
Sesuai dengan rencana Daniel kemarin, mereka pagi-pagi sekali berangkat ke tempat Bella. Daniel sungguh sangat gugup. Daniel sebelumnya belum pernah mengungkapkan perasaan sama siapapun. Ini adalah pernyataan pertama kali bagi Daniel dan untuk cinta pertama dia juga. Daniel berharap jika ini juga yang akan menjadi cinta terakhir dia.
"Alan-alan, Omy tita alan-alan ya Omy," kata Rio dengan heboh di dalam mobil.
Rio sangat senang saat Dilla mengajak dia pergi. Rio menganggap jika mereka saat ini sedang berjalan-jalan. Rio begitu menikmati pemandangan sawah yang ada. Pemandangan sawah mengingatkan Rio pada kampung halaman Dilla.
"Omy Omy liyat. Ada cawah-cawah, banyak. Milip tampyung Omy," tunjuk Rio dengan semangat.
"Ia sayang. Rio duduk dengan tenang ya," ucap Dila.
"Ne Omy, Liyo enang," kata Rio dengan patuh.
Tetapi Rio kembali heboh menunjuk dan menjelaskan apa yang dia lihat setelah beberapa menit diam.
Sam yang duduk di samping Rio menutupi telinganya. Sam tidak sanggup mendengar Rio yang terus berceloteh. Sam sempat menegur Rio, tetapi Rio malah bertambah heboh. Sam akhirnya memilih untuk diam dan mengabaikan Rio.
***
Mereka telah tiba di depan rumah milik Bella. Mereka berangkat hanya berempat. Sedangkan Gio, asisten Daniel telah disuruh oleh Daniel untuk mengurus rapat yang seharusnya Daniel pimpin.
"Tuan, apa kita tidak jadi turun?" tanya Dilla setelah mereka lebih dari lima menit di dalam mobil.
"Apa kita pulang saja ya?" tanya Daniel balik.
"Maksud Tuan bagaimana? Kita telah sampai di sini. Kenapa kita pulang tiba-tiba?" kata Dilla heran.
"Saya merasa sangat gugup sekarang. Bagaimana jika besok saja kita pergi lagi," usul Daniel.
"Tuan ini bagaimana sih. Masak kita harus kembali lagi besok," sahut Dilla tidak percaya.
Dilla menggelengkan kepala. Dilla beralih melihat ke luar mobil. Di depan rumah sana keluar seorang perempuan yang ditarik oleh seorang gadis kecil. Tadi hanya ada gadis kecil itu di depan rumah. Gadis kecil itu sengaja masuk ke dalam dan memanggil perempuan itu.
"Apa itu yang namanya mbak Bella," tunjuk Dilla ke arah perempuan itu.
Daniel ia kaget mendengar pertanyaan Dilla. Dengan pelan-pelan Daniel menoleh ke arah yang Dilla tunjukkan. Memang benar jika perempuan yang ditunjuk oleh Dilla adalah Bella.
Melihat dari reaksi Daniel maka perempuan yang keluar itu adalah Bella.
"Ayo Tuan, kita turun," ajak Dilla.
"Tunggu Dilla," cegah Daniel.
"Tunggu sampai kapan Tuan. Kita sudah dari tadi di dalam mobil dan berdiri di depan rumah orang. Nanti kita bisa dianggap menganggu orang lain," sahut Dilla.
Dilla tanpa menunggu jawaban dari Daniel segera keluar mobil. Kemudian Dilla membuka pintu mobil untuk Sam dan Rio. Rio segera keluar dari mobil dengan cepat. Rio dengan antusias melihat ke kiri dan ke kanan. Melihat apa yang ada.
Bella yang melihat ada mobil di depan rumah mendekati mobil itu. Bella yakin jika tamu itu datang bertamu ke rumah dia. Tapi dia tidak mengenal Dilla yang turun.
Kemudian saat Daniel turun, Bella sangat terkejut. Bella tidak menyangka jika Daniel yang akan datang ke rumah dia. Bahkan Daniel datang bersama Dilla (Bella mengganggap jika Dilla adalah istri Daniel dan Sam dengan Rio adalah anak Daniel).
Bella menggenggam tangan dengan erat, tangan yang tidak memegang tangan anaknya. Jika boleh memilih, tadi Bella tidak mau keluar sehingga dia tidak bertemu dengan Daniel.
Daniel dan Dilla mendekati Bella.
"Pagi Mbak," sapa Dilla ramah.
"Pagi juga," sahut Bella.
Setelah itu, Bella melihat ke arah Daniel kembali.
"Hai, apa kamu masih mengingat aku?" tanya Daniel yang sangat gugup.
Dilla menepuk jidatnya. Dilla tidak menyangka jika hal itu yang akan ditanya pertama kali oleh Daniel.
"Ah iya, aku masih kenal sama kamu. Tapi kenapa kalian berdua datang ke sini?" tanya Bella.
Daniel semakin bertambah gugup. sekarang. Daniel sudah berkeringat dingin.
"Apa kita bisa berbicara dalam saja Mbak," kata Dilla.
"Maafkan saya, saya tidak sopan kepada tamu. Ayo silakan masuk," ujar Bella mempersilahkan Daniel dan Dilla masuk.
Dilla dan Daniel beserta Sam dan Rio masuk ke dalam rumah Bella.
***
"Ayo silahkan duduk," Bella kembali mempersilahkan mereka.
"Sebentar ya. Saya ambilkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot Mbak," sahut Dilla setelah dia duduk.
"Tidak apa-apa kok. Sebentar ya," ujar Bella.
Dilla segera ke dapur. Langkah Bella hampir goyah saat dia tiba di dapur. Bella meraih meja untuk menahan tubuh dia. Bella sungguh tidak percaya jika Daniel datang setelah mereka sudah tidak berjumpa dan kabar selama bertahun-tahun.
"Ada apa Daniel datang kesini? Kenapa dia juga mengajak istrinya?"
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Bella.
Bella dengan tangan gemetar menahan emosinya untuk membuat minuman. Perasaan Bella sedang tercampur aduk. Setelah minuman jadi, Bella membawa minuman itu ke ruang tamu.
"Maaf ya, hanya ini yang ada di sini," ujar Bella.
"Iya Mbak. Tidak apa-apa. Mbak tidak perlu repot-repot," sahut Dilla.
"Jadi kenapa kalian datang ke sini?" tanya Bella.
"Ini Mbak Bella, Tuan Daniel ingin membicarakan sesuatu sama Mbak Bella," sahut Dilla ketika Daniel sama sekali tidak mengeluarkan suara.
Dilla tahu jika Daniel sangat gugup. Bisa dilihat dari tangan Daniel yang terus memegang lutut dari tadi. Dilla tidak percaya jika Daniel segitu gugup berdiri di depan Bella.
"Tuan?" tanya Bella tidak mengerti.
"Kenapa kamu memanggil Daniel itu Tuan. Bukannya dia suami kamu?" sambung Bella.
"Bukan Mbak. Mbak jangan salah paham. Saya tidak ada hubungan apapun sama Tuan Daniel. Tuan Daniel adalah rekan kerja suami saya," kata Dilla segera menjelaskan.
Dilla tidak mau jika Bella salah paham sehingga masalahnya semakin rumit.
"Tapi kenapa kalian bisa datang ke sini berbarengan?" tanya Bella penasaran.
Dilla memberikan kode kepada Daniel untuk segera berbicara. Tetapi Daniel masih saja terdiam. Dilla yang tidak enak dengan Bella segara menginjak kaki Daniel dengan keras agar Daniel bisa fokus.
Daniel yang diinjak kakinya menahan teriakan agar tidak berteriak. Dilla tidak main-main menginjak kaki Daniel.
"Tuan," ujar Dilla dengan tersenyum dipaksakan.
"Iya ada apa?" tanya Daniel.
"Bukannya Tuan ingin berbicara sama Mbak Bella. Mbak Bella dari tadi sudah menunggu," Dilla tetap menahan senyuman palsu.
"Jadi apa yang mau kamu katakan sama aku, Daniel?"
"Ah… itu... itu…," ujar Daniel dengan kaku.
"Itu apanya?"
"Itu…."
"Gini Mbak Bella. Daniel ingin…."
Daniel menghentikan perkataan Dilla. Daniel ingin mengatakan sendiri. Daniel memegang lengan Dilla dan memberikan kode agar Dilla berhenti bicara.
"Biar saya saja," ujar Daniel sedikit gugup.
Bella semakin penasaran apa yang akan dikatakan oleh Daniel.
"Jadi…," Bella menjeda perkataan nya.
"Ah itu... begini… aku mau... ini... itu…."
Dilla menepuk jidat melihat Daniel yang kehilangan kata-kata.
"Ya? jadi apa?" kata Bella sabar.
Bella tidak pernah melihat Daniel yang seperti itu.
"Aku mau bilang jika... jika…."
"Jika apa. Kalau berbicara yang jelas," kata Bella mulai emosi.
Dilla geram dengan Daniel yang dari tadi muter-muter berbicara.
"Apa biar saya saja Tuan?"
"Tidak apa. Jadi Bella, apa kamu itu… emm… kalau kamu…," Daniel berusaha berbicara tetapi kepala dia terasa kosong. Seakan-akan tidak ada kata-kata sama sekali di kepala dia.
"Jika kamu ragu, kamu pulang saja. Lain kali kita bicara," ujar Bella.
"Aku mencintai kamu," kata Daniel dengan keras dan tiba-tiba.
Dilla speechless dengan pernyataan Daniel. Dilla tidak menyangka jika Daniel akan mengatakan secara lantang dan tidak ada basa-basi sama sekali.
Sedangkan Bella sangat terkejut mendengar pernyataan Daniel.
Apakah yang terjadi selanjutnya?
Apakah Bella mau menerima Daniel?
Tunggu di bab selanjutnya.
Bersambung….
Rekomendasi novel karya teman saya buat kalian sambil nunggu up.