
"Adi mana adik Liyo, Omy?" tanya Rio sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
Rio sudah tidak sabar ingin melihat adik. Rio ingin segera bermain sama sang adik. Rio sudah membayangkan apa saja yang mau dia mainkan bersama adiknya.
"Ah itu…."
"Mana Pa? Liyo ndak cabal mau liyat adik Liyo," tanya Rio tidak sabaran.
Mereka terdiam mendengar pertanyaan Rio. Apa yang harus mereka katakan pada anak sekecil Rio.
"Rio, kalau kita mau adik kita harus bersabar," kata Reza yang membuat orang dewasa melirik ke arah Reza.
Mereka berharap jika Reza bisa menjelaskan pada Rio.
"Api tata Papa, adi Liyo dah unya adik," ujar Rio cemberut.
"Rio tidak sabar ya ingin punya adik?" sambung Dilla.
"Iya Omy," jawab Rio semangat.
"Rio, saat ini adik belum jadi. Jadi kita harus sabar menunggu dulu," ucap Rita menyakinkan.
"Tenapa belum adi Nek?"
"Kata Daddy saat ini adik kita dalam perut Mommy. Kita harus menunggu sekitar 7 bulan lagi," terang Rafa.
Dulu Rafa sempat menanyakan hal ini pada Dafa.
"Alam peyut?" tanya Rio tidak percaya.
Semangat Rio yang tadi menggebu-gebu sekarang langsung anjlok. Mata Rio segera beralih ke arah perut Dilla.
"Saat ini ada di dalam perut Mama," kata Dilla sambil mengelus perutnya.
"Adi adik Liyo ada dalam peyut Omy?" tanya Rio memastikan lagi.
Dilla mengangguk-angguk kepala sebagai jawaban.
"Omy ahat!" teriak Rio nada marah.
Mereka semua melihat ke arah Rio dengan terkejut. Tidak pernah sekalipun Rio berkata dengan nada tinggi kepada Dilla.
"Kenapa Rio marah sama Mama?" tanya Dilla disela terkejut.
"Omy ahat. Omy matan adik Liyo," sahut Rio dengan nada keras.
Mereka speechless dengan perkataan Rio. Mereka tidak menduga jika Rio akan berpikiran seperti itu.
"Rio, bukan begitu maksud Ma…."
"Angan pedang-pedang. Liyo agi malah cama Omy. Omy ahat matanya adik Liyo," ujar Rio memotong perkataan Dilla.
Rio juga menyingkirkan tangan Dilla yang ingin menyentuh Rio. Dilla tidak marah dengan sikap Rio, malahan Dilla semakin gemas dengan Rio. Rio memang tidak bisa ditebak.
"Rio dengarkan perkataan Mama dulu," ucap Ryan membantu Dilla.
"Ndak mau," tolak Rio.
Rio masih menatap Dilla dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. Sesekali matanya beralih ke perut Dilla. Rio sedih membayangkan nasib adiknya yang sudah dimakan oleh Dilla. Mereka menggaruk kepala tidak tahu bagaimana harus menanggapi pemikiran Rio.
"Rio pernah kan lihat Mama membuat kue?" tanya Dilla setelah memikirkan bagaimana cara menghadapi Rio tanpa mencemari otak polos Rio.
Rio menganggukkan kepala tanpa menjawab.
"Apa Rio tahu kenapa Mama harus memasukkan kue itu ke dalam open. Kotak persegi yang panas itu?" tanya Dilla hati-hati.
"Bial tue na adi Omy," jawab Rio.
"Nah, begitu pula jika kita ingin seorang adik. Adik itu juga harus dimasukkan seperti masuk ke dalam open juga biar adiknya jadi. Bedanya masuk di perut Mama. Apa Rio mengerti?" ujar Dilla.
Rio paham karena pernah melihat Mama membuat kue.
"Saat membuat kue kita juga harus menunggu sampai kue itu matang. Begitu pula dengan adik,kita juga harus sabar menunggunya," ujar Dilla lagi.
"Api tenapa lama Omy," ucap Rio cemberut.
"Coba Rio bandingkan besar kue yang Omy buat sama adik Rio nanti. Mana yang lebih besar?" tanya Dilla mengarahkan Rio supaya Rio paham.
"Becal adik dong Omy. Macak adik Liyo tecil tek tue, nanti adik Liyo bica dimatan ticus," jawab Rio.
Mereka tertawa kecil mendengar jawaban dari Rio.
Rio tidak lagi menyingkirkan tangan Dilla dari kepalanya. Rio mengangguk paham. Rio bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Dilla.
"Jadi Rio harus sabar ya."
"Liyo ndak cabal Omy," rengek Rio.
"Kalau Rio tidak sabar, adik Rio tidak akan jadi," sambung Jelita.
Rio semakin cemberut mendengar perkataan Jelita.
"Yang sabar ya sayang. Semuanya butuh waktu dan proses," ujar Dilla.
"Iya Omy, Liyo atan cabal," sahut Rio mau tidak mau.
Mereka lega jika Rio bisa paham. Mereka menghela nafas lega dan meminum air supaya semakin lega.
"Adi Omy, dimana cala adik Liyo ada di peyut Omy?" tanya Rio lagi.
"Uhuk uhuk uhuk…."
Mereka terbatuk berjamaah mendengar pertanyaan Rio lagi. Kini pertanyaan Rio lebih susah daripada yang pertama. Mereka kembali pusing dengan pertanyaan Rio. Memang sangat susah jika memiliki anak yang daya pikirnya cukup tinggi dan rasa ingin tahu yang luas.
Dilla memijit kepalanya karena pusing. Dilla tidak tahu lagi harus mencari alasan apa untuk pertanyaan Rio.
"Adik Rio ada karena Rio tidak nakal. Rio juga mau menjadi abang yang baik, oleh karena itu adik Rio hadir," kata Ryan yang tidak tau lagi harus mencarikan alasan apa.
"Adi Liyo atan adi abang yang bayik?" tanya Rio dengan mata berbinar.
"Iya, nanti Rio akan menjadi abang," sahut Ryan.
Rio sangat senang saat membayangkan akan dipanggil abang.
"Telus Omy, apa…."
"Oh iya, Mama ada bawa oleh-oleh buat Rio," kata Dilla segera menyerahkan oleh-oleh yang dia punya kepada Rio.
Dilla sengaja memotong pertanyaan Rio karena takut Rio akan bertanya yang aneh lagi.
Rio dengan senang hati menerima oleh-oleh tersebut.
"Buat Reza mana Ma?" tanya Reza.
"Ada kok, Mama dan Papa membeli juga buat Rafa dan yang lainnya," ujar Dilla.
Mereka akhirnya membuka oleh-oleh yang dibawa pulang oleh Ryan dan Dilla. Rio juga sudah fokus pada oleh-oleh tanpa teringat lagi sama pertanyaan dia.
***
Malam kembali datang dengan sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam. Di dalam rumah Dafa sedang memohon kepada Jelita agar diizinkan masuk ke dalam kamar mereka.
"Tidak, pokoknya kamu malam ini tidur di luar," tolak Jelita.
"Tapi sayang, di luar sangat dingin. Apa kamu tega sama aku?" tanya Dafa dengan raut wajah dibuat sedih.
"Itu salah kamu sendiri. Kenapa kamu bicara yang tidak-tidak pada anak kita," kata Jelita dengan kesal.
"Itu karena Rafa yang bertanya kepada aku. Jadi aku hanya menjawab pertanyaan dia saja sayang," bantah Dafa.
"Kamu ini sudah besar, tapi Rafa masih anak kecil. Kamu tidak sekali dua kali berbuat begitu," Omel Jelita.
"Maaf sayang, aku janji kedepan aku tidak akan mengulanginya lagi," janji Dafa
"Iya aku akan memaafkan kamu. Tetapi malam ini kamu tetap tidur di luar," sahut Jelita.
"Tapi sayang."
"Tidur di luar kamar atau tidur di depan teras rumah," kata Jelita sambil melipat kedua tangannya.
"Baiklah aku menyerah," kata Dafa menyerah.
Setelah mendengar jawaban Dafa, Jelita segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Dafa yang tidak tahu harus tidur di mana akhirnya memilih menuju ke kamar Rafa. Dafa tidak mau jika dia tidur di sofa, yang ada pada besok pagi dia akan sakit semua badan.
"Semua serba salah, punya anak yang tidak pintar kita repot. Punya anak yang pintar kita repot juga," kata Dafa sambil menuju ke kamar Rafa.
Bersambung….
Rekomendasi novel karya teman saya yang bagus buat kalian sambil menunggu up saya selanjutnya.