Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 64. Jelita



Jam baru menunjukkan pukul 17.20 sore, tapi orang di rumah segera berharap Dilla segera pulang. Rio sudah dari siang menangis mencari Dilla.


Awal awal pergi ke kantor dia merasa senang melihat hedung hedung yang tinggi. Tapi lama kelamaan dia mulai bosan. Papanya mulai sibuk bekerja, sedangkan asisten Ryan yang di suruh menjaga Rio sangat tidak menyenangkan bagi Rio.


Dia hanya akan berpura pura perhatian saat Ryan memperhatikannya, setelah iti dia akan mengabaikan Rio. Mirip seperti Babysitter Rio yang terdahulu. Rio yang merasa tidak betah segera minta pulang setelah makan siang.


Rio ingin segera menemui Omy nya. Rio sudah sangat rindu Omy. Ryan yang tak tega akhirnya memutuskan membawa pulang Rio. Tetapi sesuai dugaannya, Dilla masih belum pulang juga. Karena mereka bilang Dilla pulangnya jam 18.00.


Rio akhirnya bisa dibujuk untuk diajak tidur siang sebentar. Sekitar satu jam kemudian Rio terbangun dan segera mencari Dilla. Saat tidak juga menemukan sang Omy, Rio menangis keras sampai sekarang. Ryan dan lainnya sudah kualahan membujuk Rio.


Mereka sekarang ada di depan teras menunggu Dilla pulang. Sebenarnya mereka bisa menelpon Dilla, tapi karena mengingat ini hari libur Dilla untuk pertama kali maka mereka memilih tidak menelpon Dilla. Siapa tau Dilla masih subur bermain.


Sepuluh menit kemudian Dilla tiba dengan di antar sama Sultan.


Tadi di rumah Sultan, Dilla dilarang pulang segera sama orang tuan Sultan, tapi Dilla mengatakan bahwa dia harus pulang sebelum jam 6, maka mereka baru mau melepaskan Dilla dengan tidak rela. Jarang sekali anak mereka mau mengajak pacarnya kerumah.


Rio yang melihat Omynya langsung berlari dan memeluk kaki Dilla erat erat.


"Omy...," rengek Rio.


"Kenapa Rio menangis hemm, rindu Mommy ya," ujar Dilla.


"Liyo lindu Omy," jawab Rio dengan sedih.


Dilla kasihan melihat mata Rio yang sudah membengkak dan memerah, tau gini tadi Dilla mengajak Rio sekalian.


"Kenapa kamu bisa barengan sama Sultan?" tanya Ryan tidak suka.


"Tidak masalahkan Tuan jika Dilla pergi sama Sultan," ujar Dilla ketus.


Setelah berkata begitu Dilla segera masuk. Dilla akan mencoba menghindar sebisa mungkin atau lebih bagus jika Dilla dijauhi sendiri sama Tuannya.


Ryan hanya menatap heran Dilla yang terasa aneh. Tidak biasanya Dilla berbicara seperti iti.


"Kamu apakan Dilla sampai dia bicara aneh begitu," ujar Ryan.


"Kenapa kamu tanya sama aku, tadi siang dia baik baik aja tuh," jawab sultan tak terima atas tuduhan sahabatnya.


"Jadi kalian dari tadi sang bersama, kalian ngapain aja?" tanya Ryan penasaran.


"Kenapa kamu tanya lagi, biasanya kalau cewek dan cowok single pergi berdua ya kencan lah," kata Sultan iseng.


Boleh dong sultan menyombongkan diri sudah ada teman kencan. Dia tidak mau di ejek jomblo terus, walaupun itu adalah kenyataan.


Ryan yang mendengarnya merasa tidak suka. Ada bagian di hatinya yang berdenyut sakit.


"OPPA...," teriak Mina.


Tadi Mina tidak sengaja lewat dan melihat Sultan. Mina segera menghampiri Sultan yang ada di teras. Sultan yang mendengar teriakan Mina jadi merinding.


"Ryan aku pamit dulu ya, bye bye," ujar Sultan sambil mengambil ancang ancang buat lari.


Sultan segera berlari kearah mobilnya dan segera pergi dari sana. Dia tidak mau bertemu sama Mina lagi. Hidupnya sudah repot, jadi Sultan tidak mau menambah kerepotannya.


"Loh kok pergi sih," kata Mina tidak terima.


Ryan hanya melihat Mina yang mendumel sendiri. Ryan memilih masuk ke rumah kembali dan mengabaikan perasaannya.


***


Pada siang menjelang sore hari di kediaman suherman kedatangan seorang tamu. Tamu tersebut adalah tamu yang dulu berdebat sama Mina. Kini Mina dan tamu itu kembali berdebat.


Dilla yang lagi bermain bersama mereka jadi penasaran.


"Rio di sini dulu ya, Omy mau kebelakang sebentar," kata Dilla.


Jika Dilla bilang ingin ke depan pasti mereka akan ikut, jika alasan ke belakang pasti mereka akan tetap dudu anteng.


"Reza dan Rafa jaga Rio sebentar ya, Mommy mau ke belakang dulu," kasih tau Dilla ke Reza dan Rafa.


Dilla segera ke depan mau melihat siapa yang datang.


"Minggir tidak, aku mau masuk, kamu ini hanya pembantu tapi berlagak bagai tuan rumah," kata tamu itu.


"Tidak bisa begitu dong, kamu ini tamu yang tidak jelas, bagaimana mungkin aku menyuruh kamu masuk, apalagi kamu masuk secara bar bar begini," kata Mina tidak mau kalah.


Tamu tersebut merasa tersinggung, tapi apa yang di katakan pembantu itu benar juga. Kenapa dia harus seperti orang yang tidak tau etika.


'Tapi memang pembantu ini aja yang ngeselin abis.'


"Apa yang terjadi Mbak mina, kenapa ribut ribut begini," kata Dilla yang baru datang.


Dilla melihat tamunya ini sangat cantik dan juga sangat modis.


"Maaf Mbak, Mbak siapa dan mau menemui siapa?" tanya Dilla sopan.


"Nah gini dong sambut tamu, bukan kayak kamu, main usir aja. Perkenalkan saya Jelita, saya ingin bertemu Dafa, Dafa tinggal disinikan sekarang?" tanya Jelita balik.


"Wah nama Mbak sesuai dengan orangnya, sungguh cantik jelita," puji Dilla karena terkagum.


Jelita menyibakkan rambutnya saat di puji. Dia sudah sering mendengar pujian seperti itu. Karena dia adalah seorang model profesional.


"Iya dong cantik, ini perawatan kelas atas, jadi model itu harus cantik," ujar Jelita bangga.


"Ternyata seorang model toh, pantesan bening," kata Dilla sambil membandingkan sama dirinya sendiri yang dekil.


"Sudah cukup puji puji nya, sekarang sultan ada di...."


"Jelita," panggil Rita.


"Sore Tante, Tante apa kabar?" tanya Jelita basa basi.


"Tante baik baik saja, kamu kenapa datang kesini?" tanya Rita balik.


"Saya mau baikan lagi sama Dafa Tante," kata Jelita menyesal.


Jelita sungguh menyesal meninggalkan orang yang sangat mencintainya. Bahkan dia sangat tega melantarkan anaknya sendiri. Sekarang dia ingin berubah, dia ingin memperbaiki apa yang dulu sudah dia sia siakan.


"Tapi kalian sudah bercerai, semuanya tidak akan mudah Kelita," ujar Rita.


Rita senang jika Dafa dan Jelita mau balikan tapi masalahnya mereka sudah bercerai.


"Bercerai? kayaknya ada kesalahpahaman di sini, Tante Jelita sudah capek baru balik dari luar negeri. Jadi apa boleh Jelita istirahat di kamar Dafa. Nati akan Jelita jelaskan," kata Jelita.


"Baiklah, kamu istirahat dulu, pasti sudah sangat capek, Mina sana bantuin Jelita bawa barang barangnya. Setelah berkata begitu Rita segera balik badan.


"Nih bawa semuanya," kata Jelita judes pada Mina.


"Oh ya siapa nama kamu?" tanya Jelita pada Dilla.


"Saya Dilla Mbak, seorang Babysitter," jawab Dilla.


"Oh, pantes saja sikap kamu baik karena babysitter," sindir Jelita pada Mina.


Mina mendumen sendiri. Dia tidak menyangka kalau wanita ini adalah tamu. Soalnya sikap Jelita kurang menyenangkan buat Mina.


Mereka berdua akhirnya sampai ke kamar Rafa. Mina segera meletakkan barang itu di samping pintu dan segera pergi.


Jelita yang sudah capek juga memilih istirahat sebentar.


Bersambung....