Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 57. Foto Bersama



Dilla ini walaupun sudah beberapa bulan di kota tapi dia masih kudet. Jadi mana mungkin Dilla bisa main bom bom car.


"Ya sudah kalau Mommy tidak mau, Papa tidak mau paksa, Pak pesan tiga mobil ya," pesan Ryan.


"Nanti Rio satu mobil sama Papa aja ya, kan Rio masih kecil, belum bisa main sendiri, buat Abang Reza dan Rafa bisa naik sendiri sendiri," ujar Ryan.


"Ote Pa,"jawab Rio.


"Horeee...," banzai Reza dan Rafa.


Mereka bertiga segera menaiki mobil mobilan tersebut. Reza dan Rafa bermain balap balapan mereka bermain seperti pembalap sungguhan.


Sedangkan Rio dan Ryan bermain santai, mereka membawa mobil pelan pelan. Rio senang main mainan ini, Rio bahkan juga ikut mengemudi sendiri yang diawasi sana Ryan. Sesekali Rio memanggil sang Mommy saat mobil mendekati Dilla di pinggir pembatas.


Dilla yang melihat keseruan mereka main mobil mobilan segera mengambil HP. Dari tadi pagi mereka ke sini, mereka belum mengabdikan momen satupun. Dilla segera memotret mereka yang sedang bermain. Di dalam foto mereka tersenyum merekah. Dilla yang melihatnya juga ikutan tersenyum. Dilla segera mengambil beberapa foto lagi. merasa sudah cukup untuk mengambil fito, Dilla memasukkan kembali HP ke dalam tas.


Lima belas menit berlalu, kini waktu mereka sudah habis. Ryan dan Rio segera keluar dari mobil itu. Tapi beda dengan Reza dan Rafa. Mereka masih ingin bermain lagi.


"Pa sekali lagi ya, ini sangat seru," pinta Reza.


"Iya Pa, sekali lagi ya," tambah Rafa.


"Iya boleh sekali lagi," jawab Ryan.


Mereka berseru senang, kemudian mereka lanjut main kejar kejaran lagi.


"Rio masih mau naik lagi," tawar Ryan.


"Ndak ucah Pa, di cini aja cama Omy," jawab Rio.


Rio masih berada dalam gendongan Ryan.


"Sini, lihat sini biar Mommy ambilkan foto," suruh Dilla.


Dilla segera mengambil HP kembali, Dilla ingin memfoto mereka. Mereka berdua langsung melihat ke arah Dilla. Rio segera tersenyum ke arah kamera, sedangkan Ryan hanya menampilkan wajah datar.


"Senyum dong Pa, ini bukan mau ambil foto KTP," ujar Dilla sebal.


Masak mau ambil foto kenang kenangan tapi seperti mau buat pas foto sih, kan tidak lucu.


Ryan menaikkan sedikit sudut bibirnya. Ryan mencoba tersenyum. Dilla segera memulai memotret.


"Permisi Mbak, sini biar saya saja yang bantu ambilkan," tawar salah satu pengunjung.


Pengunjung itu tadi tidak sengaja melihat mereka yang ingin berfoto. Dia berinisiatif sendiri menawarkan diri.


"Ayo Omy cini cini," panggil Rio.


"Apa tidak merepotkan Mbak nanti," ujar Dilla balik.


"Tidak usah sungkan kok Mbak, momen pergi bersama keluarga begini memang harus diabadikan, sayang sudah main main ke sini tapi tidak ada foto kenang kenangan," sahut pengunjung itu.


Dilla segera menyerahkan Hp nya. Dilla segera berdiri satu langkah di samping Ryan.


"Mbak yang dekat dikit, biar mesra," ucap pengunjung itu.


"Tapi...," Dilla mau protes.


Tapi Rio segera merangkul Mommynya sehingga dia dan Ryan hanya dipisahkan sama tubuh kecil Rio.


"Ayo Mbak lihat kesini," suruh pengunjung itu.


Dilla segera melihat ke arah kamera dan tersenyum. Mereka mengambil foto bertiga dengan Rio di tengah. Dengan Rio yang sedang merangkul Papa dan Mommy.


"Ini Mbak, fotonya sangat bagus, sangat serasi sekali kalian," puji pengunjung tersebut.


"Terima kasih Mbak," sahut Dilla.


"Iya sama sama," balas pengunjung itu.


Setelah berujar begitu, pengunjung itu segera pergi dengan teman temannya yang lain.


"Mommy sama Papa kenapa foto foto tidak ajak ajak kami," protes Reza.


Padahal Reza yang sangat ingin foto bersama.


"Kalian sudah selesai mainnya, kok cepat amat," sahut Ryan tidak nyambung.


Padahal Ryan yakin baru beberapa menit mereka naik mobilnya.


"Kami tidak jadi lanjut main Pa, tadi kami lihat Papa sama Mommy foto bareng, kami juga mau foto Pa," ujar Rafa.


"Iya, kalau begitu ayo kita ambil foto bareng, bagaimana di pinggir kolam itu, di sana kayaknya bagus," tunjuk Dilla.


Tempat yang di tunjuk Dilla adalah memang tempat yang sangat strategis buat ambil foto. Mereka segera pergi ke sana mumpung lagi sepi. Jadi mereka tidak susah susah mengantri.


"Ayo berdiri biar Mommy yang ambilkan foto kalian," ujar Dilla.


"Mommy, kami ingin berfoto sama Mommy juga," Reza kembali protes.


"Terus mau bagaimana lagi, kalau Mommy ikut foto juga siapa yang mengambilnya," sahut Dilla.


"Sini Mbak biar saya yang ambilkan saja, biar Mbak berdiri bersama keluarga kecil Mbak," ujar salah satu Petugas yang kebetulan lagi lewat.


"Apa tidak mengganggu pekerjaan Bapak?" tanya Dilla.


"Tidak Mbak, asal pengunjung kami senang, kami merasa sangat puas, kepuasan pengunjung adalah prioritas kami" jawab Petugas itu.


Dilla segera memberikan HP nya setelah mendengar ucap Pak Petugas.


Mereka berlima segera mengambil posisi masing masing. Rio kini sudah ada di dalam gendongan Dilla balik. Reza dan Rafa berdiri di depan Dilla dan Ryan. Mereka mengambil beberapa foto.


"Badut...," teriak Rafa.


Rafa tiba tiba berlari mengejar badut yang ada beberapa meter di depan mereka. Dilla ingin menyusul Rafa tapi di cegat sama Reza.


Mommy jangan pergi dulu, kita foto ambil berempat ya, Papa ayo gendong Reza, Reza juga mau di gendong seperti Rio," pinta Reza.


Ryan segera mengendong Reza tanpa protes. Setelah memastika Rafa aman Dilla kembali tenang.


"Mbak berdirinya yang dekat dong dengan suaminya," kata petugas itu salah paham.


Entah sudah beberapa orang yang salah paham tentang mereka.


"Ayo dong Mommy yang dekat sama Papa, Pa ayo rangkul Mommy," perintah Reza.


Reza segera memegang tangan Papanya agar mau merangkul Dila. Ryan menuruti keinginan anaknya. Kini Ryan merangkul pinggang Dilla. Dengan rio di gendongan kiri Dilla dan Reza di tangan kanan Ryan. Dilla ingin menolak tidak enak, tapi melihat berapa bahagianya raut wajah Reza maka Dilla mengalah.


'Semoga senyum mereka tetap bertahan selamanya, Amin,' doa Dilla.


"Ayo senyum yang lebar bilang ya, ayo bilang cisss...," ujar Petugas itu.


Crek....


"Ini Mbak fotonya, fotonya sangat bagus, kalian memang keluarga yang sangat serasi, kalau begitu saya pamit ya," Petugas itu segera pergi dari sana.


"Mommy mau lihat," Pinta Reza.


Dilla segera memperlihatkan foto itu, foto yang diambil memang sangat bagus. Mereka berempat tersenyum lepas.


"Wah fotonya bagus, nanti Reza mau cetak yang besar buat tarok di kamar," ujar Reza senang.


Reza sangat senang, akhirnya dia mempunyai foto seperti yang dia inginkan, persis seperti lukisannya, Bahkan lebih bagus malahan.


Reza segera menyerahkan kembali HP Dilla.


Setelah menerima HP kembali, Dilla segera melihat ke tempat Rafa tadi, Rafa masih di sana bermain sama badut.


Bersambung....