Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 186. Sambutan Reza



Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sudah cukup jadi penyemangat buat saya. Terima kasih banyak.


Selamat membaca.


***


Rita memijat kening yang terasa pening. Kemudian Rita melihat Sam dan Lala yang keluar dari dalam mobil. Rita sama sekali tidak mengenal mereka berdua.


"Mereka siapa Ryan, Dilla?" tanya Rita.


"Mereka itu…."


"Ma, lebih baik kita bicarakan di dalam. Tidak baik kita bicara di depan pintu. Anak-anak pasti sudah capek," ujar Ryan.


"Baiklah, ayo kita masuk," ajak Rita.


"Rio, bawa Abang Sam dan Lala bermain ya. Mama mau bicara dulu sama Nenek. Kan Rio anak yang baik, pasti Rio bisa jadi tuan rumah yang baik," puji Dilla.


Dilla sengaja memuji Rio agar Rio tidak banyak berkomentar. Rio paling nurut apabila Dilla memuji Rio.


"Bayik Omy. Liyo atan bawa meleta te empyat belmain," sahut Rio bersemangat.


"Ayo Bang Cam dan Lala itut cama Liyo. Liyo atan mem-awa talian te cana. Di cana ada banaak mainan yang badus," ajak Rio dengan menarik kedua tangan mereka.


***


"Jadi seperti itulah kejadian yang terjadi dan kenapa kami terlambat pulang," kata Dilla menjelaskan apa yang terjadi.


"Syukurlah kalau semua baik-baik saja. Mama juga kasihan sama Sam. Sam pasti sedih selama ini. Mama Jadi terbayang kondisi Rio dan Reza ketika tidak ada kamu Dilla. Setidaknya mereka ada kami yang perhatian sama mereka," kata Rita mengenang masa lalu.


Ryan terpukul mendengar perkataan Rita. Ryan ikut bersalah karena mengabaikan Rio dan Reza. Ryan ingin menembus kesalahan mada lalu. Ryan berjanji pada diri sendiri akan selalu memperhatikan kedua, tidak ketiga buah hatinya.


"Semoga saja orang tua Daniel bisa menerima Bella. Dengan begitu, Sam akan mendapatkan ibu yang akan menyayangi dia," ujar Jelita.


"Iya Mbak. Dilla juga berharap hubungan mereka direstui. Dilla tidak hanya kasihan melihat Sam yang tidak mendapatkan kasih sayang ibu, tapi Dilla juga kasihan melihat tuan Daniel yang selama ini hidup bagaikan robot. Sudah saatnya tuan Daniel mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan tuan Daniel ada bersama Mbak Bella. Mereka berhak bahagia," setuju Dilla.


Ryan memeluk Dilla dari sampingan. Ryan tahu jika niat istrinya sangat baik. Ryan tidak mau Dilla banyak beban pikiran. Tidak baik bagi kandungan Dilla.


"Semua sudah digaris bawahi. Setiap orang pasti memiliki cobaan sendiri. Kita tidak bisa menilai orang yang punya segalanya itu bahagia. Mereka pasti memiliki masalah tersendiri. Orang kaya hanya kelebihan uang bukan kelebihan segalanya," ucap Aditya.


"Iya Pa. Apa yang Papa bilang benar," sahut Rita.


"Tapi di mana Reza Ma? Dilla rindu sama Reza," tanya Dilla yang tidak melihat Reza.


"Reza tetap Mama suruh pergi ke sekolah. Mama tidak mau Reza merasa kesepian di rumah karena mengingat kamu dan Rio. Di sekolah setidaknya Reza ada teman bermain lagi," sahut Rita.


"Iya Dilla. Mereka sebentar lagi juga akan pulang. Tadi sudah dijemput sama sopir. Reza pasti senang melihat kamu ada di rumah," sambung Jelita.


***


Beberapa menit kemudian Reza dan Rafa pulang dari sekolah. Reza berjalan lesu memasuki rumah. Reza sudah sangat  kangen sama Dilla dan juga Rio.


"Reza lihat, bukannya itu Mama ya," ujar Rafa yang melihat Dilla sedang berbicara sama yang lainnya.


Reza melihat ke arah yang di tunjuk oleh Rafa. Di sana memang ada Dilla. Senyum Reza kembali merekah. Semangat Reza sudah bangkit lagi bagaikan matahari  yang berada di puncak.


"Mama!" teriak Reza dari kejauhan.


Reza segera berlari ke arah Dilla. Reza melepaskan tas dan menaruh tas sembarang tempat. Reza memeluk Dilla dengan erat dan hati-hati. Reza tidak mau menekan perut Dilla yang sudah membesar. 


"Akhirnya Mama pulang. Reza sudah sangat kangen sama Mama," ujar Reza sambil menangis.


"Anak Mama sudah pulang. Mama juga sangat rindu kepada Reza. Bagaimana keadaan Reza selama Mama tidak ada di rumah? Apa Reza menjadi anak yang baik?" tanya Dilla.


Reza melepaskan pelukan. Reza menatap Dilla lekat.


"Anak Mama memang sudah besar," puji Dilla.


Reza kembali memeluk Dilla karena malu dipuji Dilla. Dilla membalas pelukan Reza dan menepuk bahu dengan lembut.


"Sudah memeluk Mama nya. Biarkan Mama istirahat dulu," ujar Ryan setelah beberapa menit Reza masih memeluk Dilla.


Reza menoleh ke arah Ryan tanpa menjauh sedikitpun dari Dilla. Reza sangat nyaman berpelukan sama Dilla.


"Bilang saja Papa cemburu karena tidak bisa memeluk Mama seperti Reza," ejek Reza.


Ada persimpangan di dahi Ryan. Tidak si bungsu tidak si sulung, hobi mereka sama. Sama-sama suka membully Ryan. Untung masih anak.


"Papa itu bisa memeluk Mama kapan saja. Kenapa papa harus cemburu?" tanya Ryan pura-pura santai.


"Mas ini mengalah sama anak kenapa berat sih," tegur Dilla.


"Tu Pa, dengerin apa kata Mama. Papa itu harus mengalah sama anak nya sendiri," kata Reza mengulang perkataan Dilla.


"A…."


"Sudah Ryan. Ingat umur," kata Rita menghentikan pembicaraan Ryan.


"Iya Ma," sahut Ryan lesu.


Reza semakin memeluk Dilla. Reza merasa menang sama sang papa. Reza mau balas papa nya yang tidak mengajak Reza ikut membawa pulang Dilla.


"Sudah ya Reza. Mama sudah sangat capek. Kalau Reza mau bermanja-manja sama Mama lagi, nanti setelah Mama istirahat ya," ucap Rita.


"Baik Nek," sahut Reza tidak ikhlas.


Reza melepaskan pelukan pada Dilla. Reza tidak mau terjadi sesuatu sama Dilla karena mama nya capek.


"Mama pasti capek karena baru sampai. Ayo Reza antar ke atas," tawar Reza mencuri star dari Ryan.


"Mama tidak apa-apa kok, sayang," sahut Dilla yang tidak terasa capek.


"Sayang, kamu jangan memaksakan diri. Lebih baik kamu pikirkan kandungan kamu juga," sahut Ryan.


"Iya Dilla. Kamu istirahat saja dulu. Biar Rio dan lainnya kami yang jaga," tambah Aditya.


"Baik Mas, Pa, Ma, Dilla akan beristirahat dulu," jawab Dilla yang tidak mau dikhawatirkan.


Dilla dengan susah payah bangun dari tempat duduknya. Ryan yang melihat Dilla susah bangun segera membantu Dilla. Reza juga tidak mau kalah dari Ryan. Reza memegang tangan kiri Dilla yang tidak dipegang oleh Ryan 


"Sayang, sini Mas bantu kamu bawa ke kamar," kata Ryan.


Dilla mengangguk-anggukkan kepalanya.  Mereka segera pergi ke arah lift. Sejak kehamilan Dilla, Dilla memang sudah jarang menggunakan tangga. Naik tangga  tidak baik bagi seorang ibu hamil. Selain bisa bikin lelah kadang juga bisa menyebabkan keguguran jika kandungan tidak kuat.


Dilla, Ryan dan Reza melewati ruang yang di gunakan oleh Rio, Sam dan Lala. Mereka bisa mendengar suara ribut dari dalam ruangan tersebut.


Kira-kira apa yang terjadi diantara Sam, Rio dan Lala?


Kenapa mereka bisa ribut dan menimbulkan kegaduhan?


Tunggu jawaban di bab selanjutnya.


Bersambung....


Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.