Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 120. Lamaran



Jangan lupa like dan vote ya. Serta Rating 5.


Selamat membaca.


***


Dilla terus saja berlari dengan cepat, di belakangnya Ryan menyusul Dilla. 


"Dilla tunggu," teriak Ryan. 


Dilla yang mendengar teriakan Ryan bukannya berhenti malah larinya semakin cepat. Ryan kehilangan Dilla di belokan, dia tidak tahu lagi kemana harus mencari Dilla. Ryan melihat dan menimbang ke arah mana harus mencari Dilla.


Danang melihat Ryan yang sudah berhenti berlari dan menarik nafas. Danang dengan pelan dia menghampiri Ryan.


"Ryan," panggil Danang.


Ryan hanya melihat ke arah Danang, dia masih membutuhkan udara sebanyak-banyaknya untuk bernafas. 


"Apa kamu mencari Dilla?" tanya Danang.


"Iya, apa kamu melihat Dilla lari ke mana?" 


"Tadi aku melihatnya, tetapi kenapa dia bisa lari seperti itu?" 


Ryan menceritakan apa yang terjadi.


"Wajar kalau dia lari, mungkin dia masa sangat malu. Yadi aku melihat dia lari ke arah pesawahan. Mungkin dia ada di pondok yang ada di ujung sana," tunjuk Danang. 


"Terima kasih ya." 


Ryan kembali berlari ke arah yang ditunjukkan oleh Danang. Danang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka yang sudah seperti kucing dan tikus.


Ryan kembali mencari Dilla, dia melihat ke kiri dan ke kanan.


"Dilla," panggil Ryan ketika Ryan melihat Dilla yang mulai berhenti berlari.


Dilla kembali berlari saat mendengar panggilan Ryan.


"Dilla tunggu."


Dilla yang sudah capek berhenti berlari dan bersandar di sebuah pohon yang besar dengan daun yang lebat. Dilla sudah tidak sanggup lagi untuk berlari, dia sudah sangat lelah dan kehabisan nafas.


Ryan mendekat kepada Dilla, dia sengaja tidak mendekati Dilla secara langsung. Ryan berdiri di belakang pohon, berseberangan sama Dilla. Mereka saling menarik dan mengeluarkan nafas.


"Kenapa kamu lari Dilla?" tanya Ryan sesudah bisa bernafas normal.


"Kenapa Tuan mau melamar Dilla tidak bilang terlebih dahulu?" tanya Dilla.


'Kan Dilla malu dengan kondisi Dilla tadi.'


"Jadi kamu tidak masalah menikah dengan saya?" tanya Ryan senang.


Dilla tersipu malu dengan jawaban dia sendiri. 


"Kamu tidak usah malu, saya akan menerima kamu apa adanya," lanjut Ryan.


Perkataan Ryan semakin membuat Dilla tersipu. Dilla yakin jika saat ini mukanya seperti kepiting rebus.


"Jadi bagaimana jawaban kamu Dilla?"


Ryan ingin rasanya melempar pohon itu untuk melihat reaksi Dilla.


"Tuan," lirik Dilla.


"Dilla, mungkin ini bukanlah lamaran yang romantis untuk kamu. Sekarang kita hanya dipisahkan oleh sebuah pohon besar ini," kata Ryan sambil memegang pohon tersebut.


Dibalik pohon Dilla juga memegang pohon tersebut.


"Dilla, apakah kamu ingin menikah dengan saya?" lamar Ryan. 


Dilla kembali tersipu malu,dia menutup mukanya dengan kedua tangan. Dilla tidak menyangka jika Tuannya akan melamar dia.


"Dilla, apa kamu mau menerima lamaran saya untuk menjadi istri saya dan Ibu bagi anak-anak saya dan anak-anak kita nanti?"   


Pipi Dilla semakin panas, Dilla mengangguk kepalanya sebagai jawaban, dia tidak sanggup lagi berkata.


"Jika kamu mengganggu atau menggeleng saja maka saya tidak tahu, mata saya tidak tembus pandang melihat kamu dari balik pohon," Ryan terkekeh kecil.


Dilla juga ikutan tertawa kecil, dia merasa bodoh sendiri. Dengan malu-malu dia mengintip ke arah Ryan dari balik pohon.


Ryan senang mendengar jawaban Dilla. Ryan mendekati Dilla dan berdiri di depan Dilla. Ryan berlutut dan mengambil sebuah kotak cincin yang sudah dia bawa. Ryan menunjukkannya pada Dilla.


"Apakah kamu mau menikah dengan saya dan menjadi Ibu bagi anak-anak kita nanti?" lamar Ryan sekali lagi.


Dilla sungguh terharu, dia tidak menduga jika Tuanya sangat romantis.


"Dilla mau," jawab Dilla dengan suara kecil.


Senyuman Ryan semakin merekah mendengar jawaban Dilla. Ryan mengambil cincin dan memasangkan kepada jari Dilla. Setelah memasang cincin Ryan mengecup sebentar tangan Dilla.


Dilla tidak tau lagi harus bagaimana, semua anggota tubuhnya terasa panas. 


"Kalau begitu mari kita pulang ke rumah," ajak Ryan.


Dilla kembali mengganggu kepala, Ryan gemas dengan sikap Dilla saat ini, seperti malu-malu kucing. Ryan mengusap rambut Dilla sebentar sebelum melangkah. Ryan menggandeng tangan Dilla untuk pulang ke rumah. 


***


Mereka berdua masuk ke rumah dengan tangan yang masih bergandengan tangan.


Rio dan Reza segera memeluk mereka berdua. Mereka sudah tahu jika Papa dan Mommy mereka akan segera menikah.


Abdul, Marni dan lainnya senang melihat jika mereka sudah kembali dan bergandengan tangan. Mata mereka juga tidak ketinggalan melihat cincin yang dibawa Ryan untuk melamar Dilla.


Abdul dan Marni tidak pernah melihat cincin yang digunakan oleh Dilla selama ini. Dilla tidak pernah menggunakan perhiasan sama sekali.


"Sepertinya acara lamaran ini sudah selesai dan kita sudah tau hasilnya," kata Abdul.


"Iya, sepertinya mereka sudah melakukannya sendiri," sambung Aditya


Rita dan Jelita segera bangkit dan memeluk Dilla.


"Selamat ya Dilla." 


"Terima kasih," jawab Dilla yang masih malu.


Mereka semua memberikan selamat kepada Dilla dan Ryan


Mereka kembali membahas tentang pernikahan Dilla dan Ryan. 


"Jadi kapan rencananya kita akan melangsungkan pernikahan mereka berdua?" tanya Aditya. 


"Karena kemarin Dilla baru saja batal menikah, maka sebaiknya pernikahan mereka dipercepat agar Dilla tidak menjadi omongan orang di desa ini. Walaupun orangnya desa ini orangnya cukup ramah tapi ada juga orang yang suka bergosip," ujar Marni. 


"Kami tidak masalah jika mereka menikah segera, tetapi kita juga harus menanyakan pada mereka," sahut Aditya.


"Bagaimana Ryan dan Dilla? kapan kalian ingin menikah? apakah bisa secepat mungkin?" tanya Rita.


"Ryan terserah keputusan Dilla saja," jawab Ryan.


"Bagaimana dengan kamu Dilla?" tanya Abdul. 


"Dilla terserah Paman dan Bibi saja,"  jawab Dilla yang masih malu, dia sengaja memeluk Rio untuk menutupi wajahnya. 


"Bagaimana kalau minggu depan saja," usul Abdul. 


"Boleh, tidak masalah," sahut Aditya. 


"Jadi acaranya mau diadakan bagaimana dan seperti apa?" tanya Rita. 


"Kami tidak masalah jika acaranya di buat besar di tempat kami," sahut Aditya.


"Abdul dan Marni sering melirik. 


" Maaf, maaf Bapak dan Ibu, kalau bisa acaranya dibuat sesederhana saja, karena kami juga bukan orang yang berada dan akad nikahnya kita adakan di sini saja," tawar Abdul. 


Kini Aditya dan Rita yang saling lirik melirik.


"Bagaimana Ryan?" tanya Aditya. 


"Jika Paman dan Bibi ingin acaranya  sesederhana mungkin kami juga tidak masalah, yang penting sah," sahut Ryan


"Berarti sudah diputuskan mereka akan menikah seminggu lagi, akad nikah akan dilakukan di rumah ini. Setelahnya kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan di villa milik keluarga kami bagaimana? Kita cukup mengundang keluarga dan kerabat kita, tidak perlu mengundang tamu lain," kata Rita.


Mereka semua akhirnya besepakat jika akad nikah Ryan dan Dilla akan dilaksanakan seminggu lagi. Setelah akad nikah mereka  akan membuat syukuran di villa keluarga Suherman.


Bersambung....