
"Kalau Rio mau yang mana?" tanya Ryan.
"Liyo mau edang tu Pa," tunjuk Rio pada sebuah pedang mainan.
"Kalau Mommy mau yang mana?" tanya Ryan lagi pada Dilla.
"Tidak usah, Mommy tidak perlu kok," jawab Dilla menyakinkan Ryan.
Padahal Dilla sangat ingin sekali boneka panda berukuran besar yang menjadi hadiah utama. Boneka itu sangat imut bagi Dilla.
"Ya sudah, kalian masing masing coba dulu ya, nanti Papa bantu jika kalian tidak bisa," ujar Ryan.
"Memang Papa bisa menembak, tadi aja Papa juga bilang bisa, tapi ujung ujungnya Papa kalah," sanggah Rafa.
"Papa tadi memang kalah karena belum pernah permainan itu, tapi kalau lomba menembak mah Papa sangat jago, dulu Papa sering main ginian saat muda," jawab Ryan bangga.
Mereka bertiga hanya bilang oh doang, yang membuat Ryan sedikit kecewa. Anak anaknya pasti tidak mempercayainya lagi.
Sekarang giliran Reza yang main pertama, Reza sedang memfokuskan pada targetnya. No No itu bergerak sangat cepat dan dihalangi oleh beberapa No kosong lainnya. Setelah mencoba lima kali tembakan tapi tidak satupun yang kenak.
"Yah tidak kenak," kata Reza lesu.
"Sini sini, sekarang giliran Rafa," Rafa segera mengambil pistol mainan itu dari tangan Reza.
Rafa segera mencoba menembaknya, hasilnya sama seperti Reza, Rafa juga gagal.
"Gimana sih ini, kenapa No bergerak cepat, Om apa tidak bisa dilambatkan itu No No nya?" tanya Rafa ke Petugas.
"Maaf Adek, itu sudah pengaturannya begitu, tidak bisa diubah lagi," jawab Petugas.
"Uhhh tidak seru," seru Rafa.
Rafa segera menyerahkan pistol itu pada Rio, karena sekarang giliran Rio yang main. Rio menerimanya dengan senang hati, Rio sudah dari tadi menunggu gilirannya.
Rio segera mengambil dan menyiapkan posisi. Rio juga serius mulai ambil ancang ancang.
Dorrr....
"Aduh...," teriak Petugas.
Kebetulan tadi pas Rio menembak Pak Petugas lagi balik badan sehingga Rio menembak pantat pak Petugas.
Posisi Rio tadi sebenarnya sudah pas, tapi saat menekan pelatuk arahnya jadi berubah.
"Bapak tidak apa apa?" tanya Ryan khawatir.
"Tidak apa apa Tuan, tidak seberapa sakit, cuma tadi saya kaget aja," jawab Petugas itu sambil mengelus bekas tembakan.
"Rio, tidak boleh begitu sayang," tegur Dilla.
"Maap Omy, ni nya belgelak cendili," Rio membela diri.
Dilla yang mendengar jawaban Rio hanya geleng helameng kepala. Masak Rio menyalahkan benda mati.
"Lain kali hati hati ya, jangan sampai kenak orang lain, bisa bahaya, kasian Om itu kesakitan," ucap Dilla memperingati.
Rio segera menoleh ke arah Petugas yang masih mengelus bekas tembakkan.
"Maap ya Om, Liyo ndak cengada, ni yang natal," Rio meminta maaf sambil menuduh pistol.
Hahaha....
Ketawa Pak Petugas dan Ryan, betapa lucu dan mengemaskan sekali Rio. Pistol yang tidak bersalah yang menjadi korban.
"Anak Tuan lucu sekali," Ujar petugas.
"Iya Pak, sekali lagi maaf ya Pak" ucap Ryan meminta maaf sekali lagi.
"Iya tidak apa apa, silahkan lanjut lagi," kata Petugas itu ramah.
"Nah sini biar Papa bantu," tawar Ryan.
Ryan segera membantu Rio. Ryan memusatkan fokusnya ke arah No yang hadiahnya pedang mainan.
Dorr....
No yang jatuh adalah bukan No yang diinginkan sama Rio tapi No yang diinginkan Rafa.
"Yey dapat kaus monyetnya, Rio kausnya buat Abang Rafa ya, Abang Rafa mau kasih ke Daddy," pinta Rafa, Rafa senang saat Rio mendapatkan hadiah itu.
"Ayo Pa agi," suruh Rio.
"Sini, gini caranya, kalau mau tembak harus lurus dan jangan kaku, kemudian pilih momen yang saat tepat untuk menembak dan tembak," ujar Ryan sambil menarik pelatuk.
Dorr....
Terdengar suara tembakan kali ini tembakan yang kenak adalah No yang Rio pilih.
"Holeee...," teriak Rio senang.
"Om Om mau tu...," Rio segera meminta Petugas memberikan hadiah kepadanya.
Petugas segera memberikan kaus dan dan pedang mainan. Rio menerimanya dengan mata berbinar.
"Belubah...," teriak Rio keras.
Rio berpose seperti pahlawan idamannya yang ada seperti di TV. Sekarang Rio merasa bahwa dia sudah menjadi super hero. Setelah berpose Rio segera berlari ke arah Dilla.
"Omy Omy lihat, telen tan?" tanya Rio pada Dilla.
Rio sangat berantusias menunggu jawab Dilla.
"Iya, pedangnya keren sama kek Rio," sahut Dilla.
Rio segera memeluk Mommynya karena senang di puji.
"Maacih Omy," ujar Rio.
"Jadi sama Nommy aja terima kasih nya, sama Papa tidak ni, padahal Papa tadi yang bantu Rio memenangkan hadiahnya," sahut Ryan pura pura ngambek.
Rio segera mendekat ke arah sang Papa.
"Maacih Papa, Liyo cengeng," ucap Rio.
Rio segera memberi ciuman kepada sang Papa, kemudian Rio berjalan lagi ke arah Dilla.
"Papa, punya Reza belum," protes Reza.
"Iya, ini Papa mau tembak lagi, yang No itu kan?" tanya Ryan ulang.
"Iya Pa, yang itu, Papa harus dapat ya, Rio dan Rafa sudah dapat, masak Reza aja yang tidak dapat," ujar Reza.
"Iya, akan Papa usahakan," jawab Ryan.
Ryan segera membidik lagi dan Ryan juga berhasil mendapatkan hadiah yang di inginkan Reza. Reza segera memakai topi itu setelah dia menerima topi tersebut.
"Nah, karena kalian sudah mendapatkan hadiah masing masing mari kita pergi ketempat lain," ujar Ryan.
"Papa tunggu dulu, Mommy juga mau," sahut Dilla.
Padahal tadi Dilla yang melihat permainan ini pertama kali, masak dia yang tidak main dan dapat hadiah, apalagi Dilla sangat menginginkan boneka panda itu.
"Katanya tadi Mommy tidak mau," ucap Ryan.
Dilla segera melotot kepada Tuannya, jika Dilla yang pegang tiket maka Dilla akan segera memainkannya. Tapi semua tiket Ryan yang pegang, karena tiket itu memang di beli pakai uang Ryan.
"Iya Mommy tidak usah melotot begitu, nanti makin cinta," goda Ryan yang melihat Dilla merasa sebal.
"Pak ini, sekali main lagi ya Pak," kata Ryan ke pak Petugas.
Dilla segera mengambil pistol itu dari tangan Ryan dengan kasar. Ryan yang melihat nya hanya terkekeh. Dilla segera mencoba memfokuskan diri pada No yang hadiahnya panda. Sampai terdengar lima kali suara tembakan, tetapi No nya juga belum terjatuh, Dilla merasa sangat kecewa.
"Papa sekali lagi ya," minta Dilla.
Dilla tanpa malu lagi sekarang meminta Ryan membayarkannya lagi. Karena rasa ingin memiliki boneka panda itu lebih besar sekarang. Ryan tanpa menjawab segera membayar lagi.
Sampai ketiga kali tembakan, Dilla masih belum bisa juga menjatuh No nya.
"Mommy pegang dan arah pistolnya yang salah, seharusnya begini caranya, Mommy mau yang boneka panda yang besar itu kan?" tanya Ryan.
Ryan dari tadi melihat Dilla yang teru membidik pada No yang hadiahnya panda besar.
Ryan segera menuntun Dilla membidik dengan cara yang baik. Ryan berdiri pas di belakang Dilla. Dilla makin tambah tidak fokus sekarang, bagaimana dia bisa fokus jika tuannya berdiri sangat dekat dengan Dilla.
Bersambung....