Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 73. Perjanjian Dimulai



Hari ini adalah hari pertama dari kesepakatan Dilla dan Jelita. Mereka akan memulai saling membantu satu sama lain. 


Semuanya sudah selesai sarapan pagi. Ryan dan Dafa sudah berpamitan pergi ke kantor. Rita dan Aditya juga sudah kembali ke kamar.


Seperti hari hari sebelumnya, Jelita ingin mengantar Rafa ke sekolah, tapi Rafa tetap saja menolak dengan keras. Rafa hanya ingin di antar sama Dilla.


"Aduhhh…."


Dilla sekarang sedang mengerang kesakitan sambil memegang perut deangn kedua tangannya. Rafa, Reza dan Rio yang melihatnya jadi khawatir. 


"Omy," panggil Rio.


"Mommy kenapa?" tanya Reza dan Rafa.


"Aduh, maaf ya sayang, Mommy sedang sakit perut, jadi Mommy tidak bisa mengantar kalian ke sekolah hari ini ya, aduhhh," kata Dilla masih dengan memegang perut dan merintih kesakitan.


"Kalau Mommy sakit, Mommy tidak usah mengantarkan kami ke sekolah, kasihan Mommy," kata Reza iba.


"Omy otey," Rio khawatir melihat Mommy yang kesakitan.


"Mommy tidak apa apa, hanya sakit perut sayang," kata Dilla menjawab pertanyaan Rio.


"Jangan, tidak baik jika kalian tidak ada yang antar, ahhh Mommy lupa ada Mbak Jelita di sin. Apa Mbak Jelita mau mengantar mereka sebentar, saya lagi sakit perut," sambung Dilla sambil bertanya pada Jelita.


Jelita yang tau kode Dilla, segera mengikuti akting Dilla.


"Iya Dilla, saya tidak masalah mengantar mereka berdua, saya juga tidak ada kerjaan," sahut Jelita ramah.


"Terima kasih Mbak," jawab Dilla.


"Tidak usah Mommy, kami bisa pergi hanya diantar sama Pak Jaka saja," tolak Rafa cepat.


Jelita tersenyum kecut mendengar tolakan Rafa yang begitu cepat.


"Ya sudah jika kalian tidak mau diantar sama Mbak Jelita, biar Mommy saja yang antar. Mommy tidak mau kalian tidak ada yang antar, aduhhh ayo sini naik mobilnya," ajak Dilla.


"Mommy tidak usah memaksakan diri," kara Rafa tidak tega.


"Ya sudah kami di antar sama Tante Jelita saja, Mommy di rumah aja," sahut Reza.


"Tapi Reza…."


Bantahan Rafa segera dipotong sama Reza kembali.


"Apa Rafa tidak sayang lagi sama Mommy. Mommy sudah kesakitan begitu, tidak apa kita diantar sama Mommy nya Rafa saja kali ini," ujar Reza cepat.


"Dia bukan mommy Rafa," bantah Rafa tak terima.


Setelah berkata begitu, Rafa segera masuk ke dalam mobil. Reza juga menyusul naik ke dalam mobil. 


"Hati hati ya sayang, belajar yang rajin, jangan nakal di sekolah," Dilla memberikan petuah…


"Baik Mommy," jawab mereka berdua.


"Semaagat Mbak," kata Dilla menyemangati Jelita.


"Terima kasih," bisik Jelita agar tidak didengar sama yang lain.


Dilla menganggukan kepalanya. 


Setelah Jelita masuk, mobil itu melaju ke jalan raya dan menghilang di belokan.


Dilla segera menggendong Rio, mereka memasuki rumah kembali.


"Omy oteh?" tanya Rio.


"Mommy baik baik aja Rio," sahut Dilla.


"Atit nya dah ilang?" tanya Rio lagi.


"Sakitnya langsung hilang saat Mommy memeluk Rio begini," kata Dilla memeluk Rio gemes.


"Yang benel Omy," seru Rio semangat.


Rio sedang jika dia bisa membuat Mommy nya menjadi lebih baik.


"Iya sayang, Rio adalah obat yang paling mujarab buat Mommy, sakit perut Mommy langsung sembuh seketika saat memeluk Rio begini," ujar Dilla bohong.


Dilla tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rio.


"Atit atit pelgi auh auh dali Omy," kata Rio sambil mengelus pipi Dilla.


Rio mencoba mengusir sakit yang ada pada Dilla.


"Iya sakitnya akan jauh dari Mommy jika ada Rio, ayo sekarang kita ke ruang bermain," ajak Dilla.


Langkah Dilla semakin menuju ke ruang bermain, ruang yang biasa mereka tempati ya itu ruang keluarga.


***


Mobil melaju dengan pelan, karena di saat pagi hari, jalan akan semacet macetnya. Banyak sekali orang yang melakukan aktifitas di luar rumah, baik ke kantor atau ke tempat kerja lainnya, ke sekolah dan lainnya.


Seperti mobil yang sedang dikendarai sama pak Jaka. Tidak ada yang bersuara. Mereka saat ini sedang ada di lampu merah.


"Reza dan Rafa bagaimana keseharian kalian di sekolah?" tanya Jelita untuk mengusir kesunyian.


Jelita ingin mencoba mengajak mereka berbicara, siapa tau Rafa mau bicara sama Jelita.


"Biasa aja Tante, hanya belajar tapi kadang ada juga belajar sambil bermain. Iya kan Rafa," sahut Reza dengan meminta pendapat Rafa.


Rafa masih diam. Dia sama sekali tidak mau menjawab. Rafa sangat tidak ingin satu mobil sama Jelita.


"Iyakan Rafa?" tanya Reza balik.


"Hemm," Rafa hanya beguman.


Rafa bergumam sambil melirik ke arah jalan. Mobil mereka kembali berjalan saat lampu sudah hijau.


Mobil itu sampai juga di sekolah, Jelita segera turun dan ingin membuka pintu buat mereka berdua. Tapi Rafa malah membuka pintu itu dan langsung keluar.


"Ayo Reza cepat, nanti bisa telat," ajak Rafa buru buru 


"Tapi ini masih lagi Rafa, siswa yang lain aja belum banyak yang pergi," sahut Reza yang baru turun.


Jelita menghela nafas sejenak. Kemudian dia mendekati Rafa untuk mengelus rambut Rafa, tapi Rafa segera mundur ke belakang agar Jelita tidak memegang dirinya. Tangan Jelita mengambang di udara karena tidak menyentuh kepala Rafa. Jelita menarik kembali tangannya.


Rafa segera menarik Reza dengan buru buru. Jelita melihat kepergian mereka dengan sedih, tapi dia akan bertekad untuk bisa merebut hati anaknya kembali.


Jelita segera masuk ke mobil kembali. Mobil itu melaju  kembali ke kediaman Suherman.


***


Reza dan Rafa terus melangkah ke kelas yang masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang baru sampai. Rafa segera duduk di kursinya. Reza mengikuti rafa yang sudah duduk.


"Rafa kenapa sih marah sama Tante Jelita? padahal Tante Jelita sudah baik," tanya Reza.


"Rafa benci sama dia, dia tidak pernah sayang sama Rafa. Dia selalu meninggalkan Rafa di rumah sendiri, dia dia dia sangat tega sama Rafa," jawab Rafa dengan bibir yang bergetar.


Rafa mengeluarkan air mata yang sudah ditahan sejak melihat Jelita. Reza segera memeluk Rafa. 


"Rafa jangan nangis ya, ada Reza di sini, Reza akan selalu menemani Rafa. Ada Mommy sama Adik Rio juga," bujuk Reza.


Rafa tambah menangis dan memeluk Reza erat. Dia juga ingin seperti keluarga lain yang punya orang tua yang lengkap. Tapi dia takut Mommy nya akan meninggalkannya kembali. Seperti saat dia masih kecil.


Untung saja di dalam kelas belum ada orang jadi Rafa bisa menangis melepaskan bebannya. Reza dengan sabar mengelus bahu Rafa. Dia sudah tau apa yang terjadi antara Tante Jelita dan Rafa.


Bersambung….


Assalamualaikum


Saya selaku Author Mengucapkan


Taqabbalallahu Minna wa Minkum


Minal aidin wal Faiizin


Selamat Hari Raya ‘Idul Fitri 1441 Hijriah


Mohon maaf atas setiap salah & khilaf yang disengaja maupun yg tidak disengaja. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT. Aamiin.... aamiin.... aamiin.


Maaf ya jika dalam dua hari tidak up karena sibuk menjelang lebaran. Ke depan Insyaallah akan up normal ya


Setiap akan up akan di kabari di grup


Terimakasih....