Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 158. Perkelahian



"Anak-anak sini, ayo berbaris," panggil guru olahraga.


Reza, Rafa, Sam dan lainnya mendekati guru olahraga.


"Anak-anak, pada hari ini kita akan berolahraga. Apa kalian semua siap!" kata pak guru dengan penuh semangat.


"Siap Pak!" sahut para siswa termasuk Reza dan Rafa.


"Baiklah, sekarang kalian cari pasangan untuk memulai pemanasan. Kita akan pemanasan dulu sebelum kita berolahraga agar otot-otot kita tidak mengalami keram. Sekarang ayo kalian pilih kawan kalian masing-masing," suruh pak guru.


Mereka segera memilih kawan yang cocok dengan mereka. Mita dan Siska mendekati Rafa dan Reza yang sedang berbicara.


"Reza sama Mita aja ya," ajak Mita.


"Jangan mau Reza. Reza sama Siska saja," sambung Siska.


"Bagaimana kalau salah satu diantara kalian sama aku," tawar Rafa.


"Tidak mau," tolak mereka berdua.


Rafa cemberut mendengar penolakan mereka langsung.


"Ya sudah kalau kalian tidak mau. Reza akan berpasangan dengan aku," kata Dafa


Dafa segera menarik Reza dari sana.


"Jangan gitu dong. Kami mau sama Reza," ucap mereka berbarengan.


"Tapi Reza nya mau sama aku," bela Rafa.


"Iya, aku mau pasangan sama Rafa, "sahut Reza.


Reza tidak mau jika nanti mereka sedih. Jika Reza memilih Siska atau Mita pasti salah satunya akan merasa sedih. Makanya Reza lebih memilih sama Rafa.


Siska dan Mita saling memberikan tatapan tajam. Mereka saling menyalahkan satu sama lain.


"Ayo anak-anak, silahkan pilih pasangan kalian masing-masing," ulang pak guru.


Siska dan Mita yang tidak mau berpasangan, mereka melihat ke arah kawan yang belum ada pasangan. Ternyata yang belum ada pasangan adalah Sam. Mereka berdua segera mendekati Sam. Mereka ingin mengajak Sam sebagai pasangan mereka.


"Sam mau menjadi pasangan aku?" tanya Siska.


"Jangan, sama aku aja ya," kini giliran Mita yang menyerobot Siska.


"Kamu ini kenapa sih. Ganggu aku aja. Kamu cari kawan yang lain," usir Siska.


"Kamu tidak lihat? Sudah tidak ada pasangan lain. Semuanya sudah berpasangan," bantah Mita.


Mita segera menarik tangan kiri Sam.


"Sam sama aku aja?" tawar Mita lagi.


Walaupun agak takut sama Sam, Mita lebih memilih tidak mau berpasangan sama Siska. Mita sama Siska seringkali bersaing dalam bentuk apapun. Oleh karena itu mereka tidak akur satu sama lain.


"Tidak, Sam pasti mau sama aku," kata Siska.


Siska meraih dan menarik tangan Sam.


"Kalian berdua lepaskan tangan aku," kata Sam sambil menarik tangannya dengan keras.


Siska yang memegang tangan kanan Sam terjatuh karena dorongan Sam yang kuat.


"Aduh…," kata Siska kesakitan.


Reza dan Rafa yang kebetulan dekat dengan mereka segera menghampiri mereka.


"Sam jangan begitu dong. Tidak baik sama teman berbuat kasar," kata Reza menasehati.


Reza membantu membangun Siska.


"Itu salah mereka sendiri. Dari tadi mereka menarik tanganku," buatan Sam cuek.


"Tapi tidak boleh begitu sama teman. Kata Mommy Rafa tidak baik jika kita berbuat buruk untuk perempuan," sahut Rafa.


"Iya, kata Mama Reza juga begitu. kita harus menyayangi anak perempuan seperti menyayangi Mama kita sendiri," tambah Reza.


Sam merasa marah menyinggung soal Mama, Sam mendorong Reza dengan kuat sehingga bisa Reza terjatuh. Reza yang tidak terima segera bangkit.


"Kenapa kamu Mendorong-dorong aku. Apa salah aku?" tanya Reza.


Sam kembali mendorong Reza tanpa menjawab pertanyaan Reza. Reza meraih tangan Sam agar tubuhnya tidak terjatuh.


"Kenapa kamu mendorong aku lagi," kata Reza tidak terima.


Mita dan siska hanya melihat pertengkaran Reza dan Sam tanpa berani membantu. Mereka takut sama perkelahian Sam dan Reza.


Perkelahian yang mereka buat akhirnya menimbulkan keributan, sehingga guru memperhatikan pertengkaran mereka. Pak guru segera menghampiri mereka.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya pak guru sambil berjalan.


Pak guru memisahkan Reza dan Sam yang masih berkelahi.


"Kenapa kalian berkelahi? sesama teman tidak boleh bertengkar," ucap pak guru setelah berhasil memisahkan mereka.


"Ini semua salah Sam, Pak," lapor Siska.


"Iya, tadi dia dorong Siska. Padahal kami hanya ingin mengajak Sam berpasangan," bela Mita.


Sam diam, Sam tidak menyahut dan membantah sama sekali.


"Sudah sudah, pokoknya kalian berdua tetap bersalah. Sekarang kalian berdua ikut Bapak. Bapak akan menghubungi orang tua kalian," ujar pak guru.


Reza kaget mendengar perkataan pak guru. Reza takut jika Dilla akan marah dan tidak suka pada Reza lagi.


"Pak, Pak jangan memanggil Papa Reza ya. Reza minta maaf," kata Reza menyesal.


"Tidak, pokoknya kalian berdua ikut dengan Pak guru. Ayo kita ke ruang kepala sekolah," sahut pak guru.


Reza dengan lesu mengikuti langkah pak guru.


***


Pak guru telah menelepon Ryan, karena Ryan tidak mengangkat telepon maka yang hadir di sana adalah Dafa. Dafa dan asisten dari Daniel datang ke sekolah.


"Daddy," kata Ryan dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja," sahut Dafa menenangkan Reza.


"Silahkan ikuti saya Bapak-bapak," suruh pak guru.


Dafa dan asisten Daniel memasuki ruang tersebut. Setelah lima belas menit diberi pengarahan, mereka keluar kembali.


"Paman di mana daddy?" tanya Sam begitu asisten Daniel dan Dafa keluar ruangan. 


"Maaf Tuan Muda, sekarang tuan Daniel ada rapat penting sehingga tuan menyuruh saya untuk datang ke sini."


Sam merasa kesal dan marah kepada Daniel. Daddy sam lebih menyayangi pekerjaan daripada Sam. Sam semakin iri melihat Reza dan Rafa. Sam segera berlalu dari sana dengan rasa kecewa. Sam sangat berharap jika Daniel yang datang ke sekolah. 


"Ayo kita pulang juga," ajak Dafa.


"Daddy," panggil Reza dengan lirih.


Rafa menghentikan langkah ketika mendengar suara Reza.


"Reza kenapa?" tanya Dafa khawatir.


Dafa belum pernah melihat Reza yang seperti sekarang. Reza tidak pernah kelihatan ketakutan.


"Jangan… jangan ceritakan sama mama dan papa ya," mohon Reza.


"Reza tidak mau jika mama khawatir sama Reza. Reza janji, lain kali Reza tidak akan mengulanginya," sambung Reza dengan air mata yang sudah turun.


Dafa mendekati Reza, tangannya meraih pucuk kepala Reza dan mengelusnya.


"Iya, Daddy jani tidak akan menceritakan sama mama dan papa. Tapi Reza harus bisa menepati janji kalau Reza tidak akan mengulang lagi hal seperti ini," ujar Dafa.


"Iya Daddy, Reza janji," janji Reza.


"Kalau lain kali terulang, Daddy tidak akan mau membantu Reza lagi," ucap Dafa. 


"Terima kasih Daddy," sahut Reza dengan menghapus air mata.


"Ayo kita pulang," ajak Dafa lagi.


Mereka meninggalkan ruang kepala sekolah. 


Bersambung….


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like dan vote ya. Terima kasih.


Rekomendasi novel yang bagus buat kalian baca sambil menunggu up selanjutnya.