
"Reza, Rafa, Rio," panggil Dilla.
Reza, Rafa dan Rio melihat ke arah Dilla yang memanggil mereka. Rio mengikuti Reza yang berjalan di depan menuju ke arah Dilla. Kemudian mata Rio tidak sengaja melihat Lala yang sedang berlari sembunyi-sembunyi.
Rio penasaran kenapa Lala bersembunyi. Tingkat kepo Rio memutarkan langkahnya. Akhirnya langkah sudah berubah menuju ke arah Lala pergi. Rio mengikuti Lala dari belakang secara diam-diam. Ternyata Rio melihat Lala pergi ke halaman luar hotel. Langkah mereka menuju ke arah taman.
Lala duduk berjongkok di bawah sebuah pohon. Rio bisa mendengar tangisan Lala. Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rio bingung antara mau masuk kembali atau mendekati Lala.
Karena kasihan akhirnya Rio memutuskan untuk mendekati Lala. Rio berjalan pelan-pelan ke arah Lala. Rio ikut berjongkok di depan Lala. Lala masih saja menangis tanpa tahu Rio ada di depannya. Lala menangis sambil menutup dengan kedua tangan agar tidak ada yang melihat.
Rio berjongkok tanpa menganggu Lala. Lama-kelamaan Rio mulai bosan melihat Lala menangis. Rio mencoba mengintip Lala yang menutup mukanya. Rio melihat ke sisi kiri dan muka Lala tapi tidak bisa melihat muka Lala.
Lala yang merasakan ada orang di depannya membuka kedua tangannya. Lala mendongakkan kepala. Lala terkejut melihat Rio ada di depannya sambil fokus menatap Lala. Lala terjatuh ke samping saking terkejutnya.
"Lala, tamu ndak apa-apa?" tanya Rio mencoba membantu Lala untuk berdiri kembali.
Lala menolak uluran tangan Rio. Lala berusaha bangun dan berjongkok kembali. Lala membalikkan badan serta menghapus air matanya. Lala tidak mau Rio melihat Lala menangis.
"Lala tenapa nanis?" tanya Rio mencoba mengintip lala yang menghapuskan air mata.
Air mata Lala kembali menetes. Lala kembali menangis tersedu-sedu. Lala sedih mengingat tidak bisa bermain lagi sama Rio.
"Lala tenapa nambah telas nanis?" tanya Rio panik dan kembali berjongkok di depan Lala.
Rio mencoba menyingkirkan tangan Lala pada mukanya. Setelah tangan Lala lepas dari muka, Lala malah menerjang memeluk Rio. Rio hampir saja terjungkal kalau tidak menahan dengan kedua tangannya. Kini Lala ada di atas paha Rio.
"Lala angan nanis agi ya," ujar Rio yang hampir keluar air mata.
"Lala angan nanis," bujuk Rio lagi dengan air mata yang ikut keluar.
***
Daniel, Dilla dan lainnya menuju ke tempat penjaga. Mereka ingin mencari petunjuk dari sana.
"Pak, apa Bapak ada melihat anak saya?" tanya daniel.
"Iya Tuan Daniel. Tadi saya melihat Lala pergi ke arah sana," tunjuk penjaga itu ke arah jalan keluar.
"Apa Bapak juga melihat anak laki-laki tingginya segini?" tanya Dilla sambil menunjukkan tinggi Rio.
"Ada Nyonya. Tadi saya juga melihat ada anak kecil laki-laki yang mengikuti Lala."
"Pasti itu Lala dan Rio," ucap Bella.
"Kalau begitu ayo kita cari mereka," ajak Ryan.
Mereka kembali mencari Lala dan Rio. Mereka bertanya sama beberapa orang, akhirnya mereka menemukan Rio dan Lala, dengan Lala memeluk Rio.
"Lala, Rio," panggil mereka.
Rio menoleh ke arah suara Dilla. Rio mau menghampiri Dilla tapi tidak bisa bangun.
"Omy," panggil Rio.
"Apa yang kalian lakukan di sini Rio?" tanya Dilla.
"Apa yang terjadi sama Lala? kenapa Lala menangis?" tanya Bella khawatir.
"Liyo ndak tahu Ante. Lala dali adi cudah nanis," jawab Rio yang sudah menghapus air mata.
Bella mencoba meraih Lala. Lala tidak mau disentuh sama Bella. Lala tidak mau lepas dari pelukan Rio. Lala sedang marah sama Bella dan lainnya.
"Lala sayang," ujar Bella dengan sedih.
Rio semakin bingung dengan kedatangan banyak orang. Rio kembali menggaruk kan kepalanya. Rio juga bingung dengan sikap Lala.
"Lala angan nanis agi," bujuk Rio kesekian kalinya.
Lala tetap mengabaikan Rio dan meneruskan menangis.
"Omy ilang, talau nanis anti ndak ampan lagi lho," kata Rio menakuti Lala.
"Lala ndak ampan. Lala antik," bantah Lala tidak terima.
"Maksudnya Rio, jika Lala tidak berhenti menangis cantiknya bisa hilang," kata Bella mengoreksi perkataan Rio agar Lala tidak lagi menangis.
Lala mengabaikan Bella.
"Lala angin. Liyo apek ni," suruh Rio.
"Lala angin. Tati Liyo catit. Dali adi Lala uduk di atais Liyo. Lala belat," kata Rio dengan jujur.
"Lala ndak belat," teriak Lala dengan menangis semakin keras.
Mereka semua menutup telinga. Suara Lala cukup melengking. Rio yang korban tak bisa kabur.
"Pa, Omy," panggil Rio yang sudah tidak kuat lagi.
Daniel segera mengangkat Lala dari tubuh Rio. Daniel tidak tega melihat Rio yang sudah hampir menangis kesakitan. Ryan juga membantu misalkan Lala dan Rio.
Lala yang tidak mau berpisah sama Rio tidak melepaskan pegangannya pada baju Rio. Lala memegang dengan kuat pada baju rio.
"Lala, ayo lepas sayang," kata Daniel yang sudah mengangkat tubuh Lala.
Ryan juga sudah mengangkat tubuh Rio.
"Nak mau," teriak Lala masih memegang baju Rio.
Lala terus memberontak dalam gendongan Daniel. Mereka terjadi tarik menarik. Akhirnya kantong baju yang digunakan oleh Rio tersobek.
Lala baru berhenti berontak dan menangis ketika baju Rio robek. Lala menatap tangan kanan yang memegang saku baju yang digunakan Rio.
Bibir Lala gemetaran. Lala takut jika Rio marah karena Lala sudah merobek bajunya. Lala kembali menangis dengan keras. Mereka semua yang ada di sana kembali menutup telinga.
"Sudah sayang, Lala jangan menangis lagi ya. Nanti Lala bisa sakit," bujuk Bella.
"Lala jangan menangis ya," ujar Sam ikut membujuk.
Lala terus menangis. Mata Lala sudah memerah karena kelamaan menangis.
"Lala belicik. Liyo ndak cuta cama anak cengeng," teriak Rio melawan suara tangisan Lala.
Seketika Lala berhenti menangis kembali. Lala tidak mau jika Rio tidak suka padanya.
"Lala ndak cengeng," bantah Lala.
"Jika Lala tidak cengeng jangan menangis lagi ya," kata Bella mencari kesempatan.
Lala mulai menghapus air mata dibantu Bella. Bella ikutan sedih melihat anaknya menangis.
"Lala kenapa keluar dari aula. Bahkan Lala pergi tanpa bilang sama bang Sam. Bang Sam kan khawatir. Mama khawatir sama Lala. Nanti Lala bisa hilang," ucap Bella.
"Mama boong cama Lala. Mama ndak cayang lagi ama Lala," jawab Lala.
"Lala sayang. Mama sayang sama Lala," bantah Bella.
"Talau Mama cayang Bella, tenapa Mama mau picahtan Lala cama Mais Liyo. Lala mau belteman cama Mais Liyo Ma. "
"Lala di sana juga mendapatkan teman yang baru," bujuk Daniel.
"Ndak mau. anti di cana ndak ada yang mau belteman cama Lala."
"Lala jangan khawatir. Nanti Abang Sam yang akan menemani Lala bermain," ucap Sam.
"Ndak mau. Lala ndak mau pindah Addy. Addy sama ahat, Lala benci cama Addy," kata Lala memukul dada Daniel.
"Lala tidak boleh begitu sayang. Mama dan Daddy sangat sayang kepada Lala," ucap Bella menangkap tangan Lala.
Dilla kasihan melihat Lala yang terus menangis tidak mau dipisahkan sama Rio. Dilla tahu jika Lala selama ini tidak ada kawan bermain. Jadi Dilla maklum jika Lala tidak mau berpisah sama Rio. Rio adalah teman bagi pertama bagi Lala. Dilla ingin membujuk Lala.
Apakah Dilla berhasil membujuk Lala?
Bagaimana cara Dilla membujuk Lala?
Tulis di kolom komentar ya.
Bersambung….
Saya mau cerita berdasarkan pengalaman. Menurut saya anak kecil memang suka menghilang. Mereka akan melakukan atau mengikuti sesuatu yang membuat mereka penasaran. Mereka biasa pergi tanpa izin. Mereka tidak memikirkan resiko apa yang mereka dapatkan. Anak-anak cenderung polos.
Jadi kenapa Rio suka menghilang, itu salah satu alasannya.
Jadi jika anak kecil harap dijaga baik-baik. Jangan salahkan tingkat kepo anak kecil. Dari kepoan mereka, mereka bisa belajar dan berinteraksi sama alam dan sosial. Tugas kita menjaga dan mengamati mereka. Jangan membatasi ruang lingkup anak-anak terlalu ketat atau dibiarkan terlalu bebas.
Saya bicara berdasarkan pengalaman kecil saya, tetangga saya dan riset juga.