
Jelita yang telah membeli barang yang ketinggalan langsung kembali ke tempat parkiran. Langkah Jelita terhenti saat melihat Rio yang tergeletak di lantai. Jelita menjatuhkan barang belanjaan dan mendekati Rio.
"Rio... Rio sayang ayo bangun," ujar Jelita sambil menepuk pipi Rio.
"Rio," panggil Jelita lagi.
Jelita sudah beberapa kali mencoba membangunkan Rio. Rio masih juga tidak sadarkan diri. Jelita yang teringak Dilla melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Dilla. Jelita tidak menemukan Dilla sama sekali. Jelita bisa melihat barang yang berhamburan termasuk tas punya Dilla. Jelita semakin khawatir dan panik.
"Pasti terjadi sesuatu sama Dilla. Aku harus segera menelpon Ryan."
Jelita buru-buru dan mengambil telepon dan menelpon Ryan. Tidak menunggu lama, Ryan langsung mengangkat telepon.
"Halo Ryan," ujar Jelita begitu Ryan mengangkat telepon.
"Iya Jelita. Ada apa," sahut Ryan.
"Ryan gawat-gawat," kata Jelita panik.
"Apanya yang gawat Jelita?" tanya Ryan tidak mengerti.
"Ryan, Dilla menghilang."
"Apa! Bagaimana itu bisa terjadi?" kata Ryan kaget dan berteriak.
"Aku juga tidak tahu. Tadi ketika kami tiba di parkiran mobil, aku ada barang yang lupa aku beli. Jadi aku kembali lagi ke dalam mall. Sedangkan Dilla dan Rio, mereka berdua mau menunggu di mobil. Ketika aku balik, aku hanya melihat Rio yang tergeletak di lantai dan barang yang berhamburan. Aku tidak tahu kemana Dilla pergi," Jelita menjeaskan apa yang terjadi.
Dari balik telepon, Jelita bisa mendengar suara gaduh yang terjadi di sebelah sana. Jelita yakin jika Ryan sedang membanting barang-barang yang ada di kantor.
"Bagaimana dengan keadaan Rio?" tanya Ryan setelah selesai mengamuk.
Ryan kembali mengingat Keadaan Rio juga.
"Sepertinya Rio hanya dibius."
"Kamu segera bawa Rio pulang. Aku juga akan segera pulang," perintah Ryan.
"Iya Ryan," jawab Jelita.
Jelita segera memasukkan Rio ke dalam mobil. Jelita juga mengambil semua barang belanjaan dan tas milik Dilla.
***
Dilla mengernyitkan alis saat dia sadar. Dilla mulai bangun dengan pelan-pelan karena kepalan dia yang terasa pusing.
"Aku ada di mana ini? Ini tempat siapa?" tanya Dilla pada diri sendiri.
Dilla mengulang kembali memori sebelum dia pingsan. Dilla ingat dia yang di culik.
"Rio… Rio…. bagaimana keadaan Rio sekarang. Aku harus segera pergi dari sini dan mencari Rio. Semoga tidak terjadi apa-apa sama Rio."
Dilla mencoba untuk berdiri, tapi kaki dia masih lemas. Dilla terjatuh duduk kembali di atas kasur.
"Mommy," panggil Sam yang baru masuk.
Dilla heran kenapa Sam bisa ada di sana. Di tambah lagi kenapa Sam memanggil dia Mommy.
Sam mendekati Dilla yang duduk di pinggir kasur. Sam memeluk Dilla dengan erat tanpa menekan perut Dilla.
"Sam senang jika Mommy sudah ada sini. Daddy sudah mengabulkan permintaan Sam. Daddy telah berjanji sama Sam jika Daddy akan membawa Mommy untuk Sam. Sam sayang sama Mommy."
Sekarang Dilla tau siapa yang telah menculik dia. Semua itu adalah permintaan Sam. Dilla tidak mengabaikan Sam. Dilla mencoba untuk bangun lagi dan mau segera pergi dari sana
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Daniel yang baru saja masuk.
Langkah Dilla terhenti ketika Daniel masuk.
"Kenapa Tuan membawa saya ke sini?" tanya Dilla tanpa nau menjawab pertanyaan Daniel.
"Sam keluar dulu ya," ujar Daniel.
"Tidak mau Daddy. Sam mau sama mommy," tolak Sam.
Sam tidak mau melepaskan pelukannya sama Dilla.
"Sam, mommy baru saja sadar. Pasti mommy sedang haus sekarang. Apa Sam tidak mau mengambil air buat mommy," bujuk Daniel.
"Mommy haus? Sebentar ya Mommy. Sam akan ambilkan minum buat Mommy," respon Sam.
Sam segera berlari keluar untuk mengambil minum untuk Dilla.
"Jadi Tuan yang menculik Dilla?" tanya Dilla.
"Iya," sahut Daniel.
"Bagaimana keadaan anakku, Rio," tanya Dilla khawatir.
Dilla sedikit lega mengetahui Rio sudah aman.
"Tapi kenapa Tuan menculik Dilla? Apa salah Dilla sama Tuan Daniel?" tanya Dilla.
Daniel diam tidak memberikan respon.
"Sekarang saya mau pulang," ujar Dilla sambil berjalan mau melewati Daniel.
Saat Dilla mau melewati Daniel, Daniel memegang lengan Dilla. Daniel menahan kepergian Dilla.
"Kamu tidak boleh pergi dan keluar dari rumah," ujar Daniel menatap Dilla.
Dilla menyentakkan tangan agar tangan Daniel terlepas.
"Kenapa Tuan melarang-larang saya Tuan? Tuan tidak berhak melarang Dilla.
Apa yang Tuan lakukan ini sudah termasuk kejahatan. Tuan telah menculik Dilla," tanya Dilla.
"Ya, aku memang menculik kamu. Tapi kamu jangan berani-beranin keluar dari rumah ini tanpa izin dari aku."
"Tuan tidak bisa seenaknya. Dilla akan melaporkan Tuan kepada polisi," ancam Dilla.
"Silahkan kamu telepon polisi dan keluar dari rumah ini. Jika kamu berani…."
"Jangan pikir Dilla tidak berani menelpon polisi," potong Dillla.
'Sekarang Rio tidak ada lagi di sini. Jika Tuan Daniel berani menahan aku lagi. Aku tidak akan segan-segan mematahkan tulang dia.'
Dilla kembali berjalan ke arah pintu keluar.
"Jika kamu berani keluar satu langkah dari rumah ini, aku pastikan anak-anak kamu yang akan menerima akibatnya," ancam Daniel balik.
Lngkah Dilla terhenti mendengar ancaman Daniel.
"Apa maksud Tuan?"
"Kamu pasti sudah tau kenapa aku membawa kamu kesini. Jika kamu belum percaya, aku akan kasih tau kamu secara langsung. Aku membawa kamu ke sini karena Sam sangat menyukai kamu. Aku ingin kamu membuat Sam senang. Jika kamu membuat Sam meneteskan satu tetes air mata keluar dari mata Sam, maka kedua anak kamu akan membayarnya sepuluh kali lipat."
"Sam begitu menyukai kamu. Dia ingin kamu menjadi Mommy dia. Kamu hanya menjadi Mommy teman bermain Sam saja. Kau tenang saja, aku tidak tertarik menikahi istri teman aku sendiri. Yah, walaupun dulu aku sempat tertarik sama kamu karena kamu mirip dengan seseorang," ujar Daniel.
"Walaupun Tuan suka sama Dilla, cinta Dilla cuma buat Mas Ryan seorang," ujar Dilla.
'Kenapa aku malah menanggapi hal ini. Apa gara-gara obat bius aku jadi bodoh ya. Mungkin obat biusnya mengandung micin yang bikin otak error. Fokus Dilla, kamu harus cari cara dan keluar dari sini secepatnya. Ryan dab lainnya pasti cemas mengkhawatirkan kamu.'
"Lupakan itu. Jika nanti Sam sudah puas bermain sama kamu, aku baru akan melepaskanmu kamu."
"Tuan tidak bisa seenaknya begitu. Dilla bukanlah barang yang bisa Tuan ambil dan buang begitu saja Saat tidak dibutuhkan lagi," ujar Dilla marah.
"Aku tidak peduli. Kamu ikuti instruksi aku atau Ryan dan kedua anakmu itu yang akan celaka," ancam Daniel.
"Mommy ini," ujar Sam yang baru saja kembali dari dapur.
Dilla mengabaikan perkataan Sam lagi. Bagaimanapun, masalah ini ada karena Sam. Untung Sam masih anak kecil.
"Mommy," panggil Sam kecewa karena diabaikan.
Daniel yang melihat Sam kecewa, dia mendekat diri pada Dilla sambil berbisik.
"Ancaman aku tidak main-main. Jika kamu berani melanggar, aku tidak segan-segan mengirimkan foto atau video tentang anak kamu yang menangis."
Dilla meremaskan kedua tangan, dengan terpaksa Dilla mengambil air yang di bawah oleh Sam. Dilla meminum air itu sampai habis. Kebetulan Dilla juga sedang haus.
'Sekarang aku harus baik-baik sama Sam. Jika ada kesempatan, aku akan kabur dari sini. Untuk kabur aku harus cukup cairan agar tidak capek.'
Sam senang melihat Dilla minum habis air yang dibawakan.
"Sam di sini ya main sama mommy. Daddy ada kerjaan," ujar Daniel.
"Iya Daddy," sahut Sam bersemangat.
"Kamu harus ingat, di rumah ini ada begitu banyak CCTV. Jadi jangan sampai aku melihat Sam sedih," bisik Daniel lagi.
Setelah berkata begitu, Daniel keluar dari kamar tersebut.
Dila yang takut dengan ancaman Daniel, hasilnya Dilla menemani Sam bermain sepanjang siang itu. Sam nampak sekali senang saat Dilla merespon apa saja yang diceritakan oleh Sam.
Disatu sisi Dilla merasa kasihan dengan Sam sekarang. Dilla tahu kenapa Sam begitu menginginkan dia. Sam adalah anak yang kekurangan kasih sayang, jadi sam menginginkan kasih sayang dari Dilla. Dilla juga sudah tahu jika Jessica dan Daniel telah berpisah. Sam sendiri yang bercerita tanpa beban sedikitpun, seperti Jessica bukanlah siapa-siapa lagi.
'Sebaiknya aku tunggu sampai malam saja. Saat semua tidur, aku akan kabur dari sini.'
Bersambung….