Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 26. Tindih



Ryan terjatuh menimpa Dilla. Untung saja Ryan bisa sedikit menahan beban badannya dengan tangan, jadi tidak sepenuhnya menimpa tubuh Dilla.


"Omy ma Pa gi apa?" tanya Rio polos melihat sang papa menindih mommynya.


Dilla yang ditimpa Ryan segera memukul bahu Ryan karena badan Ryan lumayan berat. Segera didorongnya badan Ryan ke sebelah oleh Dilla. Dilla segera menarik nafas panjang-panjang, tadi wajah Dilla berada pas di dada Ryan sehingga Dilla kesulitan bernafas.


Kini Ryan sudah terlentang di karpet. Rio masih memperhatikan papa dan mommynya.


"Omy ma Pa gi apa di?" tanya Rio ulang, Rio berdiri dua langkah di samping Ryan.


"Ahh tadi Mbak Dilla sama papa Rio terjatuh tadi," jawab Dilla.


Dilla kan tidak mungkin bilang kalau itu salah Rio, ntar anak itu nangis lagi....


"Rio, tadi Papa kangen sama mommy, jadi Papa memeluk mommy sambil tidur karena kangen," jawab absurd Ryan.


Dilla segera melotot mendengar jawaban Ryan. Sedangkan Ryan hanya cengengesan.


"Angen...?" tanya Rio lagi.


"Iya tadi Papa tuuu...," jawaban Ryan terhenti karena Dilla mencubit pinggang Ryan dengan keras, Dilla yakin Ryan akan memberikan keterangan yang makin tidak jelas.


"Papa Rio tadi berbooo...," Dilla tidak lagi melanjutkan kata-katanya juga karena terkejut dengan gerakan cepat Rio.


Rio tiba-tiba meloncat ke badan Ryan yang lagi berbaring. Seluruh badan Rio menimpa Ryan. Dilla sangat terkejut dengan matanya makin melotot, sedangkan sang korban mengaduh kesakitan.


"Aduuuh...," Ringis Ryan karena kesakitan dan sekaligus terkejut akan kelakuan anaknya.


Walaupun badan Rio kecil, tapi jika Rio melompat dengan kencang begitu pasti akan terasa sakit.


"Ya ampun Rio, apa yang Rio lakukan," ujar Dilla.


Dilla ingin segera mengangkat Rio tapi di tahan sama Ryan, walaupun sakit Ryan tetap mengusap bahu dan tulang belakang anaknya.


"Liyo angen Papa," jawab Rio lirih.


'Rasain tuh, makanya kalau bicara yang jelas, kenak karma langsungkan.'


Ryan kaget atas pernyataan anaknya, apa ini disebabkan olehnya yang tidak pernah merawat dan menjaga anaknya.


"Papa juga kangen sama Rio kok," jawab Ryan.


Ryan kini memeluk Rio erat sambil mengelus punggung Rio. Rio membalas memeluk papanya dengan tangan kecilnya.


Dilla hanya melihat interaksi yang terjadi di depan matanya. Beberapa menit dalam suasana yang sunyi itu, tiba-tiba terdengar suara dengkuran halus dari Rio. Setelah dicek ternyata Rio tertidur di pelukan papanya.


"Tuan Ryan, Rio sudah tertidur, lebih baik kita bawa Rio ke dalam kamar. Tidak baik bagi Rio tidur di luar, nanti Rio bisa sakit. Latihannya di lanjutkan besok saja?" tanya Dilla pada Ryan.


"Iya, tolong kamu angkat Rio dulu," kata Ryan.


Dilla segera mengangkat dan memindahkan Rio ke samping Ryan. Kemudian Dilla membantu Ryan bangun. Kini Dilla sudah bisa mendudukkan Ryan dari posisi berbaring, setelahnya meletakkan tangan kanan Ryan di bahunya. Dilla segera merangkul tubuh Ryan. Didudukkan Ryan di atas kursi roda.


Dulu pas pertama Dilla membantu Ryan pindah dari kasur ke kursi roda Ryan juga berteriak histeris seperti saat Dilla pertama membantu Ryan pindah dari kursi roda ke kasur. Tapi sekarang Ryan sudah kalem, tidak lagi berteriak-teriak tidak jelas.


"Sini, biar Rio saya yang pegang saja, nanti kamu tinggal dorong kursi rodanya," ujar Ryan.


Dilla segera menyerahkan Rio ke pangkuan Ryan. Rio semakin mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Kini mereka sudah di lantai dua, Dilla berencana ke kamar Rio dulu tapi dicegat oleh Ryan.


"Biar siang ini Rio tidur di kamar saya saja."


Tanpa berkata Dilla membawa mereka ke kamar Ryan. Dilla segera memindahkan Rio ke atas kasur Ryan. Kemudian Dilla juga membantu Ryan naik ke atas kasur seperti biasa. Setelah selesai Dilla segera keluar dari kamar Ryan dan menuju ke lantai satu.


***


Kini hari sudah siang, Reza baru saja pulang sekolah yang dijemput sama pak Jaka. Dulu pak Jaka adalah supir pribadi Rita, tetapi sejak Reza sudah sekolah tugas utama pak Jaka adalah mengantar dan menjemput Reza pergi ke sekolah.


Reza tiba di ruang keluarga tapi tidak melihat Dilla dan Rio di ruang keluarga. Biasanya jam segini menurut Reza mereka lagi bermain di karpet di depan TV. Reza segera mengalihkan pandangannya ke dapur ketika melihat sosok Dilla yang menuju ke dapur.


"Mbak Dilla Rio di mana?" tanya Reza setelah tiba di dapur.


"Reza sudah pulang ternyata, Rio ada di kamar papa kalian. Masih tidur siang, sebentar lagi Mbak Dilla mau membangunkan mereka juga. Reza ke kamar terus ya, mandi dan kemudian ganti baju terus. Mbak Dilla lagi bantu bi Imah memasak. Sebentar lagi juga sudah siap kok," jawab Dilla.


Dilla berbicara sambil berjongkok di depan Reza menyamakan tinggi badan mereka agar Reza tidak menegadah terlalu lama ke atas.


Reza segera naik ke lantai dua, tapi dia tidak langsung ke kamarnya tapi malah melangkah ke kamar papanya.


***


Di dalam karmar Ryan, Rio baru saja bangun dari tidur siangnya, dia sudah duduk di atas kasur, kemudian melihat sang papa yang juga sudah bangun tapi masih berbaring. Rio segera berdiri dari kasur kemudian menindih badan papanya lagi.


"Aaa...," teriak Ryan kesakitan.


Reza melihat papanya yang berteriak kesakitan karena ditindih sama Rio. Reza sudah masuk sejak Rio yang mulai duduk di kasur kemudian dia juga melihat adiknya yang menindih papa. Reza segera menghampiri mereka berdua. Reza meletakkan tasnya di atas sofa, Reza juga segera naik ke atas kasur.


"Aduh Rio jangan tindih papa dong. Badan papa jadi sakit nih," kata Ryan meringis sambil membangunkan Rio dari atas badannya.


"Liyo angen Pa," jawab Rio polos.


"Rio tadi ngapain?" tanya Reza penasaran.


Kini Rio sudah duduk lagi di samping Ryan, Ryan mengelus tubuhnya yang terasa nyeri.


"Iyo angen papa, ata papa alau angen alus luk bil dul," jawab Rio cadel.


Reza cepat mengerti sama omongan adiknya, Reza langsung melihat ke arah papanya. Reza juga tiba-tiba meloncat ke badan Ryan persis seperti yang Rio lakukan tadi. Karena badan Reza yang lebih berat lagi maka Ryan makin kesakitan.


"HUWAAA...," teriak Ryan keras antar kaget dan sakit.


"Apa... apa...?" tanya Dilla yang baru masuk ke kamar dengan spatula masih ada di tangan.


Tadi Dilla masih membantu bi Imah, tapi mendengar suara teriakan Ryan maka Dilla buru buru berlari ke lantai dua, takutnya ada hal buruk yang terjadi. Untung saja di dapur ada bi Imah, sehingga masakan yang Dilla tinggalkan tiba-tiba ada yang mengurusnya, kalau tidak bisa gosong masakan yang telah dia buat.


Bersambung....