Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 175. Kebenaran



Setelah keluar dari kamar Sam, Dilla memilih jalan-jalan. Ketika Dilla melewati ruang tamu, Dilla bertemu sama Daniel.


"Dilla di mana Sam?" tanya Daniel.


"Sam saat ini sudah tidur Tuan."


"Owh."


Daniel ingin meninggalkan tempat itu.


"Tuan Daniel," panggil Dilla.


"Iya," jawab Daniel sambil berbalik badan lagi 


"Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya Dilla.


Dilla tidak mau berlama-lama untuk membahas hal ini. Apalagi Sam sudah setuju, jadi semakin cepat dia mempertemukan Bella dan Daniel, maka Dilla yakin bisa dia bisa segera pulang.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Daniel. 


"Tuan tunggu sebentar dulu. Ada sesuatu yang mau saya ambilkan dulu."


"Baiklah," sahut Daniel.


Dilla segera kembali ke kamar sam untuk mengambil map yang diberikan oleh Gio. Setelah mendapatkan map tersebut, Dilla kembali lagi ke tempat semula.


Dilla menyerahkan map itu kepada Daniel. 


"Apa ini?" tanya Daniel sambil menerima map yang diberikan oleh Dilla.


"Silahkan Tuan baca sendiri," suruh Dilla.


Daniel membuka map dan membaca dengan teliti. Daniel kaget melihat isi yang tertera di sana. 


"Apa maksud kamu ini?" tanya Daniel dengan melempar map yang telah diaa baca.


Daniel tidak percaya apa yang dia baca.


'Bagaimana Dilla bisa mengenal Bella? Pasti ada seseorang yang membantu dia.'


Sekarang banyak pertanyaan yang muncul dipikirkan Daniel.


"Darimana kamu mendapatkan laporan itu?"


"Tuan tidak perlu tahu darimana saya mendapatkan laporan itu," sahut Dilla. 


"Apakah ini Gio yang mencari tahu semua ini?" tanya Daniel selidiki.


"Itu tidak penting Tuan. Yang penting sekarang adalah isinya." 


"Aku tidak percaya sama laporan itu," kata Daniel sambil melempar laporan itu di atas meja. 


"Apa Tuan yakin tidak percaya atau Tuan tidak mempercayai jika ternyata perempuan yang selama ini Tuan cintai juga mencintai Tuan." 


"Itu tidak masuk akal," bantah Daniel.


"Masuk akal atau tidak, ini semua adalah kebenaran. Apa Tuan masih tidak percaya?"


"Iya, saya masih tidak percaya dengan apa yang saya baca. Bagaimana mungkin Bella mencintai saya. Selama ini kami jarang berkomunikasi." 


"Terus kenapa Tuan bisa mencintai Mbak Bella. Bukannya Tuan juga jarang berkomunikasi dengan Mbak Bella," tantang Dilla memutar kan perkataan Daniel.


Daniel terdiam dan terkejut. Daniel tidak memperkirakan hal ini. Daniel kembali mengambil map itu dan membaca lagi.


"Ini, bagaimana orang tuaku bisa mengancam Bella. Selama ini saya tidak pernah menceritakan kepada kedua orang saya. Apa karena hal ini kedua orang tua saya memaksa saya menikah dengan Jessica."


"Itu bisa saja terjadi Tuan. Mungkin Tuan memang tidak bercerita, tapi seorang ibu pasti bisa mengetahui perubahan anak mereka."


Daniel meremas rambutnya dengan kuat. 


'Jadi selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.'


Daniel ingin menertawakan nasib dia yang begitu menyedihkan. Jika dia tahu selama ini Bella juga membalas perasaan dia, maka Daniel pasti akan mempertahankan Bella. 


"Andai saya tahu hal seperti ini dulu, saya tidak akan pernah mau menuruti keinginan kedua orang tuaku," ujar Daniel kecewa. 


Daniel kembali mengambil terkejut mendengar pernyataan Dilla. Sam adalah anak dia dan Jessica. Walaupun Jessica membuat kacau kehidupan dia, tapi Sam adalah harta karun yang dia jaga saat ini. Daniel merenungkan perkataan Dilla.


"Tapi buat apa kamu menunjukkan hal ini kepada saya?" tanya Daniel yang belum mengerti maksud dari Dilla.


"Apakah Tuan sudah membaca semuanya?"


"Iya, saya sudah membaca semuanya. Bella telah menikah dan mempunyai seorang anak," sahut Daniel. 


"Apakah Tuan membaca status Mbak Bella sekarang?" 


"Apa lagi maksud kamu?"


Dilla tidak menjawab tapi menyerahkan laporan itu kepada Daniel untuk membaca sekali lagi. Dilla juga menunjukkan poin penting yang harus dibaca oleh Daniel.


Daniel kembali membaca map.


"Di sana tertera jika saat ini Mbak Bella adalah seorang janda. Jadi Tuan Daniel ada kemungkinan untuk bersatu kembali sama Mbak Bella." 


"Bagaimana saya bisa bersatu sama Bella. Saya telah mempunyai Sam," ujar Daniel tidak percaya diri.


"Kenapa jika Tuan sudah mempunyai Sam? Tuan adalah seorang duda satu anak dan Mbak Bella juga seorang janda memiliki satu anak gadis. Jadi menurut Dilla tidak masalah."


"Tetap saja saya tidak bisa," sahut Daniel.


"Kenapa masih tidak bisa," kata Dilla geram.


"Tuan dari tadi berbelit-belit dan tidak jelas. Kalau saya jadi mbak Bella bakal langsung tolak Tuan. Bukan hanya sekali, sekalian seribu kali. Jadi laki tidak jantan," sindir Dilla langsung. 


Daniel masih diam. Daniel akui jika dia memang pengecut. Karena yang jadi pertimbangan Daniel saat ini adalah…  


"Apakah Tuan Daniel  tidak bisa karena Sam?" tanya Dilla. 


Daniel kaget dan seketika menoleh ke arah Dilla. Daniel tidak percaya jika Dilla bisa menebak dengan tepat. 


"Kamu benar, nemang yang saya khawatir akan adalah Sam. Sam bukan tipe orang yang cepat menerima orang lain. Apalagi Sam sudah terlanjur menyukai kamu," ujar Daniel mencoba bersikap biasa.


"Dilla tadi sudah berbicara sama Sam. Sam setuju jika Tuan Daniel bisa bersama mbak Bella."


"Apa yang kamu katakan pada Sam!" teriak Daniel dengan keras.


Dilla terkejut mendengar teriakan Daniel. Dilla tidak menyangka jika Daniel akan semarah ini.


"Jangan mentang-mentang saya sudah baik sama kamu, kamu bisa seenaknya berkata sama Sam. Kamu harus ingat perjanjian awal kita, jangan sampai kamu membuat Sam meneteskan air mata setetespun," ancam Daniel dengan amarah.


"Taun Daniel tenang dulu," bujuk Dilla.


"Bagaimana aku bisa tenang. Sekarang di mana Sam. Saya mau melihat dia, awas saja jika Sam menangis, kamu akan tanggung akibat nya. Jangan kira saya tidak berani berbuat nekat," ujar Daniel sambil berdiri.


"Jika itu yang Tuan khawatirkan, maka hal itu tidak terjadi. Bahkan Sam senang saat dia mendengar akan memperoleh seorang adik perempuan."


Langkah Daniel terhenti. Daniel kembalikan lagi badan. 


"Kamu jangan membohongi saya agar kamu bisa lari dari sini," ucap Daniel.


"Jika Tuan Daniel tidak percaya, Tuan  bisa tanyakan sendiri sama Sam nanti," ujar Dilla.


Daniel bisa melihat di mata Dilla tanpa keraguan sedikitpun. 


"Apakah kamu serius?" tanya Daniel memastikan lagi.


"Iya Tuan. Dilla tidak berbohong."


Daniel kembali duduk dan merebahkan punggung pada sofa. Daniel menatap ke atas tidak percaya dengan hal yang dia ketahui hari ini. Ini berita yang sangat mengejutkan.


"Tuan pikirkan ini baik-baik. Hanya Tuan yang bisa memutuskan semua ini. Dilla harap Tuan juga bisa berbahagia. Dilla akan dengan senang hati membantu Tuan," ujar Dilla.


Tanpa menunggu jawaban Daniel, Dilla meninggalkan Daniel. Sudah saatnya membangun Rio dan Sam.


"Bahagia ya."


'Bella, apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah kamu masih mencintai aku sekarang. Apakah kamu menerima aku sekarang. Apakah kamu mau untuk memperjuangkan masa depan kita yang belum tumbuh.'


Bersambung....