
Kini mereka telah sampai di depan ruang dokter Sultan. Dokter Sultan membukakan pintu untuk yang lainnya, ingat karena Rita dan Ryan sudah seperti keluarga sendiri maka Sultan tidak keberatan membuka pintu sendiri untuk mereka. Jika pasien lain mana peduli Sultan. Perawat yang mendorong kursi roda Ryan masuk kemudian diikuti oleh Rita sedangkan Dilla lebih memilih ingin berada di luar saja karena dia merasa bukan siapa-siapa, cukup menemani saja.
"Dilla kenapa tidak ikut masuk?" tanya Rita.
"Tidak usah Tante. Dilla tunggu di luar aja," jawab Dilla.
"Kamu ini gimana sih, sini masuk temani Tante," Rita mengandeng tangan Dilla masuk.
Sultan penasaran dengan gadis yang diajak masuk oleh Rita. Sultan baru dua kali ini melihat Dilla.
'Semoga dengan ada Dilla pengobatan Ryan berjalan lancar,' batin Rita.
Dokter Sultan beserta perawat segera membawa Ryan ke ruang pemeriksaan, di samping ruang kerjanya. Sultan mulai mengecek kondisi Ryan dengan beberapa pemeriksaan yang sudah memadai.
Dokter Sultan memulai dari mengetuk lutut Ryan dengan palu kecil untuk melihat bagaimana reaksi dari Ryan, tapi sepertinya Ryan tidak merasakan apapun. Dokter Sultan melanjutkan pemeriksaannya. Sekitar satu jam kemudian pemeriksaannya baru selesai.
Sultan dan perawat sudah merapikan kembali alat yang digunakan untuk memeriksa Ryan.
"Suster tolong bawa Ryan keluar duluan ya, sebentar lagi saya akan menyusul," kata dokter Sultan.
"Baik Dokter, mari Tuan kita ke ruangan tadi," ujar sang perawat.
Perawat itu mendorong kursi roda Ryan ke depan meja dokter Sultan. Sedangkan Ryan masih saja berdiam diri.
Kini dokter Sultan sudah duduk di kursinya. Sultan masih membaca hasil pemeriksaan Ryan. Rita sudah duduk di depan dokter Sultan dengan Ryan di sampingnya. Sedangkan Dilla lebih memilih berdiri di belakang Tante Rita.
"Jadi bagaimana dengan keadaan anak saya Nak Sultan? Ryan masih bisa sembuhkan?" tanya Rita.
Rita berharap harap cemas atas hasil pemeriksaan, karena Ryan tidak pernah melakukan pemeriksaan setelah kejadian kecelakaan. Rita khawatir akan ada hal buruk yang akan menimpa anaknya.
"Dari hasil pemeriksaan, hasilnya cukup baik. Lumpuh yang di alami Ryan bukan permanen, jadi masih bisa diobati. Dengan minum obat-obatan yang akan Sultan resepkan nanti serta melakukan terapi yang rutin, Ryan akan segera pulih seperti semula. Memang ini akan butuh waktu, tapi itu semua tergantung dari semangat Ryan sendiri. Karena obat hanya membantu sebagian kecil saja, sedangkan keinginan pasien yang lebih menentukan hasil," Sultan menjelaskan hasil pemeriksaannya.
"Berati bisa sembuh dong Dokter?" bukan Rita yang jawab tapi malah Dilla yang bertanya lagi.
Mereka bertiga langsung melihat Dilla yang menjawab penjelasan dokter.
'Siapa sih dia, kemarin juga ada di rumah Ryan'
"Ah... maaf, Dilla hanya senang mendengar penjelasan Dokter. Jadi nanti jika tuan Ryan sembuh dan bisa berjalan kembali dengan normal, maka Reza dan Rio bisa pergi jalan-jalan sama Tuan sesuai keinginan Reza," Dilla menjelaskan dengan canggung.
Rita yang mendengar penjelasan Dilla hanya tersenyum. Rita tau Dilla sangat peduli kepada anak dan cucu-cucunya.
"Nak Sultan perkenalkan ini Dilla pengasuh Rio dan Reza, dan dia juga yang berhasil membujuk Ryan ke rumah sakit. Tante sudah capek membujuknya tapi tidak membuahkan hasil. Untung saja Dilla punya ide yang cemerlang," Rita menjelaskan.
"Saya pikir Mommy barunya anak-anak" kata Sultan ingin bercanda gurau.
Krik krik krik....
Tapi yang ada suasana jadi canggung karena tidak ada yang menyahut. Dokter Sultan berdehem sebentar karena merasa candaannya garing dan melanjutkan penjelasannya.
'Garing ya...,' batin Sultan.
Dokter Sultan melanjutkan ke topik semula yaitu tentang keadaan dan kondisi Ryan. Dokter Sultan juga memberitahukan apa yang bagus untuk dilakukan dan yang tidak bagus untuk di lakukan agar kesembuhan Ryan makin cepat.
Ryan mengabaikan Sultan.
"Nak Sultan tenang saja nanti Tante yang akan jaga waktu Ryan minum obat sesuai anjuran Nak Sultan dan Tante pastikan Ryan akan meminum semua obat yang Nak Sultan berikan," jawab Rita karena Rita tau pasti Ryan tidak akan menjawabnya.
"Baik Tante, selain itu tiap pagi dan sore usahakan tubuh Ryan dibantu geraknya. Pelan-pelan saja, agar saraf yang kaku bisa kembali normal, tapi jangan berlebihan cukup sekitar 15 menit saja. Cara menggerakkannya Tante bisa melakukan seperti yang brosur Sultan berikan nanti atau mencari di internet juga ada. Sekarang zaman sudah modern, sudah ada berbagai macam caranya. Tapi Tante jangan sampai melakukan kesalahan, karena hal itu juga berpengaruh untuk kesembuhan Ryan. Pagi hari juga bagus untuk berjemur di bawah sinar matahari sekitar 20 menit, juga perbanyak makan buah dan sayur juga. Kemudian bla... bla... bla.... Jadi Tante paham apa yang sudah Sultan jelaskan tadi," jelas panjang lebar dokter Sultan.
"Iya Tante paham, terima kasih ya Nak Sultan. Nanti kalau Tante ada perlu apa-apa lagi, nanti Tante akan segera menghubungi Nak Sultan ya," ujar Rita.
"Iya, Tante hubungi saja Sultan, tidak perlu sungkan. Kita ini sudah seperti keluarga jadi tidak perlu sungkan lagi," ujar Sultan.
"Baiklah, kalau gitu Tante permisi dulu ya."
"Iya Tante hati-hati di jalan."
Dilla membantu Rita mendorong kursi roda Ryan.
***
Kini mereka telah selesai mendengar hasil pemeriksaan dari dokter Sultan. Hasil dari pemeriksaan kesimpulannya sangat bagus, bahwa Ryan masih bisa berjalan normal lagi dengan minum obat yang teratur dan melakukan terapi.
Selama berangkat dari rumah sampai sekarang Ryan diam membisu. Dia tidak suka berada di rumah sakit, karena berada di rumah sakit mengingatkannya pada almarhumah sang istri.
Rita yang tau alasan Ryan malas ke rumah sakit pun tidak mau mengungkitnya. Takut anaknya nanti tidak mau ke rumah sakit lagi. Sekarang mereka sedang mengantri untuk mengambil obat Ryan di apotek.
"Obat atas nama Adryan Suherman," panggil sang apoteker.
"Iya Suster, itu anak saya," jawab Rita.
"Ini Bu obatnya, nanti diminun sesuai anjuran yang tertera di obat ya Bu."
"Baik Suster, berapa semuanya."
"Semuanya berjumlah enam ratus lima puluh ribu Bu."
"Ah ini, terima kasih ya Sus."
"Sama sama Bu, semoga anaknya lekas ya sembuh," ujar suster yang memberikan obat dengan ramah.
"Iya sekali lagi terima kasih Suster."
Rita langsung menuju ke tempat Ryan dan Dilla duduk. Rita langsung mengajak Dilla dan Ryan pulang.
***
Kini mereka telah sampai di rumah kembali, jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat, artinya Reza sudah kembali dari sekolah. Rita segera menyuruh pak Tono dan pak Jaka menurunkan Ryan. Mereka baru melangkah masuk ke dalam rumah tapi suara yang di dengar pertama adalah tangisan Rio.
"Uwahhh... uwahhh... uwahhh...."
Bersambung....