini," jawab Rafa sambil memeluk kaki Dilla.


"Terus kenapa kamu kasih kaos ini untuk...."


"Papa, Rafa ambil yang ini ya," ujar Rafa memotong ucapan Dafa.


Dafa memutuskan untuk tidak menanyakan lagi. Takut anaknya akan semakin terluka. Rafa dari kecil sering kali di abaikan sama Jelita. Jelita lebih mementingkan karir modelnya dari pada mengurus anak semata wayang mereka. Dafa yang selalu menemani Rafa bermain sat dia sempat.


Tidak jarang Rafa dulu menunggu kedatangan sang Mommy di depan pintu sampai dia tertidur di sana. Berharap Mommy akan pulang. Setelah pulang pun Jelita segera tidur tidak melihat Rafa. Pagi pagi sekali Jelita pergi lagi tanpa melihat Rafa dulu.


Dulu sebelum Jelita sesukses sekarang dia jarang berinteraksi sama Rafa. Saat Rafa berumur dua tahun, karir Jelita semakin bagus dan semakin meninggalkan Rafa. Sampai pada akhirnya mereka sering bertengkar dan memutuskan untuk berpisah di usia Rafa 5 tahun.


Dilla hanya melihat mereka berebutan oleh oleh. Dilla dari tadi pagi sengaja menghindari Ryan, terutama tatapan Ryan.


Kembali ke saat sekarang....


"Dilla ini boneka kamu," Ryan menyerahkan boneka itu pada Dilla.


"Tidak usah Tuan, itu kan Tuan yang memenangkannya," tolak Dilla.


Dilla tidak mau menerima boneka itu. Boneka itu akan terus mengingat dia pada Tuannya. Dilla sudah bertekad membuang perasaannya.


"Kamu ini bagaimana sih, inikan kamu yang menembaknya, saya hanya membantu saja," ujar Ryan.


Ryan segera menyerahkan boneka itu ke dalan gendonagn Dilla. Dilla ingin menolaknya tapi Tuannya sudah menaruh di dalam gendongannya.


"Kalian sudah ambilkan oleh olehnya?" tanya Ryan.


"Sudah Pa," sahut Reza dan Rafa.


"Udah Pa," sahut Rio.


" kalau sudah ini nanti akan di bagikan buat Kakek, Nenek dan untuk yang lainnya lagi. ebaikknya kalian simpan hadianya di kamar saja ya, tapi letakkan yang rapi," ujar Ryan.


mereka segera berlari ke kamar masing masing. Dilla juga mau tidak mau membawa boneka itu ke dalam kamarnya


Dilla meletakkan boneka itu dia atas lemari. Dilla memandang sejenak tapi air matanya mulai mengalir kembali tanpa bisa di tahan. Dilla segera menghapusnya dan menutup boneka itu dengan kain.


Dilla kembali lagi ke rung tamu untuk menuju ke atas.


"Dilla," panggil ryan.


"Iya Tuan," sahut Dilla se biasa mungkin.


Bagaimanapun Dilla masih baper.


"Tolong kamu bikinin kami kopi ya," ryan meminta tolong pada dilla.


"Baik tuan, tunggu sebentar," jawab dilla.


Dilla segera pergi ke dapur intuk membuat kopi. Dilla membuat kopi sambil melamun, pikirannya entah kemana mana.


"Ahh...."


Dilla lupa mengambil pemanas air menggunakan lapisan sehingga dia kaget karena panas.


Dila segera menuangkan air itu setelah memakai lapisan tangan. Dilla mengambil beberapa bubuk putih dan memasukkannya ke dalam cangkir kopi....


Bersambung....