
Ryan segera berjalan cepat ke arah Jelita yang berada di dalam mobil. Ryan kembali menggendong Jelita menuju ke dalam taksi. Ryan menempatkan Jelita dengan hati-hati.
"Bi, tolong telepon Dafa, bilang kalau istrinya akan melahirkan. Kemudian telepon papa dan mama Ryan, kabari jika Dilla akan melahirkan juga," suruh Ryan.
"Iya Tuan. Nanti akan Bibi telepon. Tuan hati-hati ya dijalan," jawab bi Imah.
"Iya Bi. Kami berangkat dulu ya."
"Iya Tuan."
Ryan segera memasuki mobil. Ryan sengaja duduk di tengah supaya bisa menjaga mereka berdua.
"Pak ayo cepat. Kita pergi ke rumah sakit," perintah Ryan.
"Siap Pak," sahut supir taksi.
***
Taksi itu mulai berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Sopir taksi tanpa perintah tahu jika keadaan sangat mendesak. Dia membawa mobil dengan hati-hati dan tidak terguncang keras.
Selama perjalanan Dilla dan Jelita terus berteriak kesakitan. Dilla dan Jelita menarik lengan Ryan dengan kuat. Mereka sudah sangat kesakitan.
"Mas sakit akh… akh…."
"Ryan… akh… Ryan sakit…."
"Kalian yang sabar ya. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit," kata Ryan menenangkan.
Ryan juga sangat khawatir dengan keadaan mereka. Ryan menguatkan diri agar tidak panik di depan mereka.
"Pak bisa cepat lagi bawa mobilnya? Mereka sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit pak," tanya Ryan berharap cepat sampai ke rumah sakit.
"Ini sudah cepat saya bawa Pak. Jika saya bawa terlalu cepat nanti tidak baik juga bagi kita semua. Bapak mending tenangkan dulu istri-istri Bapak," kata pak supir salah paham.
"Istri…."
"Akh… sakit… Mas… kapan kita sampai akh…," tanya Dilla sudah tidak tahan lagi.
"Akh… akh…," teriak Jelita semakin memegang tangan Ryan semakin kuat.
Ryan tidak jadi meluruskan kesalahpahaman. Yang ada Ryan semakin panik melihat Dilla dan Jelita yang terus berteriak kesakitan.
Ryan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ryan hanya bisa menenangkan mereka dan berharap jika mereka bisa cepat sampai di rumah sakit. Ryan berkomat-kamit agar mobil segera berada di rumah sakit.
"Sayang… akh... kenapa kita sangat lama tiba di rumah sakit. Dilla sudah tidak tahan?" tanya Dilla lagi.
Dilla seakan-akan sudah berjam-jam di dalam mobil. Padahal hanya beberapa menit. Perut Dilla seakan-akan ada yang mengaduk-aduk dan ingin buang air besar dengan rasa sakit yang berlipat ganda. Sedangkan Jelita yang sudah pernah melahirkan sekali bisa menahan sedikit rasa sakit. Jelita juga berharap segera tiba di rumah sakit.
"Sabar ya sayang… sabar…. Ayo tarik nafas dan keluarkan," saran Ryan mempraktekkan untuk diri sendiri.
Dilla mengikuti instruksi Ryan. Dilla bisa merasakan rasa lega sedikit.
Sopir taksi dari tadi curi-curi pandang kepada mereka bertiga. Dia tetap fokus mengendarai mobil.
"Bapak memang hebat ya. Bapak bisa membuat kedua istri Bapak hamil sekaligus. Pasti repot membuatnya," kata supir taksi yang salah paham.
"Bapak jangan banyak bicara. Lebih baik Bapak bawa mobil lebih cepat lagi. Mereka sudah kewalahan," kata Ryan yang tidak mau membuat pusing dengan kesalahpahaman supir taksi.
Bagi Ryan sekarang keselamatan Dilla, Jelita dan anak dalam kandungan merekalah yang sangat diutamakan.
Beberapa menit kemudian mobil mereka tiba ke rumah sakit. Ryan segera keluar dan berteriak memanggil dokter dan suster. Suster dan dokter segera menarik kasur dorong. Dilla dan Jelita segera dilarikan ke ruang bersalin.
Ryan segera membayar uang taksi. Setelah itu Ryan mengikuti kasur dorong milik Dilla dan Jelita.
"Bapak itu memang sungguh beruntung bisa mempunyai dua istri. Mereka juga kelihatan akur. Bisa hamil barengan lagi. Aku saja yang punya satu istri buat cari makan saja susah. Apalagi kalau punya dua istri. Yang ada aku bisa jadi samsak hidup," ujar sopir taksi itu dengan melihat Ryan yang terus berlari mengejar Dilla dan Jelita.
***
"Sultan tolong aku?" pinta Ryan.
"Iya Ryan. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Sultan.
"Itu istri dan calon anak aku… aku…," kata Ryan kehabisan nafas.
"Kamu tarik nafas dulu. Baru setelah itu jelaskan kepada aku," kata Sultan.
Ryan mencoba menstabilkan nafas. Ryan bukan capek karena lari, tapi karena dia panik dan tidak mengatur nafas dengan baik. Hal itu yang menyebabkan Ryan kesusahan bernafas.
"Sekarang jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sultan setelah Ryan mulai bernafas normal.
"Saat ini Dilla dan Jelita sedang mengalami kontraksi. Mereka akan segera melahirkan. Tolong selamatkan mereka," kata Ryan dengan cepat.
"Ryan kamu tenang dulu," ujar Sultan.
"Bagaimana aku bisa tenang. Saat ini istri aku sedang memperjuangkan anak kami," jawab Ryan.
"Aku tahu kamu khawatir Ryan. Tapi aku tidak bisa membantu kamu," jawab Sultan.
"Bagaimana kamu tak bisa bantu. Kamu kan dokter?" ucap Ryan.
"Ryan, apa kamu lupa jika aku ini dokter saraf bukan dokter kandungan?" tanya Sultan.
Ryan baru sadar jika Sultan adalah dokter saraf. Ryan tidak sanggup lagi berpikir panjang lebar. Ryan hanya fokus pada jas yang digunakan oleh Sultan.
"Ryan kamu yang tenang dulu. Jika kamu masih panik tidak ada pengaruh sama yang di dalam. Kamu duduk di sini dulu, biar aku menemani kamu," kata Sultan sambil menuntun Ryan duduk.
"Kamu berdoa saja semoga istri dan anak kamu serta Jelita dan anaknya baik saja," ujar Sultan
"Iya Sultan," sahut Ryan yang mulai tenang.
"Yang lainnya mana?" tanya Sultan melihat ke sekeliling tapi tidak ada orang.
"Tadi hanya aku yang ada di rumah. Safa pergi ke kantor. Sedangkan orang tuaku ada ada pertemuan sama temannya. Tadi aku sudah menyuruh bi Imah untuk menelepon mereka. Sebentar lagi mereka pasti juga akan sampai," sahut Ryan
Sultan mengangguk-angguk kepala. Sultan juga ikut menemani Ryan. Lagi pula Sultan lagi tidak ada kegiatan. Semua tugas dia sudah selesai dikerjakan.
Tidak berapa lama kemudian Dafa datang. Di belakang Dafa disusul dengan Aditya, Rita dan Rio. Mereka dengan cepat berjalan ke arah Ryan dan Sultan.
"Ryan bagaimana keadaan Dilla dan Jelita?" tanya mereka.
"Sekarang mereka sedang berada di ruang bersalin. Semoga mereka baik-baik saja," sahut Ryan.
"Semoga mereka baik-baik saja."
"Pa, apa Liyo atan unya adik cetalang?" tanya Rio berbinar.
Saat Rio akan segera punya adik, Rio sangat gembira. Padahal tadi dia sangat bosan ikut sama kakek dan nenek. Rio sudah beberapa kali minta pulang tapi tidak dituruti. Pas Rita bilang mau ke rumah sakit mau lihat adik Rio, Rio langsung semangat kembali.
"Iya sayang. Kamu akan segera punya adik. Kamu akan menjadi abang. Kamu doakan agar mama dan adiknya baik-baik saja," jawab Ryan membawa Rio kedalam pangkuannya.
"Iya Pa. Liyo bel-alap adik dan Omy bayik-bayik aja," kata Rio serius.
"Apa Rio senang mempunyai adik?" tanya Sultan.
"Cenang dong Om. Itu tan adiknya Liyo. Liyo cudah ndak cabal mau main cama adik Liyo. Liyo atan membelitan cemua unya Liyo buwat adik Liyo," jawab Rio bersemangat.
"Rio memang abang yang baik," puji Sultan.
"Iya dong Om," jawab Rio bangga.
Bersambung....