Nanny And Duda

Nanny And Duda
Ban 96. Rencana Baru



"Sekarang ayo cerita sama Mbak, apa yang terjadi?" tanya Jelita.


Dilla kembali menumpahkan air matanya. Jelita dengan sabar mengelus bahu Dilla dengan tangan kiri yang tidak sakit.


"Kamu sudah sedikit tenang?" tanya Jelita saat Dilla sudah berhenti menangis.


"Sudah Mbak," sahut Dilla.


"Sekarang ayo ceritakan sama Mbak, ada apalagi hemm."


"Dilla segera di suruh pulang Mbak, dalam waktu dua minggu ini Dilla harus segera pulang. Kata Bibi keluarga yang melamar Dilla sering mampir ke rumah Dilla menanyakan kepulangan Dilla," beritahu Dilla 


"Kenapa cepat sekali Dilla, terus bagaimana perasaan kamu."


"Dilla juga tidak tau Mbak, padahal Dilla sangat ingin melihat Rio dan Reza tumbuh besar. Dilla sudah terlanjur menganggap mereka seperti anak sendiri Mbak," kata Dilla sedih.


"Mbak tau jika kamu menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Sebaiknya kita susun rencana dulu."


"Rencana apa Mbak, Dilla hanya punya waktu dua minggu lagi. Jika Tuan Ryan masih tidak mau melirik Dilla, Dilla akan menyerah Mbak. Dilla sudah memutuskan akan menerima pinangan dari anak Pak Kades."


"Tapi bagaimana dengan cinta kamu Dilla. Cinta itu tidak bisa kau lupakan begitu saja Dilla."


"Dilla akan mencoba menerimanya Mbak, walaupun Dilla tidak bisa mencintai calon suami Dilla, Dilla tetap harus berbakti pada dia jika sudah menikah."


Jelita prihatin dengan nasib Dilla. Dilla dijodohkan saat dia memiliki cinta sendiri. Sedangkan Jelita memang menikah dari perjodohan, tapi saat itu Jelita tidak lagi jatuh cinta sama siapapun. 


"Jadi kamu mau melupakan Ryan begitu saja."


"Mau bagaimana lagi Mbak, Dilla tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin jika Dilla tetap harus menunggu ketidakpastian cinta Tuan. Setidaknya Dilla dicintai oleh calon suami Dilla nanti."


"Terus bagaimana dengan Rio dan Reza?"


Dilla bungkam, jika dia bisa meninggalkan Ryan dengan hati yang terluka, tapi beda jika menyangkut Rio dan Reza. Dilla tidak mungkin membawa Rio dan Reza bersamanya, Dilla bukanlah siapa siapa.


"Dilla ini bukan siapa siapa mereka Mbak," jawab Dilla.


Dilla mencengkram pakaian yang dia gunakan. Dilla lain di mulut lain di hati. Jika mulutnya bilang bukan siapa siapa maka hatinya menentang dengan keras.


"Bagaimana kamu bisa bilang jika kamu bukan siapa siapa. Apa kamu mau membohongi diri kamu sendiri."


"Jika berbohong lebih baik, maka Dilla akan memilih berbohong Mbak."


Air mata Dilla kembali terjatuh. Jelita yang melihatnya jadi tidak tega.


"Bagaimana jika besok lusa kita pergi ke pantai. Kita bisa memancing perasaan Ryan lagi. Jika saat itu Ryan juga tidak merespon maka semua pilihan ada di tangan kamu. Mbak akan mendukung semua pilihan kamu," usul Jelita.


"Terima kasih Mbak. Dilla akan mencoba untuk terakhir kali, semua ini tergantung pada jawaban Tuan. Hanya keputusan Tuan Ryan nanti yang menjadi pilihan Dilla Mbak," kata Dilla terharu dengan bantuan Jelita.


"Jika Dilla beneran pergi, Dilla pasti akan merindukan Mbak Jelita. Maaf jika Dilla lancang, bagi Dilla Mbak sudah seperti kakak Dilla," sambung Dilla.


"Mbak senang jika kamu menganggap Mbak sebagai kakak kamu. Mbak pasti juga akan merindukan kamu jika kamu pergi. Jika Mbak bisa memilih, maka Mbak lebih suka memilih kamu tetap di sini Dilla.


Mereka berdua kembali meneruskan pembicaraan mereka, mereka menyusun semua rencana jalan-jalan mereka. Tepatnya Jelita yang merencanakan sedangkan Dilla hanya manggut-manggut saja.


***


Rio, Reza dan Rafa saat ini duduk diteras rumah. Mereka duduk berbaris sambil menumpang dagu. Mereka menetap serius ke arah depan mereka.


" Bagi Eja, Bang Lapa," panggil Rio.


"Hemmm," sahut Reza dan Rafa.


"Lahacia pelemtuan apa ya?" tanya Rio yang masih melihat ke depan.


Reza dan Rafa melihat sekilas ke arah Rio yang berada di antara mereka.


"Itu rahasia perempuan Rio, jadi hanya perempuan yang tau," sahut Reza.


"Iya, kita kita mengetahui rahasia perempuan maka kita bukan laki-laki," sambung Rafa.


Mereka kembali terdiam dan melihat ke depan. Mereka tidak tau harus main apa karena Dilla lagi bersama Jelita.


"Apa lati-lati uga unya lahacia?" tanya Rio lagi setelah berdiam diri.


"Abang Reza tidak tau Dek Rio, nanti kita tanya sama Papa, apa laki-laki ada rahasia juga," kata Reza.


Rio dan Reza menyetujui ucapan Reza. 


Beberapa menit kemudian Ryan dan Dafa pulang dari kantor. Mereka melihat anak mereka duduk termenung di anak tangga lantai teras.


"Kalian mengapa duduk sini, mana Mommy sama Mbak Dilla nya?" tanya Dafa.


"Mereka ada di dalam Daddy," jawab Rafa.


"Terus kalian ngapain duduk duduk di sini?" tanya Ryan kembali.


"Ini lahacia anak tecil Papa," jawab Rio menatap sang Papa.


"Iya, jadi orang dewasa tidak perlu tau," sambung Reza.


Ryan dan Dafa menatap mereka heran.


'Kecil-kecil sudah mau rahasia-rahasian,' batin mereka.


"Ne Papa," Panggil Rio.


"Iya Rio."


"Pa, lahacia lati-lati apa cih Pa?"


"Rahasia?" Ryan bingung maksud pertanyaan Rio.


"Iya Pa, Daddy, tadi Mommy bilang, Mommy mau bicara berdua sama Mbak Dilla, katanya itu rahasia perempuan."


"Apa laki-laki ada rahasia juga Pa? masak laki-laki kalah sama perempuan," lanjut Reza.


Ryan dan Dafa sudah mengerti sekarang. Sudah seharusnya perempuan bicara sesama perempuan.


Ryan segera menggendong Rio, mereka bertiga masih betah duduk di sana, sudah PW.


"Tentu kita punya rahasia juga," kata Ryan.


"Apa tu Pa?"


"Rahasia laki-laki itu harus bisa menjaga perempuan dengan baik."


"Hanya itu saja pa?" tanya Reza.


"Kalau hanya itu saja mana seru," sahut Rafa.


"Rafa, menjaga perempuan itu bukan masalah mudah. Perempuan itu diibaratkan sama air yang tidak berdaya, sedangkan laki-laki itu adalah botol. Jadi jika laki-laki lemah itu ibarat botol plastik, misalnya terkena api sama benda tajam maka akan cepat rusak. Tapi jika kita menjadi botol baja maka kita akan semakin kuat menjaga airnya agar tidak tumpah, apa kalian mengerti," terang Dafa


"Iya Daddy, Rafa mengerti. Jadi kita harus kuat untuk melindungi Mommy."


"Anak Daddy memang pintar," puji Dafa.


"Intinya tugas menjadi seorang laki-laki tidaklah mudah," sambung Ryan.


"Adi Papa, tita ndak oleh minum agi ya?" tanya Rio yang penasaran.


"Kenapa tidak boleh minum lagi Rio?" tanya Reza.


"Tan tata Addy pelemtuan tu ail, adi talau tita minum ail tita minum pelemtuan dong," jawab Rio.


Reza dan Rafa tertawa mendengarkan perkataan Rio yang lucu. Ryan dan Dafa menepuk jidat mereka. Mereka lupa jika Rio masih 3 tahun belum mengerti kata perumpamaan.


"Rio, maksudnya Daddy bukan begitu, itu hanya pemisalan saja," ujar Ryan.


"Mical tu apa Papa?" tanya Rio lagi.


" Misal itu contoh, tapi bukan yang aslinya," sahut Ryan.


"Butan asli? altinya Oom boong dong, boong doca loh om, ntal Liyo ilang cama Ante."


Dafa menyerah, jika berdebat sama Rio dia yang pusing sendiri. Dafa memutuskan segera masuk ke rumah.


Bersambung….