Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 19. Rumah Sakit



Seperti biasa, hari ini Dilla baru saja selesai mengantar Rio ke kamar untuk tidur siang. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat, seperti biasanya saat jam segitu bocah itu akan mengantuk. Dilla yang ingin turun ke lantai satu mengurungkan niatnya setelah mendengar suara perdebatan dari kamar Ryan. Dari suaranya itu jelas suara Rita dan Ryan.


'Apa yang mereka ributkan ya,' kepo Dilla.


Dilla terus melangkah ke arah kamar Ryan. Tingkat kepo Dilla sangat tinggi saat ini. Soalnya Dilla belum pernah melihat Tante Rita marah-marah dan berteriak-teriak begini.


"Nak kamu mau sampai kapan begini," ujar Rita dengan sedih.


"Ryan tidak mau Ma. Jangan paksa Ryan lagi," ujar Ryan.


Rita tidak tau harus berbuat apa lagi agar anaknya mau ke rumah sakit. Tanpa sengaja Rita melihat Dilla yang berada di depan pintu kamar Ryan.


"Dilla kamu ngapain di sana. Ayo masuk ke sini."


Dilla yang ketahuan ingin menguping bersikap biasa aja, seperti orang yang kebetulan lewat. Dilla segera masuk ke kamar Ryan saat Rita menyuruhnya masuk.


"Dilla baru saja mengantar Rio ke kamarnya Tante, dia lagi tidur siang. Tadi Dilla ingin mau turun tapi mendengar suara di kamar ini, jadi Dilla melangkah ke sini. Sebenarnya ada ya Tante," jelas Dilla sambil kepo.


Rita menghela nafas sebelum menjawab.


"Tante lagi membujuk Ryan ke rumah sakit agar mau terapi. Tapi anak saya ini tidak mau."


"Kenapa tidak di bawa langsung aja Tante," ujar Dilla dengan polos.


Ryan yang mendengar kata Dilla langsung mempelototi Dilla. Sedangkan yang dipelototi malah cuek saja. Rita merenung sejenak atas perkataan Dilla.


"Maksud Dilla bagaimana?" kata Rita akhirnya.


"Kan Tuan Ryan tidak bisa gerak ya, kita dorong aja kursi rodanya. Walaupun Ryan menolak tapi Tuan Ryan tidak bisa memberontak."


"Saya tidak mau ke rumah sakit," bantah Ryan.


"Pinter kamu Dilla, Tante tidak pernah kepikiran sampai ke situ," ujar Rita mengabaikan bantahan Ryan.


"Tidak tidak, Ryan tidak mau Ma," Ryan merendahkan suaranya, petanda ia benar-benar tidak mau ke rumah sakit.


"Tante serahkan Ryan sama kamu ya Dilla. Tante tunggu di depan. Tante mau menyiapkan mobilnya."


Rita sungguh mengabaikan perkataan Ryan.


'Dulu kamu sering mengabaikan perkataan Mama. Sekarang Mama akan mengabaikan kamu. Sekarang aku harus cepat turun, pertama jumpa bi Imah dulu agar bisa menjaga Rio selama Dilla ke rumah sakit. Kemudian memanggil supir dan menelpon dokter Sultan," batin Rita dengan berbagai rencana.


"Baik Tante."


Rita lekas keluar dari kamar, mau siap-siap pergi ke rumah sakit. Dilla segera memegang kursi roda Ryan.


"Kamu mau apa, jangan coba-coba ya," ujar Ryan.


'Coba-coba apaan. Memang mau pakai minyak kayu putih apa.'


"Kan kita mau ke rumah sakit."


"KAMU JANGAN DORONG-DORONG SAYA!"


"Siapa yang dorong-dorong Tuan. Dilla hanya dorong kursi rodanya."


"KAMU JANGAN SEMAKIN NGELUNJAK YA. SAYA TIDAK MAU KE RUMAH SAKIT. BAWA SAYA KEMBALI KE KAMAR!"


Kini mereka telah sampai di dalam lift.


"MEMANG SAYA PEDULI. SEKARANG SAYA PERINTAHKAN SAMA KAMU. BAWA SAYA KEMBALI KE KAMAR!"


"Memang saya peduli," ejek Dilla mengulang kata-kata Ryan.


"KAMUUU... hufff... Dilla saya mohon sama kamu. Bawa saya kembali ke kamar. Saya tidak ingin berobat," Ryan kini berujar lembut, karena kepalanya terasa sakit akibat berteriak sendiri, yang ujung-unjungnya diabaikan oleh Dilla.


"Tuan harus ke rumah sakit agar bisa sembuh. Nanti Tuan bisa pergi bermain bersama dengan Rio dan Reza ke kebun binatang. Mereka sangat ingin jalan-jalan sama Tuan. Bahkan Reza sudah menuliskan apa-apa saja yang ingin dia lakukan. Tapi itu semua hanya angan-angan Reza saja jika Tuan masih menolak untuk dirawat."


Dilla bercerita tentang keinginan Reza yang ingin jalan-jalan sama sang ayah. Dilla yang mendengarnya saja merasa sedih, apalagi yang dirasa Reza pasti lebih sedih lagi.


Ryan akhirnya pasrah, percuma berdebat dengan Dilla, tidak pernah satu kali pun dia menang. Ada aja alasan dan sanggahan dari Dilla. Ryan juga merenungkan tentang kondisi sang anak.


***


"Bi, Bi imah," panggil Rita.


"Iya Nyonya," sahut bi Imah yang muncul dari dapur.


"Bi tolong jaga Rio sebentar ya. Rio sekarang lagi tidur. Bi Imah nanti gantian saja jaga sama Mina. Soalnya Dilla mau saya bawa sebentar."


"Memang mau ke mana Nyonya."


"Saya mau membawa Ryan ke rumah sakit."


"Tuan Ryan sudah mau di bawa ke rumah sakit Nyonya. Alhamdulillah Tuan sudah mau berobat."


"Bibi sama Mina nanti tolong jagain Rio ya. Takutnya kami pergi agak lama."


"Baik Nyonya."


"Oh ya Bi, sekalian panggil Pak Tono ke depan ya. Saya mau minta tolong ke Pak Tono, buat bantu angkat Ryan ke dalam mobil."


"Iya Nyonya, Bibi akan segera panggilkan."


Bi Imah langsung menuju ke pos pak Tono berada. Sedangkan Rita pergi keluar, mau menyiapkan mobil terlebih dahulu sama sopirnya.


***


Kini mereka telah tiba di depan rumah, Rita segera membuka pintu bagian belakang, pak supir dan pak Tono segera membantu Ryan masuk ke mobil.


"Dilla ayo masuk, kita akan segera ke rumah sakit," ujar Rita.


Rita ingin masuk tapi melihat Dilla yang masih berdiri di samping mobil, keluar kembali.


"Tapi bagaimana dengan Rio Tante, siapa yang akan menjaganya nanti," ujar Dilla.


Dilla ingin ikut juga tapi mengingat Rio, dia mengurungkan niatnya. Lagian Rio lebih membutuhkannya.


"Kamu tenang aja, Tante sudah titipkan Rio ke bi Imah dan Mina. Nanti mereka yang akan menjaga Rio selama kamu berada di rumah sakit. Ayo sini cepat masuk, kita harus segera ke rumah sakit," ujar Rita buru-buru seperti rumah sakit mau di tutup saja.


Rita langsung masuk ke kursi belakang. Sedangkan Dilla duduk di kursi depan dengan P


pak supir yang bernama pak Jaka. Pak Jaka segera menghidupkan mobil dan mengendarai mobil dengan hati hati ke rumah sakit. Pak Jaka usianya sekitar 36 tahun, dia sudah menjadi supir pribadi Rita selama 4 tahun.


Akhirnya mobil mereka tiba di rumah sakit, Rita sudah mengabari dokter Sultan sebelum mereka berangkat. Sehingga pas mereka sampaiĀ  Dokter Sultan sudah berdiri di lobi dengan perawatnya. Rita segera keluar dari mobil yang diikuti oleh Dilla dan pak Jaka. Dokter Sultan dan pak Jaka segera memindahkan Ryan ke kursi roda yang diletakkan di belakang tadi. Selama di mobil tadi Ryan hanya diam saja, saat dipindahkan ke kursi roda Ryan juga masih bungkam.


Bersambung....