
"Omy cini cini," ajak Rio.
Kini Rio dan Dilla sedang berdiri di depan lift untuk orang penting atau petinggi perusahaan.
"Maaf Mbak itu lift khusus buat petinggi perusahaan, jika Mbak dan anak Mbak mau naik ke atas pakai lift untuk pegawai. Dan di perusahaan ini dilarang membawa anak kecil," tegur pegawai di sana saat melihat Dilla berdiri di depan lift untuk petinggi perusahaan.
"Temalin Liyo aik ini cama Papa," jawab Rio.
Dilla hanya diam saja, dia tidak apa bedanya kedua lift tersebut.
"Maaf adik kecil, Papa yang adik maksud itu Papa yang ma…."
"Maaf kan kami ya Bos kecil, silahkan naik liftnya, kami mau pamit kerja lagi," pegawai lain segera menutup mulut dan menarik temannya itu pergi setelah minta maaf.
Mereka berdua berlalu begitu saja.
"Apaan sih kamu," protes pegawai yang di tarik paksa.
"Apa kamu tidak tau jika anak kecil itu anaknya Bos, jika kamu tadi bertindak kasar sama Bos kecil bisa bisa kamu itu dipecat," peringati temannya.
"Apaaa… aku tidak tau jika itu anak Bos, mudah mudahan dia tidak cerita sama Bos. Bisa gawat kalau dipecat.
"Sudahlah, semoga kamu tidak dipecat, ayo kita lanjut kerja."
***
Ketika pintu lift dibuka, Rio segera menarik Dilla kembali. Karena buru buru di tarik sama Rio, Dilla bertabrakan dengan orang yang baru keluar dari lift. Dilla hampir terjungkal ke belakang, tapi untung saja orang yang Dilla tabrak memegang Dilla hingga Dilla tidak jadi terjatuh.
Dilla segera berdiri dengan tegap.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja dan terima kasih telah membantu saya," ujar Dilla sambil sedikit membungkuk
"Hemmm," jawab penolong Dilla.
"Omy epat epat," panggil Rio yang sudah ada di dalam lift.
"Maaf Tuan, saya permisi," pamit Dilla.
Dilla segera masuk ke dalam lift. Orang yang bertabrakan sama Dilla melihat Dilla sampai pintu lift tertutup sepenuhnya. Setelah itu baru dia lanjut melangkah.
***
"Omy tu tu," tunjuk Rio pada no lift.
"Yang ini Rio?" tanya Dilla.
Dilla sama sekali tidak tau dimana Tuannya berada. Sekarang dia hanya mengikuti petunjuk dari Rio saja. Rio tidak bisa mencapai tombol lift jadi dia menyuruh Dilla menekan tombolnya.
"Butan Omy, yang tili tili, awah awah agi," kata Rio memberi petunjuk.
"Yang ini," tunjuk Dilla pada angka 23.
"Betul omy," jawab Rio senang.
Dilla segera menekan tombol itu. Lift segera mengangkat mereka ke lantai 23. Mereka segera keluar dengan Rio masih menarik Dilla.
Sekretaris Ryan melihat Dilla dan Rio yang mendekat.
"Ayo Omy, ayo masuk," ajak Rio yang melihat Dilla berhenti di depan sekretaris Ryan.
"Rio sebentar dulu," cegat Dilla.
Rio berhenti menarik Dilla.
"Mbak apa Tuan Ryan ada?" tanya Dilla.
"Maaf siapa dan ada urusan apa?" tanya Sekretaris.
"Ini Mbak saya mau antar dokumen Tuan Ryan yang tertinggal," jawab Dilla.
Sekretaris itu melihat Dilla dari bawah sampai ke atas. Dilla bisa tau jika sekretaris itu sedang memperhatikannya. Dilla juga ikut memperhatikan baju Sekretaris yang sangat sempit dan kekecilan menurut Dilla.
'Dasar gadis kampungan, pakai baju norak gitu.'
"Kamu taruh aja di situ biar saya yang kasih sama Bos," ujar Siska sang Sekretaris.
"Tapi ini dokumen penting, jadi saya harus mengantarkan langsung pada Tuan Ryan," sahut Dilla.
"Saya ini Sekretaris Bos, jadi semua dokumen melewati saat dulu. Sebelum dilihat sama Bos," kata Siska dengan nada yang tak bersahabat.
"Tapi…."
"Tidak ada tapi tapian sini," ujar Siska memotong omongan Dilla.
"Sekarang sudah kan, sana kamu pulang. Orang kayak kamu tidak pantas ada di sini bikin sakit mata aja," hina Siska dan mengusir Dilla.
Dilla sedikit tersinggung sama ucapan Siska. Apa salahnya dia di sini, lagian ini bukan perusahaan milik dia.
"Siska apa… oh kalian sudah sampai," ujar Ryan.
Tadi Tyan mau menanyakan sama Siska apa Dilla dan Rio sudah sampai. Tapi ternyata mereka sudah ada di depan.
Dilla segera memberi salam sapa pada Ryan.
"Kenapa kalian tidak masuk saja ke dalam," sambung Ryan.
"Tu Pa, Ante tu lalang lalang Liyo cama Omy, tadi Omy malah di usil," lapor Rio kepada Ryan.
"Ada apa ini?" tanya Ryan.
"Kenapa dokumen ini ada di tangan kamu," tegur Ryan.
Ryan segera mengambil kembali dokumen yang ada di tangan Siska.
"Maaf Bos, saya hanya meminta dokumen ini dari gadis ini. Karena dokumennya sudah ada di sini jadi saya menyuruh dia segera pergi," sahut Siska.
"Siapa kamu berani mengusir Dilla dan anak saya. Saya yang punya kantor ini, anak saya bebas mau kemana saja yang dia mau. Karena dia adalah pewaris saya," tegur Ryan keras.
Siska menunduk ketakutan.
"Ayo Dilla kita masuk," ajak Ryan dan menggandeng Rio masuk.
Siska menggeram marah, dia merasa kalau dia dimarahi karena Dilla.
"Awas aja kamu, kamu tunggu pembalasan ku suatu saat jika kita bertemu lagi," ujar Siska penuh dendam.
***
Ryan segera mendudukan Rio di atas sofa.
"Papa senang jika Rio mau main ke sini, dulu saat Rio main ke sini, Rio hanya sebentar saja," ujar Ryan.
"Liyo uga cenang Papa, di cini ada Omy" sahut Rio.
Ryan melihat Dilla yang hanya berdiri di samping mereka.
"Kenapa kamu tidak duduk, jangan berdiri aja sana duduk," suruh Ryan.
Dilla memilih untuk duduk, dia sudah sangat lelah berjalan dari lobi ke sini.
"Papa mana tue," pinta Rio dengan menadahkan tangan.
"Kue? Mana ada kue di sini Rio, tapi kalau Rio mau kue bisa Papa pesankan, Rio mau kue kan?" tanya Ryan.
"Liyo mau matan tue Pa," jawab Rio bersemangat.
"Kalau begitu kamu tunggu di sini dulu ya, sebentar lagi Papa akan menyuruh Siska buat pesan kue yang enak untuk anak Papa. Papa sebentar lagi mau rapat," beritahu Ryan.
Ryan kembali berdiri lagi.
"Holeee…," Rio berteriak senang.
"Kalau Tuan sibuk, kami pamit pulang saja. Kami tidak mau mengganggu Tuan kerja," ucap Dilla tidak enak.
"Baiklah kalau kalian mau pulang, tapi tunggu siska beli kue dulu setidaknya," sahut Ryan.
"Baik tuan," jawab Dilla.
"Ndak mau ulang Pa, Liyo mau matan ciang cama Papa dan Omy," tolak Rio.
Rio segera berdiri juga dan memeluk kaki Ryan yang berdiri.
"Rio mau makan siang sama Papa?" tanya Ryan ulang.
Ryan melepaskan tangan Rio dari kaki nya. Ryan memilih menggendong Rio.
"Iya Liyo mau matan ciang cama Papa, Liyo mau matan yang banaak," Rio merentangkan kedua tangannya.
"Aduh anak Papa manja, siapa sih yang punya ide hem hem," Ryan menggesekkan hidungnya di pipi Rio.
"Ante yang ilang, Ante ilang angan ilang ilang cama papa talau Liyo oleh minta matan yang banaak nanti, caat matan cama Papa dan Omy," jawab Rio.
Dilla panik mendengar jawaban Rio. Dilla takut Ryan akan salah paham.
Bersambung....