Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 152. Hamil 2



Terima kasih yang sudah berkomentar ya. Maaf jika bab sebelumnya tidak jelas dan lebay. Saya bermaksud menjabarkan kepanikan Ryan ditambah dengan humor receh. Maaf jika garing. Jangan bosan buat kritikan lagi ya, kritikan kalian bisa membantu saya. Semoga kedepan saya bisa memperbaiki kualitasnya lagi.


Jangan lupa like, komentar (saran dan kritikan mau pedas, pahit, asin dan asam tidak masalah) dan vote yang banyak ya ^_^. Dukungan kalian sungguh sangat berarti.


Terima kasih.


Selamat membaca….


***


"Suster, Dokter… tolong istri saya!" teriak Ryan dengan keras.


Suster dan dokter segera mendekat ke arah Ryan. 


"Silahkan Tuan meletakkan pasien di atas tempat tidur," suruh dokter.


Ryan segera meletakkan tubuh Dilla di atas tempat tidur dorong. Kemudian suster dan dokter mendorong tempat tidur itu memasuki ruangan UGD. Ryan ingin ikut masuk tapi dihalang oleh suster.


"Tuan sebaiknya menunggu di luar. Biarkan Dokter dan Suster yang menangani pasien. Tuan lebih baik berdoa saja," kata suster.


"Tapi saya ingin masuk Suster. Saya ingin melihat kondisi istri saya," ucap Ryan.


"Iya Tuan, saya tahu Tuan sangat khawatir dengan istri Tuan. Tapi bagaimanapun, ini adalah prosedur dari rumah sakit Tuan. Tuan jangan sampai mengganggu pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter. Nanti bisa berakibat fatal sama pasien," ucap suster.


Ryan akhirnya mengalah, Ryan memilih duduk di bangku kursi sambil mencengkram rambutnya. Sekarang Ryan benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Dilla.


"Maaf Tuan," panggil sopir taksi tadi.


Ryan mengangkat kepala melihat ke arah supir taksi tersebut.


"Iya ada apa," kata Ryan.


"Maaf Tuan, Tuan tadi keluar tanpa membayar ongkos taksi," kata sopir taksi itu.


"Ah maafkan saya. Saya lupa karena khawatir sama keadaan istri saya," ujar Ryan.


Ryan segera meraba saku celananya, tetapi dia tidak menemukan dompetnya.


"Di mana dompetku," kata Ryan setelah meraba seluruh saku yang ada di celana dan juga bajunya.


"Apa tertinggal ya."


"Maaf Pak, sepertinya dompet saya tertinggal di hotel tadi. Karena saya panik, saya tidak sempat mengambilnya," ujar Ryan menyesal.


"Bagaimana ini Tuan, saya juga butuh uang untuk membayar harga sewa saksi," kata sopir itu.


"Permisi Tuan," tiba-tiba datang pelayan hotel yang tadi.


"Bukankah kamu pelayan yang tadi?" tanya Ryan.


"Iya Tuan, saya ke sini ingin mengantarkan dompet Tuan yang tertinggal. Tuan pasti membutuhkannya," kata pelayan itu.


"Wah terima kasih banyak. Saya memang sangat memerlukannya," ucap Ryan.


"Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Tadi saya hanya diizinkan untuk mengantarkan dompet Tuan saja. Karena sepertinya kondisi Tuan sangat mengkhawatirkan," kata pelayan itu.


Setelah itu, pelayan dan sopir taksi segera pergi dari sana setelah Ryan membayar ongkos taksi.


***


"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dokter?" tanya Ryan begitu dokter keluar dari ruang UGD.


"Silahkan Tuan ikut dengan saya ke ruangan saya," sahut sang dokter.


"Tapi bagaimana dengan istri saya?" tanya Ryan ulang.


"Tuan tenang saja. Istri Tuan akan dibawa ke ruang menginap dan semuanya akan diurus sama Suster. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama Tuan."


Akhirnya Ruan memutuskan untuk mengikuti saran dokter.


***


"Jadi bagaimana dengan kondisi istri saya? Mengapa dia tiba-tiba bisa jatuh sakit?" tanya Ryan begitu tiba di ruangan dokter.


"Apakah Tuan tidak tahu kondisi istri Tuan sendiri?" tanya sang dokter balik.


"Wajar saja jika istri Tuan bisa jatuh pingsan. Disaat seperti itu dia malah melakukan perjalanan yang panjang. Seharusnya dia lebih banyak istirahat di rumah," kata dokter.


"Apa maksud Dokter? saya tidak mengerti," tanya Ryan.


"Apakah Tuan tidak tahu kalau istri Tuan sedang hamil?" 


"Hamil?" tanya Ryan tidak percaya.


"Iya, istri Tuan sedang hamil saat ini. Kurang lebih usia kandungan istri Tuan hampir memasuki bulan kedua."


"Kok bisa Dokter? Padahal beberapa minggu yang lalu istrii saya dinyatakan negatif," ucap Ryan.


"Mungkin saat itu adalah kesalahan dalam teknis atau bisa jadi alatnya yang tidak akurat  saat pemeriksaan. Yang membuat semua peralatan adalah manusia, jadi tidak ada yang seratus persen akurat."


Ryan terkejut mendengar perkataan dokter. Ryan senang jika Dilla beneran hamil. Ryan tidak menduga sama sekali jika Dilla bisa hamil secepat itu.


"Terus bagaimana dengan keadaan istri dan anak saya? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Ryan antusias.


"Keadaan istri dan calon anak Tuan baik-baik saja. Calon anak Tuan termasuk janin yang kuat, tetapi saya harapkan kepada Tuan supaya Tuan bisa membatasi perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak jauh bisa membuat istri Tuan cepat capek dan lelah. Apalagi usia kandungan masih sangat muda."


"Tapi bagaimana nanti kami pulang Dokter?" 


"Kalian masih bisa pulang. Tapi dengan banyak istirahat di beberapa tempat. Jangan melakukan sekali perjalanan," saran dokter.


Ryan mengingat baik perkataan dokter. Ryan tidak tau jika Dilla sedang hamil. Jika dia tau maka dia tidak akan mengajak Dilla pergi sejauh itu.


***


Ryan segera menuju ke ruang rawat Dilla. Ruan mendekati kasur yang ditempati oleh Dilla. Ryan duduk di kursi samping tempat tidur Dilla dengan tangan kirinya meraih tangan Dilla, sedangkan tangan kanannya mengusap rambut Dilla. Ryan menguncup sebentar tangan Dilla. 


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tadi aku sangat cemas sama kamu sayang. Kamu tidak sadar saat aku membangunkan kamu. Aku takut untuk kehilangan kamu seperti aku kehilangan Riana. Sayang, aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk yang kedua kalinya," ucap Ryan sambil mengecup tangan Dilla beberapa kali.


Ryan tadi sangat takut saat Dilla tidak merespon dia di hotel. Tapi Ryan sekarang bersyukur, ternyata dibalik kecemasannya ada sebuah kejutan yang Ryan terima. Ryan terus menjaga dan menunggu di samping Dilla.


Ryan yang juga merasa kelelahan ikut berbaring di samping Dilla dengan posisi duduk di kursi. Ryan merebahkan kepalanya di atas kasur dan menatap ke arah Dilla tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ryan menutup mata sebentar sambil menunggu Dilla bangun. Ryan mencoba mengistirahatkan diri.


***


"Tuan, Tuan ayo bangun," kata salah satu suster mencoba membangunkan Ryan.


Sekarang hari sudah mulai gelap, Ryan tidurnya terlalu lelap karena capek. Dokter dan suster sudah datang kembaliuntuk mengecek keadaan Dilla. Ryan segera bangun karena merasa terganggu.


"Tuan,hari sudah malam. Sekarang waktunya Dokter untuk mengecek pasien," ujar suster.


Ryan segera bangun dan menyingkir agar dokter bisa memeriksa Dilla.


"Bagaimana Dokter?" tanya Ryan setelah dokter memeriksa Dilla.


"Sekarang keadaan istri Tuan sudah lebih baik. Seperti yang telah saya katakan tadi siang, jangan biarkan istri bapak terlalu capek. Untuk sementara istri Tuan tidak boleh banyak bergerak dan banyak pikiran. Dan untuk melakukan hubungan suami istri sebaiknya dihentikan dulu demi kandungan yang ada di dalam. Tunggu sampai kandungan itu lebih besar sedikit lagi," terang dokter.


Seketika hati Ryan terasa retak mendengar perkataan dokter. Sekarang adalah bulan madu dia yang kedua kali juga ikut batal.


'Apa salah hamba Tuhan.'


"Apa kami sama sekali tidak boleh melakukannya?" tanya Ryan negosiasi dengan dokter.


"Tuan harap bersabar, ini adalah demi kebaikan istri dan anak Tuan sendiri."


"Kenapa semuanya jadi kacau begini," gimana Ryan.


"Apakah Tuan tidak senang dengan kehamilan istri Tuan?" tanya dokter melihat ada raut kecewa di wajah Ryan.


"Bukan begitu Dokter, hanya saja saya masih kaget mendengar istri saya hamil. Kami rencana pergi ke sini untuk bulan madu," kata Ryan jujur.


"Kalau begitu saya ikut prihatin juga," kata dokter menepuk bahu Ryan.


"Nasib saya memang kurang beruntung Dokter," kata Ryan bercanda.


"Jadi Mas tidak mau kehadiran anak ini?" tanya Dilla sedih dengan memotong pembicaraan Ryan dan dokter.


Bersambung….


Apakah yang akan terjadi di bab selanjutnya? Ayo tebak-tebak buah manggis lagi.