
"Rio, adik Syifa minum susu khusus. Susu Ini buat Mama saja," saran Ryan.
"Cucu tucus? Cucu tucus itu apa Pa?" tanya Rio tidak mengerti.
"Iya sayang. Adik Syifa minum susu khusus. Jadi susu ini buat Mama saja ya," pinta Dilla tanpa menjawab pertanyaan Rio.
"Omy hawus uga? Bental Omy," kata Rio.
Rio membuka kantong plastik dan memberikan satu kotak kepada Dilla.
"Ni buwat Omy. Yang lain na mau Liyo cimpan buwat adik Cipa," kata Rio menyodorkan satu kotak susu.
Dilla tetap mengambil susu yang diberikan Rio. Dilla sudah di nomor duakan sama Rio. Dulu semuanya untuk Dilla.
"Sekarang Rio jadi pilih kasih ya. Buat adik Syifa banyak, sedangkan buat Mama hanya satu," ucap Dilla.
"Omy tan cudah becal. Adik Cipa macih tecil. Cemua na tecil. Adik Cipa halus minum banaak cucu bial epat becal," kata Rio bijak.
"Rio, adik Syifa belum boleh minum susu ini. Dia harus minum susu asi. Kalau sudah besar baru boleh minum," kata Dilla menepuk tubuh kecil Syifa yang sudah terlelap.
"Aci tu apa Omy?" tanya Rio.
"Asi itu dari sini," kata Dilla dengan menunjukkan dadanya.
"Apa Liyo uga boyeh minum Omy?" tanya Rio penasaran.
"Kamu minum ini saja," ujar Ryan sambil menyodorkan satu kotak minuman ke dalam mulut Rio.
"Liyo uga mau coba Pa," sahut Rio mulai menyedot susu rasa coklat.
"Asi itu khusus buat bayi. Jika Rio minum maka akan menjadi bayi lagi. Apa Rio mau?" kata Ryan menakuti Rio.
"Liyo ndak mau Pa. Anti ciapa yang jaga adik Cipa?" tolak Rio.
"Ya sudah kalau tidak mau. Susu ini kalian minum saja. Sana bagi sama abang Reza dan Rafa," suruh Ryan kepada Rio.
"Ndak mau Pa," tolak Rio.
Kemudian Rio menarik kursi dan ingin duduk di dekat Dilla. Ryan menghela nafas sama keras kepala Rio. Ryan mengalah dan membantu Rio naik ke atas kursi.
"Duduk yang baik di sini. Jangan ganggu adik Syifa yang lagi tidur," tegur Ryan.
"Oteh Pa," sahut Rio patuh dengan terus menyedot susu sambil menatap Syifa.
Akhirnya Ryan mengambil dua kotak susu dan menyerahkan kepada Reza dan Rafa. Reza dan Rafa dengan senang hati menerimanya.
***
Beberapa minggu berlalu begitu saja. Syifa sudah dibawa pulang ke rumah. Paman dan bibi Dilla juga sudah kembali ke kampung setelah menginap beberapa minggu. Budi dan Yudi sempat menolak untuk pulang karena masih mau bermain dengan Rio, Reza dan Syifa.
Sedangkan Jelita, Dafa, Rafa serta bayi mereka sudah pergi kembali ke luar negeri. Orang tua Jelita ingin melihat cucu mereka. Mereka juga memutuskan untuk menetap diluar negeri.
Keseharian di keluarga Suherman jadi beda dengan dulu. Kini mereka lebih bahagia dengan kedatangan Syifa.
Dengan adanya Syifa, dunia Rio sudah beralih ke sang adik. Rio sudah tidak lagi bermanja-manja sama Dilla. Rio ingin menjadi abang yang baik. Rio juga sangat posesif pada Syifa. Sehingga Reza sering curi-curi waktu untuk bersama Syifa.
Jika Reza ketahuan sama Rio, Rio akan menceramahi Reza kalau itu adiknya. Dibalik sikap Rio yang suka memonopoli Syifa, Reza tidak marah. Reza tetap menyayangi Rio dan Syifa. Reza akan mengawasi mereka dari jauh.
Kadang seluruh keluarga kompak mengakali Rio agar Reza bisa mendekati Syifa. Seperti menyuruh Rio mengambil sesuatu barang atas nama Syifa. Rio tidak menolak apapun yang berkenaan sama Syifa.
Seperti biasa, Rio akan mengawasi Dilla yang memandikan Syifa. Dulu Rio pernah merengek untuk memandikan Syifa, setelah dibujuk susah payah baru Rio mengalah.
Sekarang mata Rio tidak pernah lepas dari pada Syifa. Saat ini Dilla sedang memakai kain pembungkus untuk Syifa. Rio menjulurkan tangannya ke arah tangan Syifa yang mencoba menggenggam sesuatu.
Dilla memakai kain itu tanpa lepas mengawasi Rio. Dilla tidak mau jika dia kecolongan sama Rio. Bisa jadi Rio tanpa sengaja menyakiti Syifa.
"Woh... woh.. woh…," seru Rio dengan heboh.
Rio sangat senang Syifa merespon tangan Rio. Syifa juga menggoyang-goyangkan tangan Rio.
"Rio jangan ribut," tegur Dilla.
"Omy… Omy liyat. Angan adik Cipa edang angan Liyo," kata Rio dengan semangat.
"Iya sayang. Mama melihatnya. Adik Syifa pasti sangat suka sama abang Rio ya," ujar Dilla mencium perut Syifa yang sudah diberi minyak telon.
"Halus dong Omy. Tan Liyo abang Cipa. Liyo cayaaaang adik Cipa," sahut Rio bangga
"Oke adik Syifa, sekarang syifa lepas tangan bang Rio ya. Mama mau menggunakan sarung tangan sayang," juara Dilla.
"Angan Omy," larang Rio tidak mau Syifa melepaskan genggaman tangannya.
"Sayang, Syifa harus pakai sarung tangan ini agar tidak melukai mukanya. Nanti adik Syifa bisa luka," kata Dilla memberi pengertian.
"Liyo ndak mau adik Cipa luta,",sahut Rio menggeleng kepala.
Rio dengan tidak ikhlas menjawab. Dilla mencoba melepaskan jari Rio dengan pelan. Tapi Syifa menggenggam tangan Rio dengan begitu erat. Dilla kesusahan melepaskan jari Rio.
"Adik Syifa tidak mau melepaskan tangan abang ya?" tanya Dilla.
"Ada apa sayang?" tanya Ryan yang baru pulang bersama Reza.
Sekarang Reza sering diantar jemput sama Ryan. Ryan ingin lebih akrab sama keluarga kecilnya. Ryan setiap makan siang juga akan menyempatkan diri pulang untuk makan siang bersama dan melihat bayi perempuannya.
Ryan segera mengambil tempat duduk di samping Dilla yang berada di karpet ruang keluarga. Sedangkan Reza duduk didekat Rio. Mereka mengelilingi Syifa.
"Ini Mas, Syifa tidak mau melepaskan tangan dari Rio. Padahal Dilla ingin memakai sarung tangan pada syifa," terang Dilla.
"Ah anak gadis Papa mulai milih ya," ujar Ryan mencium area muka Syifa.
Syifa tertawa geli dengan perlakuan Ryan. Syifa semakin menggerakkan tangan dan kakinya dengan semangat.
"Pa angan ciyum-ciyum adik Cipa. Papa baru," larang Rio.
"Jadi Papa bau ya," kata Ryan dengan usil.
"Kalau begitu sini Papa cium Rio saja," kata Ryan mengangkat Rio ke pelukan Ryan.
Tadi Syifa telah melepaskan tangan Rio. Dilla segera memasangkan sarung tangan pada Syifa.
Ryan dengan semangat mencium mukanya dan perut Rio.
"Pa ampun Pa. Haha geli Pa haha…," ketawa Rio yang dibanjiri ciuman oleh Ryan.
Dilla, Reza bahkan Syifa ikut tertawa melihat kelakuan Ryan dan Rio.
Rita dan Aditya melihat mereka berlima dari kejauhan. Mereka tidak pernah membayangkan jika keluarga mereka bisa sebahagia itu. Mereka masih mengingat dua tahun yang lalu sangat berbeda sama sekarang.
Dulu keluarga mereka sangat suram bagaikan taman yang mati. Sekarang taman itu sudah berubah menjadi tanam yang indah. Dengan banyak bunga yang sedang bermekaran.
"Pa, Mama sangat bersyukur. Sekarang anak dan cucu kita sudah mendapat kebahagiaan mereka," kata Rita mengusap air mata yang terjatuh.
"Iya Ma. Papa juga sangat tersentuh. Papa tidak pernah membayangkan anak dan cucu kita akan sebahagia ini," sahut Aditya.
"Iya Pa. Mama berharap jika mereka semua akan selalu bahagia."
"Amin Ma."
TAMAT